Jumat, 17 Juni 2011

Is This Love? -Chap 3-

Chapter 3




-Kantor OK Group-

Setelah bertengkar singkat dengan Kang Hea-in, Taec-yeon buru-buru merapikan berkas-berkasnya dan mengambil jas abu-abu yang tersampir di sandaran kursi lalu bergegas keluar mengejar gadis itu. Ia telah memutuskan bahwa malam ini harus ke rumah sakit untuk menemui Ah-ra. Sudah lama ia tak berbincang dengan mantan kekasihnya itu, walau hanya sekedar menanyakan kabar. Ia berjalan dengan langkah cepat ke luar ruangan dan menemukan pintu lift akan segera menutup saat ia tiba di ujung lorong yang menuju ke lift, kontan ia segera berlari dan menahannya. Tepat saat pintu lift kurang beberapa centi lagi akan menutup ia tiba di sana dengan nafas yang masih terengah ia menyaksikan pemandangan menjengkelkan di depannya. Kang Hea-in sedang mengobrol akrab dengan seorang pria yang sangat dibencinya. Song Seung-hun, adalah manajer pengendalian mutu yang merupakan orang yang paling diandalkan sang Ayah, Tuan Ok Gi-taek, untuk menggantikannya menjadi Direktur apabila ia gagal memenuhi keinginan Ayahnya memajukan perusahaan ini dalam waktu 3 bulan.

“Ehm!” Taec-yeon berdeham singkat sambil membetulkan letak jas-nya untuk menyela pembicaraan mereka.

“Oh, Tuan Ok! Kupikir Anda sudah pulang,” sapa Song Seung-hun, sopan.

Hea-in berputar menghadapnya dan menampakkan wajah kurang suka karena pembicaraannya disela begitu saja. Sialan!, maki Taec-yeon dalam hati. “Belum, masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan!” jawabnya sedikit angkuh sembari melangkah masuk ke dalam lift.

“Ah, ya. Anda pasti sibuk sekali,” komentar Seung-hun sekedar untuk berbasa-basi lalu kembali berpaling pada Hea-in, “Nona Hea-in, sampai di mana pembicaraan kita tadi?” ia bertanya  pada Hea-in yang berdiri di sampingnya.

Hea-in berdeham canggung berada di antara kedua pria yang memperlihatkan aura permusuhan itu, ia mengerti persaingan di antara keduanya, karena semua itu sudah menjadi rahasia umum di perusahaan, bahwa Ok Taec-yeon sang wakil direktur dan Tuan Song Seung-hun Manajer pengendalian mutu, bersaing memperebutkan kursi direktur utama, “Tadi—“



“Nona Hea-in!” potong Taec-yeon sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya. “malam ini, kau ku antar ke rumah sakit.”

Tentu saja kata-kata itu membuat Hea-in kembali berputar menghadap Taec-yeon dan menatapnya dengan pandangan jengah. “Rumah sakit?” kata-kata Seung-hun membuatnya menoleh. “Memangnya siapa yang sakit?” tanya Seung-hun khawatir.

“Oh...ad—“

“Bagaimana bisa sepasang kekasih tak mengetahui permasalahan yang sedang dihadapi kekasihnya?” komentar Taec-yeon tenang dengan tak menyembunyikan nada menyindir dalam suaranya.

Kontan kata-kata Taec-yeon itu membuat Hea-in berang, sejak kapan ia menjadi kekasih Song Seung-hun? Ia memang mengagumi pria itu, karena Song Seung-hun adalah sosok pria yang baik, ramah, penuh perhatian dan pekerja keras. Pria itu juga tampan dan sangat menarik, ia menyadari bahwa pria itu memang merupakan sosok pria idamannya. Tapi, bukan berarti pria itu adalah kekasihnya seperti yang dibilang Taec-yeon barusan. “Apa maksud Anda bicara seperti itu?” bentak Hea-in.

“Apa?” Taec-yeon balik bertanya tanpa merasa bersalah sama sekali dengan memperlihatkan wajah tanpa dosa.

“Kau—“

“Sudahlah Nona Hea-in,” tahan Seung-hun menyentuh pundak Hea-in lalu memutarnya hingga menghadapnya kembali. “Biar aku yang mengantarmu ke rumah sakit,” tambahnya tenang, “Kau belum menjawabku, siapa yang sakit?”

