Sabtu, 04 Juni 2011

Is This Love? -Chap 2-

Chapter 2




-Seoul Medical Centre-

Dokter Yoon Ah-ra tengah berjalan dengan setengah tergesa di sekitar koridor rumah sakit dengan hati yang masih diliputi perasaan sesak oleh kerinduan. Air matanya yang mulai membanjiri di pelupuk mata berusaha ditepisnya. Dari arah berlawanan, dr. Park Jung-ho—sang direktur rumah sakit—sedang berbincang dengan dr. Ahn—spesialis bedah jantung—tentang keadaan pasien yang baru saja selesai dioperasi. Tak ingin terlihat sedang menangis di depan kedua rekannya itu, terlebih salah satunya adalah direktur rumah sakit ini, ia secara asal membuka pintu ruangan di sampingnya, dan menemukan dirinya berada kini di salah satu ruang rawat inap di rumah sakit tersebut.

“Eh? “ seru seorang pria yang kini tengah terbaring di matras, sambil memandang ke arah gadis itu, kaget.

Berdeham singkat, Ah-ra bergerak mendekat. Dengan berpura-pura menulis sesuatu di dokumen yang sedang ia bawa, ia melirik sekilas ke tepi ranjang dan membaca nama yang ada di situ. “Tuan Kim Hee-chul, benar?” tanyanya berusaha terlihat setenang mungkin.

“Ah, ya Dokter,” sahut pria tampan yang sedang berbaring itu. “Apakah di malam hari begini, dokter juga melakukan visite?”

“Oh?” terdiam sejenak, sambil berusaha mencari alasan yang tepat, lalu ia melanjutkan, “Ya, kebetulan saya sedang piket malam ini,” dustanya.

“Oh begitu, ya silahkan Dokter memeriksa saya,” pria itu mengingatkan, karena dirasa Ah-ra tak segera mendekat dan melakukan apa yang semestinya dilakukan. “Tumben datang sendiri Dok? Apakah tidak ada perawat yang bisa menemani?”

Ah-ra melirik pria itu sekilas sambil melanjutkan pekerjaannya membebatkan bebat spygmomamometer di lengan pria itu. “120/80,” tukasnya setelah mengukur tekanan darah pria itu, tanpa menjawab pertanyaannya, “Anda sudah sehat Tuan Kim, tekanan darah Anda normal.”

“Benarkah?”

“Apakah ada keluhan lainnya?”

Pria itu menggeleng, “Kurasa tidak, aku merasa sehat-sehat saja,” jawabnya.

“Oke, kalau begitu, anda sudah bisa dinyatakan sembuh.”

“Apakah itu artinya saya sudah boleh pulang Dokter?” pria itu bertanya antusias, seolah jawaban yang akan diberikan oleh Ah-ra sudah ia tunggu-tunggu sejak lama.

“Ya, tentu saja, anda bisa mengurus kepulangan anda besok,” sahut Ah-ra.

“Terima kasih banyak Dokter,” kata pria itu saat Ah-ra mulai merapikan peralatannya. Seringai puas tergambar jelas di wajahnya, menunjukkan lesung pipi di kedua sisi pipinya. Diam-diam, Ah-ra mengakui bahwa pria itu tampan.

“Ya, sama-sama. saya permisi dulu Tuan Kim,” pamit Ah-ra sopan lalu meninggalkan ruangan itu dengan perasaan lega, karena ia merasa sandiwaranya cukup berhasil.





Sementara itu, Hea-in tengah berpikir keras. Kejadian yang baru saja dilihatnya benar-benar aneh. Belum pernah ia melihat wajah Taec-yeon seperti itu sebelumnya. Ia heran, sebenarnya ada hubungan apa antara boss-nya itu dengan dokter yang sedang merawat adiknya saat ini? Ia menghela nafas, sambil melirik ke arah kedua adiknya. Hyo-jin yang tengah tertidur di matras di depannya dan Hyo-hee yang kini telah tertidur pulas di sofa di belakangnya. Hari ini benar-benar hari yang sangat melelahkan baginya, bukan hanya secara fisik, tetapi juga batin. Ia melangkah menghampiri sofa, tempat Hyo-hee tengah tertidur pulas dan menyampirkan selimut yang baru saja ia ambil dari tas pakaian yang tadi dibawa Hyo-hee.

