Tampilkan postingan dengan label Kim soo hyun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kim soo hyun. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Januari 2012

S W I T C H -Chap 6-

Chapter 6



-Kediaman Keluarga Park-

“Bukankah seharusnya memang begitu?”

“Tidak, aku tidak suka yang seperti itu.”

“Sejak kapan kau...”

Ocehan-ocehan itu tak didengar lagi oleh Hae-bin. Seperti biasa, Tuan dan Nyonya Park bila bertemu selalu bertengkar. Walau itu hanya untuk hal-hal kecil. Seperti mengatur letak barang di ruang tamu. Padahal, kalau tak sedang senggang begini, mereka berdua jarang sekali bisa bertemu.

Dae-jia yang saat itu akan memenuhi janjinya bertemu editor novel yang akan segera diterbitkannya, tiba-tiba sudah berdiri di samping Hae-bin, yang kini berada di teras rumahnya. Kakaknya itu melayangkan tatapan menuduh pada Hae-bin, “Itu semua karenamu!” desis Dae-jia lalu tanpa menunggu bantahan Hae-bin lagi, gadis itu masuk dalam mobil Mercedes pink miliknya dan melaju kencang.

Hae-bin menghela nafas, sambil menatap kepergian Dae-jia dengan tatapan pilu. Getaran ponsel yang ia genggam membuatnya terkejut. Sebuah pesan dari Dong-hae masuk.


From: Lee Dong-hae

Ibu Guru, muridmu yang paling tampan ini sudah datang dan sedang menunggu di depan pintu gerbang.


Buru-buru Hae-bin melangkah dan ia menemukan pria itu sudah di depan pagar rumahnya tengah tersenyum di atas motor sport miliknya.

“Kau tidak sedang menangis lagi kan?” godanya yang berhasil membuat pipi Hae-bin memanas. Ia mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, saat ia menangis di pelukan Dong-hae.

Hae-bin tersenyum kikuk, “Ehm...tapi sepertinya ada masalah lain,” gumam Hae-bin bingung mengungkapkannya. Tak mungkin baginya mengajak Dong-hae masuk di saat ada pertengkaran antara Ayah dan Ibu tirinya di dalam.

“Masalah?” alis Dong-hae bertaut, “jadi...kau tak bisa mengajariku lagi?” katanya pura-pura kecewa.

Hae-bin kembali berdeham, “Bukan begitu...” sergahnya merasa tak nyaman, “tapi kita tak bisa belajar di sini,” ia beralasan, “bagaimana kalau di rumahmu saja?” tambahnya cepat sebelum Dong-hae sempat memprotes.

Pria itu tersenyum lebar sembari mengangguk, “Boleh, ayo kita berangkat sekarang!”

Minggu, 18 Desember 2011

S W I T C H -Chap 5-

Hai...hai...hai....#Lambai2 Author Ababil dateng lagi ekekekek....jangan bosen yaa baca FFku yang sangat aneh bin ajaib ini. maklum saia bukan Novelis seperti Miss Destira aka (Admin Park). Juga bukan Author FF berbakat yang karyanya sudah melanglang buana seperti Mila Aulia (Admin Hea-in), Teresia Dian, Patricia Jessica dan masih banyak lagi yg lainnya. Saia cuma Admin Iseng gak ada kerjaan (?) yang pengen juga bikin FF hahaha #Kebanyakan Bacot nii, keburu Reader ketiduran :p

ya udah deh, aku terbitin FFnya dulu. Miaaaaaann banget kelamaan nunggunya *emang ada yg nunggu?* XD
karena udah kelamaan dan pasti udah jamuran ingatannya tentang FF satu ini, aku sengaja ngasih ringkasan cerita chapter sebelumnya. Maaf yah...*maaf mulu* ekekekek....

oke dah, aku bersih-bersih dulu Note-ku dari sarang laba-laba yang sudah lama bersarang (?) di sini #MakinNgaco
sebelum semakin kemana-mana (?) ama omongan gak jelasku, aku kasih aja deh FFnya (Reader: dari tadi kek Thor!) hahaha XD

cekidottt!!! jangan kecewa ama hasilnyaa!!! ^^


Chapter 5



Ringkasan Chapter sebelumnya:

Yu-ri berhasil menjadi yang terbaik pada audisi Taekwondo di kampusnya, namun di akhir ia harus menelan kekecewaan karena ia tak berhasil melawan Soo-hyun yang ternyata adalah senior dan pemegang sabuk hitam Taekwondo.


