Tampilkan postingan dengan label Soo hyun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Soo hyun. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Januari 2012

S W I T C H -Chap 6-

Chapter 6



-Kediaman Keluarga Park-

“Bukankah seharusnya memang begitu?”

“Tidak, aku tidak suka yang seperti itu.”

“Sejak kapan kau...”

Ocehan-ocehan itu tak didengar lagi oleh Hae-bin. Seperti biasa, Tuan dan Nyonya Park bila bertemu selalu bertengkar. Walau itu hanya untuk hal-hal kecil. Seperti mengatur letak barang di ruang tamu. Padahal, kalau tak sedang senggang begini, mereka berdua jarang sekali bisa bertemu.

Dae-jia yang saat itu akan memenuhi janjinya bertemu editor novel yang akan segera diterbitkannya, tiba-tiba sudah berdiri di samping Hae-bin, yang kini berada di teras rumahnya. Kakaknya itu melayangkan tatapan menuduh pada Hae-bin, “Itu semua karenamu!” desis Dae-jia lalu tanpa menunggu bantahan Hae-bin lagi, gadis itu masuk dalam mobil Mercedes pink miliknya dan melaju kencang.

Hae-bin menghela nafas, sambil menatap kepergian Dae-jia dengan tatapan pilu. Getaran ponsel yang ia genggam membuatnya terkejut. Sebuah pesan dari Dong-hae masuk.


From: Lee Dong-hae

Ibu Guru, muridmu yang paling tampan ini sudah datang dan sedang menunggu di depan pintu gerbang.


Buru-buru Hae-bin melangkah dan ia menemukan pria itu sudah di depan pagar rumahnya tengah tersenyum di atas motor sport miliknya.

“Kau tidak sedang menangis lagi kan?” godanya yang berhasil membuat pipi Hae-bin memanas. Ia mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, saat ia menangis di pelukan Dong-hae.

Hae-bin tersenyum kikuk, “Ehm...tapi sepertinya ada masalah lain,” gumam Hae-bin bingung mengungkapkannya. Tak mungkin baginya mengajak Dong-hae masuk di saat ada pertengkaran antara Ayah dan Ibu tirinya di dalam.

“Masalah?” alis Dong-hae bertaut, “jadi...kau tak bisa mengajariku lagi?” katanya pura-pura kecewa.

Hae-bin kembali berdeham, “Bukan begitu...” sergahnya merasa tak nyaman, “tapi kita tak bisa belajar di sini,” ia beralasan, “bagaimana kalau di rumahmu saja?” tambahnya cepat sebelum Dong-hae sempat memprotes.

Pria itu tersenyum lebar sembari mengangguk, “Boleh, ayo kita berangkat sekarang!”

Sabtu, 10 Desember 2011

S W I T C H -Chap 3-

Chapter 3




-Universitas Sogang-

“KYA!!” Yuri menjerit saat matanya tiba-tiba ditutup oleh sepasang telapak tangan dari belakang, berikutnya suara kikikan geli terdengar begitu familiar di telinganya. “Young-in?!” tebak Yu-ri, “kau pasti Young-in kan?” ulangnya saat si empunya tangan tak juga menarik lepas pegangannnya.

Young-in merengut kesal karena Yu-ri begitu cepat menebak, “Ah...kau tidak asyik!” komentarnya.

Yu-ri menyeringai, “Karena aku benar-benar hafal dengan ulah jahilmu.”

“Hmm...memang penipu tak bisa ditipu,” Young-in mengalihkan pandangannya pada Dong-hae, “rupanya kau ada di sini Kak, tadi sepulang kuliah, aku langsung mencarimu di fakultasmu,” cerocos Young-in tak mempedulikan tatapan kesal Yu-ri.

“Mencariku?” tanya Dong-hae sambil menunjuk dirinya sendiri, “sebenarnya ada apa ini? kenapa kalian berdua mencariku? Apa terjadi sesuatu dengan Ayah?” Dong-hae memandang kedua adiknya bergantian.

Yoo-hee mendengus, “Sudah kuduga kau pasti lupa,” komentarnya.

“Lupa?”

“Ayo Young-in, Ayah akan marah kalau kita terlambat!” tukas Yoo-hee sembari membuka pintu mobilnya.

“Hya! Kau belum menjawab pertanyaanku!” cegah Dong-hae.

Young-in buru-buru mendekati kakaknya, “Apa kau benar-benar lupa Kak?” tanyanya pada Dong-hae, “hari ini kan hari peringatan kematian Ibu.”

“Astaga!” Dong-hae menepuk kepalanya ringan.

“Ayah menunggu kedatanganmu di Daegu,” timpal Yoo-hee, “jangan buat Ayah marah dengan ketidakhadiranmu,” tambahnya.