“Hah...tenanglah Hea-in, kau pasti bisa melewati semua ini,” gumamnya lirih pada dirinya sendiri.

“Kak, kakiku pegal dan nyeri,” keluh Hyo-jin, yang tiba-tiba terbangun sambil memegangi kakinya yang sakit. Hea-in menghampiri adiknya itu, lalu memijat lembut tempat yang dikeluhkan sakit tersebut.

“Tidurlah!” ujarnya, sambil tetap memijat kaki adiknya.


Keesokan harinya...


“Kak...rambut Hyo-jin rontok!” seru Hyo-hee panik, dari kamar mandi. Hyo-jin yang tak terbiasa membuang air kecil di pispot, terus memaksa kepada kakaknya itu untuk mengantarnya ke kamar mandi. Dan betapa terkejutnya Hyo-hee, saat berusaha menyisir rambut adiknya yang berantakan, rambutnya rontok dengan hanya sekali sisir, rona ngeri tak dapat ia hilangkan dari wajahnya. Takut terjadi sesuatu yang salah dengan adiknya itu.

“Sudahlah kak, rambutku memang sudah rontok sejak beberapa waktu yang lalu,” sahut Hyo-jin tenang dan membuat Hyo-hee terperangah.

“Tapi, kenapa—“

“Itu bukan hal yang serius, sudahlah!” selanya tenang.

“Siapa yang bilang begitu?” protes Hyo-hee.

“Hyo-hee!” seru Hea-in di ambang pintu, “Bukankah orang yang terkena demam tifoid dalam jangka waktu yang lama, rambutnya akan rontok?”

“Ta—“ Hyo-hee buru-buru menutup mulutnya rapat-rapat, mengurungkan niatnya untuk memprotes, saat melihat kakaknya mendelik ke arahnya. Ia mengerti maksud kakaknya, agar Hyo-jin tidak panik. Kalau aku sendiri panik, bagaimana dengan Hyo-jin?, batinnya. Hah...bodohnya!

“Aku ke ruangan dokter dulu, katanya hasil laboratoriumnya sudah keluar,” pamit Hea-in lalu meninggalkan kedua adiknya dengan perasaan was-was berharap dugaan dokter Kim kemarin salah.



“Masuklah,” jawab dr. Yoon Ah-ra dari dalam ruangannya sesaat setelah Hea-in mengetuk pintu. Ruangan dokter berukuran 3 x 3 itu tertata rapi, dan terlihat lebih bagus dibandingkan dengan ruangan dokter Kim di Rumah sakit Mokpo kemarin. “Duduklah!” sambut dr. Yoon yang kini sedang duduk di belakang mejanya dengan amplop besar berwarna coklat di atas meja.

“Terima kasih,” balas Hea-in, lalu duduk di salah satu kursi dari dua kursi di depan meja Dokter yang masih muda dan cantik itu.

Dokter Yoon membuka amplop cokelat berisi hasil tes lab yang dilakukan Hyo-jin itu, lalu mengeluarkan kertas di dalamnya. “Nona Kang, apakah anda sudah siap mendengarnya?”

Hea-in mengangguk, di dalam hati bertanya, kenapa dr. Yoon berkata begitu? Apakah adikku benar-benar menderita penyakit seperti yang telah diduga oleh dr. Kim. “Silahkan Dokter,” jawab Hea-in, berusaha terlihat tenang.

“Begini, dari hasil laboratorium kemarin, di sini terlihat bahwa adik anda mengalami anemia berat dengan turunnya komponen komponen sel darahnya,” dr. Yoon berkata sambil menunjuk kertas yang menunjukkan bahwa jumlah leukosit, trombosit dan limfosit dari Hyo-jin berjumlah di bawah normal. “Selain itu, dari pemeriksaan urin yang dilakukan, juga ditemukan adanya proteinuria yakni adanya protein dalam urin Nona Hyo-jin,” dr. Yoon melanjutkan diagnosanya, “Sedangkan, dari pemeriksaan darah lengkap, ditemukan antibodi-antibodi abnormal, yang menunjukkan sistem imunitas Nona Hyo-jin bermasalah,” tambah dr. Yoon menyelesaikan diagnosanya.

“Lalu?” Hea-in bertanya, karena tak mengerti dengan istilah-istilah yang disebutkan dr. Yoon itu, “Apakah dugaan dr. Kim dari Rumah sakit Mokpo benar?”