Dong-hae mendapati Hae-bin tengah menangis pada saat ia berkunjung ke rumah gadis itu untuk belajar bahasa Inggris, dan ia pun akhirnya menawarkan diri untuk menghibur gadis itu. Hae-bin mulai merasakan sesuatu yang aneh menjalari tubuhnya ketika ia secara tak sengaja bersentuhan dengan kekasih sahabatnya itu.


Ketika Soo-hyun tengah merenung di sebuah cafe, ia tak sengaja bertemu Yu-ri yang saat itu tengah bertengkar dan hendak berkelahi dengan seorang pria paruh baya yang dikatainya telah mengganggu ibunya. Namun Soohyun menggagalkan rencana Yu-ri, dan hal itu sukses membuat Yu-ri geram.



-Han River, Seoul-

Hae-bin menghela nafas dengan tatapan menerawang ke arah aliran sungai Han yang sore itu tampak tenang. Gadis itu menggenggam erat pinggiran bangku besi panjang yang kini didudukinya bersama Dong-hae. “Apa kau sudah merasa lebih tenang?” Dong-hae membuka percakapan setelah terjadi keheningan yang cukup panjang semenjak mereka tiba di tempat itu.

“Sedikit,” balas Hae-bin lirih.

Dong-hae berdeham, ia bingung harus mengatakan apa. ia ingin sekali menawarkan diri menjadi pendengar segala keluh kesah gadis itu, tapi ia juga tak mau memaksa Hae-bin untuk menceritakan sesuatu yang tak ingin diceritakannya. Bukankah dia bukan siapa-siapaku?, pikir Dong-hae.

“Aku minta maaf karena menggagalkan rencanamu—“

“Kau sudah mengatakan itu tadi,” potong Dong-hae.

“Ah...ya,” Hae-bin mengangguk kikuk, “maaf, aku memang gadis membosankan yang—“

“Maaf lagi?!” Dong-hae kembali memotong kalimat Hae-bin, “kata maaf memang bagus untuk meredakan amarah seseorang, tapi mengucapkan kata maaf secara terus menerus membuat kita akan tampak sebagai pribadi yang lemah. Berhenti mengatakan maaf, saat dirimu tidak membuat satu kesalahan pun.”

Hae-bin menunduk, “Lalu aku harus mengatakan apa?”

“Hah...” Dong-hae beranjak dari bangku panjang itu, berjalan lambat-lambat ke arah sungai Han yang memantulkan sinar mentari sore berwarna kemerahan. “Aku membawamu ke mari bukan untuk membuatmu semakin sedih. Bagaimana kalau kita hentikan pembicaraan ini?” ia memutar tubuhnya menghadap gadis itu.

Hae-bin menegang dan merasakan detak jantungnya kembali meningkat ketika melihat senyum tulus yang disunggingkan pria itu. Mata hitam dan jernihnya menatap mata Hae-bin lurus-lurus dan tampak begitu teduh juga menenangkan. Gadis itu tersenyum kaku, “Ya, kau benar.” Ia kembali menunduk. Tak sanggup menatap sinar mata Dong-hae yang membuat jantungnya kembali menghentak-hentak tak kenal kompromi.

“Aduh!” jeritan Dong-hae membuatnya buru-buru mengangkat wajahnya.

“Kak Dong-hae, kau tidak apa-apa?” tanyanya khawatir mendapati pria itu tengah berjongkok sembari memegangi kakinya di pinggir pembatas sungai Han, “Apa kau menginjak pecahan kaca atau semacamnya?” Hae-bin yang sudah tiba di sana ikut berjongkok dan mencoba memeriksa apa yang terjadi pada pria itu.

Sabtu, 10 Desember 2011

S W I T C H -Chap 4-

-Chapter 4-




-Universitas Sogang-

Pagi-pagi sekali Yu-ri sudah sampai di kampusnya. Hari ini akan ada audisi masuk klub Taekwondo. Ia benar-benar tak sabar menantikannya hingga kakak dan Ibunya sangat heran melihat Yu-ri serajin itu. “Hey Yu-ri!” kontan gadis itu menoleh ketika mendengar seseorang menyebut namanya. 

“Seung-ri?”

“Kau ikut audisi juga rupanya,” gumam pria bernama Seung-ri itu. Pria itu adalah salah satu teman Yu-ri ketika di SMA dulu, dan ia juga merupakan saingannya ketika masih tergabung di klub Taekwondo SMA mereka. “Bagus sekali,” komentar pria itu sembari menyeringai senang. Mereka berdua sama-sama pemegang sabuk biru Taekwondo yang merupakan tingkatan keempat dalam seni bela diri tersebut.