“Jadi kita tidak pergi bersama?” tanya Dong-hae bingung. Yoo-hee tak menjawab dan hanya melirik motor sport keluaran terbaru berwarna campuran putih dan biru yang tengah terparkir tak jauh dari mereka berada. “Ah...” Dong-hae menggaruk belakang kepalanya, “biar nanti Eun-hyuk yang membantuku membawanya ke rumah,” katanya mengerti apa maksud Yoo-hee, “aku bisa masuk angin kalau mengendarai motor ke Daegu sendirian,” keluh Dong-hae dengan pandangan memelas.

Yoo-hee mencibir, “Ya sudah, kau yang menyetir,” gadis itu menyerahkan kunci mobil ke tangan Dong-hae.

“Tapi—“

“Kita tidak punya banyak waktu,” sela Yoo-hee, “ayo Young-in!” Yoo-hee memanggil adik bungsunya yang sekarang justru asyik mengobrol dengan Yu-ri dan Hae-bin.

“Eh...iya Kak!” Young-in buru-buru berpamitan pada teman-temannya dan masuk ke mobil.

Sementara Dong-hae menghampiri kekasihnya dengan wajah menyesal, “Maaf, aku lupa kalau hari ini aku harus menghadiri peringatan kematian Ibuku di Daegu,” katanya pada Yu-ri.

Yu-ri tersenyum maklum, “Tidak apa, biar nanti aku sendiri yang menemani temanku ke klub tari. Kau tak usah khawatir Kak,” gumam Yu-ri, “Ah...apa perlu aku ikut?” tawarnya.

Dong-hae menggeleng, “Tidak usah, terima kasih sayang,” seru Dong-hae penuh syukur, “kau memang yang terbaik!” tambahnya lalu mencubit pipi Yu-ri membuat gadis itu meringis kesakitan.

“Aissh...bisakah kau tak mencubit pipiku? Aku bukan anak kecil!” gerutu Yu-ri pura-pura kesal.

Dong-hae menyeringai jahil, “Ya sudah, aku pergi dulu. Sampaikan salamku untuk temanmu itu!”

Yu-ri mengangguk, “Ya, pergi sana!” katanya sembari menunjuk mobil di belakang Dong-hae dengan gerakan kepalanya tanda bahwa ia sudah ditunggu.


Minggu, 15 Mei 2011

Big Family Gathering (Kim’s Family) -GeJeh Edition-

Annyeong!! aku kembali dengan edisi GeJeh ^^

Big Family Gathering (Kim’s Family)





-Kediaman keluarga Kim, kamar Eun-hee-

“Oee....oee...!!” Yoo-hee kebingungan, karena putrinya tak mau berhenti menangis sejak tadi. Padahal ia sudah mengganti pampers-nya, dan sudah menyusuinya. Tapi Eun-hee tak mau berhenti menangis juga.

“Oh Tuhan! Bagaimana ini?” Yoo-hee mengangkat bayi berusia 6 bulan itu ke dekapannya dan mencoba untuk menghentikan tangisnya dengan menepuk-nepuk punggungnya lembut. “Eun-hee-ah, uri Agi. Uljimayo! Omma Yeogisseo,” tapi tak berhasil, Eun-hee tetap saja menangis. “Ah, bagaimana kalau Omma menyanyi buat Eun-hee?” Yoo-hee berdeham singkat sebelum memulai menyanyi layaknya seorang penyanyi profesional *preeeet*. “Dengarkan Omma Eun-hee-ah, Chaiya...chaiya....chaiya...chaiya...chaiya....challi chaiya...chaiya...chaiya...chaiya...” *jiaaah....malah nyenyong lagu ini?* “Eh, Mian Eun-hee-ah, kasetnya salah. Ehm...Timang-timang anak Bang Nam-gil, jangan menangis Omma di sini.” Yoo-hee bernyanyi dengan merdunya *wkwkwkwk*

“Oeee....oeee....!” Eun-hee tetap tak mau berhenti menangis. Aiiisshh...Sebenarnya ada apa dengannya?, batin Yoo-hee dalam hati. Biasanya ia tak pernah begini. Apakah ada yang sakit? “Mungkin aku bisa bertanya pada Hea-in Onnie,” tiba-tiba Yoo-hee teringat pada salah satu temannya itu. Sambil menggendong Eun-hee yang masih saja menangis, Yoo-hee meraih ponsel yang terletak di meja di dekat boks bayi. Dan mulai mencari nama Hea-in di daftar nama dalam ponselnya. Namun, belum sempat ia memencet tombol dial, tiba-tiba sebuah panggilan masuk. “Hea-in Onnie? Baru saja—“

“Yoo-hee, ada kabar mengejutkan!” Hea-in menyela perkataan Yoo-hee.

“Kabar mengejutkan? Apa itu?” tanya Yoo-hee penasaran, seolah-olah ia lupa bahwa Eun-hee yang berada dalam gendongannya masih tak berhenti menangis *dasar Ibu-ibu Arisan, kalo udah ngobrol pasti lupa ama anaknya wkwkwk*