“Adikku,” jawab Hea-in setengah menggeram, kesal atas kelakuan Taec-yeon.

Taec-yeon mencibir, “Maaf Tuan Song, perintahku tidak untuk dibantah!” ia berkata pongah. Lalu menarik lengan Hea-in saat pintu lift terbuka di basement yang langsung mengarah ke tempat parkir.



-Kamar Ah-ra-

“Kau tau apa yang dilakukan Ayahmu?” bentak Tuan Ok padanya sesaat setelah ia mengatakan bahwa dirinya adalah putri dari Tuan Yoon Seung-won. “Keluar kau dari sini!” usirnya, “Aku tak mau berurusan dengan keluarga seorang pembunuh!”

Taec-yeon yang duduk di sebelah Ah-ra berusaha menahannya saat ia mulai bangkit untuk meninggalkan ruangan itu. Hatinya sakit, karena sang Ayah yang sangat ia sayangi dituduh sebagai pembunuh. Tak mungkin Ayah melakukan itu, tak mungkin!, jerit hatinya. “Ah-ra tunggu!” panggil Taec-yeon, yang berhasil menangkap pergelangan tangannya saat mereka tiba di depan restoran.

“Lepaskan aku!” jerit Ah-ra sembari terisak, air matanya tak bisa dibendungnya lagi.

“Ah-ra, ini pasti hanya kesalahpahaman!” Taec-yeon berusaha menenangkannya.

“Kesalahpahaman katamu? Apa kau tidak dengar kalau Ayahmu menuduh Ayahku sebagai pembunuh?” protes Ah-ra.

“Oh Tuhan! Kumohon Ah-ra, masa’ kau percaya begitu saja?”

“Tentu saja aku tidak percaya.”

“Lalu kenapa kau marah padaku?”

“Aku tidak marah padamu, tapi pada Ayahmu!” koreksi Ah-ra.

“Oke, begini saja. Biar ku antar kau pulang, lalu kita tanyakan kebenarannya pada Ayahmu,” saran Taec-yeon.

“Biar aku saja yang bertanya, kau kembalilah!” tolak Ah-ra, “orang tua-mu pasti tak akan suka jika kau pulang bersamaku.”

“Tadi kau pergi ke mari bersamaku, jadi pulang pun kau harus bersamaku,” tegas Taec-yeon.

“Tapi—“

“Aku tak suka dibantah!” potong Taec-yeon, lalu tanpa meminta persetujuan Ah-ra lagi, ia menggiring kekasihnya itu ke mobil. Akhirnya, atas permintaan dan permohonan Ah-ra, ia setuju hanya akan mengantar pulang saja, tanpa harus menemaninya mengkonfirmasi masalah ini pada Ayahnya.

Sesampainya di rumah, Ah-ra menemukan kenyataan bahwa dirinya sangat sulit untuk menyatakannya pada sang Ayah. “Ayah!” panggil Ah-ra sedikit ragu pada Tuan Yoon yang saat itu tengah bersantai di sofa ruang tengah sedang menonton berita di TV.

“Hmm..” sahut Tuan Yoon.

“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan,” Ah-ra mencoba memulai pembiacaraan tak mengenakkan itu.

Tuan Yoon mengalihkan perhatiannya dari TV ke anak gadisnya, “Apa?” tanyanya, “Oh...bagaimana pertemuanmu dengan keluarga Taec-yeon?”

“Emm...begini Yah, apa kau mengenal Tuan Ok Gi-taek?” Wajah Tuan Yoon berubah pucat saat mendengar nama yang disebutkan Ah-ra. Ia memang mengenal Taec-yeon, kekasih putrinya itu, dengan baik, tetapi sama sekali tak menyangka bahwa Taec-yeon adalah putra dari Tuan Ok Gi-taek. “Ayah? Kau mengenalnya tidak?”

“Apa yang dikatakannya padamu?” Tuan Yoon balik bertanya, tanpa menjawab pertanyaan putrinya.

Melihat tingkah Ayahnya, Ah-ra menjadi tegang, takut kalau-kalau apa yang dikatakan Tuan Ok benar adanya. “Dia...dia bilang...” Ah-ra ragu-ragu mengatakannya.

“Katakanlah! Apa itu?”