“Hmm...kau berniat melawanku lagi?” ejek Yu-ri, “jangan lupa kalau kau dulu kalah padaku.”

Pria itu tertawa, “Kau tak tau saja kalau kemampuanku sekarang sudah lebih baik,” sombongnya.

“Kalau begitu buktikan!” tantang Yu-ri lalu melangkah masuk ke dalam ruangan audisi yang sudah dipenuhi oleh mahasiswa baru yang berniat mengikutinya.

Setelah menunggu kurang lebih lima belas menit akhirnya acara itu dimulai dengan masing-masing peserta mempertunjukkan kemampuannya di hadapan para Saebum (pelatih) dan beberapa orang pengurus yang merupakan senior mereka. Acara ini diadakan juga sebagai placement test untuk menguji sejauh mana keterampilan para pendaftar agar memudahkan dalam mengklasifikasikan mereka sebagai pemegang sabuk putih (pemula), kuning, hijau, biru, merah atau bahkan tak menutup kemungkinan mereka pemegang sabuk hitam.

Yu-ri sukses pada tahap pertama ini, dengan menampilkan Goley Chagi (tendangan ganda) dan Dwi Hurigi (tendangan berputar melalui belakang) andalannya. Para senior bahkan sang Saebum pun tersenyum puas. “Bagus, kau lolos ke tahap selanjutnya Nona Shin,” komentar Saebum Goo.

“Terima kasih,” Yu-ri mengakhiri dengan sikap hormat. Ketika menuju ke tempat duduknya ia menangkap ekspresi menantang Seung-ri sementara Yu-ri membalasnya dengan senyuman samar.

Ketika seluruh peserta telah mempertunjukkan kemampuannya. Didapatkan sekitar 33 orang yang lolos ke tahap berikutnya, sementara sisa-nya harus menerima sabuk putih Taekwondo. Pertandingan tahap selanjutnya akan dilaksanakan setelah waktu makan siang, yang merupakan pertandingan peserta satu melawan peserta lainnya.


-Kediaman keluarga Lee-

“Astaga! Di mana kunci motorku, seingatku kuletakkan di meja ini,” keluh Dong-hae sembari mengacak-acak meja belajarnya. Hari ini ia sudah berjanji pada kekasihnya untuk hadir di acara audisi sekaligus placement test di klub Taekwondo. Tapi sudah tiga puluh menit ia mengacak-acak meja belajarnya bahkan kamar tidurnya tapi tetap tak menemukan yang ia cari. “Bibi Ma, kau melihat kunci motorku?” tanya Dong-hae pada salah seorang pelayan di rumahnya yang sudah ia anggap sebagai Ibunya sendiri, karena sejak kematian Ibunya, Bibi Ma-lah yang merawat dirinya dan kedua adiknya.

“Tidak Tuan Muda,” jawab Bibi Ma bingung. “Bukankah Tuan Muda yang menyimpannya?”

S W I T C H -Chap 3-

Chapter 3




-Universitas Sogang-

“KYA!!” Yuri menjerit saat matanya tiba-tiba ditutup oleh sepasang telapak tangan dari belakang, berikutnya suara kikikan geli terdengar begitu familiar di telinganya. “Young-in?!” tebak Yu-ri, “kau pasti Young-in kan?” ulangnya saat si empunya tangan tak juga menarik lepas pegangannnya.

Young-in merengut kesal karena Yu-ri begitu cepat menebak, “Ah...kau tidak asyik!” komentarnya.

Yu-ri menyeringai, “Karena aku benar-benar hafal dengan ulah jahilmu.”

“Hmm...memang penipu tak bisa ditipu,” Young-in mengalihkan pandangannya pada Dong-hae, “rupanya kau ada di sini Kak, tadi sepulang kuliah, aku langsung mencarimu di fakultasmu,” cerocos Young-in tak mempedulikan tatapan kesal Yu-ri.

“Mencariku?” tanya Dong-hae sambil menunjuk dirinya sendiri, “sebenarnya ada apa ini? kenapa kalian berdua mencariku? Apa terjadi sesuatu dengan Ayah?” Dong-hae memandang kedua adiknya bergantian.

Yoo-hee mendengus, “Sudah kuduga kau pasti lupa,” komentarnya.

“Lupa?”

“Ayo Young-in, Ayah akan marah kalau kita terlambat!” tukas Yoo-hee sembari membuka pintu mobilnya.

