Jumat, 28 Januari 2011

THE THIRD ROOM part 8

Judul : THE THIRD ROOM part 8



Genre : Thriller, Horror, Romance

Rated :  17+ (tolong perhatikan ratenya ya!)
               Mengandung unsur sadisme

Cast :

Kang Hea In (author)
Noh Min Woo
Kim Nam Gil
Special appearance :    Choi Yeon Rin

****************

<< Kim Nam Gil POV>>

 “tidak bisa kupercaya---aku tidak percaya---tidak mungkin” gumam Hea In berulang-ulang meracau dan aku melihat dia menangis tersedu mengalirkan air matanya yang turun ke bawah. Aku mampu merasakan kekalutannya, kebinggungan dan ketidakpercayaan atas kenyataan yang dialaminya. Karena aku melihat cara yang sama, reaksi yang sama yang ditunjukkan Hea In didepanku, semua sama persis seperti yang kusaksikan pada Mi Young---saudara kembarnya.

Suatu kenyataan yang pahit mengetahui bahwa kau pernah dibuang dan dibesarkan oleh orang lain yang lalu kau panggil sebagai ayah dan ibu. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa kau memiliki saudara kembar identik, yang seharusnya tidak perlu terpisah.

Aku hanya bisa memeluknya erat dalam dekapanku seperti aku memeluk Mi Young, aku biarkan dia—Hea In, menangis membasahi kemejaku. Aku tidak perduli, aku ingin memeluknya, seolah menumpahkan perasaan rindu yang mencengkram dadaku. Rasa getir karena sangat merindukan kekasihku yang meninggal 2 tahun yang lalu karena kecelakaan mobil. Lama aku memberikan dadaku untuk menjadi sandaran Hea In, tapi Hea In sudah berhenti terisak, dia diam---tak bergerak, kurasakan tubuhnya lunglai bagaikan tak bertulang dan menyandar lemas di badanku. Aku terkejut---Hea In pingsan.


Aku segera mengendongnya dan membaringkannya di sofa dengan posisi senyaman mungkin. Dia sangat pucat dan rapuh, mungkin karena penglihatannya itu yang menghantuinya, juga karena kehamilannya. Aku yakin bahwa suaminya, Noh Min Woo tidak mempercayai dengan apa yang sedang Hea In alami. Sekilas terbersit perasaan iri pada Min Woo yang begitu beruntung memiki nasib yang baik, tidak sepertiku!.

Pada saat pertama Mi Young mengatakan bahwa dia bisa melihat sesuatu sejak kami SMP, akupun bereaksi sama---Tidak percaya. Tapi setelah Mi Young berhasil mengungkapkan suatu kasus pembunuhan di sekitar sekolah kami, akhirnya mau tidak mau akupun percaya. Semenjak saat itu aku akrab dengan dunia supranatural karena Mi Young. Karena dari kedekatan dan cerita penglihatan Mi Young, aku jadi memahami seluk beluknya.

Walaupun tidak setiap waktu Mi Young dilibatkan oleh berbagai masalah penglihatan yang tentunya menguras sebagian besar energinya. Aku mengutip perkataan Mi Young yang menyatakan bahwa “jiwa yang sedang tersesat akan berusaha mencari jalan dan tanda agar mereka bisa diluruskan dan dikembalikan ke tempat yang sudah selayaknya, aku hanya bisa melihat mereka jika mereka benar-benar membutuhkan aku dan jika mereka benar-benar menginginkan sesuatu”

Karena kedekatan kami inilah, menimbulkan rasa ketergantungan dan saling membutuhkan, akhirnya kami jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah, namun hari tragis itu tiba. Kalau saja dia bersabar sebentar, menungguku yang sedang menghadiri presentasi untuk mengantarnya ke panti asuhan itu, tentu kecelakaan itu dapat dihindari, dan Mi Young selamat. Tentunya kami sudah menjalani kehidupan yang bahagia, tapi ternyata selama 2 tahun terakhir aku menderita keterpurukan dan kesedihan yang luar biasa sepeninggal Mi Young.