“Dia bilang...kau...kau...pembunuh,” gumamnya dengan suara bergetar karena tangisnya kembali tumpah, “Katakan kalau itu tidak benar Ayah!” tambahnya buru-buru, sambil menatap wajah Ayahnya meminta penjelasan.

Tuan Yoon menghela nafas berat, “Putriku,” katanya muram, “kejadian itu sudah lama sekali,” kenangnya.

“Apa maksud Ayah dengan kejadian itu?” tuntut Ah-ra tercekat, “Apa yang dikatakan Tuan Ok, tidak benar kan Ayah!” air matanya kembali jatuh membasahi kedua pipinya yang kini sudah basah oleh air mata.

“Dengarkan cerita Ayah, dan kau bisa menilainya sendiri,” saran Tuan Yoon, “karena Ayah tak bisa mengatakan bahwa Ayah sama sekali tidak bersalah dalam hal ini.”

“Jadi...”

“Kau masih sangat kecil saat itu, kurasa Taec-yeon juga sama denganmu saat peristiwa itu terjadi,” Tuan Yoon mulai bercerita tanpa mengindahkan protes Ah-ra, “Kala itu putra pertama tuan Ok sedang sakit dan Ayah masih—“


..... Do you still remember, do you believe that it’s only you for me
Do you know how long you can keep me by your side
In this large world, there’s only one person (I only want you)
Did you know this about me......



Lantunan Your Eyes dari Super Junior, membangunkannya dari tidur. Ah-ra mengerang pelan dan mengerjap-ngerjapkan matanya, suasana masih gelap, ia menghidupkan lampu meja di sebelah tempat tidurnya,  dan melirik ke jam weker di nakas yang masih menunjukkan pukul 9 malam. Hari ini, ia pulang lebih awal, dan begitu selesai makan malam bersama Ayahnya, ia memutuskan untuk tidur lebih awal. Ah-ra meraih ponselnya dan melihat ada panggilan dari pihak rumah sakit. “Ya, hallo!” jawab Ah-ra dengan satu tangan mengusap matanya yang pedih karena masih mengantuk setelah sebelumnya mengalami mimpi yang sangat ingin dilupakannya. Kejadian pahit masa lalunya kembali teringat sejak pertemuannya kembali dengan Taec-yeon dan hal itu benar-benar mengganggunya hingga masuk dalam mimpi-nya. “Apa? darurat? Baiklah! Aku kesana sekarang,” Ah-ra menutup ponselnya lalu bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka. Baginya marupakan hal yang wajar, bila sewaktu-waktu harus dipanggil ke rumah sakit untuk menangani pasien.



-Seoul Medical Centre-

“Kalian tau? Leader kita sedang jatuh cinta dan sebentar lagi akan segera menikah, jadi tunggu saja undangannya,” Kim Hee-chul berkata sesumbar kepada kedua teman segrup-nya, Yesung dan Shin-dong yang saat ini sedang mengunjunginya di rumah sakit. Tentu saja kata-kata Hee-chul itu membuat Park Jung-soo atau yang biasa mereka sapa Lee-teuk kesal dan mendelik pada Hee-chul untuk menghentikan apa yang dibualkannya saat ini.

“Benarkah?” tanya Yesung dan Ryeowook bersamaan.

“Hmm...benar sekali,” Hee-chul menjawab diiringi anggukan mantap, “kurasa, ia sudah berubah fikiran tentang perjodohan itu,” komentarnya santai, sambil melirik Jung-soo penuh arti.

“Hya! Berhenti membicarakan aku, seolah-olah aku tidak ada di sini!” protes Jung-soo kesal.

“Jadi, Lee-teuk akan menikah dengan Dokter itu?” Shin-dong berkata tanpa mempedulikan protes dari Jung-soo. Dan dibalas anggukan mantap Hee-chul. “Wah...benar-benar tak disangka jika mengingat bagaimana kata-katamu saat itu, yang menolak keras keputusan Ayahmu untuk dijodohkan,” Shindong berkomentar.

“Ya, benar sekali. Aku masih sangat ingat kata-kata Lee-teuk waktu itu,” timpal Yesung.

“Yah...kalau begitu, aku ucapkan selamat untukmu,” Shindong berjalan mendekati Jung-soo yang saat ini sedang duduk di sofa, “sepertinya gadis itu memiliki sesuatu, hingga mampu membuatmu berubah pikiran,” ia mengulurkan tangan untuk memberi selamat pada leader band-nya itu.