“Hya! Kau belum menjawab pertanyaanku!” cegah Dong-hae.

Young-in buru-buru mendekati kakaknya, “Apa kau benar-benar lupa Kak?” tanyanya pada Dong-hae, “hari ini kan hari peringatan kematian Ibu.”

“Astaga!” Dong-hae menepuk kepalanya ringan.

“Ayah menunggu kedatanganmu di Daegu,” timpal Yoo-hee, “jangan buat Ayah marah dengan ketidakhadiranmu,” tambahnya.

“Jadi kita tidak pergi bersama?” tanya Dong-hae bingung. Yoo-hee tak menjawab dan hanya melirik motor sport keluaran terbaru berwarna campuran putih dan biru yang tengah terparkir tak jauh dari mereka berada. “Ah...” Dong-hae menggaruk belakang kepalanya, “biar nanti Eun-hyuk yang membantuku membawanya ke rumah,” katanya mengerti apa maksud Yoo-hee, “aku bisa masuk angin kalau mengendarai motor ke Daegu sendirian,” keluh Dong-hae dengan pandangan memelas.

Yoo-hee mencibir, “Ya sudah, kau yang menyetir,” gadis itu menyerahkan kunci mobil ke tangan Dong-hae.

“Tapi—“

“Kita tidak punya banyak waktu,” sela Yoo-hee, “ayo Young-in!” Yoo-hee memanggil adik bungsunya yang sekarang justru asyik mengobrol dengan Yu-ri dan Hae-bin.

“Eh...iya Kak!” Young-in buru-buru berpamitan pada teman-temannya dan masuk ke mobil.

Sementara Dong-hae menghampiri kekasihnya dengan wajah menyesal, “Maaf, aku lupa kalau hari ini aku harus menghadiri peringatan kematian Ibuku di Daegu,” katanya pada Yu-ri.

Yu-ri tersenyum maklum, “Tidak apa, biar nanti aku sendiri yang menemani temanku ke klub tari. Kau tak usah khawatir Kak,” gumam Yu-ri, “Ah...apa perlu aku ikut?” tawarnya.

Dong-hae menggeleng, “Tidak usah, terima kasih sayang,” seru Dong-hae penuh syukur, “kau memang yang terbaik!” tambahnya lalu mencubit pipi Yu-ri membuat gadis itu meringis kesakitan.

“Aissh...bisakah kau tak mencubit pipiku? Aku bukan anak kecil!” gerutu Yu-ri pura-pura kesal.

Dong-hae menyeringai jahil, “Ya sudah, aku pergi dulu. Sampaikan salamku untuk temanmu itu!”

Yu-ri mengangguk, “Ya, pergi sana!” katanya sembari menunjuk mobil di belakang Dong-hae dengan gerakan kepalanya tanda bahwa ia sudah ditunggu.


Selasa, 06 Desember 2011

S W I T C H -Chap 2-

Chapter 2




-Kediaman keluarga Park-

Hae-bin baru saja turun dari kamarnya di lantai dua. Hari Minggu ini, ia sudah berjanji akan berkunjung ke rumah sahabatnya, Shin Yu-ri. Sudah lama sekali ia tak berkunjung ke sana, tepatnya sejak ia pindah ke rumah barunya. Saat tiba di teras, ia melihat Pak Han—supir keluarga Park—tengah berdiri di sebelah mobil Ford hitam yang sudah bersih mengkilat dan sedang menunggunya turun. “Pagi Pak Han,” sapa Hae-bin sopan.

Pak Han segera membalas dengan membungkukkan badannya, “Apa Nona sudah siap?”

Hae-bin mengangguk, “Ya, tolong antar aku—“

“Antar aku ke tempat ini Pak Han!” potong Dae-jia yang secara tiba-tiba sudah muncul di belakang Hae-bin dengan menyodorkan secarik kertas berisi alamat sebuah publisher ternama ke arah supir mereka.

“Tapi Nona....” Pak Han tak dapat meneruskan kata-kata saat melihat ekspresi kesal di wajah Dae-jia.

“Kenapa? Apa sekarang aku sudah bukan Nona-mu lagi?” tuntut Dae-jia.

“Bukan begitu,” sergah Pak Han, bingung, “Bukankah Nona Dae-jia lebih suka bepergian sendiri selama ini? dan saya juga sudah menyiapkan—“

“Aku sedang malas menyetir,” potong Dae-jia dengan keangkuhan dibuat-buat. Lalu tanpa menunggu persetujuan lagi, ia langsung masuk ke mobil yang rencananya akan digunakan untuk mengantar Hae-bin itu.

