Tampilkan postingan dengan label Kim So Eun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kim So Eun. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Februari 2011

LETTER TO HEAVEN - Chap 3 - (By Patricia jessica)

Chapter 3


─Kim So Eun, Seoul, 2009─

“Hari ini hasilnya keluar, ya?” Kak Han Geng menggandeng tanganku dan tersenyum seolah hasil pemeriksaannya sama sekali tidak penting.

“Kim Bum tidak berangkat bersama kita ya?” tanyaku bingung.

Mama Kak Han Geng tersenyum singkat menanggapi pertanyaanku. ”Dia ada urusan, katanya...”

”Oooh...”

”Pasien Han Geng...” panggil perawat dari ruangan dokter. Spontan kami bertiga berdiri dan masuk ke ruangan itu.
Dokter membolak-balik hasil CT scan dengan dahi berkerut. Ia memandang kami dan tersenyum mempersilakan duduk. Sementara itu, dahinya kembali berkerut saat menatap hasil pemeriksaan itu.

”Han Geng, sudah berapa lama kau merasakan sakit di kepala seperti ini?” tanya dokter pada Kak Han Geng yang duduk di sebelahku.

”Sebenarnya sudah sejak setahun yang lalu, tapi yang terasa mengganggu baru akhir-akhir ini...”

Dokter berdehem untuk kembali menelusuri hasil pemeriksaan itu. ”Kau bisa melihat benjolan di sini?” ia menunjuk ke gambar pemeriksaan yang hitam putih. Tiba-tiba rasa takut melandaku. ”Ini gambar tumor pada lobus frontal di kepalamu...”

Mulutku terasa kering saat mengulangi kata-kata dokter itu. ”Tumor?”

LETTER TO HEAVEN - Chap 2 - (By Patricia Jessica)

Chapter 2


─Kim So Eun, Seoul, 2009─

“Benar nih, sudah merasa lebih baik?” tanyaku cemas saat Kak Han Geng berjalan bersamaku melangkah di atas trotoar yang mulai dipenuhi timbunan salju. Wajahnya terlihat sama pucatnya dengan kemarin.

“Ya, sudah lebih segar sekarang,” ia mengangkat tangannya dan memamerkan ototnya. ”Dan aku sudah kangen sama lapangan itu...”

Pelan, kusupkan tanganku ke lengannya. ”Aku tidak mau Kakak berlari dulu sementara ini. Aku tidak mau melihatmu jatuh...”

Rasanya setiap kali kututup mataku, semua kejadian itu masih bisa kugambarkan dengan tepat. Seperti gerakan lambat yang seakan hendak menghujam jantungku.

”Aku takut sekali kemarin...” ucapku tanpa pikir panjang.

Kak Han Geng menepuk pipiku dan tersenyum. ”Aku akan berhati-hati...” ia beruaha menenangkanku. ”Kemarin sangat memalukan ya?” ia mendesah dan menghembuskan nafas keras-keras.

Pipiku merona merah mengingat tatapan matanya yang lurus dan tajam.

”So Eun?” Kak Han Geng memiringkan wajahnya dan menatapku. ”Kau melamun kenapa? Pipimu merah sekali...”

Dengan terbata-bata, aku menjawabnya. ”Aku, sangat menyukai mata Kak Han Geng saat berlari. Rasanya jadi berdebar-debar...”

LETTER TO HEAVEN -Chap 1- (By Patricia Jessica)

Chapter 1 (FF Lomba elfanfic)


─Kim So Eun, Seoul, 2009─

Langit cerah hari ini. Sambil menarik nafas senang, kususuri pinggir lapangan atletik yang dipenuhi oleh teriakan anak-anak perempuan. Seperti biasanya, hari ini pun ia masih menjadi idola nomor satu dari klub atletik.

“Kyaaa!! Kak Han Geng!!!” teriak para siswi di sebelahku.

”Permisi,” ujarku, berusaha menyeruak dari antara gerombolan itu. Akhirnya, tanganku berhasil mencapai pagar kawat pembatas lapangan atletik itu.

”Kak Han Geng!” teriakku padanya, berharap suaraku bisa didengarnya dari antara suara puluhan gadis lain yang juga meneriakkan namanya.

Tetapi cowok itu mendengarnya. Dadaku berdentum keras. Kak Han Geng lewat sambil memberikan senyuman manis ke arahku.

”Tidaaak!! Dia tersenyum ke arahku!!” seru seorang gadis,

”Salah, ke arahku tahu!!” tukas gadis lainnya tidak mau kalah.

”Kalian berdua aneh.” seru gadis lainnya. Ketika dua temannya menoleh, dengan memiringkan kepala sedikit, ia berujar dengan wajah serius, ”Kurasa, ia malah jatuh cinta padaku!!”

Kontan, kedua temannya berteriak, ”Bhhuuu....” bersamaan sambil mencubitinya kiri kanan. Senyuman geli tidak bisa kutahan dari wajahku.

Kak Han Geng berdiri di samping pelatih sambil melihat catatan waktunya. Ia menoleh sekilas, dan melambai padaku. Lagi-lagi para gadis menjerit gila-gilaan. Dari lambaian tangannya yang sepintas itu, aku tahu sebentar lagi latihannya selesai. Dan itu artinya, kami akan berkumpul di halaman belakang, seperti biasanya.