Dokter Yoon Ah-ra menghela nafas sejenak, “Ya, dr. Kim benar, adik anda menderita penyakit Lupus Erythematosus Sistemik.”

Air mata Hea-in mulai merebak saat mendengarnya, “Dan benarkah kalau penyakit itu tidak bisa disembuhkan Dok?” Hea-in bertanya dengan suara yang bergetar karena kegetiran yang mendalam.

“Tenanglah Nona Kang,” dr. Yoon menyodorkan tissue ke Hea-in yang mulai tak bisa membendung air matanya, sebenarnya ia benci harus menangis di depan orang lain. Tapi kini perasaannya benar-benar hancur. Apa yang dikatakan dokter Kim kemarin benar adanya. Penyakit Lupus erythematosus adalah penyakit keganasan sistem imun dan sampai saat ini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan penyakit itu secara tuntas, “Penyakit ini bukannya tak bisa disembuhkan,” tambah dr. Yoon buru-buru, “tapi, penyakit ini memang agak sulit untuk sembuh total, rata-rata pasien dengan penyakit ini, akan bertahan bersama penyakitnya hingga akhir usianya. Tapi jangan khawatir, karena kemungkinan untuk sembuh juga pasti ada.”

“Kalau boleh tau, apa sebenarnya penyebabnya Dok? Karena  yang saya dengar dari dr. Kim penyakit itu disebabkan oleh faktor keturunan, dan setau saya, belum pernah ada riwayat keluarga saya yang menderita penyakit itu.” Hea-in berhenti sejenak untuk menghela nafas, “Dan kalau itu benar disebabkan oleh genetik, perlukah saya dan adik saya yang lain untuk memeriksakan kesehatan juga?”

Dokter Yoon tersenyum menenangkan, “Ya, itu memang benar. Tetapi, tidak semua kasus disebabkan oleh faktor keturunan, banyak juga kasus lain yang penyebabnya belum jelas. Kalau memang belum pernah ada riwayat keluarga, berarti memang ada faktor lain yang menyebabkan adik anda menderita lupus.”

“Apa itu Dok?”

“Penyebabnya bisa dari lingkungan, stress emosional dan asupan gizi yang dapat mempengaruhi sistem imunitas seseorang,” jawab dr. Yoon. “Untuk pertanyaan Anda, tentang perlukah menjalani tes serupa bagi anda sendiri dan adik-adik anda, saya rasa belum perlu selama kesehatan anda dan adik-adik anda masih dalam batas normal, tapi kalau sudah timbul gejala ruam merah atau nyeri-nyeri dipersendian, segera saja diperiksakan ke dokter, karena penanganan dini pada pasien lupus akan menurunkan resiko kematian,” saran dr. Yoon pada Hea-in.

Hea-in mengangguk sopan, “Terima kasih Dokter atas informasinya,” katanya, lalu beranjak dari kursinya, “tolong berikan yang terbaik untuk adik saya,” Hea-in menambahkan sebelum pergi.

“Akan saya usahakan,” sahut dr. Yoon.



-Kantor OK Group, ruang direktur-

“Kemana dia, kenapa jam segini belum juga datang?” gumam Taec-yeon gusar, sembari berjalan mondar-mandir di ruangannya. “Apa ia lupa hari ini harus masuk?” geramnya, mengetahui Hea-in belum juga tiba di kantor. “Hallo, Nona Kang apa kau lupa hari ini harus ke kantor?” bentak Taec-yeon melalui telepon, saat baru saja gadis itu mengucapkan kata Hallo.

“Tapi, pagi ini saya masih harus bertemu dr. Yoon untuk mendiskusikan kondisi adik saya Tuan Ok,” balas Hea-in dari seberang.

Mendengar nama dr. Yoon Ah-ra disebut, hati Taec-yeon kembali sakit. Teringat olehnya pertemuan semalam dengan mantan kekasihnya itu. Sudah lama sekali ia tak bertemu dengannya, semenjak putusnya hubungan mereka. Gadis itu, masih secantik dulu. Sebenarnya ia masih sangat mencintai Ah-ra, kalau bukan karena campur tangan orang tuanya yang melarangnya berhubungan dengan gadis itu, pasti ia tak akan memutuskan gadis yang sangat dicintainya itu. “Cepatlah ke mari, aku sudah mengatur jadwal dengan manajer pengembangan produk, untuk merapatkan tentang proyek pengembangan produk baru kita,” Taec-yeon berkata dengan berusaha menyembunyikan rasa sakit hatinya.