“Nona, tapi Nona Hae-bin tak bisa menyetir,” tukas Pak Han mencoba untuk memberanikan diri karena merasa prihatin pada Hae-bin yang hanya bisa diam menyaksikan semua itu tanpa berkomentar apa-apa.

Dae-jia menurunkan kaca mobilnya lebar-lebar, “Apa peduliku? Bukankah selama ini dia biasa naik taksi, bus, atau semacamnya?” gumamnya cuek lalu menepuk jok supir yang berada di depannya, “Ayo cepat nanti aku terlambat ke publisher!”

Pak Han menatap Hae-bin yang tampak kecewa, tapi gadis itu mencoba untuk tersenyum, “Tidak apa Pak Han, Kak Dae-jia benar, aku bisa naik taksi,” katanya.

“Tuh, benar kan?” Dae-jia mengeluarkan dompetnya dari dalam tas lalu menengadah menatap Hae-bin, “apa kau butuh uang?” katanya sembari mengeluarkan beberapa ribu won dari dompetnya.

Hae-bin menggeleng, “Tidak, tidak perlu. Aku masih punya uang,” tolaknya halus tapi ia tak bisa menyembunyikan ekspresi tersinggung dari wajahnya.

“Baguslah kalau begitu,” Dae-jia mengembalikan lagi uang itu ke dalam dompetnya dan memasukkan dompetnya kembali ke dalam tas-nya. “Ayo Pak!” tambahnya saat Pak Han tak juga masuk ke dalam mobil.

“Ada apa ini?” tanya Tuan Park yang kebetulan saat itu akan pergi menemui kolega bisnisnya. “Kulihat kalian bertengkar.”

“Ayah,” Hae-bin bergumam, “tidak ada apa-apa, kok,” elaknya.

“Dae-jia, kenapa kau tak naik mobilmu sendiri?” Tuan Park menunjuk mobil mercedes benz SL65 berwarna pink milik Dae-jia yang memang sudah disiapkan oleh Pak Han tadi. “Kau kan tau adikmu tak bisa menyetir.”

Dae-jia yang merasa risih karena Ayahnya lebih membela Hae-bin daripada dirinya, keluar lagi dari mobil, “Aku tidak merasa memiliki adik!” gertak Dae-jia tegas.

“Dae-jia!” bentak Tuan Park, “jangan bertingkah seperti anak kecil.”

S W I T C H -Prolog + Chapter 1-

S W I T C H



Prolog

Park Hae-bin yang kini sudah berada di kamarnya di lantai dua, merasa sedih. Sudah tiga bulan lebih ia tinggal di rumah besar itu, tapi ia tetap merasa kesepian. Ayahnya, Tuan Park selalu sibuk dengan pekerjaannya di kantor, sedangkan istrinya tentu saja masih belum bisa menerimanya. Seorang kakak yang ia harap bisa menjadi teman baginya, justru tak mau menerimanya dan selalu bersikap seolah-olah ia adalah sesuatu yang tak diinginkan di rumah itu. Ia meraih sebuah pigura kecil di nakas yang berisi foto seorang wanita cantik tengah tersenyum. “Ibu,” gumamnya, air mata mengalir membasahi kedua pipinya, “apa aku salah karena terlahir sebagai putrimu?” isaknya.

Dering ponsel Hae-bin membuatnya mengalihkan perhatian dari foto ibunya, ia meraih ponsel dan menghapus air mata yang menggenang di pipinya dengan punggung tangannya lalu memencet tombol jawab, “Halo!” sapanya pada sahabatnya Shin Yu-ri, “benarkah? Oh...Tuhan, syukurlah!” serunya senang ketika mendengar kabar yang disampaikan Yu-ri, “Ya, aku akan mengeceknya lagi, tentu.”

Taken From ITL Chap 10



Chapter 1




-Pelataran Universitas Sogang-

Seorang gadis berambut pendek ala lelaki mengayuh sepedanya kuat-kuat. Hari ini adalah hari pertamanya masuk kuliah. Tapi karena terlambat bangun, ia harus terburu-buru berangkat ke kampus barunya.

“Hoy! Kau,” panggil seorang pria menghentikan kakinya mengayuh, gadis itu menoleh pada asal suara. Pria tinggi memakai jas cokelat—jas almamater kampusnya—memperhatikannya lekat-lekat dan menghampirinya, “kau mahasiswa baru?” tanya pria itu.