Akhirnya 3 bulan yang lalu, aku mencoba bangkit, memulihkan semangatku dan menerima pekerjaan membuat appartemen mewah di Hwangjeong. Untuk memperlancar pekerjaanku, aku putuskan untuk tinggal disana dan mensurvey tempat itu. Sejak menginjak tempat itu, aku bisa merasakan aura yang aneh dan dingin yang mengitari tempat itu, karena kedekatanku dengan Mi Young membuat aku lebih sensitive dan peka. Tapi aku tidak dianugrahkan kekuatan penglihatan seperti Mi Young, jadi aku hanya bisa meraba-raba dalam gelap tanpa tahu apa artinya.

Dalam sebulan terakhir, pertanyaanku tentang tempat itu terjawab dari penglihatan dan cerita Hea In. Saat pertama aku melihat Hea In, sesaat aku terkesiap, dia sangat mirip dengan Mi Young. Sesaat kukira bahwa Mi Young bereinkarnasi---atau apalah, tapi ternyata aku salah. Tapi demi rasa penasaranku, aku secara diam-diam meyelidiki latar belakang kehidupannya dan ternyata---terungkap bahwa Hea In dan Mi Young adalah saudara kembar. Mereka sama-sama mampu melihat dunia lain, ruangan lain, ruangan ketiga yang ada di dalam dua dimensi kehidupan di dunia ini.

Jam 20.17

Sudah hampir 3 jam lamanya Hea In masih terbaring diam, matanya terpejam rapat. Dan badannya diam tak berusik sedikitpun. Aku mulai gelisah dan khawatir! Dari tadi ponsel Hea In berdering dan bergetar terus menerus dan si penelepon sudah tentu suaminya, sudah puluhan miss call yang tertera di layer ponsel Hea In yang sedang kupegang.

Apakah aku harus memberitahukan Min Woo dimana istrinya berada? Apakah dia akan marah dan curiga kembali seperti kemarin? Ya tentu saja---suami mana yang rela mengetahui istrinya sedang berada di rumah seorang pria asing seperti diriku. Aku mulai ragu-ragu---aku mengalihkan pandanganku pada Hea In yang masih terbaring. Perlahan aku menarik sudut bibir kiriku naik keatas, menyunggingkan senyum tipis.

DDDRRRTTT….

Klik…OK!

“Hea-In kau dimana?? Hampir gila aku mencarimu kemana-mana? Dimana kau sekarang!!” seru Min Woo diseberang sana dengan nada panik dan marah.

“Annyeong…Min Woo-shi!” jawabku tenang.

“Kau—siapa kau? Kenapa kau menjawab telepon istriku?”

“Istrimu ada ditempatku, kuharap kau bisa datang kemari---alamat lengkapku akan kukirim via SMS”

“Tunggu! kau siapa? jangan bilang kau adalah Kim Nam Gil?” tebaknya.

“Kau benar…”

“Mwo? Sedang apa Hea In ada disana?”

“Nanti saja aku ceritakan…” klik (off)

Tinggal menunggu Min Woo datang dan semua akan beres---begitu pikirku.

<<<Kang Hea In POV>>>

Tiba-tiba kurasakan tanganku digenggam lembut dengan sebuah tangan yang berkulit halus, saat aku menoleh ke arah si empunya tangan. Aku terkesiap dan secara refleks aku membelalakkan mataku, seolah mencari kesalahan dalam penglihatanku.

“Kau---“ ucapku terkejut. “Apakah aku sudah mati?” tanyaku kepada seorang wanita yang mirip sekali denganku, hanya saja rambut hitam legamnya tergerai indah berkibar, kala angin berhembus dari ventilasi udara di langit-langit tempat ini. dia tersenyum lembut, senyuman milikku yang persis sama denganku. Aku bagaikan bercermin melihatnya, apakah itu aku? Tempat apa ini? apakah aku berada di surga?

“Kau Hea In---aku, saudara kembarmu Mi Young” sapanya, membuat aku terhenyak. Benar aku sudah mati, bila tidak mengapa aku bisa menemuinya disini.

“Tempat apa ini?” tanyaku binggung seraya mengedarkan pandangan ke sekelilingku.

“Ini adalah rumah sakit” jawabnya tegas. “Ikutlah denganku” ajaknya, menarik tanganku agar mengikutinya. Rumah sakit? Lalu mengapa aku ada disini? beribu pertanyaan memenuhi benakku, bingung, terkejut, aneh, asing, dan takut silih berganti berdatangan menyesakkan dadaku dan perasaanku.

Kumasuki ruangan yang berpintu lebar dan berwarna putih, setelah melihat keadaan didalamnya. Barulah aku tahu dan mengenal pasti tempat ini, dokter dan perawat lalu lalang berjalan di tempat ini, yang dipenuhi alat-alat kedokteran dan mesin-mesin yang berfungsi untuk mengobati dan menyambung nyawa manusia. Unit Gawat Darurat---begitu jelas kubaca di salah satu dinding ruangan ini.

“Kau pasti tidak ingat, disinilah nasib dan takdir kita dipertemukan sekaligus dipisahkan” ucapnya sedih. Dia menunjuk ke sebuah ranjang yang diatasnya terbaring seorang wanita, yang kukenali sebagai diriku yang sedang diperiksa oleh seorang dokter, kulihat luka yang cukup besar dipelipisku. Aku mengenali bahwa itu aku, karena aku masih ingat pakaian yang kupakai pada saat itu, pada hari itu, pada waktu kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orangtuaku.

Kalau begitu, orang tuaku ada disini! aku bergegas mendekati ranjang yang lain. Seorang pria paruh baya yang sedang ditempelkan alat kejut listrik untuk menghidupkan kembali detak jantungnya, dia ayahku!. Garis lurus yang tergambar di mesin sebelahnya menjelaskan bahwa jantungnya berhenti berdetak untuk selamanya….

Lalu pandanganku berpindah pada ranjang sebelahnya---ibuku. Seorang perawat menutupkan kain berwarna hijau ke mukanya, sesaat aku sempat melihat wajah ibu yang tampak tenang dan damai seolah tertidur namun tak bernyawa. Dadaku serasa akan meledak karena kegetiran, membuncah karena kesedihan. Mengapa aku harus menyaksikan semua itu? Mengapa? Air mataku terus mengalir tiada henti saat kusadari bahwa perasaan kehilangan yang amat dalam kembali membumbung tinggi, melampaui batas pikiranku.

“Mengapa kau tunjukkan kepadaku semua pemandangan ini?” tanyaku pedih pada saudara kembarku---Mi Young.

“Aku mengerti bila kau kembali bersedih dan trauma, tapi bukan maksudku untuk menyakitimu. Kebetulan inilah yang membawa kita saling terhubung kembali” jawabnya. Sungguh aku tidak paham akan perkataanya.

“kemarilah..” ajaknya menarik tanganku ke sebelah ruangan di sebelah ranjang ibuku, ruangan yang hanya dibatasi oleh tirai kain panjang berwarna hijau khas rumah sakit. Aku melihat seorang wanita terbujur kaku disana, dengan wajah tidak bisa dikenali lagi karena luka bakar dan lumuran darah yang memenuhi wajahnya dan sebagian besar pundak dan dadanya.

“Itu aku..” ucapnya datar. “Kecelakaan itu,telah menyatukan kita dengan cara yang menyedihkan. Kau mungkin tidak mengingatnya---dan aku tidak akan membawamu untuk mengingatnya, karena aku tahu kau akan sangat terluka dan sedih. Kau masih harus menjalani takdirmu dan memanfaatkan kelebihan yang aku berikan padamu, karena kau kuat, lebih kuat dari aku” lanjutnya lagi.

Aku tidak memahami yang dia katakan, bagaimana bisa dia memberikan kekuatannya padaku? Dan dia bilang. Aku kuat? Darimana sumber kekuatanku, melihat sosok Yeon Rin mendekatiku saja, aku sudah tidak sanggup. Dan Yeon Rin sanggup membawa diriku ke dalam dunianya, dunia masa lalunya. Aku mendesah pelan, meremehkan diriku sendiri.

“Aku dianugrahkan kekuatan untuk melihat ruang ketiga di kehidupan ini. Awal mulanya aku tidak mampu mengatasi dan memanfaatkan penglihatanku, tapi kemudian aku belajar untuk bisa menghadapinya. Karena mereka akan terus berusaha menganggu normalnya hidup keseharian kita, bila kita tidak mampu membantu dan memenuhi keinginan mereka” paparnya.

“Mengapa kau berikan semuanya padaku?” tanyaku putus asa, “Aku tidak mau menerima kelebihan ini. aku ingin hidup normal seperti dulu, menjalani hari-hari seperti biasa tanpa ada gangguan apapun”

“Karena kekuatan hidupku sudah sangat tipis dan kau memerlukan bantuanku. Bila tidak kau selamanya akan berada di antara dua dunia, tidak mati---dan tidak hidup”

“Koma?” tebakku pelan. Mi Young mengangguk. Jadi bila dia tidak menolongku, aku akan menderita koma, dan entah kapan aku akan mendapatkan kesadaran kembali.

“Saat aku memberikan sisa jiwaku padamu, secara otomatis kekuatanku berpindah padamu. Aku tidak bisa menarik dan menghilangkan kelebihan itu karena itu bukanlah kuasaku. Kau hanya perlu menjalaninya dan menghadapinya lalu mengatasi dan menyelesaikan setiap sesuatu yang datang padamu”

“Jadi hidupku akan selalu terganggu saat detik ini---aku tidak mau!”

“Ini hal yang tidak bisa kau tolak, seandainya aku bisa, sudah tentu aku akan menolaknya dari dulu”

Aku hanya pasrah saat mendengar perkataan Mi Young yang terakhir, bila memang demikian keadaannya, maka hidupku akan berubah! Apakah aku mampu menjalaninya? Bagaimana dengan Min Woo, bisakah dia percaya padaku dan membantuku? Sebersit perasaan ragu tergurat dalam hatiku—Min Woo, andai saja kau ada disampingku dan mendukungku, tentu semua akan lebih mudah.

“Aku tidak bisa…” ucapku lirih dan putus asa, aku mengelengkan kepalaku pada Mi Young.

“Kau jangan khawatir, disaat kau sangat membutuhkan aku, aku akan ada membantumu. Aku senang, justru sekarang kita lebih kuat. Ada sesuatu seperti keterikatan dan benang merah yang terhubung antara kita, yang tidak bisa aku jelaskan---karena kita kembar” hibur Mi Young seolah-olah bisa membaca pikiranku.

Aku memejamkan mata pelan dan menghela nafas dalam-dalam, mencoba untuk mengambil jeda dari sebuah kenyataan yang secara bertubi-tubi mendatangiku beberapa hari ini. Lama aku terdiam dan akhirnya aku hanya bisa berserah diri.

********

Saat mataku terbuka, sekelilingku telah berubah---aku telah berpindah tempat. Aku bukan lagi berdiri di ruangan serba putih dan menyerupai rumah sakit. Aku tidak bisa melihat lagi hiruk pikuk ruang gawat darurat---dan sedikit menyisip perasaan menyesal, karena aku ingin melihat orang tuaku lagi. Aku ingin mengatakan sesuatu pada mereka, walaupun mustahil mereka mendengar tapi setidaknya aku sempat mengetahui dan melihat keadaan mereka saat detik-detik terakhir. Aku ingin membelai wajah mereka dan mengatakan aku sangat berterima kasih karena mereka mengurusku dengan baik dan melimpahkan kasih sayang, padahal aku adalah anak angkat mereka. Aku ingin mengatakan aku sangat mencintai mereka sepenuh hatiku, segenap jiwaku---ayah….ibu…

Setelah terhanyut dengan pikiranku tentang orang tuaku, akupun kembali dihadapkan pertanyaan, sekarang dimanakah aku? Pemandangan yang tidak asing bagiku, hanya berupa warna hitam putih abu---aku kembali ke jaman Yeon Rin. Segera aku mencari tanda keberadaan Yeon Rin, aku bergegas menuju kamarnya---kosong. Dan suara musik itu terdengar jelas sekali dan agak keras dari sebelumnya, namun melody yang keluar dari pengeras suara gramophone, membuat bulu kudukku meremang.

Suara yang keluar dari gramophone itu seolah seperti nyanyian kematian yang memenuhi seisi rumah Yeon Rin, aku mendapat firasat akan ada sesuatu yang terjadi disini. Dan benar!! Baru saja aku berpikir seperti itu, Yeon Rin muncul dari arah dapur, hanya kali ini dia sangat berbeda. Bukan seperti Yeon Rin yang selalu kutemui sebagai gadis yang ringkih rapuh dan lemah tak berdaya tapi dia terlihat sangat percaya diri dan berdiri tegap di lawang pintu dapur.

Sesaat aku bergidik ngeri melihat penampilannya, memakai pakaian tidur berupa terusan rok panjang putih, rambutnya terurai kusut dan tergerai menutupi sebagian wajahnya. Namun jelas aku menangkap tatapan tajam mata Yeon Rin yang berkilat penuh dengan dendam dan marah, serta seringaian yang terukir di mulutnya. Seringai yang aneh, yang menunjukkan seolah-olah setan telah menguasai dirinya. Lalu tangannya teracung memegang sebilah pisau, dia mendekatiku dengan gerak lambat. Tatapan tajam matanya tepat menuju mataku, membuat aku bertanya---apakah sekarang dia bisa melihatku?

Wajah dingin dan bengis seorang pembunuh tergambar jelas di wajahnya. Aku perlahan mundur, berusaha menjauhkan diriku dari Yeon Rin. Tapi ternyata dia membelokkan arah jalannya ketika hampir mendekatiku, dan dia berjalan mantap tanpa ragu sedikitpun. Yeon Rin masuk ke dalam ruangan lain, saat aku menyusul dirinya, baru ku mengerti apa yang sebenarnya ingin Yeon Rin lakukan.

Yeon Rin memasuki kamar tidur ayahnya!! Ayah Yeon Rin---Choi Bin Seok, sedang tidur nyenyak, aku berani bertaruh pasti dia tidur dalam keadaan mabuk karena posisi tidurnya mengatakan bahwa sekalipun ada gempa bumi, dia tidak akan terusik dan terbangun. Aku melihat Yeon Rin perlahan berjalan mendekati mattras ayahnya dan mengambil sesuatu di dalam sebuah kotak perkakas yang disimpan di pojok ruangan. PALU---kulihat Yeon Rin mengambil palu besar dan dengan segera,,,tanpa basa basi dengan wajah dingin Yeon Rin menghantamkan palu ke kepala ayahnya sekuat tenaga….membuat aku menjerit tertahan.

CROOTTT….

Darah yang memancar dari kepala ayahnya, memuncrat ke wajah Yeon Rin. Badan Tuan Choi, bergidik keras, kudengar suara ‘crack’ mengerikan bagai ada sesuatu yang retak---apakah itu tulang tengkoraknya. Lalu tanpa ampun Yeon Rin langsung menancapkan pisau besarnya berkali-kali ke badan ayahnya, ke dada dan  ke perut, secara membabi buta. Seolah pelampiasan kemarahan Yeon Rin terhadap perbuatan ayahnya selama ini, dibalaskan dengan menancapkan pisaunya kemana-mana---sekuat tenaga, tanpa ampun, tanpa rasa sesal, yang ada hanya wajah yang dingin dan kepuasan yang tergurat jelas di wajahnya yang penuh dengan cipratan darah.

Melihat pemandangan sadis di depanku, aku tidak mampu melihat lagi. Mual yang amat sangat hebat menyerangku, tapi aku menahannya dengan membekap mulutku dengan tanganku sendiri. Tiba-tiba aksi Yeon Rin berhenti, dia memandang tajam ke arah badan Tuan Choi yang sudah tertutup cairan merah yang mengalir deras dari sekujur tubuhnya. Yeon Rin menyunggingkan seringai yang mengerikan dan terlihat puas akan hasil karyanya.

Lama dia berdiri disitu menatap tanpa berkedip, seolah mematung kaku. Apakah dia menangis? Tapi tidak ada air mata yang menetes dari matanya yang kosong. Mana mungkin ia menangis, ayahnya lah yang membuat hidupnya menderita selama ini, memaksa Yeon Rin harus hidup dibawah ketakutan dan ketersiksaan. Rasa benci yang amat sangatlah yang membuat Yeon Rin menjadi berhati dingin dan tanpa belas kasih membunuh ayahnya sendiri. Walaupun demikian, aku merasa ini tidak benar!

Lalu pandanganku berpindah, aku melihat Yeon Rin tengah mempersiapkan tali yang digantung dan diikat di kayu-kayu langit kamarnya. Tali yang menjuntai ke bawah, menandakan bahwa tali itu akan digunakan Yeon Rin untuk menghilangkan nyawanya---BUNUH DIRI. Seketika aku langsung menyongsong Yeon Rin, berusaha mencegahnya, tapi lagi-lagi ketika aku akan berusaha menangkap sosok Yeon Rin, dia hanya berupa udara kosong dan bayangan. Dan dengan sangat terpaksa aku harus menyaksikan Yeon Rin meregang nyawa didepanku, sangat dekat hanya garis udara yang membatasi jarak kami sebesar 5cm.

Leher Yeon Rin terjerat tali tambang besar yang menjerat kuat lehernya, tidak ada celah baginya untuk bernafas dan jalannya udara ke kerongkongannya. Anehnya, tiba-tiba aku juga merasakan leherku terjerat kuat, kerongkonganku ditekan membuat aku kehilangan nafas dan tercekik. Aku sangat panik, tidak mungin aku mengalami hal yang sama dengan yang Yeon Rin lakukan saat ini. tapi kenyataanya, itulah yang kurasakan, aku berusaha membebaskan diriku dari jerat tali yang tidak bisa kulihat bentuknya.

Matanya terbelalak seolah hendak melompat keluar, dan tubuhnya kejang-kejang. Hal itu yang sama terjadi padaku, tubuhku kejang tak terkendali tapi dengan tekad kuat bahwa aku ingin hidup, aku berusaha bertahan. Aku tidak mau mati dengan cara yang seperti ini!! Aku meminta pertolongan dalam hati, aku menjerit sekuat mungkin dalam batinku---SIAPAPUN, TOLONG AKU! BANGUNKAN AKU!.

Kurasakan guncangan yang keras mengoyang-goyangkan badanku, guncangan itu cukup membuat jeratan tak terlihat yang melihat leherku perlahan melonggar. Guncangan itu bukan berasal dari tubuhku yang kejang, tapi seolah ada tangan manusia yang menguncang kencang bahuku.

Lalu sekilas kulihat Yeon Rin didepanku, dia sudah tidak bernyawa! Matanya membelalak dengan lidah yang menjulur keluar, kulihat mulut dan hidung Yeon Rin mengeluarkan darah kental berwarna merah pekat. Wajah kematian yang menyeramkan terpampang jelas di hadapanku. Sesaat kemudian kurasakan cairan mengalir dari hidungku---berbau amis dan berasa anyir. Tetesan yang berwarna merah pekat tampak jelas di punggung tanganku, ketika tanganku secara refleks menyentuh hidungku. Hidungku mengeluarkan darah segar….


~~ T B C ~~

By Author Mila

Tidak ada komentar:

Posting Komentar