“Tapi, bagaimana bisa anda mengatur semua itu, sementara saya—“

“Aku tidak menerima bantahan dari anak buahku Nona Hea-in, sekedar untuk mengingatkan,” katanya pongah. Lalu menutup sambungan telepon dengan kasar.



-Seoul Medical Centre-

“Sialan!” maki Hea-in, masih menatap ponselnya itu, seolah-olah ponselnya adalah barang paling menjijikkan dan menyebalkan di dunia. Ia sadar, bahwa keputusannya menerima tawaran Taec-yeon untuk kembali bekerja di OK Group, cepat atau lambat pasti akan disesalinya. Tapi, ia tak menyangka akan secepat ini, pria itu kembali bersikap semena-mena padanya. Setelah dulu, ia melakukan hal yang sama hingga mengakibatkan pengunduran diri Hea-in. Padahal, belum lagi ia menginjakkan kakinya di kantor OK Group. Dasar, pria tak punya hati!, maki Hea-in dalam hati. Kini, suasana hatinya sedang buruk, ditambah dengan sikap boss-nya yang kasar itu, membuat Hea-in meradang.

Hyo-hee yang melihat tingkah kakaknya itu mengernyit heran, “Ada apa kak?” tanyanya, tapi tak ditanggapi oleh Hea-in yang hanya berlalu meninggalkannya dan masuk ke kamar mandi untuk bersiap.



Sementara itu, di sebuah ruang rawat lain, dua orang pria sedang beradu argumen. “Hya! Lee-teuk, semua ini gara-gara kau!” tukas Kim Hee-chul, pada sahabatnya itu, merengut kesal. Sedangkan yang disalahkan hanya senyum-senyum tanpa sedikit pun merasa bersalah.

“Kenapa aku?”

“Aku kan masih sakit,” protesnya.

“Lalu?”

“Lalu katamu?” geramnya, karena melihat ekspresi datar-datar saja dari sahabatnya itu. “Gara-gara semalam kau tidur di tempat tidurku, sementara aku sedang di kamar mandi. Sekarang, tiba-tiba saja aku dinyatakan sembuh oleh dokter, padahal baru kemarin operasi usus buntuku berjalan, apa kau masih mau bilang bahwa ini bukan salahmu?” pemuda itu mulai berteriak tak sabar.

“Hya! Bukannya, dulu kau pernah bilang, kalau kau tak suka berada di rumah sakit. Aku hanya mencoba membantumu!” kata pria itu santai.

“Arrghh! Sial kau!” maki Hee-chul, sembari melempar bantal ke arah temannya itu, yang justru tertawa semakin kencang.

Sebenarnya semalam, ia hanya ingin bertemu dengan dr. Yoon Ah-ra, wanita yang akan dijodohkan dengannya itu. Ayahnya, dr. Park Jung-ho yang merupakan direktur di rumah sakit ini, merekomendasikan dokter muda itu padanya. Awalnya ia sama sekali tak berminat, karena ia tak suka dengan ide perjodohan itu. Baginya, hubungan pernikahan bukan hanya menyatukan dua orang, tetapi juga menyatukan dua hati. Bagaimana hubungan pernikahan bisa berjalan dengan baik, kalau keduanya tidak saling mencintai?. Tapi, mendengar ayahnya yang selalu mendengung-dengungkan kehebatan dr. Yoon Ah-ra di rumah, setiap kali mereka bertemu. Ia tak bisa mencoba untuk tak penasaran dengan gadis itu. Terlebih saat ini ia memiliki alasan untuk berkunjung ke rumah sakit—walaupun Ayahnya adalah direktur rumah sakit, ia sama sekali tak berminat peda bidang itu, dan lebih memilih dunia hiburan—untuk menjenguk Hee-chul sahabatnya yang baru saja menjalani operasi usus buntu. Dan kesan pertamanya semalam adalah gadis itu lumayan cantik.

“Hya, Lee-teuk, Pokoknya kau harus bertanggung jawab!” gerutuan Hee-chul menyentaknya dari lamunan.

“Hah...iya, iya! Nanti aku bilang pada Ayah,” Lee-teuk adalah nama sebutannya di grup band yang dibentuknya bersama 3 orang sahabatnya dan Hee-chul adalah salah satunya, yang sebenarnya memiliki nama asli Park Jung-soo. “kau ngotot sekali ya? Padahal sebenarnya, kau masih bisa istirahat di rumah,” tambah Jung-soo heran, “Atau jangan-jangan, ada seorang gadis yang menarik hatimu di sini? Karena setahuku seorang Kim Hee-chul paling anti berada di rumah sakit,” tebak Jung-soo, membuat yang ditanya menyunggingkan senyum misterius.

“Kau memang paling mengerti aku,” katanya.

“Hya! Aku mengenalmu bukan hanya dalam 1-2 tahun ini, tapi kita sudah bersama sejak kecil,” gumam Jung-soo. “Siapa dia? siapa wanita yang sedang sial itu? ayo katakan padaku!”

“Aiiissh.....sialan kau! Justru wanita itu beruntung mendapatkan cintaku,” protes Hee-chul dengan kesombongan dibuat-buat, “Hmm...tebak saja sendiri!” senyum semakin terkembang di wajah Hee-chul.

“Jangan bilang kalau kau menyukai dr. Yoon,” seru Jung-soo, hingga membuat sahabatnya itu tertawa geli.

“Kenapa kau bisa menebak seperti itu? Jangan-jangan....” Kim Hee-chul tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi aneh yang ditunjukkan sahabatnya.



-Kantor OK Group-

Kantor OK Group masih sama seperti biasanya, saat Hea-in kembali melangkahkan kakinya di gedung itu.  “Apa ini? kenapa kau baru datang sekarang?” bentak Taec-yeon marah sesaat setelah Hea-in tiba di dekat ruang rapat. “Apa kau tau jam berapa ini? dan keterlambatanmu membuat semua orang di ruang rapat menunggu.”

“Kurasa anda sudah mendengar alasan saya tadi ketika di telepon,” sahut Hea-in datar.

“Sekedar untuk mengingatkan Nona Hea-in, sekarang aku kembali menjadi boss-mu,” kata Taec-yeon sopan dibuat-buat.

“Cih...tak perlu mengingatkanku. Kalau memang kau tak menyukai sikapku, kenapa tak kau pecat saja aku?” tantang Hea-in marah, suasana hatinya yang memburuk membuatnya berani berkata begitu.

“Hah...” Taec-yeon tersenyum mengejek, “Lalu apa yang akan kau lakukan untuk membayar biaya pengobatan adikmu?”

“Itu urusanku!” jawab Hea-in tenang. “kalau begitu, saya pergi—“

“Tunggu!” Taec-yeon menangkap pergelangan tangan Hea-in. “Masuklah!” ia menunjuk ke ruang rapat di sebelahnya.

Hea-in memperlihatkan senyum sinis lalu menepiskan pegangan tangan Taec-yeon dari pergelangan tangannya, “Jadi, sekarang anda yang membutuhkan saya!” katanya tegas, membuat Taec-yeon membisu. Gadis itu benar, itu lah sebabnya hingga ia mengejarnya sampai ke Mokpo. “Kalau anda memang membutuhkan saya, jangan pernah memperlakukan saya seenak hati anda!”

“Tapi kau juga membutuhkan uangku!” protes Taec-yeon.

“Hmm...ya anda benar, saya memang membutuhkan uang anda,” tukas Hea-in jujur, “Tapi ingat, anda juga membutuhkan saya. Kalau tidak, kenapa anda sampai memaksa saya kembali ke perusahaan? Karena sekarang posisi kita sama, jadi jangan sekali-kali anda bersikap seenaknya.” Hea-in membuka pintu ruang rapat dan melenggang masuk tanpa mempedulikan lagi protes yang akan dilontarkan oleh pria itu.



-Kediaman keluarga Yoon-

“Ah! Kau sudah pulang Ah-ra!” seru Tuan Yoon seung-won menyambut putrinya yang baru saja tiba. “Tumben hari ini kau pulang cepat?”

Ah-ra memandang Ayahnya yang kini sedang memakai celemek, dan membawa nampan makanan di tangannya. Semenjak Ibunya meninggal, ia hanya tinggal berdua dengan Ayahnya. Ayahnya juga lah yang mendorongnya untuk menjadi seorang Dokter seperti saat ini. “Hmm...sepertinya enak!” Ah-ra mendekat dan memeluk Ayahnya dari belakang lalu mengecup pipi Ayahnya lembut.

“Hya! Apa yang kau lakukan?” protes Tuan Yoon menerima perlakuan Ah-ra, “Mandi dan ganti baju dulu, kau bau sekali!” godanya, yang dibalas wajah cemberut oleh Ah-ra. “Ayo, mandi dulu sana! Ayah tunggu, lagi pula sayurnya belum matang,” bujuk Tuan Yoon.

“Tunggu sebentar Ayah! Aku masih ingin begini,” tahan Ah-ra tetap tak melepaskan pelukannya dari Ayahnya. Ia sangat menyayangi Ayahnya itu. Ibunya meninggal saat ia baru berusia 9 tahun. Semenjak saat itu, Ayahnya lah yang berperan sebagai Ayah sekaligus Ibu baginya.

“Ada apa lagi?” tanya Tuan Yoon, “Apa ada masalah dengan pasien-pasienmu?”

Ah-ra menggeleng, “Tidak Ayah! Aku hanya merindukanmu,” dustanya, karena sebenarnya ia tak ingin Ayahnya tau, bahwa ia kembali memikirkan Ok Taec-yeon. Karena pria itu, bisa kembali mengungkit emosi masa lalu Ayahnya.

“Ah-ra, kalau kau begini terus. Sayurku bisa gosong, apa kau mau kita makan nasi saja malam ini?”

“Ah, Ayah!” gerutu Ah-ra sembari melepas pelukannya.“Ya sudah, aku ke atas dulu! tunggu aku ya. Awas kalau kau makan dulu sebelum aku turun!”

“Hmmm...” gumam Tuan Yoon yang masih sibuk dengan masakannya lalu tersenyum menatap punggung putri semata wayangnya itu menjauh.


Setibanya di kamar, Ah-ra melemparkan diri ke matras dan memandang langit-langit kamarnya yang dihiasi bintang-bintang kecil glow in the dark. Pikirannya menerawang jauh, ke masa lalunya, saat ia masih menjalin hubungan dengan Ok Taec-yeon. Ia dan Taec-yeon bertemu secara tak sengaja di perpustakaan umum, universitas Kyung-hee tempatnya dan Taec-yeon menuntut ilmu di fakultas yang berbeda dan mereka pun menjalin hubungan. Sudut bibirnya sedikit terangkat, saat mengenang masa-masa bahagia itu. Cukup lama mereka menjalin hubungan kasih, hingga sampai suatu saat, Taec-yeon ingin memperkenalkannya pada keluarganya. Dan betapa terkejutnya ia, saat mendengar penolakan keluarga Ok yang disebabkan dendam pribadi keluarga Ok terhadap Ayah Ah-ra. Tuan Ok, meradang saat ia mengetahui siapa Ayah Ah-ra dan menuduhnya sebagai pembunuh, lalu mengusirnya keluar di acara makan malam itu. Ah-ra yang sangat menyayangi Ayahnya, tak terima Ayahnya dijelek-jelekkan seperti itu. Ia tak percaya, Ayahnya yang sangat baik itu, disebut sebagai pembunuh oleh Tuan Ok. Senyum yang baru saja tersungging di bibir Ah-ra menghilang, saat mengenang kejadian itu.

Malam itu, setibanya ia di rumah. Ia tak tahan untuk tak menanyakan masalah apa yang sebenarnya terjadi antara Ayahnya dan Tuan Ok. Kenapa tuan Ok sampai menuduhnya sebagai pembunuh? Dari cerita Ayahnya, ia menemukan kenyataan yang membuat dadanya sesak.


Tok..tok...tok! suara pintu diketuk, membuat Ah-ra terkesiap. “Apa kau sudah mandi?” suara Tuan Yoon terdengar dari luar, membuat Ah-ra segera bangkit berdiri.

“Sebentar Ayah! Masih ada sesuatu yang kukerjakan!” seru Ah-ra lalu buru-buru ke kamar mandi dan menyalakan shower.





-Kantor OK Group-

Hea-in meletakkan berkas-berkas di ruangan Taec-yeon. “Pekerjaan saya sudah selesai Tuan Ok. Apakah saya sudah boleh pulang?”

Ok Taec-yeon memperhatikan dengan seksama, wanita cantik di depannya itu, “Nona Hea-in, apa kau tidak takut padaku?”