Ia mengangguk, “Ya,” jawabnya tegas seraya balas memperhatikan pria itu, ia merasa pernah mengenalnya, tapi ia lupa pernah bertemu di mana.

“Nama!”

“Shin Yu-ri,” pria itu mencatat sesuatu di sebuah map yang ia bawa.

 Setelah berpikir sekian lama, gadis bernama Yu-ri itu akhirnya mengingat sesuatu, “Ah...bukankah kau—“

“Ikut aku!” potong pria itu tegas.

“Hya! Aku sedang—“ Yu-ri buru-buru menutup mulutnya saat ia melihat tatapan marah pria itu dan dengan terpaksa ia menggiring sepedanya dan mengikuti pria itu dari belakang. Sial!, makinya.


Senin, 01 Agustus 2011

Prank'd - One Shoot - FF Kim's Family Gejeh Edition -

Prank'd



Ini cuma ff gejeh dari geng gejeh untuk para gejeh holic di dunia gejeh. tak ada yang nyata, benar, maupun waras dalam kisah ini.



Pengenalan tokoh :

Miya --> Shin Yu-ri / Pipi
Admin Shen --> Cha Shin-woo / Shen / Shendy
Admin Lee --> Lee Yoo-hee / Lee
Admin Park --> Park Dae-jia / Park
Mila --> Kang Hea-in
Victoria

Zhou Mi --> Mimi
Kim Soo-hyun --> Ohshanti
Kim Nam-gil
Choi Si-won
Noh Min-woo --> Minu
Lee Dong-hae --> Donge
Son Ho-young
Ok Taecyeon
Rain
Hwang Chan-sung --> Chanchan
TOP
Jung Yong-hwa --> Yongyong
Nickhun
Lee-teuk --> Spongebob
Eun-hyuk --> Unyuk / Patrick


============================


- Pulau pribadi keluarga Choi, rumah pantai -       

“Cup, cup, cup, udah, jangan nangis,” bujuk Park pada Mimi yang tengah bersandar di pundaknya.

“… hikzzz… tapi sakit hati banget nih…nyesek banget… si pipi tega ma aku!” isak Mimi. “bisa-bisanya dia selingkuh ama si ohshanti, padahal apa kurangku, coba?”

“Kurang daging,” cetus Dae-jia, yang segera mendapat delikan tajam dari mata merah Mimi + cubitan lembut di pipi.

“..hikzzz… imut banged sih..” isak Mimi *hoakakakakakk ~ sukasuka author!!

“Udahlah, masih banyak cewek cantik yang body-nya lebih asoy geboy dibanding si Pipi,” bujuk Hea-in yang sejak tadi memijat pundak Mimi.

“Tapi emang ga gampang ngelupain cinta,” kata Lee sok bijak. “Apalagi selama ini Mimi setia ama si Pipi, sama kaya aku yang cinta dan setia hanya pada Nam-gil oppa seorang,” sombongnya.

“Nyindir?” omel Park dan Hea-in kompak sambil mendelik ke arah Lee yang menyeringai sembari terus melanjutkan pekerjaannya memijat kaki Mimi *enak bener si Mimi dilayanin macam raja minyak gini.

Tanpa benar-benar sadar, sambil memijati kaki Mimi, Lee mendekatkan kaki pria itu ke hidungnya, dan segera mengernyit yeyek ketika menghirup aroma semerbak. “Bau!” serunya seketika *sapa suruh dicium!! wkwkwkwkwkwk.

Mimi yang sewot walau masih tetap dengan nangis bombaynya, segera menyepak Lee menjauh dari kakinya.

“…hikzzzz… coba ajah pipi kaya Park ato Hea-in onnie… hikzzzz… tetep setia mempertahankan suami biar kata punya namja laen… hikzzz…” Mimi memutar kepalanya kearah Hea-in dan menarik ujung bawah kaus wanita itu untuk membuat ingus, sementara si empunya baju gak sadar dijadikan tempat pembuangan *hoakakakkk ~ kapan lagi Lee ma sis mil punya kesempatan nyium aroma kaki + dapet ingus artis?? Wkwkwkwkwkwk ^^v

Minggu, 31 Juli 2011

HIGH LEVEL JEALOUS -- FF Geje (oneshoot)

HIGH LEVEL JEALOUS ---FF Geje #ga usah dibaca!


Annyeong all readers….


Berhubung saya lagi mandeg ide untuk nerusin Broken Link, #edisistucklevel. Taunya otak saya penuh sama ide ini, ide gejeh, gajeb, yang kalau ngaa dituangkan ke tulisan bikin kepala saya meledak karena saking overloaded *lebeh*

Masih berkisar antara kehidupan Keluarga Kim yang ga pernah, ga mungkin, ,mustahil, dusta besar, kalau ada di dunia nyata, tapi nyatanya keluarga ini ada di dunia gejeh dan hanya eksis di dunia maya.

Tapi sumpah ini bukan cerita komedi, saia ga bakat bikin yang lucu-lucu. Darah srimulat tidak mengalir di nadi saya. Jadi dimaklum aja kalau garing, crispy, kriuk. Tujuannya bukan bikin ff komedi daa…

Mulai aja yaa…daripada saya kebanyakan ngomong ntar keburu dibekep ma bibir suami-suami para readers *maunya*.


*****


Once upon a time….di sebuah warung Soju yang remang-remang gelap di pinggir jalan *ga mungkin banget kalo di tengah jalan* di suatu malam menjelang jam 12 teng. 3 orang pria sedang asyik ngobrol ngalur ngidul sambil minum soju dan makan bulgogi.

“Jadi kita fix menjalankan rencana ini?” tanya Soo Hyun. Pada kedua hyungnya karena umurnya lebih tua tapi lebih matang lho---Min Woo dan Siwon.

“Yups” jawab Siwon pendek sambil nengak botol evian. *Evian merek soju bukan??*

“Sekarang?” tanya Soo Hyun lagi dengan muka polos, yang segera dikasih toyoran di keningnya oleh Min Woo.

“Bukan. tahun depan aja kali” ketus Min Woo melotot.

“Peralatan sudah siap termasuk senjata utama, nih!” ujar Siwon sambil mengangkat ransel hitam yang penuh mengembung.

“Sebelum pergi kita cocokkan jam dulu, biar sama, beda satu detik saja maka fatal akibatnya” kata Min Woo sambil memutarkan jam arlojinya, semua mengikuti ulah Min Woo, “Ya. Jam 23.25.40. Done”

“Done” timpal Siwon dan Soo Hyun serempak.

“Let’s go!” ajak Siwon lalu mereka bertiga berjalan keluar dari warung soju dan menuju mobil Siwon. Hummer hitam---mobil hadiah kelahiran anak kembar 3 Dae Jia dan Siwon dari pasangan terkeren Min Woo dan Hea In. *preeettt*

Di mobil sebelum menjalankan mesinnya, masing-masing 3 pria itu mengencangkan resleting jaket kulit hitamnya.

“Diperkirakan 15 menit, waktu perjalanan sampai tujuan. Kita laksanakan sesuai site plan yang sudah ditetapkan” kata Min Woo sambil memperhatikan i-phonenya yang tergambar peta yang sudah ditandai setiap jalurnya. “Semua aman. Kita bisa meluncur sekarang” lanjutnya. Lalu dengan segera Siwon menghidupkan mesin mobil dan hummerpun melaju dengan kecepatan sedang.


*****

~Appartemen Dae Jia – Siwon~

Dengan hati-hati Dae Jia meletakkan Choi Sina---putri dari Dae Jia-Siwon, ke boxnya yang bernuansa Barbie, komplit dengan ranjang ala Barbie Mariposa. Si bayi yang berusia 3 bulan tertidur lelap sambil menghisap jempolnya. Setelah itu Dae Jia keluar kamar Sina menuju kamar anak kembar lainnya---Son Dae dan Kim Won.

Mengecek kamar si kembar prianya, 2 jagoan cilik mereka, sama sedang terlelap di kamar yang bernuansa ruang angkasa dan box mereka yang berbentuk roket. Bedanya dengan Sina, mereka kompak menghisap empeng (pacifier)---sebenernya karena ibunya males aja ngedenger mereka rewel jadi dicekokin empeng dari bayi biar ngga terlalu rewel. Ternyata stategi Dae Jia berhasil mereka lebih anteng menggunakan empeng. Padahal menurut pakar kesehatan anak, empeng itu adalah kebiasaan buruk, sama dengan menghisap jempol.

Tapi ya sutralah…anak Dae Jia ini, bukan anak gue. Haha.

Dae Jia menutup kamar anaknya dengan mengusap dada---lega. Menghembuskan nafas terakhir—eh, salah. Menghembuskan nafas lega, terbebas dari 3 mahkluk yang hobi bikin heboh tapi lucu menggemaskan.

“It’s ME TIME” gumam Dae Jia. Malam ini dia bersumpah akan memanjakan dirinya sendiri dengan mandi air hangat di bath tub, yang dipenuhi dengan busa melimpah dengan wangi lavender, sambil meminum wine di bath tub.

Memikirkan hal nyaman yang akan dialaminya membuat Dae Jia senyum-senyum sendiri, tapi kemudian senyumannya hilang seraya menatap pintu kamar anak-anaknya dengan tajam “kalau pada bangun, awaaassss! Ggggrrrr” geramnya.

“Woaahhh….nyamannya” kata Dae Jia ketika tubuhnya telah terbenam di bath tub air hangat yang penuh busa, dia menekan remote audio untuk menghidupkan musik lembut dan menyesap wine, untuk menambah relaksasi atas keletihannya mengurus bayi kembar 3 (suruh siapa brojol langsung 3,,ckckckck).

Kebetulan Siwon sedang keluar bersama Min Woo dan Soo Hyun. Jadi Dae Jia tenang melakukan kegiatannya sendiri tanpa ada interupsi mendadak dari suaminya yang hobinya merobek pakaian tidurnya.

Baru saja 10 menit bersantai, tiba-tiba ponselnya berdering….
Dan isi dari pembicarannya di telepon, mengagalkan rencananya untuk relaksasi…..
Dengan wajah geram Dae Jia terpaksa keluar dari bath tub….


****

~Appartemen Yoo Hee~


“Nah…akhirnya si putri Aurora terbangun dari tidur panjangnya setelah mendapatkan kecupan dari Pangeran Namgil. Akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia selamanya” Yoo Hee menamatkan cerita pengantar tidur untuk Eun Hee, bayinya yang baru berusia 8 bulan. Kamar Eun Hee didesain mirip dengan kerajaan negeri dongeng Sleeping Beauty.

Padahal Eun Heenya sendiri sudah tertidur sejak Yoo Hee memulai ceritanya dari halaman 1. buku setebal 60 halaman tersebut berhasil ditamatkan Yoo Hee untuk dirinya sendiri. Dengan senyum puas---entah karena berhasil menidurkan Eun Hee dengan cepat atau membayangkan dirinya sendiri menjadi Putri Aurora.

Bagi yang sudah mengetahui sejarah pernikahan Yoo Hee dan Nam Gil, bahwa Yoo Hee secara langsung dilamar dan diajak menikah oleh Nam Gil pas baru saja bangun tidur. Tanpa mandi dan gosok gigi, dengan rambut acak-acakan. Nam Gil secara tiba-tiba melamarnya, yang tentu saja segera disambut dengan anggukan iya dan mereka berdua pun kissing (?).

Memang cinta itu buta dan tidak memandang bau, tapi  mungkin saja pada waktu itu Nam Gil sedang pilek *I dunno*. Yang jelas author turut bahagia atas kejadian ini. prok..prok..prok…*standing applaus to audience who wearing a mask*

“Ah…akhirnya, aku sekarang bisa serius nonton drama korea favorite-ku” gumam Yoo Hee seraya mempersiapkan camilan untuk menemaninya menonton.

Dia pergi ke dapur, membuka freezer dan mengambil secup besar isi 1 liter ice cream Haagen Daz rasa banana caramel n choco chip *Ya ampun author ngilerr*
lalu mengambil potato chips rasa rumput laut “hmm..low fat chips, tidak mengandung kolesterol. Bagus…chips ini tidak bikin gemuk” gumam Yoo Hee membaca komposisi potato chips.
*lantas es krimnya gimana buu…..?? yg bikin gemuk justru es krim......*

Yoo Hee bersiap di depan sofa ruang tengah yang empuk lalu menyalakan home theathernya dan mulai menonton drama Bad Guy---yang sudah ditonton Yoo Hee ratusan kali.
*mentang-mentang Oppa muncul disini jadi ditonton terus, sampe DVDnya beset-beset karena keseringan disetel*

Tidak lupa sebelum menonton, Yoo Hee mempersiapkan bola-bola kertas dari koran bekas untuk melempar tv kala adegan kissing Gunwook – Taera terjadi---sebagai tanda protes dan jealous. “bibir oppa hanya untukku” putusnya.
*nah lho…didemo trueyes, author ga tanggung jawab ya*

Baru saja di episode 6, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan dengan geram karena merasa terganggu, Yoo Hee mengangkat telepon dan isi pembicaraan di telepon sontak membuat Yoo Hee menangis sedih…..