Jung-soo menepis uluran tangan Shin-dong, “Aiish...kalian percaya begitu saja pada bualan Hee-chul?” katanya kesal, “Asal kalian tau, justru dia yang saat ini sedang jatuh cinta,” balas Jung-soo.

“Ha?” Yesung dan Shindong berkata serempak sambil menatap Hee-chul di matras.

“Sebenarnya yang mana sih yang benar? Lee-teuk atau Hee-chul yang sedang jatuh cinta?” tukas Yesung meminta penjelasan pada mereka berdua. “Atau jangan-jangan...kalian berdua?”

“Wah...wah...sepertinya kita memang ketinggalan berita,” kata Shindong pada Yesung.

“Aku tidak akan mengelak seperti Lee-teuk,” gumam Hee-chul santai.

“Jadi benar?” Yesung bertanya antusias. “Siapa dia? apa aku mengenalnya?”

“Gadis itulah yang membuat Hee-chul menjadi betah berada di rumah sakit ini,” timpal Jung-soo, membuat kedua temannya melirik ke arahnya.

“Jadi, gadis itu berada di rumah sakit ini juga? siapa dia? dokter? Perawat? Atau pasien?” cecar Shindong.

“Kau tanyakan saja padanya!” jawab Jung-soo menunjuk Hee-chul dengan kepalanya. “Bukankah tadi ia berkata, kalau tak akan mengelak.”

“Ya, katakan siapa gadis itu, agar aku bisa mengeluarkannya dari rumah sakit ini!” tiba-tiba seorang gadis masuk dengan menunjukkan tampang berang yang ditujukan pada Hee-chul.

“Seung-mi?” seru Hee-chul, panik. Park Seung-mi adik Park Jung-soo yang selama ini diketahui mencintai Hee-chul. Rupanya gadis itu telah mendengar pembicaraan mereka dari luar.

“Katakan padaku!” tuntutnya sambil mendekati Hee-chul.

“O..ouw!” gumam Yesung bertukar pandang dengan Shindong dan Jung-soo yang tersenyum puas.

“Seung-mi, apa maksudmu akan mengeluarkannya dari sini?” tukas Hee-chul, khawatir.

“Jadi benar? Kau sedang jatuh cinta pada seseorang?” geram Seung-mi, “kau tau kan? Bahwa kau hanya milikku, tak ada yang boleh memilikimu selain aku,” Seung-mi menarik lengan Hee-chul, posesif, “katakan padaku siapa gadis itu? maka aku akan menyuruh Ayah mengeluarkannya dari rumah sakit ini,” ancamnya. Hee-chul hanya bisa memandang pasrah pada teman-temannya yang kini sedang menertawakannya itu.

“Lee-teuk, kau harus tanggung jawab!” gerutunya kesal.

Seung-mi menoleh ke arah kakaknya, Jung-soo, “Kak Jung-soo, kau tau sesuatu?” tanyanya karena Hee-chul tak menjawab pertanyaannya. Jung-soo hanya membalasnya dengan mengangkat bahu, dan berjalan keluar ruangan dengan menampakkan senyum puas.

Saat keluar dari ruangan, Jung-soo berpapasan dengan Ayahnya dan gadis itu, Yoon Ah-ra, yang baru saja keluar dari ruang IGD dan tengah berbincang serius. Karena tak ingin mengganggu, ia pun memilih untuk pergi dari situ. Namun terlambat, karena sang Ayah keburu melihat sosoknya. “Jung-soo!” panggil Dokter Park Jung-ho sang direktur rumah sakit.

“Oh? Ayah!” jawabnya.

“Kemarilah! Ada yang ingin Ayah bicarakan,” panggil dr. Park.



Sementara itu, dari arah pintu masuk, sepasang pria dan wanita sedang beradu mulut. Kang Hea-in dan boss-nya Ok Taec-yeon. Sejak keberangkatan mereka dari kantor OK Grup di kawasan Yongsan-gu hingga mereka tiba di rumah sakit, tiada hentinya berdebat dan saling menyalahkan satu sama lain. “Itu semua salahmu!” tukas Hea-in marah yang kini berjalan di depan Taec-yeon dengan langkah cepat.