Sontak pertanyaan Taec-yeon itu membuat Hea-in tersenyum geli, tapi tentu saja ia tak memperlihatkan secara langsung di depan pria itu. Aneh sekali!, pikirnya. “Apa itu yang anda inginkan?” Hea-in balas bertanya.

“Ah...sudahlah! lupakan pertanyaanku tadi!” sergahnya. “Apa kau akan ke rumah sakit sekarang?”

“Tentu saja!” sahut Hea-in, “Apa itu artinya anda mengijinkan saya pulang?”

“Ya, ayo! Aku antar kau ke rumah sakit,” Taec-yeon sudah bangkit dari tempat duduknya ketika Hea-in memandangnya heran. “Kenapa kau memandangku begitu?”

“Apa kau sedang berusaha menyuapku dengan mencoba bersikap baik padaku?” Hea-in menyuarakan keheranannya. “Sebenarnya apa yang anda inginkan dariku? Katakan saja!” tantangnya.

Taec-yeon mencibir, “Kurasa, aku tak perlu bersusah-susah bersikap baik untuk mendapat apa yang aku inginkan darimu, karena cukup dengan memberikan uang, kau sudah mau memberikan apa yang kuinginkan,” ucap Taec-yeon dingin.

“Kalau bukan karena adikku, aku tak akan pernah mau bergabung lagi di perusahaan ini!” seru Hea-in kasar dan berlalu meninggalkan Taec-yeon. Sebenarnya, ia berniat mengantar Hea-in ke rumah sakit karena ingin bertemu Yoon Ah-ra. Sejak pertemuannya semalam, ia kembali memikirkan gadis itu. kenangan-kenangan lama yang ia rajut indah dan tersimpan lama di dalam memori-nya, kembali ke permukaan. Tapi, seolah ada jurang besar yang menghalangi mereka, ia hanya bisa mengenang masa-masa itu dengan senyum pilu yang tergambar jelas di wajahnya.



Hea-in yang kesal, bergegas meninggalkan kantornya dengan hati dongkol. Teganya ia berkata begitu padaku? memangnya aku ini pelacur yang rela melakukan apa saja demi uang?, batinnya kesal. Baru sehari saja ia kembali ke tempat ini, entah sudah berapa kali pria bernama Taec-yeon itu membuatnya kesal. Mulai dari panggilan di telepon pagi tadi, hingga malam ini, saat ia telah bersusah payah menyusun rencana dan formula baru untuk produk roti yang akan dibuat. Ia harus kembali menerima kata-kata kasar dan semena-mena dari pria itu.

Ia masih ingat betul kejadian sebulan yang lalu, saat pria itu tidak mengabulkan permintaan cuti darinya, padahal saat itu ia baru saja mendapat kabar bahwa adiknya, Hyo-jin, sedang sakit parah. Pria itu justru menuduhnya ingin lari dari pekerjaan, karena mengingat pertemuannya dulu di Villa keluarga Yong-hwa. Malam itu, ia bertemu dengan Taec-yeon yang juga diundang oleh Yong-hwa, lalu menuduhnya lari dari tanggung jawab pekerjaan dan memilih datang ke acara itu. Hea-in sadar, saat itu dirinya salah karena ia telah meminta cuti sehari dan mengatakan ada keperluan penting dan mendesak. Tapi, bukankah ia benar, menganggap pertunangan sepupunya itu hal yang penting, lagi pula saat itu sedang weekend, dan sudah sepantasnya lah ia diliburkan, begitu pikir Hea-in saat itu.

Tapi, seolah tak ingin mempercayai-nya lagi, pria itu tak mengijinkan Hea-in mengambil cuti. Hingga ia memutuskan untuk keluar saja dari perusahaan ini. Karena ia merasa, kerja kerasnya bukannya dihargai, tapi justru membuatnya bekerja siang malam tanpa henti, seolah dirinya budak. Dia memang pria angkuh yang tak berperasaan!, batin Hea-in kesal. “Aishh! Lama sekali sih!” gerutu Hea-in tak sabar, karena lift di depannya yang tak segera terbuka.

Saat ia menjulurkan tangan untuk memencet tombol lift di depannya sekali lagi, jarinya bertumbukan dengan jari seorang pria yang juga sedang memencet tombol tersebut. “Eh?” gumam Hea-in saat melihat pria tampan di sampingnya itu.

“Apa kabar Nona Hea-in, lama tak bertemu!” sapa pria itu ramah.



~To Be Continued.....

By Yuli (Admin Lee)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar