Tampilkan postingan dengan label Taecyeon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taecyeon. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Januari 2012

F A T E - Chap 3 - Super Junior Fanfiction -

CHAPTER 3



Ringkasan Chapter sebelumnya ::

Ye-sung memulai hidup barunya bersama "Jodoh"  yang terpaksa diterimanya untuk tinggal bersamanya, sang penyihir muda berbakat, Juny Killarney. Ditakut-takuti oleh beragam ilusi yang dihasilkan tongkat sihir Juny, membuat idola satu itu tak berkutik terhadap semua keinginan Juny. termasuk, harus menjauhi Yoo-na, member SNSD yang diam-diam ditaksir Ye-sung. 
Bagaimana kelanjutan kehidupan baru Ye-sung dan Juny, juga tetangga serta fan Ye-sung, Kim Hae-sa yang tergila-gila pada pria itu, dan sahabatnya, Karin Lee, yang tanpa sengaja memotret kemesraan Taec-yeon 2PM bersama Jessica SNSD? 



- Apartemen Ye-sung / Kim Jong-woon -    

Seminggu sudah berlalu sejak “penjajahan” yang dilakukan Juny terhadap rumah dan hidup Ye-sung yang “malang”. Semenjak itu pula, ke mana pun Ye-sung pergi, dan di mana pun Ye-sung berada, selalu ada sesosok gadis asing bergaya gothic—lengkap dengan sapu andalannya—berkeliaran di sekitar idola satu itu.

Apa Ye-sung sebal? Apa Ye-sung Terganggu? Apa Ye-sung ingin kabur dari Juny? Oh, ya, itu sudah pasti. Tapi hal-hal tersebut tidak sebanding dengan rasa takut Ye-sung terhadap ancaman tongkat sihir sakti Juny. Jadi, begitulah, kehidupan “horor-romantis” seorang Kim Jong-woon aka Ye-sung, terus berlanjut…

“Ugh…” keluh Juny saat keluar dari mobil Ye-sung.

“Ada apa?” tanya Ye-sung. Bukan karena ia khawatir, tapi sepanjang perjalanan Ye-sung heran melihat sikap kalem Juny yang tak biasa. Bukan berarti Juny banyak bicara selama seminggu mereka tinggal bersama, tetapi biasanya sikap diam Juny diselubungi kabut tebal aura seramnya, sedangkan selama perjalanan dari kantor SM Entertainment hingga akhirnya sampai di sini, Juny secara mengajaibkan terlihat “tak berbahaya”, dan bahkan justru terlihat lemah.

Juny tak menjawab. Ia merasa sangat pusing dan mual. Diambilnya sapu terbangnya dari jok belakang Hyundai Tucson merah garnet milik Ye-sung, lalu berjalan cepat, tak sabar ingin segera sampai di apartemen Ye-sung.Namun rupanya Juny tak kuasa menahan mualnya lebih lama lagi. Di depan sebuah Mercedes Benz hitam mengkilat—yang entah siapa—Juny memuntahkan makan siangnya.

“Ya Tuhan!” seru Ye-sung ngeri saat melihat muntahan Juny mengotori mobil mahal tersebut. Buru-buru dihampirinya gadis itu. “Kenapa kau muntah di sini?” omelnya.

Dengan latar kulit pucatnya—yang semakin pucat—mata hitam besar Juny yang menyorot tajam terlihat semakin menyeramkan ketika mendelik sewot ke arah Ye-sung. Tiba-tiba, entah dari mana datangnya, sebuah sapu tangan sutra berwarna perak yang bersulam inisial Juny—JK—muncul di tangan gadis itu, dan dipakainya untuk mengelap bibirnya.

“Benda itu,” kata Juny dengan suara yang tak setajam dan selantang biasanya, sambil menunjuk mobil Ye-sung. “Yang kalian manusia biasa sebut mobillah, yang membuatku seperti ini! Semenjak naik mobilmu, aku merasa pusing dan mual—“ Juny terdiam ketika melihat gerakan bibir Ye-sung yang mencurigakan. “Apa?”

Tak dapat menahannya lagi, Ye-sung tertawa terbahak-bahak. “Maaf, maaf, aku…” belum selesai kalimatnya, Ye-sung kembali terbahak-bahak lagi hingga meneteskan air mata. “…kau… kau mabuk? Kau belum pernah naik mobil sebelumnya? Di jaman semodern ini? sama sekali?” Dan lagi-lagi, tawa Ye-sung meledak dengan menyebalkannya.

Wajah Juny merona malu. Yang paling dibenci Juny adalah kekalahan. Tapi yang paling membuatnya murka adalah dipermalukan. Dan itulah yang dilakukan Ye-sung saat ini. Dikeluarkannya tongkat sihir dari saku tersembunyi gaun hitam-peraknya, lalu tanpa basa-basi menodongkannya tepat di depan hidung Ye-sung, yang dengan mujarabnya langsung menghilangkan tawa dan selera humor pria itu.

“Apa aku terlihat lucu hingga pantas ditertawakan?” tanya Juny dengan kelembutan palsu.

“Tidak,” jawab Ye-sung langsung sambil menggeleng tegas dan serius. “Kau… terlihat cantik, dengan… dengan rambut… emm, semacam itu, dan gaun mekar itu… eh… juga sapumu…” rayunya dengan menyedihkan—berharap itu cukup untuk meredakan kemarahan Juny. Yeah, yang benar saja.

Tongkat sihir Juny menekan pelan hidung Ye-sung, membuat mata pria itu juling karena tatapannya yang terpaku pada ujung tongkat sihir di hidungnya.

“Tak heran kau terus melajang dan tidak dihiraukan si gadis kurus kering yang kau puja itu, bila begini caramu menggombal,” hina Juny, memaksudkan Yoo-na yang ditemuinya di kali pertama ia menginjakkan kaki di SM Entertainment seminggu lalu.

Yesung yang tersinggung karena Yoo-na-nya yang cantik sempurna dibawa-bawa dalam pembicaraan—dan dihina oleh gadis aneh dari alam lain di hadapannya ini—menggeram marah. “Kau tidak boleh—“

“Kak Ye-suuuuunnnggg!!!”

Belum sempat Ye-sung maupun Juny bereaksi terhadap seruan tersebut, si pemilik suara, bocah laki-laki berusia sekitar 8 tahun, berlari menubruk tubuh Ye-sung, kemudian memeluknya.

“Ji-hae!” teriak Kim Hae-sa memanggil adiknya. Karena membawa tas-tas plastic belanjaan, ia kesulitan mengejar Ji-hae yang nakal. Hae-sa nyaris mengomeli Ji-hae, tetapi diurungkannya niatnya begitu melihat dengan siapa adiknya berada. “Eh, kak Ye-sung,” ucapnya malu-malu sambil merapikan rambut panjangnya.

“Eh, hai,” sapa Ye-sung. Ketika disadarinya Juny masih belum juga menyingkirkan tongkat sihir dari hidungnya, buru-buru Ye-sung menepisnya.

“Kak Ye-sung, teman-teman sekelasku tak ada yang percaya padaku ketika ku katakan aku bertetangga denganmu,” adu Ji-hae.

“Benarkah?” Ye-sung tak tahu lagi harus berkomentar apa karena tegang. Belum pernah selama seminggu ini dirinya dan Juny terlihat berkeliaran bersama di sekitar apartemennya. Ia tak ingin orang-orang mulai curiga.

“Ji-hae, jangan ganggu kak Ye-sung,” Hae-sa pura-pura menasehati adiknya, walau pada kenyataannya ia sendiri pun sedikit demi sedikit semakin mendekati Ye-sung.

Ji-hae mengeluarkan ponsel khusus anak-anak dari saku celana pendek kotak-kotak birunya. “Apa aku boleh berfoto denganmu? Agar teman-temanku tak menuduhku pembohong?”

Ye-sung melirik cepat ke arah Juny yang walau masih terlihat kesal, namun terlalu mabuk untuk tetap menjaga kesangaran wajahnya. “Baiklah, ayo,” Ye-sung menyetujui dengan cepat, agar bisa cepat pergi dari tempat itu.

Selasa, 06 Desember 2011

Is This Love -Chap 10 & Epilog- (ENDING)

Chapter 10




-Mobil Taec-yeon-

Taec-yeon mencengkeram kuat kemudi mobilnya ketika terbayang kembali apa yang baru saja terjadi.


“Aku mencintaimu Hea-in!”

Selama beberapa detik gadis itu tampak tercengang, namun setelah membisu beberapa saat Hea-in berhasil mengembalikan ekspresi marah dan kesal di wajahnya. “Apa ini bagian dari perma—“

“Ya sudah kalau kau tak percaya!” bentak Taec-yeon membuat Hea-in tersentak kaget. Pria itu tampak benar-benar berang. Butuh keberanian besar bagi Taec-yeon untuk mengungkap isi hatinya, hingga ketidakpercayaan Hea-in membuatnya tak bisa menahan amarah. Ia pun pergi meninggalkan Hea-in yang hanya bisa membisu menatap punggung Taec-yeon hingga menghilang di balik tembok rumah sakit.


“Baiklah, aku akan melakukan apa yang kau inginkan,” gumam Taec-yeon setelah tersadar dari lamunannya. Ia menghidupkan mesin mobilnya dan melaju cepat menuju kediaman orang tuanya.



-Seoul Medical Centre-

Menyesal. Kata itu yang kini terukir dalam benak Hea-in. Ia tak menyangka Taec-yeon akan semarah itu. Ia hanya ingin memastikan bahwa apa yang dikatakan pria itu adalah yang sebenarnya, bukan lagi permainan seperti yang ia katakan dulu. Tapi karena perbuatannya, kini kesempatan untuk bisa bersama dengan pria itu menjadi lebih kecil. Taec-yeon marah padanya dan mungkin pria itu tak akan pernah peduli lagi pada dirinya. Kenapa ia pergi begitu saja, tanpa memberi kesempatan padaku untuk menjelaskan, pikir Hea-in pilu.

“Nona Kang, Dokter Yoon ingin bertemu dengan anda,” lapor seorang perawat menyadarkan Hea-in dari lamunannya.

“Ah...iya,” sambut Hea-in sembari mengangguk.


Sabtu, 10 September 2011

Is This Love -Chap 9-


Chapter 9




-Seoul Medical Centre-


Karena aku tak ingin kehilanganmu!

Kata-kata itu terus saja bercokol di benak Hea-in. Ia sempat terpaku selama beberapa saat, setelah mendengar Taec-yeon berkata begitu, masih juga terasa olehnya bagaimana jantungnya berdetak liar karena mendengarnya. Walaupun ia akhirnya bisa mengendalikan diri dan bersikap seolah kata-kata Taec-yeon itu sama sekali tidak mengganggunya. Dia pasti sedang mencoba mempermainkan aku lagi, pikir Hea-in. Tapi, bila mengingat ekspresi serius yang diperlihatkan Taec-yeon kala mengatakannya, membuat Hea-in ragu.

“Kak, aku haus!” Hyo-jin tiba-tiba terbangun dan merengek membuat Hea-in menghentikan pikiran-pikiran tentang Taec-yeon yang sedang mengganggunya.

Ia beranjak mengambil botol air minum di atas lemari besi di sebelah tempat tidur Hyo-jin dan menyodorkannya pada adiknya itu. “Bagaimana keadaanmu? Apa sendimu masih terasa nyeri?” Hea-in bertanya pada adiknya.

Hyo-jin menggeleng, “Kau sedang tak enak badan kak?” Hyo-jin balas bertanya seraya memperhatikan ekspresi wajah Hea-in yang terlihat letih.

“Tidak, aku baik-baik saja,” elak Hea-in sembari menggeleng.

“Maafkan aku kak, gara-gara aku sakit. Kau jadi tak bisa istirahat,” gumam Hyo-jin merasa bersalah.

“Astaga! Hyo-jin...kenapa kau bicara begitu?” Hea-in menepuk-nepuk lengan adiknya lembut. “Tidurlah! Tidak ada yang perlu kau khawatirkan,” tambah Hea-in menenangkan. Saat ini, Hea-in sendirian menjaga Hyo-jin, karena Hyo-hee harus kembali ke Mokpo untuk mengikuti ujian kelulusan di sekolahnya.

Beberapa menit kemudian, ponsel Hea-in berdering. Ada sebuah pesan masuk.


To: Hea-in

Sepenting apakah urusan pekerjaan itu hingga melibatkan kedua orang tua Kak Taec-yeon? :D

Sender: Dae-jia


Hea-in membelalakkan matanya membaca pesan dari Dae-jia. Ya Tuhan, bagaimana ini?, batin Hea-in resah.


Is This Love -Chap 8-


Chapter 8




-Kediaman Keluarga Park-

“Tumben tidak latihan Kak!” komentar Seung-mi saat melihat kakaknya, Park Jung-soo sedang duduk termenung di kursi taman di samping rumahnya. “Bukankah kalian akan mengirimkan demo rekaman? Kenapa malam ini kau malah bersantai di sini?” Seung-mi mendekati kakaknya itu dan duduk di sampingnya. Karena tak diacuhkan oleh Jung-soo yang jiwanya seolah sedang berada di tempat lain, Seung-mi memukul lengan kakaknya agak keras. “Kak, kau mendengarku tidak?” katanya dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.

“Eh?” seru Jung-soo baru tersadar dari lamunannya sembari mengusap-ngusap lengannya yang terasa sakit setelah dipukul Seung-mi, “Ah...kau mengganggu saja Seung-mi.” Jung-soo bangkit dari duduknya.

“Kau mau kemana sebelum menjawab pertanyaanku?” tahan Seung-mi dengan nada merajuk.

“Astaga! Kalau kau merindukan Hee-chul, kenapa kau tidak pergi temui dia saja,” sergah Jung-soo, “aku sedang tidak ingin diganggu.”

“Hya! Kau bilang aku mengganggu?” protes Seung-mi dengan mata melotot dan berkacak pinggang, “apa kau tak sadar...bahwa kaulah yang bersikap aneh malam ini. Saat Ibu memanggilmu untuk makan malam bersama, kau malah duduk-duduk sendiri di sini seperti orang linglung...dan saat aku menanyakan ada apa, kau cuma berlagak seperti yang sedang berada di dunia lain,” omelnya, “Apa kau habis dicampakkan kekasihmu?”

“Aissh...sudahlah! tutup mulutmu,” gerutu Jung-soo kesal mendengar omelan adiknya, “semakin lama tingkahmu semakin mirip dengan nenek-nenek yang suka ikut campur urusan orang lain...bagaimana Hee-chul bisa menerimamu kalau kau bersikap begini terus?”

“HYA!!!” pekik Seung-mi marah, yang tak didengarkan oleh kakaknya, karena ia buru-buru pergi ke kamarnya.

Begitu sampai di kamar, Jung-soo merebahkan dirinya di matras. Terbayang kembali cerita Ah-ra siang tadi yang tanpa sadar membuatnya meremas bed cover berwarna biru muda yang menutupi tempat tidurnya saat ini. “Ok Taec-yeon...Ok Taec-yeon...” ia menyebut nama itu sembari mengeraskan rahang, “apa keistimewaan pria itu, hingga membuat Ah-ra tak mampu berpaling darinya?” Jung-soo bertanya lebih pada diri sendiri. “Ah...sial!” geramnya kesal.

Ia dan Ah-ra telah memutuskan untuk membiarkan hubungan mereka berjalan alami. Dengan mencoba untuk saling mengenal pribadi masing-masing dan tanpa harus memaksakan pertunangan dan perasaan mereka satu sama lain. Tapi Jung-soo tentu saja masih berharap pada akhirnya Ah-ra dapat menerimanya dengan sepenuh hati. Kini, ia hanya perlu menunjukkan dengan segala cara bahwa ia sangat tulus mencintai Ah-ra dan mengharapkan gadis itu menjadi pendampingnya kelak. “Akan kutunjukkan bahwa aku pantas memilikimu, Ah-ra,” tekad Jung-soo.


Is This Love -Chap 7-


Chapter 7




-Apartement Taec-yeon-

“Maaf, sepertinya aku mengganggumu,” gumam Ah-ra sembari tertunduk canggung, ia sendiri menyesali keputusannya untuk datang ke tempat itu.

“Ah...tidak, sama sekali tidak mengganggu,” kilah Taec-yeon, rasa senang bercampur takut kalau-kalau Ah-ra menemukan keberadaan Hea-in di apartemennya membuat Taec-yeon bertingkah sedikit aneh. “duduklah!.”

Ah-ra duduk di sofa panjang di sebelah Taec-yeon. “Maaf, aku mencari tau alamat apartemenmu pada salah seorang karyawanmu di kantor pagi tadi,” mulai Ah-ra walau tak ditanya bagaimana ia mengetahui alamat apartemen Taec-yeon saat ini.

“Ada apa sebenarnya, sampai kau datang mencariku? Bahkan kau juga mencariku ke kantor, jelas aku tak mungkin di sana, kau tau ini hari Minggu,” Taec-yeon memandang mantan kekasihnya itu, intens, “Apakah ada hal penting yang ingin kau bicarakan?”

Ah-ra menunduk dalam-dalam, pergolakan batin yang ia alami sejak semalam kembali mengemuka.Mengapa aku ke mari? Apa yang kulakukan dengan datang ke mari? Haruskah aku menyesali keputusanku?, batin Ah-ra. “Emm...aku...”

“Apa kau bermaksud mempertimbangkan pembicaraan kita kemarin?” tukas Taec-yeon secara tiba-tiba membuat Ah-ra mengangkat wajahnya untuk memandang pria itu.

“eh...itu...aku...” sial!, Ah-ra memaki dalam hati. Ia tak menyangka akan sesulit ini untuk mengatakannya.

Taec-yeon menyeringai melihat tingkah gadis itu, sudah lama ia tak melihat tingkah malu-malu dan canggung Ah-ra. Baginya, saat melihat pipi Ah-ra bersemu merah karena malu, membuatnya terlihat sangat manis dan menggemaskan. “Katakanlah, apa itu maksudmu datang kemari? Kau bermaksud mempertimbangkannya?”

Ah-ra terdiam selama beberapa saat dan hanya bisa memandang Taec-yeon di hadapannya. Hatinya bergejolak, apakah benar aku masih mencintainya? Apakah benar keputusanku ini? apakah yang akan terjadi dengan Park Jung-soo jika aku melakukan ini? ayah? Dr. Park Jung-ho? Pihak keluarga Taec-yeon?. Ia kembali teringat akan kata-kata Ayahnya pagi tadi, saat melihatnya bangun dengan cekungan hitam menghiasi bagian bawah matanya yang menandakan bahwa semalaman ia tak bisa tidur memikirkan kejadian kemarin, ‘Kalau kau masih mencintainya, Ayah tak akan melarang kalian untuk kembali menjalin hubungan, asal kau bahagia, Ayah juga akan turut bahagia.’

“Ah-ra?” panggil Taec-yeon, membuyarkan lamunan Ah-ra.

“Emm...begini, aku—“

Senin, 08 Agustus 2011

Is This Love -Chap 6-


Chapter 6




-Kediaman Keluarga Yoon-

Ah-ra mengejar Ayahnya yang berjalan dengan langkah cepat menuju rumah. “Ayah, tunggu!” jeritnya putus asa. Setelah pertemuannya dengan Taec-yeon di ruangan Ah-ra tadi, Tuan Yoon kembali teringat akan masa lalu kelam yang menimpa kehidupannya dan membuat rasa bersalah di sudut hatinya kembali mengemuka. “Ayah, kumohon!” rengek Ah-ra mencoba menarik lengan Ayahnya tetapi tak diacuhkan, “kau marah padaku?”

Akhirnya Tuan Yoon menghentikan langkahnya dan bergumam datar tanpa sedikitpun menoleh pada putrinya, “Apa kau masih sering bertemu dengan pemuda itu?”

Ah-ra melangkah ke hadapan Ayahnya dan buru-buru menggeleng untuk membantah pertanyaannya, “Sungguh, baru sekali ini aku bertemu dengannya, Ayah.”

Tuan Yoon menatap mata putrinya lurus-lurus seolah-olah pandangan itu dapat menembus ke dalam hatinya,  “Tapi matamu tidak berkata begitu,” tuding Tuan Yoon tak percaya.

“Maaf Ayah,” Ah-ra menunduk lesu, “memang sudah beberapa kali kami bertemu,” akunya, “tapi, aku berani bersumpah, baru kali ini aku berbicara berdua—“

“Kau masih mencintainya?!” sela Tuan Yoon membuat Ah-ra mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Kata-kata Tuan Yoon tidak berupa pertanyaan, tapi lebih pada pernyataan. Tuan Yoon pun terduduk lemah di sofa di sampingnya dengan mata memandang kosong ke depan. Ingatannya kembali pada 18 tahun silam, kala peristiwa kelam itu terjadi.



18 tahun yang lalu...


Senin, 01 Agustus 2011

Prank'd - One Shoot - FF Kim's Family Gejeh Edition -

Prank'd



Ini cuma ff gejeh dari geng gejeh untuk para gejeh holic di dunia gejeh. tak ada yang nyata, benar, maupun waras dalam kisah ini.



Pengenalan tokoh :

Miya --> Shin Yu-ri / Pipi
Admin Shen --> Cha Shin-woo / Shen / Shendy
Admin Lee --> Lee Yoo-hee / Lee
Admin Park --> Park Dae-jia / Park
Mila --> Kang Hea-in
Victoria

Zhou Mi --> Mimi
Kim Soo-hyun --> Ohshanti
Kim Nam-gil
Choi Si-won
Noh Min-woo --> Minu
Lee Dong-hae --> Donge
Son Ho-young
Ok Taecyeon
Rain
Hwang Chan-sung --> Chanchan
TOP
Jung Yong-hwa --> Yongyong
Nickhun
Lee-teuk --> Spongebob
Eun-hyuk --> Unyuk / Patrick


============================


- Pulau pribadi keluarga Choi, rumah pantai -       

“Cup, cup, cup, udah, jangan nangis,” bujuk Park pada Mimi yang tengah bersandar di pundaknya.

“… hikzzz… tapi sakit hati banget nih…nyesek banget… si pipi tega ma aku!” isak Mimi. “bisa-bisanya dia selingkuh ama si ohshanti, padahal apa kurangku, coba?”

“Kurang daging,” cetus Dae-jia, yang segera mendapat delikan tajam dari mata merah Mimi + cubitan lembut di pipi.

“..hikzzz… imut banged sih..” isak Mimi *hoakakakakakk ~ sukasuka author!!

“Udahlah, masih banyak cewek cantik yang body-nya lebih asoy geboy dibanding si Pipi,” bujuk Hea-in yang sejak tadi memijat pundak Mimi.

“Tapi emang ga gampang ngelupain cinta,” kata Lee sok bijak. “Apalagi selama ini Mimi setia ama si Pipi, sama kaya aku yang cinta dan setia hanya pada Nam-gil oppa seorang,” sombongnya.

“Nyindir?” omel Park dan Hea-in kompak sambil mendelik ke arah Lee yang menyeringai sembari terus melanjutkan pekerjaannya memijat kaki Mimi *enak bener si Mimi dilayanin macam raja minyak gini.

Tanpa benar-benar sadar, sambil memijati kaki Mimi, Lee mendekatkan kaki pria itu ke hidungnya, dan segera mengernyit yeyek ketika menghirup aroma semerbak. “Bau!” serunya seketika *sapa suruh dicium!! wkwkwkwkwkwk.

Mimi yang sewot walau masih tetap dengan nangis bombaynya, segera menyepak Lee menjauh dari kakinya.

“…hikzzzz… coba ajah pipi kaya Park ato Hea-in onnie… hikzzzz… tetep setia mempertahankan suami biar kata punya namja laen… hikzzz…” Mimi memutar kepalanya kearah Hea-in dan menarik ujung bawah kaus wanita itu untuk membuat ingus, sementara si empunya baju gak sadar dijadikan tempat pembuangan *hoakakakkk ~ kapan lagi Lee ma sis mil punya kesempatan nyium aroma kaki + dapet ingus artis?? Wkwkwkwkwkwk ^^v

Kamis, 21 Juli 2011

Is This Love? -Chap 5-

Chapter 5




-Kantor OK Group-

“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mengatakan hal itu?” tuntut Hea-in marah, sesaat setelah mereka berada di ruang direktur.

Taec-yeon mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh, “Memangnya aku berbuat apa? aku hanya mengatakan yang sebenarnya.”

“Hya! Ini semua kesalahpahaman, dan kau tau itu.”

“Nona Hea-in!” Taec-yeon bersedekap dan bersandar di depan mejanya, “cara bicaramu padaku semakin kurang ajar saja. Apa kau lupa aku ini siapa?”

Hea-in mendengus, “Kalau kau berlaku sebagaimana seorang atasan dan tidak memperlakukan karyawanmu seenaknya, aku pasti akan memperlakukanmu layaknya seorang atasan,” komentar Hea-in pedas.

“Wah...wah...sebegitu marahkah kau padaku karena kejadian tadi. Hingga kau berani berkata begitu,” balas Taec-yeon sambil berjalan mendekat ke arah Hea-in berdiri saat ini, “Apa kau takut Song Seung-hun cemburu karena aku mengatakannya dan kau tidak bisa menjalin hubungan dengannya apabila ia tau kau calon istriku?” katanya tepat di telinga Hea-in, membuat Hea-in mundur beberapa langkah. “Kenapa kau mundur? Apa kau takut padaku?” tantang Taec-yeon membuat Hea-in mendelik marah dan menghentikan langkahnya membiarkan Taec-yeon mendekat, untuk memperlihatkan bahwa dirinya sama sekali tidak takut pada pria itu. Kini mereka hanya berjarak beberapa centi saja dan saling berhadap-hadapan dengan beradu pandangan tajam, seolah-olah dengan hanya beradu pandang mereka dapat mentranfer kekesalan masing-masing.

Cukup lama, mereka saling berpandangan, hingga suara pintu dibuka membuat mereka terkesiap dan sontak saling menjauh dengan memalingkan wajah masing-masing. “Oh...rupanya aku datang di saat yang kurang tepat,” Tuan Ok Gi-taek berkomentar.

“Ayah...jangan salah paham dulu!” sergah Taec-yeon.

“Teruskan saja pembicaraan kalian,” kata Tuan Ok, “Mari Tuan Song, sebaiknya kita langsung ke ruang produksi saja,” Tuan Ok berkata pada Song Seung-hun, yang saat ini masih memandang  penuh curiga ke arah Hea-in dan Taec-yeon.

“Ah...tunggu Tuan Ok!” tahan Hea-in saat Seung-hun mulai membukakan pintu bagi Tuan Ok.

Tuan Ok menghentikan langkahnya dan berputar menghadap Hea-in, “Ada apa Nona Kang?”

Is This Love? -Chap 4-

Chapter 4




-Kediaman Keluarga Yoon-

Ah-ra baru saja selesai bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Saat ia turun ke lantai bawah, ia melihat Ayahnya baru saja tiba dari kebun organik di sebelah rumahnya dengan membawa sekeranjang sayur dan buah-buahan. Untuk mengisi waktu senggangnya—karena Ah-ra melarang Ayahnya kembali bekerja—Tuan Yoon memiliki hobi berkebun, dan membuat sebuah rumah kaca berisi tanaman-tanaman organik yang sewaktu-waktu bisa dipanen untuk mereka konsumsi sendiri. “Lho, kau belum berangkat?” tanya Tuan Yoon yang melihat kehadiran putrinya di ujung tangga.

Ah-ra menggeleng, “aku masuk siang hari ini Ayah, karena semalam baru saja piket jaga,” sahut Ah-ra bergerak mendekat pada Ayahnya lalu mencomot tomat segar di keranjang yang dibawa Ayahnya.

Saat ia baru saja akan menggigit buah segar itu, Tuan Yoon menahannya, “dicuci dulu buahnya!” katanya memperingatkan, lalu merebut buah tomat di tangan Ah-ra itu dan mencucinya di wastafel, setelah sebelumnya meletakkan keranjang yang dibawanya di counter dapur. “kau ini seorang Dokter, kenapa masih belum sadar akan kebersihan!”

“Ah...Ayah, ini kan tomat organik,” protes Ah-ra, “jadi, tak perlu khawatir ada zat-zat kimia berbahaya yang masih menempel di kulitnya.”

“Iya, Ayah tau. Tapi masih ada bakteri-bakteri yang menempel di kulitnya kalau kau tak mencucinya dulu,” Tuan Yoon menyerahkan tomat yang sudah dicuci itu pada putrinya. “Kudengar kau sudah bertemu dengan Jung-soo.”

Jumat, 17 Juni 2011

Is This Love? -Chap 3-

Chapter 3




-Kantor OK Group-

Setelah bertengkar singkat dengan Kang Hea-in, Taec-yeon buru-buru merapikan berkas-berkasnya dan mengambil jas abu-abu yang tersampir di sandaran kursi lalu bergegas keluar mengejar gadis itu. Ia telah memutuskan bahwa malam ini harus ke rumah sakit untuk menemui Ah-ra. Sudah lama ia tak berbincang dengan mantan kekasihnya itu, walau hanya sekedar menanyakan kabar. Ia berjalan dengan langkah cepat ke luar ruangan dan menemukan pintu lift akan segera menutup saat ia tiba di ujung lorong yang menuju ke lift, kontan ia segera berlari dan menahannya. Tepat saat pintu lift kurang beberapa centi lagi akan menutup ia tiba di sana dengan nafas yang masih terengah ia menyaksikan pemandangan menjengkelkan di depannya. Kang Hea-in sedang mengobrol akrab dengan seorang pria yang sangat dibencinya. Song Seung-hun, adalah manajer pengendalian mutu yang merupakan orang yang paling diandalkan sang Ayah, Tuan Ok Gi-taek, untuk menggantikannya menjadi Direktur apabila ia gagal memenuhi keinginan Ayahnya memajukan perusahaan ini dalam waktu 3 bulan.

“Ehm!” Taec-yeon berdeham singkat sambil membetulkan letak jas-nya untuk menyela pembicaraan mereka.

“Oh, Tuan Ok! Kupikir Anda sudah pulang,” sapa Song Seung-hun, sopan.

Hea-in berputar menghadapnya dan menampakkan wajah kurang suka karena pembicaraannya disela begitu saja. Sialan!, maki Taec-yeon dalam hati. “Belum, masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan!” jawabnya sedikit angkuh sembari melangkah masuk ke dalam lift.

“Ah, ya. Anda pasti sibuk sekali,” komentar Seung-hun sekedar untuk berbasa-basi lalu kembali berpaling pada Hea-in, “Nona Hea-in, sampai di mana pembicaraan kita tadi?” ia bertanya  pada Hea-in yang berdiri di sampingnya.

Hea-in berdeham canggung berada di antara kedua pria yang memperlihatkan aura permusuhan itu, ia mengerti persaingan di antara keduanya, karena semua itu sudah menjadi rahasia umum di perusahaan, bahwa Ok Taec-yeon sang wakil direktur dan Tuan Song Seung-hun Manajer pengendalian mutu, bersaing memperebutkan kursi direktur utama, “Tadi—“

Sabtu, 04 Juni 2011

Is This Love? -Chap 2-

Chapter 2




-Seoul Medical Centre-

Dokter Yoon Ah-ra tengah berjalan dengan setengah tergesa di sekitar koridor rumah sakit dengan hati yang masih diliputi perasaan sesak oleh kerinduan. Air matanya yang mulai membanjiri di pelupuk mata berusaha ditepisnya. Dari arah berlawanan, dr. Park Jung-ho—sang direktur rumah sakit—sedang berbincang dengan dr. Ahn—spesialis bedah jantung—tentang keadaan pasien yang baru saja selesai dioperasi. Tak ingin terlihat sedang menangis di depan kedua rekannya itu, terlebih salah satunya adalah direktur rumah sakit ini, ia secara asal membuka pintu ruangan di sampingnya, dan menemukan dirinya berada kini di salah satu ruang rawat inap di rumah sakit tersebut.

“Eh? “ seru seorang pria yang kini tengah terbaring di matras, sambil memandang ke arah gadis itu, kaget.

Berdeham singkat, Ah-ra bergerak mendekat. Dengan berpura-pura menulis sesuatu di dokumen yang sedang ia bawa, ia melirik sekilas ke tepi ranjang dan membaca nama yang ada di situ. “Tuan Kim Hee-chul, benar?” tanyanya berusaha terlihat setenang mungkin.

“Ah, ya Dokter,” sahut pria tampan yang sedang berbaring itu. “Apakah di malam hari begini, dokter juga melakukan visite?”

“Oh?” terdiam sejenak, sambil berusaha mencari alasan yang tepat, lalu ia melanjutkan, “Ya, kebetulan saya sedang piket malam ini,” dustanya.

“Oh begitu, ya silahkan Dokter memeriksa saya,” pria itu mengingatkan, karena dirasa Ah-ra tak segera mendekat dan melakukan apa yang semestinya dilakukan. “Tumben datang sendiri Dok? Apakah tidak ada perawat yang bisa menemani?”

Ah-ra melirik pria itu sekilas sambil melanjutkan pekerjaannya membebatkan bebat spygmomamometer di lengan pria itu. “120/80,” tukasnya setelah mengukur tekanan darah pria itu, tanpa menjawab pertanyaannya, “Anda sudah sehat Tuan Kim, tekanan darah Anda normal.”

“Benarkah?”

“Apakah ada keluhan lainnya?”

Pria itu menggeleng, “Kurasa tidak, aku merasa sehat-sehat saja,” jawabnya.

“Oke, kalau begitu, anda sudah bisa dinyatakan sembuh.”

“Apakah itu artinya saya sudah boleh pulang Dokter?” pria itu bertanya antusias, seolah jawaban yang akan diberikan oleh Ah-ra sudah ia tunggu-tunggu sejak lama.

“Ya, tentu saja, anda bisa mengurus kepulangan anda besok,” sahut Ah-ra.

“Terima kasih banyak Dokter,” kata pria itu saat Ah-ra mulai merapikan peralatannya. Seringai puas tergambar jelas di wajahnya, menunjukkan lesung pipi di kedua sisi pipinya. Diam-diam, Ah-ra mengakui bahwa pria itu tampan.

“Ya, sama-sama. saya permisi dulu Tuan Kim,” pamit Ah-ra sopan lalu meninggalkan ruangan itu dengan perasaan lega, karena ia merasa sandiwaranya cukup berhasil.

Is This Love? -Chap 1-

Annyeong!!!! sesuai janjiku....sekarang giliran FF nya Sist Mila yang ku publish.....FF ini masih ada hubungannya ama FF The Stranger dulu....Mudah2an ni FF gak bosenin.....Mohon RCL-nya yee.....^^

-Lee-

______________________________________________________

Is This Love?



Chapter 1


Cast:
Mila Minuhae as Kang Hea-in
Ok Taec-yeon as him self
Hesty Puthree as Kang Hyo-hee
Arya Kumala as Yoon Ah-ra



-Kediaman Keluarga Kang, Mokpo-

Di sebuah rumah sederhana, jauh di pedesaan Mokpo, Kang Hea-in seorang wanita muda yang merupakan anak pertama dari Tuan Kang Moo-jun tengah sibuk memasak di dapur untuk ketiga orang adiknya. Sejak kedua orang tuanya meninggal setahun yang lalu akibat kecelakaan lalu lintas, ia lah sebagai anak tertua yang kini menjadi tulang punggung keluarganya.

“Kak, aku lapar!” seru Kang Hyun-jae adik bungsunya yang kini berusia 8 tahun telah siap duduk di meja makan dengan membawa serta tas sekolahnya.

“Iya, sebentar Sayang,” Hea-in yang masih sibuk memasak mencoba untuk mempercepat kegiatannya karena tak ingin adiknya terlambat ke sekolah.

TING TONG! Bel pintu berbunyi.

“Haish...siapa yang datang bertamu pagi-pagi begini?” gerutu Hea-in sambil melirik ke arah pintu, baru saja ia selesai membersihkan tangan dengan celemek berwarna biru laut yang dipakainya, adiknya Kang Hyo-hee sudah menyambar.

“Biar aku yang buka!” serunya riang pada Hea-in sambil berharap yang datang adalah kekasihnya. Hyo-hee adalah adik Hea-in, yang kini tengah duduk di bangku kelas 3 SMA, sebagai anak kedua ia lah yang merawat adik-adiknya selama Hea-in pergi ke Seoul untuk bekerja. Dengan wajah merengut kesal, karena yang datang bukan kekasihnya, Hyo-hee kembali ke meja makan. “Kak, tamumu,” ujarnya kecewa sambil menjatuhkan diri di kursi.

“Eh? Aku?”

“Ehm..” Hyo-hee menjawab masih setengah melamun dan bertopang dagu.

“Tolong lanjutkan masaknya Hyo-hee!” pinta Hea-in sembari melepas celemek dan bergegas menemui tamu yang dirasanya aneh sekali karena datang di pagi hari seperti ini. Begitu Hea-in membuka pintu untuk melihat siapa yang datang, ia terkesiap saat melihat pria yang sangat ingin dihindarinya kini berada di sana. “Sudah kukatakan aku tak—“