“Kenapa kau menyalahkan aku? Kau yang tak mau diatur,” balas Taec-yeon sengit.

“Kalau kau tak memaksaku, itu tidak akan terjadi!” sergah Hea-in, gusar.

“Kau pun salah karena tak mau menurut padaku!” bentaknya membuat Hea-in menghentikan langkahnya dan menatap bengis ke arah pria itu.

“Memangnya kau siapa? Kenapa aku harus menuruti semua keinginanmu?”

“Aku ini Boss-mu Nona Hea-in, asal kau tidak lupa!”

“Apa hanya karena kau Boss-ku jadi kau bisa mengatur semua yang akan kulakukan, sementara itu tidak ada hubungannya dengan—“ kata-kata Hea-in terhenti, saat Taec-yeon membungkamnya dengan tangannya dan menyudutkan dirinya ke dinding rumah sakit.

Hea-in terkesiap dan berusaha meronta, “Emhh...lepas—“

“Diam!” desis Taec-yeon, lirih.

Deg...deg...deg...deg...deg...deg...detak jantung Hea-in tiba-tiba meningkat pesat. Samar, ia mendengar percakapan dari sebelah dinding tempatnya kini berada bersama Taec-yeon yang berjarak hanya beberapa centi saja dari dirinya saat ini. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan degup jantungnya kembali ke detak normal.

“...kuharap, kalian bisa secepatnya menikah!” suara seorang pria terdengar olehnya.

Hea-in melirik Taec-yeon, yang kini sedang mengeraskan rahang dan menatap bisu ke suatu tempat. Penasaran, ia menepis tangan Taec-yeon yang digunakan untuk membungkam mulutnya dan melongokkan kepala mengikuti arah pandangan Taec-yeon. Di sana terlihat, dr. Yoon Ah-ra bersama dengan seorang pria setengah baya yang juga berpakaian dokter dan seorang pria muda tampan, sedang berbincang serius.

“Kau menyukai dr. Yoon?” Hea-in berhasil bertanya, setelah dirasakannya degup jantungnya kembali normal. “karena itu kah kau ngotot mengantarku ke rumah sakit?” tapi Taec-yeon hanya diam tak mengacuhkannya, dan hanya menatap nanar pada ketiga orang itu.

“Kalau begitu, saya permisi pamit dulu Dok!” suara dr. Yoon Ah-ra terdengar semakin dekat. Dan seketika itu juga, Taec-yeon kembali menyurukkan diri ke arah Hea-in dan tubuh mereka kembali berdekatan setelah sebelumnya sempat merenggang.

“Kau?!” protes Hea-in, gusar. Kalau sampai ada yang melihatnya dalam posisi seperti ini dengan Taec-yeon, pasti orang-orang akan salah paham. Karena posisi mereka seperti sedang berpelukan.

“Ssshh!” gumam Taec-yeon kembali membungkam mulut Hea-in dengan tangannya. Dapat dirasakannya, deru nafas pria itu di lehernya yang jenjang. Irama jantungnya pun kembali meningkat.

Dokter Yoon Ah-ra melewati mereka berdua, menuju ke pintu keluar. Namun, baru berjarak beberapa langkah dari kedua orang itu, “Taec-yeon?!” panggil seorang pria yang menggandeng seorang wanita muda di sebelahnya.

Kontan Taec-yeon menoleh ke arah si pemanggil, lalu secara spontan menjauhkan diri dari Hea-in, “Kak Ji-hoon?” serunya kaget.

“Apa yang kau lakukan di—“

“Kak Hea-in?!” seru gadis muda yang datang bersama dengan pria yang dipanggil Ji-hoon itu tak kalah kagetnya.

Sementara dari arah pintu masuk, Yoon Ah-ra menatap marah ke arah mereka. Ia sadar, dirinya dan Taec-yeon sudah bukan sepasang kekasih lagi saat ini, tapi melihat Taec-yeon sedang bersama wanita lain, membuat hatinya sakit. Taec-yeon yang menyadari Ah-ra menatapnya seperti itu dan ia pun segera menghampiri gadis itu. “Ah-ra! Biar aku jelaskan!” panggilnya, sementara Ah-ra tak mengacuhkannya dan pergi meniggalkannya menuju tempat parkir. “Tunggu Ah-ra!”

Ah-ra menghentikan langkahnya tepat di depan mobil Hyun-dae silvernya dan berbalik menatap Taec-yeon. Mantan kekasihnya itu telah berdiri di hadapannya, “Apa yang ingin kau jelaskan?”

“Aku dan Nona Hea-in tidak ada hubungan apa-apa!”

“Lalu?”

“Kau jangan salah paham!”

“Untuk apa aku salah paham? Aku tak peduli, kau memiliki hubungan atau tidak dengan Nona Hea-in.”

“Lantas mengapa kau marah?”

“Marah?” tanya Ah-ra, “Aku tidak punya alasan untuk marah!” dustanya. “Kau dan aku sudah tidak memiliki ikatan lagi, jadi untuk apa aku marah padamu?”

“Ah-ra, aku tau kau—“

“Aku capek,” potong Ah-ra, “Aku pulang dulu!” ia pun membuka pintu mobilnya dan melajukannya, meninggalkan Taec-yeon yang geram dan marah seorang diri.



Sementara di dalam rumah sakit, “Kak Hea-in, apa yang kau lakukan dengan kak Taec-yeon?” tanya Dae-jia bingung. Ia yang baru saja mendengar, bahwa sepupunya Hyo-jin dirawat di rumah sakit dari Hyo-hee langsung pergi menjenguk mereka bersama kekasihnya Jung Ji-hoon.

Hea-in tak menjawab dan justru balik bertanya, “Bagaimana kau bisa ada di sini? Siapa yang memberitahumu?”

Dae-jia cemberut, “Hah...itu mengingatkanku,” katanya kesal, “justru aku yang harus bertanya padamu, kenapa kau tak bilang kalau kau sekarang berada di Seoul. Dan yang lebih parah lagi, kau tak mengatakan kalau Hyo-jin sedang sakit. Memangnya kau menganggap aku ini apa? orang lain?” Dae-jia balas menggerutu.

“Maaf,” gumam Hea-in pelan, “Aku tak ingin merepotkanmu!”

“Hah...kau memang tak pernah menganggapku sebagai saudara!”

“Astaga! Dae-jia mengapa kau berkata begitu?”



Dua hari kemudian....



-Kantor OK Group-

“Begitu yang bisa saya sampaikan, semoga semuanya menerima usulan formula baru dari saya,” Hea-in mengakhiri presentasinya kali ini. Setelah sehari sebelumnya ia disibukkan dengan rencana pembuatan formula baru untuk produk roti yang akan diluncurkan, hari ini ia didapuk untuk mempresentasikan formula baru tersebut di hadapan para pemegang saham dan para manajer.

Tepuk tangan bergema dari seisi ruangan, yang menandakan mereka puas dengan apa yang disampaikan Hea-in. “Kapan rencananya kau akan mencoba formula baru ini, Nona Hea-in?” tanya Song Seung-hun antusias. Ia tak meragukan kemampuan Hea-in dalam mengembangkan formula, terbukti dari pengalaman lalu yang mampu membuat produk baru dan laris di pasaran.

“Secepatnya Tuan Song,” jawab Hea-in mantap.

“Ya, saya harap formula ini dapat segera dicoba,” kata Tuan Ok Gi-taek senang, selaku pemegang saham terbesar dan merupakan Ayah Taec-yeon. “Saya suka dengan formula baru itu, sangat brilliant!” pujinya pada Hea-in.

“Terima kasih Tuan Ok!” jawab Hea-in sopan dan bangga dipuji seperti itu. Sementara Taec-yeon hanya tersenyum puas.



Setelah rapat usai, Hea-in mulai membereskan barang-barangnya karena hari ini ia telah meminta ijin untuk pulang lebih awal, untuk mendampingi Hyo-jin melakukan pemeriksaan lab di rumah sakit. Kemarin, Hyo-hee harus kembali ke Mokpo karena temannya memberi kabar bahwa pihak sekolah mencarinya dan memintanya kembali ke sekolah karena ujian kelulusan akan segera dilaksanakan bulan depan. Jika ia tak kembali, ia tak akan bisa mengikuti ujian tersebut.

Saat Hea-in tengah sibuk merapikan barang-barangnya, ponselnya berbunyi. “Ada apa Hyo-hee?” sapanya pada si penelepon.

“Kak, aku butuh uang untuk membayar biaya ujian,” jawab Hyo-hee.

Hea-in menghela nafas, banyak sekali pengeluaran bulan ini, batinnya. “Ya, nanti akan kukirim ke rekeningmu.”

“Baiklah kak, eh...iya sebentar Hyun-jae!” Hyo-hee tampak sedang berbicara dengan Hyun-jae. “Kak, ini Hyun-jae ingin bicara denganmu,” katanya.

“Kak! Aku merindukanmu!” mendengar suara adik kecilnya itu membuat mata Hea-in berkaca-kaca, “Kapan kau pulang?” tanya Hyun-jae polos.

“Ehm...” Hea-in berdeham singkat berusaha menepis air matanya yang mulai mendesak untuk keluar, ia sangat merindukan adik bungsunya itu. “Iya sayang, kalau Kak Hyo-jin sembuh, aku akan segera pulang,” sahut Hea-in, “Kau jangan nakal ya, turuti apa yang dikatakan Kak Hyo-hee, dan jangan sampai telat makan.”

“Baik Kak!” sahut Hyun-jae mantap, “Aku mau main dulu ya Kak?” lalu sambungan diputus dan air mata Hea-in kembali menggenang.

“Kenapa aku jadi cengeng begini?” gumamnya sembari mengusap air mata di sudut matanya.

“Kau membutuhkan ini?” tawar seorang pria tampan, menyodorkan sapu tangan berwarna putih bersih ke arahnya.

“Eh? Tuan Song?!” seru Hea-in kaget. “terima kasih!” gumam Hea-in seraya menerima sapu tangan itu dan menggunakannya untuk menghapus titik air mata yang kini telah mengalir di pipinya.

“Aku kagum padamu,” Song Seung-hun berkata, “di samping permasalahanmu sendiri, kau bisa melakukan pekerjaanmu secara profesional Nona Hea-in,” pujinya membuat Hea-in merona malu.

“Aku tidak sehebat itu Tuan Song, ada saatnya aku juga merasa lelah dengan permasalahan hidup,” aku Hea-in, “seperti saat ini.”

“Itu manusiawi Nona Hea-in,” tukas Seung-hun tenang, “Aku hanya bisa mendoakan agar adikmu cepat sembuh.”

Hea-in tersenyum, “Terima kasih Tuan Song,” balas Hea-in sopan, “Dan aku mohon maaf atas kejadian dua hari yang lalu,” katanya mengingat kejadian malam itu. Saat Taec-yeon menyebutnya kekasih Seung-hun.

“Tidak apa, Tuan Ok Taec-yeon memang begitu,” katanya, “Sebenarnya, aku berharap hal itu benar.” Kata-kata Song Seung-hun itu tentu saja membuat Hea-in tegang.

Baru saja ia membuka mulut untuk bertanya apa maksud kata-kata Seung-hun barusan, sekertaris Taec-yeon menyela “Nona Hea-in, kau dipanggil ke ruang Direktur.”

“Aku?” tanya Hea-in canggung.

“Hmm...” jawab sekertaris itu lalu meninggalkannya..

“Tuan Song, aku permisi dulu,” katanya gugup, ia tak mengerti apa maksud kata-kata Seung-hun itu. Apakah secara tidak langsung pria itu menembaknya? Ah...tidak mungkin, sergahnya dalam hati.

“Oke, silahkan!” Song Seung-hun mempersilakannya pergi.


Setelah membuka pintu ruang Direktur, Hea-in bergumam, “Anda memanggil saya Tuan?”

“Ya, masuklah Nona Hea-in,” perintah Tuan Ok Gi-taek, ayah Taec-yeon mempersilakannya masuk, “Duduklah!” katanya. Hea-in pun duduk di sofa tamu di mana Tuan Ok beserta Taec-yeon duduk.

“Sebenarnya ada apa Ayah memanggil kami ke mari?” Taec-yeon memulai pembicaraan, setelah beberapa saat terjadi keheningan. Hari ini, tiba-tiba saja Tuan Ok Gi-taek meminta mereka bertemu dan senyum cerah tak pernah lepas dari bibirnya.

“Kalian menikah saja!” cetus Tuan Ok Gi-taek membuat Taec-yeon dan Hea-in terkesiap dan saling beradu pandang.



~To Be Continued....

By Yuli (Admin Lee)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar