Tampilkan postingan dengan label Noh Min Woo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Noh Min Woo. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Agustus 2011

Prank'd - One Shoot - FF Kim's Family Gejeh Edition -

Prank'd



Ini cuma ff gejeh dari geng gejeh untuk para gejeh holic di dunia gejeh. tak ada yang nyata, benar, maupun waras dalam kisah ini.



Pengenalan tokoh :

Miya --> Shin Yu-ri / Pipi
Admin Shen --> Cha Shin-woo / Shen / Shendy
Admin Lee --> Lee Yoo-hee / Lee
Admin Park --> Park Dae-jia / Park
Mila --> Kang Hea-in
Victoria

Zhou Mi --> Mimi
Kim Soo-hyun --> Ohshanti
Kim Nam-gil
Choi Si-won
Noh Min-woo --> Minu
Lee Dong-hae --> Donge
Son Ho-young
Ok Taecyeon
Rain
Hwang Chan-sung --> Chanchan
TOP
Jung Yong-hwa --> Yongyong
Nickhun
Lee-teuk --> Spongebob
Eun-hyuk --> Unyuk / Patrick


============================


- Pulau pribadi keluarga Choi, rumah pantai -       

“Cup, cup, cup, udah, jangan nangis,” bujuk Park pada Mimi yang tengah bersandar di pundaknya.

“… hikzzz… tapi sakit hati banget nih…nyesek banget… si pipi tega ma aku!” isak Mimi. “bisa-bisanya dia selingkuh ama si ohshanti, padahal apa kurangku, coba?”

“Kurang daging,” cetus Dae-jia, yang segera mendapat delikan tajam dari mata merah Mimi + cubitan lembut di pipi.

“..hikzzz… imut banged sih..” isak Mimi *hoakakakakakk ~ sukasuka author!!

“Udahlah, masih banyak cewek cantik yang body-nya lebih asoy geboy dibanding si Pipi,” bujuk Hea-in yang sejak tadi memijat pundak Mimi.

“Tapi emang ga gampang ngelupain cinta,” kata Lee sok bijak. “Apalagi selama ini Mimi setia ama si Pipi, sama kaya aku yang cinta dan setia hanya pada Nam-gil oppa seorang,” sombongnya.

“Nyindir?” omel Park dan Hea-in kompak sambil mendelik ke arah Lee yang menyeringai sembari terus melanjutkan pekerjaannya memijat kaki Mimi *enak bener si Mimi dilayanin macam raja minyak gini.

Tanpa benar-benar sadar, sambil memijati kaki Mimi, Lee mendekatkan kaki pria itu ke hidungnya, dan segera mengernyit yeyek ketika menghirup aroma semerbak. “Bau!” serunya seketika *sapa suruh dicium!! wkwkwkwkwkwk.

Mimi yang sewot walau masih tetap dengan nangis bombaynya, segera menyepak Lee menjauh dari kakinya.

“…hikzzzz… coba ajah pipi kaya Park ato Hea-in onnie… hikzzzz… tetep setia mempertahankan suami biar kata punya namja laen… hikzzz…” Mimi memutar kepalanya kearah Hea-in dan menarik ujung bawah kaus wanita itu untuk membuat ingus, sementara si empunya baju gak sadar dijadikan tempat pembuangan *hoakakakkk ~ kapan lagi Lee ma sis mil punya kesempatan nyium aroma kaki + dapet ingus artis?? Wkwkwkwkwkwk ^^v

Minggu, 31 Juli 2011

HIGH LEVEL JEALOUS -- FF Geje (oneshoot)

HIGH LEVEL JEALOUS ---FF Geje #ga usah dibaca!


Annyeong all readers….


Berhubung saya lagi mandeg ide untuk nerusin Broken Link, #edisistucklevel. Taunya otak saya penuh sama ide ini, ide gejeh, gajeb, yang kalau ngaa dituangkan ke tulisan bikin kepala saya meledak karena saking overloaded *lebeh*

Masih berkisar antara kehidupan Keluarga Kim yang ga pernah, ga mungkin, ,mustahil, dusta besar, kalau ada di dunia nyata, tapi nyatanya keluarga ini ada di dunia gejeh dan hanya eksis di dunia maya.

Tapi sumpah ini bukan cerita komedi, saia ga bakat bikin yang lucu-lucu. Darah srimulat tidak mengalir di nadi saya. Jadi dimaklum aja kalau garing, crispy, kriuk. Tujuannya bukan bikin ff komedi daa…

Mulai aja yaa…daripada saya kebanyakan ngomong ntar keburu dibekep ma bibir suami-suami para readers *maunya*.


*****


Once upon a time….di sebuah warung Soju yang remang-remang gelap di pinggir jalan *ga mungkin banget kalo di tengah jalan* di suatu malam menjelang jam 12 teng. 3 orang pria sedang asyik ngobrol ngalur ngidul sambil minum soju dan makan bulgogi.

“Jadi kita fix menjalankan rencana ini?” tanya Soo Hyun. Pada kedua hyungnya karena umurnya lebih tua tapi lebih matang lho---Min Woo dan Siwon.

“Yups” jawab Siwon pendek sambil nengak botol evian. *Evian merek soju bukan??*

“Sekarang?” tanya Soo Hyun lagi dengan muka polos, yang segera dikasih toyoran di keningnya oleh Min Woo.

“Bukan. tahun depan aja kali” ketus Min Woo melotot.

“Peralatan sudah siap termasuk senjata utama, nih!” ujar Siwon sambil mengangkat ransel hitam yang penuh mengembung.

“Sebelum pergi kita cocokkan jam dulu, biar sama, beda satu detik saja maka fatal akibatnya” kata Min Woo sambil memutarkan jam arlojinya, semua mengikuti ulah Min Woo, “Ya. Jam 23.25.40. Done”

“Done” timpal Siwon dan Soo Hyun serempak.

“Let’s go!” ajak Siwon lalu mereka bertiga berjalan keluar dari warung soju dan menuju mobil Siwon. Hummer hitam---mobil hadiah kelahiran anak kembar 3 Dae Jia dan Siwon dari pasangan terkeren Min Woo dan Hea In. *preeettt*

Di mobil sebelum menjalankan mesinnya, masing-masing 3 pria itu mengencangkan resleting jaket kulit hitamnya.

“Diperkirakan 15 menit, waktu perjalanan sampai tujuan. Kita laksanakan sesuai site plan yang sudah ditetapkan” kata Min Woo sambil memperhatikan i-phonenya yang tergambar peta yang sudah ditandai setiap jalurnya. “Semua aman. Kita bisa meluncur sekarang” lanjutnya. Lalu dengan segera Siwon menghidupkan mesin mobil dan hummerpun melaju dengan kecepatan sedang.


*****

~Appartemen Dae Jia – Siwon~

Dengan hati-hati Dae Jia meletakkan Choi Sina---putri dari Dae Jia-Siwon, ke boxnya yang bernuansa Barbie, komplit dengan ranjang ala Barbie Mariposa. Si bayi yang berusia 3 bulan tertidur lelap sambil menghisap jempolnya. Setelah itu Dae Jia keluar kamar Sina menuju kamar anak kembar lainnya---Son Dae dan Kim Won.

Mengecek kamar si kembar prianya, 2 jagoan cilik mereka, sama sedang terlelap di kamar yang bernuansa ruang angkasa dan box mereka yang berbentuk roket. Bedanya dengan Sina, mereka kompak menghisap empeng (pacifier)---sebenernya karena ibunya males aja ngedenger mereka rewel jadi dicekokin empeng dari bayi biar ngga terlalu rewel. Ternyata stategi Dae Jia berhasil mereka lebih anteng menggunakan empeng. Padahal menurut pakar kesehatan anak, empeng itu adalah kebiasaan buruk, sama dengan menghisap jempol.

Tapi ya sutralah…anak Dae Jia ini, bukan anak gue. Haha.

Dae Jia menutup kamar anaknya dengan mengusap dada---lega. Menghembuskan nafas terakhir—eh, salah. Menghembuskan nafas lega, terbebas dari 3 mahkluk yang hobi bikin heboh tapi lucu menggemaskan.

“It’s ME TIME” gumam Dae Jia. Malam ini dia bersumpah akan memanjakan dirinya sendiri dengan mandi air hangat di bath tub, yang dipenuhi dengan busa melimpah dengan wangi lavender, sambil meminum wine di bath tub.

Memikirkan hal nyaman yang akan dialaminya membuat Dae Jia senyum-senyum sendiri, tapi kemudian senyumannya hilang seraya menatap pintu kamar anak-anaknya dengan tajam “kalau pada bangun, awaaassss! Ggggrrrr” geramnya.

“Woaahhh….nyamannya” kata Dae Jia ketika tubuhnya telah terbenam di bath tub air hangat yang penuh busa, dia menekan remote audio untuk menghidupkan musik lembut dan menyesap wine, untuk menambah relaksasi atas keletihannya mengurus bayi kembar 3 (suruh siapa brojol langsung 3,,ckckckck).

Kebetulan Siwon sedang keluar bersama Min Woo dan Soo Hyun. Jadi Dae Jia tenang melakukan kegiatannya sendiri tanpa ada interupsi mendadak dari suaminya yang hobinya merobek pakaian tidurnya.

Baru saja 10 menit bersantai, tiba-tiba ponselnya berdering….
Dan isi dari pembicarannya di telepon, mengagalkan rencananya untuk relaksasi…..
Dengan wajah geram Dae Jia terpaksa keluar dari bath tub….


****

~Appartemen Yoo Hee~


“Nah…akhirnya si putri Aurora terbangun dari tidur panjangnya setelah mendapatkan kecupan dari Pangeran Namgil. Akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia selamanya” Yoo Hee menamatkan cerita pengantar tidur untuk Eun Hee, bayinya yang baru berusia 8 bulan. Kamar Eun Hee didesain mirip dengan kerajaan negeri dongeng Sleeping Beauty.

Padahal Eun Heenya sendiri sudah tertidur sejak Yoo Hee memulai ceritanya dari halaman 1. buku setebal 60 halaman tersebut berhasil ditamatkan Yoo Hee untuk dirinya sendiri. Dengan senyum puas---entah karena berhasil menidurkan Eun Hee dengan cepat atau membayangkan dirinya sendiri menjadi Putri Aurora.

Bagi yang sudah mengetahui sejarah pernikahan Yoo Hee dan Nam Gil, bahwa Yoo Hee secara langsung dilamar dan diajak menikah oleh Nam Gil pas baru saja bangun tidur. Tanpa mandi dan gosok gigi, dengan rambut acak-acakan. Nam Gil secara tiba-tiba melamarnya, yang tentu saja segera disambut dengan anggukan iya dan mereka berdua pun kissing (?).

Memang cinta itu buta dan tidak memandang bau, tapi  mungkin saja pada waktu itu Nam Gil sedang pilek *I dunno*. Yang jelas author turut bahagia atas kejadian ini. prok..prok..prok…*standing applaus to audience who wearing a mask*

“Ah…akhirnya, aku sekarang bisa serius nonton drama korea favorite-ku” gumam Yoo Hee seraya mempersiapkan camilan untuk menemaninya menonton.

Dia pergi ke dapur, membuka freezer dan mengambil secup besar isi 1 liter ice cream Haagen Daz rasa banana caramel n choco chip *Ya ampun author ngilerr*
lalu mengambil potato chips rasa rumput laut “hmm..low fat chips, tidak mengandung kolesterol. Bagus…chips ini tidak bikin gemuk” gumam Yoo Hee membaca komposisi potato chips.
*lantas es krimnya gimana buu…..?? yg bikin gemuk justru es krim......*

Yoo Hee bersiap di depan sofa ruang tengah yang empuk lalu menyalakan home theathernya dan mulai menonton drama Bad Guy---yang sudah ditonton Yoo Hee ratusan kali.
*mentang-mentang Oppa muncul disini jadi ditonton terus, sampe DVDnya beset-beset karena keseringan disetel*

Tidak lupa sebelum menonton, Yoo Hee mempersiapkan bola-bola kertas dari koran bekas untuk melempar tv kala adegan kissing Gunwook – Taera terjadi---sebagai tanda protes dan jealous. “bibir oppa hanya untukku” putusnya.
*nah lho…didemo trueyes, author ga tanggung jawab ya*

Baru saja di episode 6, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan dengan geram karena merasa terganggu, Yoo Hee mengangkat telepon dan isi pembicaraan di telepon sontak membuat Yoo Hee menangis sedih…..


Minggu, 24 April 2011

Finally She’s Come Out...!!! (Kim’s Family Fanfiction) -GeJeh Edition-

Annyeong Semuaa!! aiishh...lama sekali saia tidak nongol, Miaan yaa....terutama buat Geng GeJeh hehe....PulsaQ abis Ciin...belom lagi koneksi Inet yg lelot plus tugas menumpuk *curcol daa*. tapi aku datang membawa oleh-oleh atas cuti-ku kemarin hehe.....maklum lagi GeJeh, jadi yang keluar FF GeJeh daa, padahal ALS ngendap lama tuu hihihi....*mian, ada kemungkinan ALS gak lanjot* :p...tapi mudah2an bisa bikinin One Shot aja dee buat kalian..soalnya klo bikin TBC suka gak lancar gitu ^^

Semoga gak pada bosen bacanya yaa....dan harapanku cuma satu, semoga kalian semua terhibur dengan FF Aneh bin GeJeh ini ...^^

Ah...udah kebanyakan bacot saia nii, langsung aje dee....ni FF GeJeh masih tetap tentang keluarga Kim, walaupun sekarang bukan hari spesialnya Nam-gil Oppa, tapi gak ada salahnya kan klo bikin FF GeJeh lagi...ah...masih aje berbacot ria diriku ini hehe.....oke dah langsung aje ye....CEKIDOOT!!FF ini kupersembahkan untuk Sista2...GENK GEJEHq tercintaa.... (Destira Andari Fikri (Admin Park), Mila Minuhae dan Teresia Dian).

-Lee-

_________________________________________________________


Finally She’s Come Out...!!! (Kim’s Family Fanfiction)


Kim Eun-hee, bayi Kim Nam-gil & Lee Yoo-hee


-Salon Kecantikan, Seoul-

Hari Minggu adalah hari yang paling menyenangkan bagi Dae-jia, karena di hari ini, ia bebas dari segala sesuatu yang harus ia kerjakan. Mulai dari mengurus suami-suaminya, mengurus pacar-pacarnya sampai mengurus selingkuhan-selingkuhannya *wkwkwkwk*. Di hari Minggu ia bisa bersantai, memanjakan dirinya, merawat tubuhnya dan tentu saja penampilannya. Ia menyebut hari ini sebagai ‘Me Time’. Yeah hari dimana ia bisa menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri.

“Ah...nyaman sekali,” desahnya saat si Balon alias banci salon memijat-mijat kulit kepalanya lembut.

“Miss, kukunya mau dicat warna apa?” tanya pegawai wanita yang bertugas untuk me-‘medicure-pedicure’ kuku jari kaki dan tangannya. Hari ini, ia menginginkan ‘full service’ dari ujung kepala hingga ujung kaki tak boleh terlewatkan.

“Hmm...warna pink saja,” jawab Dae-jia santai sambil tetap memejamkan matanya menikmati pijatan lembut di kulit kepalanya.

Tanpa diperintah lagi, pegawai wanita itu pun duduk bersimpuh dan memohon ampunan eh salah mulai melaksanakan pekerjaannya memotong kuku-kuku Dae-jia dan mengoleskan cairan kental berwarna pink yang menimbulkan sensasi dingin di saraf-saraf jarinya. Namun, baru setengah jalan si pegawai wanita membubuhkan cat warna eh cat kuku ke kuku-kuku lentik Dae-jia, tiba-tiba lagu ‘Sorry-sorry’ dari Suju mengalun dari ponselnya yang ia letakkan di tas tangannya. Dae-jia merutuk pelan karena lupa mematikan ponselnya, “Haiiishh.....siapa sih yang menggangguku?”

“Mau saya ambilkan Miss?” tawar si Balon dengan nada lembut mengalun bagai alunan biola yang senarnya putus. “Dari Kim’s House Miss, mau diangkat atau tidak?” si Balon membacakan nama si penelepon.

Kim’s House?, tanya Dae-jia dalam hati. “Tumben Yoo-hee Onnie tidak menelepon menggunakan ponselnya,” gumamnya pelan. “Apa mungkin dia kehabisan pulsa?” *curcol*

“Miss?” tanya si Balon lagi sembari menyodorkan ponsel Samsung galaxy-tab berwarna pink *emang ada?* ke arahnya.

“Eh, iya. Tolong diangkat dan dekatkan ke teligaku,” perintah Dae-jia. Si Balon menurut. “Yoboseyo!” sapa Dae-jia pada si penelepon.

“Nyonya Dae-jia?” sapa si penelepon, yang ternyata Bibi Ma, pelayan di rumah mereka.

“Eh, Bibi Ma. Kukira Yoo-hee Onnie, ada perlu apa Bi?”

“Anu, itu...Nyonya Yoo-hee, mau melahirkan...” jawab Bibi Ma terbata, “Di sini tidak ada orang lain lagi,” tambahnya buru-buru. “Bisakah Nyonya membantu saya?”

“Mwo? Jigem?”

A BIRTHDAY PARTY (Kim's Family) - Kim Nam Gil Fanfiction - Gejeh Edition -

Wah...ini sebenarnya udah lama sekali ngepost-nya di page 'elfanfic' (Facebook) tapi karena kesibukan *preeeett* jadi blog-nya sempet gak keurus hehe....mian semua!! ^^

Moga terhibur dengan FF GeJeh ini yaa....

-Lee-
_________________________________________________

Kim's Family


A BIRTHDAY PARTY (Kim's Family) - Kim Nam Gil Fanfiction - Gejeh Edition -



-6 Maret 2011, de Ferts Cafe`-

Tiga orang wanita cantik nan modis sedang berkumpul dan bercengkrama di salah satu meja cafe` de Ferts, yang terletak di tengah kota Seoul. Suasana cafe` yang menyenangkan membuat mereka bertiga larut dalam perbincangan seru dan menghibur. Sesekali ketiganya tertawa bersama, memperlihatkan kekompakan yang sama sekali tak dibuat-buat. Bagi orang yang melihat, pasti tak akan pernah terbersit dalam pikiran mereka bahwa ketiga wanita itu—sebenarnya empat, tetapi karena kesibukan yang terlalu padat *lebayyy* wanita yang satu lagi harus datang terlambat—adalah istri-istri dari seorang pria yang sama. Menurut akal sehat, hal itu pasti aneh dan tak mungkin terjadi, karena pasti tak akan ada satu wanita pun yang mau dimadu oleh suaminya.

Tetapi keajaiban itu terjadi di keluarga Kim Nam-gil. Yeah, siapa yang tak mengenal Kim Nam-gil, seorang pria tampan menawan, sekaligus aktor yang terkenal hingga seantero jagat raya *lebayy lagi, ni Author lebay mulu dari tadi, haha....abaikan, kita lanjot lagi nyok!*. Hingga membuatnya dipuja dan digilai banyak wanita. Banyak wanita di seantero negeri yang sangat memujanya, dan berharap menjadi istri atau kekasihnya. Oleh karena itu, ketiga wanita yang beruntung ini *eh salah empat* demi cintanya kepada suaminya, hingga rela berbagi suami dan tetap terlihat kompak tanpa dendam sedikit pun *hebat bener, aslinya gak mau ni :p*.

“Mana Shin-woo? kok dia lama sekali?” tanya Hea-in—istri sirri Kim Nam-gil—mulai terlihat tak sabar, “aku ada janji dengan Min-woo nih, sekitar satu jam lagi.” Hea-in melirik jam weker, eh salah jam tangannya untuk yang ke sepuluh kalinya *rajin bener ya Author ampe ngitungin*.

“Hah...iya nih, Shin-woo lama sekali. Aku kan juga harus bertemu dengan Si-won Oppa,” gerutu Dae-jia—istri ketiga Kim Nam-gil—tak mau kalah, ia duduk di sebelah kanan Hea-in.

Yoo-hee, yang merupakan istri pertama dan paling dicintai Kim Nam-gil *dikeroyok bini-bini laen :p*, mendesah lelah. Kehamilannya yang memasuki trimester pertama membuatnya sedikit pusing dan mual-mual, morning sick ceritanya.

“Kau tidak apa-apa Yoo-hee?” tanya Hea-in khawatir saat melihat wajah Yoo-hee yang berubah pucat.

Jumat, 11 Februari 2011

THE THIRD ROOM part 12 --ending--

Judul : THE THIRD ROOM part 12 (ending)


Genre : Thriller, Horror, Romance

Rated :  General
Cast :
Kang Hea In (author)
Noh Min Woo
Kim Nam Gil
Special appearance :    Choi Yeon Rin

****************

“Hea In…lihatlah dibelakangmu?” sarannya, akupun segera menoleh ke dinding di belakangku….

Dan kembali aku terpaku diam, tersentak dan membelalakan mata….apa lagi yang akan kuhadapi sekarang pikirku, menambah rasa frustasi dalam benakku.

Yang kulihat hanya sebuah dinding yang berwarna putih kusam keabuan dan tampak kotor dengan retakan tembok yang membentuk pola seperti halilintar, juga beberapa bagian tembok yang terkelupas memperlihatkan susunan batu bata didalamnya.

“Inilah yang akan membantumu, Hea In…” ucap Mi Young tenang dan tersenyum. Kemudian dia mendekati dinding dan menyentuhkan telapak tangannya pada dinding tersebut. Secara ajaib, sinar kebiruan yang memancar di seluruh tubuh Mi Young, menyebar ke seluruh dinding, sehingga cahaya itu mampu menerangi ruangan yang temaram.

Aku hanya memandangnya gusar, apa yang akan dilakukan Mi Young? Otakku tidak mampu berpikir, aku hanya berusaha memusatkan pikiranku agar mampu bertahan dari serangan Yeon Rin. Yeon Rin kembali akan menyerangku, tapi aku dengan gesit berkelit, menghindari dari jamahan Yeon Rin, dengan mengitari ruangan semampu aku bisa. Bila dia terus mencelakakanku lagi, aku ragu tubuhku bisa bertahan menghadapi serangannya, terutama bayi dalam kandunganku.

“Mi Young! Katakan apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin menghindar seperti ini sepanjang malam!” seruku.

ANOTHER LOVE STORY...Chap 5

Disclaimer: Kisah ini hanya sekedar fanfics (Fiktif)  belaka, nama tokoh, kisah, tanggal dan tempat kejadian yang terdapat di sini hanyalah  berdasarkan rekaan penulis belaka.


Chapter 5


-Kampus KAIST, Daejeon-

“Nyesel ya?!” olok Syindi sepulang latihan.

“Enggak kok!” sahut Tia cuek sembari melenggang pergi.

“Halah...ngaku aja deh Tia, kamu pasti nyesel deh. Aku kan tau kamu ikutan klub tari buat ngejar Si-won. Lagian setahuku kamu gak pernah tuh ikutan grup-grup seperti itu.”

Tia mendengus, “Sejak kapan kamu peduli ama aku? Udahlah, lagian masih ada Kak Ho-young,” ujarnya santai. Syindi hanya menggeleng-geleng heran mendengar jawaban Tia tersebut.

“Kamu harus mengganti waktu istirahatku!” ujar Syindi kemudian.

“Apa?” Tia tak mengerti.

“Kamu gak inget, aku udah nungguin kamu latian dari tadi. Dan itu udah bikin waktu istirahatku berkurang,” gerutu Syindi.

“Ih...kamu ini, gak tulus banget sih!”

“Sejak kapan aku tulus ama kamu?!”

Tia kembali mendengus, “Halah...kamu seneng aja abis ketemu Kak Hyuk-jae,” ledeknya seraya tersenyum jahil.
“Kamu tuh yaa—“

“Udah...jadian aja, kalian udah cocok tuh!” Tia menyeringai senang karena kini ia berhasil memancing emosi Syindi. Tapi dia segera lari saat melihat Syindi mulai marah dan hendak memukulnya dengan buku yang dipegangnya.

“Jangan lari kamu!” geram Syindi terus mengejar Tia yang sudah jauh di depannya dan masih tertawa-tawa mengejeknya sambil sesekali menoleh ke belakang.

Kamis, 10 Februari 2011

THE THIRD ROOM part 11

Judul : THE THIRD ROOM part 11


Genre : Thriller, Horror, Romance

Rated :  General
Cast :
Kang Hea In (author)
Noh Min Woo
Kim Nam Gil
Special appearance :    Choi Yeon Rin

****************

Sabtu, 5 Maret 2011
Jam 16.11

“Hai…jagiyya” sapa Min Woo ketika dia baru datang, aku sedang membereskan dapur, sehabis memasak tadi. Min Woo menghampiriku dan mengecup pipiku. Aku hanya tersenyum tipis.

“Ini…” katanya riang sambil menyerahkan sebuah kantong kertas besar, aku menengok dan mengeluarkan isinya ternyata sebuah gaun pesta velvet berwarna hijau lumut.

“Aku membelikannya untukmu---aku yakin pasti cocok untukmu, jagiyya”

“Bagus sekali, gomawo” ucapku dengan ekspresi datar. Seharusnya aku senang bukan? Tapi entahlah, aku merasa diriku galau karena kejadian tadi dan merasa bersalah terhadap Min Woo semakin membesar.

“Kau masih marah ya? Karena pagi tadi…” ucap Min Woo ketika melihatku kurang ramah, tidak seperti biasanya. “Maafkan aku jagiyy, karena aku membentakmu” lanjutnya lagi.

Sebenarnya bukan karena masalah Min Woo yang marah padaku tadi pagi, tapi lebih karena masalahku---aku telah membiarkan pria lain mulai menyusup ke dalam hatiku, aku telah membiarkan pria lain menciumku dan secara logika, itu seharusnya tidak boleh terjadi. Tapi getaran itu kenapa mulai merambati hatiku. Apakah aku mulai mengurangi cintaku pada Min Woo.

Mengapa secara tiba-tiba, aku merasa hambar! Tidak---ini tidak bisa, aku harus menghentikannya, perasaanku pada Nam Gil Oppa hanya simpati dan respect. Tidak lebih dari itu.

“Aniyo…aku memang kesal padamu. Tapi aku tidak marah lagi! Minu, bantu aku mencoba pakaian ini ya..” ujarku, memasang senyum manis, berusaha menutupi gundahnya hatiku.

ANOTHER LOVE STORY...Chap 4

Disclaimer: Kisah ini hanya sekedar fanfics (Fiktif)  belaka, nama tokoh, kisah, tanggal dan tempat kejadian yang terdapat di sini hanyalah  berdasarkan rekaan penulis belaka.


Chapter 4



-Rumah kontrakan, Yuseong-gu-

Mila sudah selesai bersiap—memakai baju pesta cantik berwarna biru toska dengan bahan sutra—saat bel pintu berbunyi. Itu pasti Min-woo, pikirnya. Dia bergegas keluar kamar dan membuka pintu. Min-woo sudah berdiri di depan pintu rumah itu dan tersenyum senang saat melihat Mila. “Kau cantik sekali dengan gaun itu sayang,” pujinya seraya mengecup kening Mila lembut. Mila hanya tersenyum mendengarnya, senyum yang dipaksakan. Sekilas terlihat sedikit keraguan di balik senyum tersebut. “Kau sudah siap?”

“Ya, sebentar. Aku akan mengambil tas dulu di dalam.”

“Tunggu,” tahan Min-woo. “Sepertinya kau tidak bersemangat, apa kau merasa terpaksa menemaniku?”

“Eh, tidak...aku—“

“Apakah kau tidak percaya padaku?” selidik Min-woo. “Bukankah aku sudah berjanji padamu, kalau ini masalah quis-mu besok, aku akan mengantarmu pulang tidak lebih dari jam 10 malam ini.”

“Iya Minu, aku tau,” jawabnya, “Aku tidak bilang, aku tidak percaya padamu. Tapi hasil pertemuanku dengan Mr. Lee tadi sempat membuatku takut.”

“Memangnya apa yang dikatakan Mr. Lee?”

“Aku tidak berhasil mendapatkan ijin penelitianku, karena nilai-nilaiku yang semakin anjlok—“

“Apa kau menyalahkanku?” sela Min-woo dengan nada kecewa.

Senin, 07 Februari 2011

ANOTHER LOVE STORY...Chap 3

Disclaimer: Kisah ini hanya sekedar fanfics (Fiktif)  belaka, nama tokoh, kisah, tanggal dan tempat kejadian yang terdapat di sini hanyalah  berdasarkan rekaan penulis belaka.


Chapter 3



-Yuseong-gu, Daejeon-

“Aaah...hari ini bener-bener melelahkan!” keluh Tia, sambil menepuk-nepuk pundaknya yang pegal.

“Dasar pengeluh!” maki Syindi yang saat ini berjalan di depannya.

“Apa kau bilang?”

“Kau...pengeluh..” olok Syindi lambat-lambat.

“Kurang ajar, kamu tuh gak bisa ya, kalo sehari aja gak nyari masalah ama aku?” balas Tia geram.

“Emang kenyataan kok!”

“Kau?!” Tia tak melanjutkan kata-katanya, karena tiba-tiba dia melihat Syindi diam sekaku patung di pintu rumah. Karena penasaran, dia menggeser tubuh Syindi untuk menyaksikan apa yang terjadi, hingga membuat Syindi syok begitu.

“Kak Hyuk-jae?!” panggil Tia, yang disapa pun menoleh ke arah pintu dan buru-buru meletakkan ponselnya di sofa. Ternyata karena terlalu asyik bermain game di ponselnya, Hyuk-jae tak memperhatikan kedatangan Syindi dan Tia. Hyuk-jae langsung menyeringai senang saat mengetahui kedatangan mereka.

“Hai, Tia, Syindi!” sapanya dengan gaya bak superstar yang sedang menyapa penggemarnya.

“Ngapain kamu di sini?” tanya Syindi tajam.

Hyuk-jae berdecak, “Emangnya aku gak boleh ke sini ya?”

“Pulang aja sana! Aku gak mau ketemu kamu!” bentak Syindi.

“Ha? Pulang? Kamu ge’er banget deh...sapa juga yang bilang kalo aku ke sini buat ketemu kamu,” Hyuk-jae tertawa.

“Trus? Ngapain kalo bukan ketemu aku?”

Sabtu, 05 Februari 2011

The New Year’s Night Mystery - Chap 3- (By Yosin Arek Narzis)-ENDING

Chapter 3: Love Truth  (FF Lomba elfanfic)



-Kim Nam Gil, 31 Desember 2010, jam 23.37-

Setelah aku menjelaskan tentang trik si pelaku kepada Dong Hae dan Min Woo, kami mengumpulkan semua orang—termasuk Inspektur Lee dan para polisi—untuk menjelaskan hasil analisis kami. Dengan begitu, mereka semua dapat mengetahui siapa pengacau yang sudah mengganggu pesta ini.

Kami bertiga sempat bertukar informasi soal pembunuhan ini. Dong Hae memberiku banyak informasi mengenai orang-orang itu sementara Min Woo memberitahuku apa saja yang ia dengar saat interogasi. Aku memang tidak terlalu mendengarkan saat interogasi karena sibuk berpikir mengenai trik si pelaku, yang—sayangnya—baru dapat kuketahui setelah pemeriksaan polisi selesai.


 “Pertama-tama, si pelaku memancing korbannya ke dapur. Setelah itu, ia memulai triknya,” Min Woo menjelaskan kepada orang-orang apa saja hal yang ditemukan oleh polisi dan meminta para polisi untuk menunjukkannya. Sambil mendengarkan penjelasan dari Min Woo, aku bersandar di tembok dan memakan permen lollipop.

“Apa ini?” Tanya salah satu dari mereka, menunjuk potongan daging.

 “Itu adalah petunjuk pertama dari trik ini,” jawabnya dengan senyuman misterius. “Sebelum memancing korbannya, pelaku meletakkan beberapa es batu di lantai. Daging ini menunjukkan bahwa si pelaku mengambil es batu dari kulkas sesaat sebelum pembunuhan terjadi, tanpa sempat membersihkan es-es itu sehingga daging itu masih menempel saat digunakan, karena jika sudah dipersiapkan sebelumnya, es ini tentu saja sudah mencair sejak awal,”

“Mengapa menggunakan es?” Tanya Inspektur Lee. “Mengapa tidak menggunakan air saja—melainkan harus menunggu es-es ini mencair?”

“Dibandingkan dengan air, es jauh lebih mudah untuk dibawa-bawa. Kalau menggunakan air, pelaku harus membawanya diam-diam dan ada kemungkinan untuk tumpah sebelum sempat digunakan,” jelasku.

The New Year’s Night Mystery - Chap 2- (By Yosin Arek Narzis)

Chapter 2: Hand Phone  (FF Lomba elfanfic)



-Kim Nam Gil, 31 Desember 2010, jam 22.09-

Sial. Tak kusangka di hari terakhir di tahun 2010 ini aku harus mengalami peristiwa seperti ini. Mulai dari motor yang rusak, bertengkar dengan seseorang yang baru pertama kali kutemui, ditampar oleh seorang wanita, sampai harus melihat peristiwa pembunuhan sementara Dong Hae dan Min Woo menghilang. Aku tidak habis pikir, mengapa harus mengakhiri tahun dengan semua peristiwa seperti ini?

Tanpa kusadari, Min Woo sudah berada di sebelahku, terengah-engah. Jadi, ia tadi tidak terlihat karena masih berjalan menuju kesini.

“Nam Gil…bagaimana dengan perempuan ini?” Tanya Min Woo. Semua orang terlalu shock dengan mayat Moon Seong, sampai-sampai tidak memperhatikan Hwang Rin yang jatuh pingsan. Kami pun menggotongnya ke sofa. Sambil menunggu polisi tiba, aku melihat-lihat sekeliling dapur bersama Min Woo.

Banyak pertanyaan memenuhi benakku. Mengapa harus malam ini? Apa motif pembunuhannya? Siapakah pelakunya?
“Hei, Nam Gil, aku sedang bertanya padamu!” seru Min Woo. Rupanya dari tadi aku melamun sampai tidak mendengarkan omongan Min Woo.

“Ah, maaf. Ada apa?” jawabku setengah terkejut.

“Apa kau melihat Dong Hae? Ia tidak terlihat sejak kau ke toilet tadi. Apa kau bersamanya?” tanyanya khawatir.

“Tidak, aku hanya mencuci muka, kemudian aku bertemu dengan Hee Chul dan Shindong. Kupikir kamu bersamanya. Ji Yong juga tidak kelihatan,”

Min Woo mendengus sebal. “Haah, bisa-bisanya pemilik rumah tidak ada saat sedang terjadi sesuatu,” keluhnya.

“Uugh…” Aku menoleh. Hwang Rin sudah siuman rupanya. Aku meninggalkan kerumunan itu dan menghampiri Hwang Rin.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyaku kepada Hwang Rin.

“Mengapa harus hari ini? Mengapa?!” erangnya.

“Tenang dulu, apa yang sedang kau bicarakan?”

The New Year’s Night Mystery - Chap 1- (By Yosin Arek Narzis)

Chapter 1: The Party  (FF Lomba elfanfic)



-Kim Nam Gil, 30 Desember 2010, jam 13.49-


Tumben sekali Dong Hae mengajakku ke apartemennya untuk merayakan pesta tahun baru bersama. Biasanya ia pergi ke Pulau Jeju saat liburan, entah mengapa kali ini ia tidak bepergian.

“Mau ikut tidak?” tanya Dong Hae.

Aku menaikkan sebelah alisku. “Mana mungkin aku menolak? Sudah lama sekali kita tidak berpesta bersama. Ya ‘kan Min Woo?” jawabku sambil menyenggol lengan Min Woo.

“Ah, terserah kau saja,” Min Woo terkejut. Sepertinya ia tadi sedang melamun. Kira-kira apa yang dilamunkannya ya?

“Omong-omong, apakah kamu akan masak sendiri nanti malam? Jika ya, jangan lupa untuk memasak ayam bakar,” candaku kepada Dong Hae. Aku sangat menyukai ayam, mulai dari ayam rebus, ayam goreng, ayam bakar, semuanya aku suka.

“Baiklah,” jawab Dong Hae sambil tersenyum. “Pestanya akan dimulai jam 8 malam besok, jangan terlambat ya!”
Min Woo mendengus. “kalau Nam Gil tidak terlambat sampai ke rumahku, aku juga tidak akan terlambat,” sindirnya.

“Apa boleh buat, motorku ‘kan sedang diservis,” elakku. Aku terpaksa menumpang di mobil Min Woo karena motorku sedang diperbaiki di bengkel, ada kerusakan di bagian mesinnya. Mungkin karena aku terlalu sering memakainya, tapi jarang kubersihkan. Sampai kemarin, tiba-tiba mesinnya mogok. Motor ini kubeli bulan September lalu, jadi aku belum terlalu menguasainya. Apa boleh buat, terpaksa kubawa ke bengkel. Untung saja Min Woo berbaik hati mau meminjamkan mobilnya padaku selama motorku diperbaiki.

Kami bertiga –aku, Min Woo, dan Dong Hae- sudah bersahabat sejak SMA. Diantara kami bertiga, Dong Hae-lah yang paling mandiri sebab ia tinggal sendirian di apartemennya, sementara Min Woo dan aku tinggal di rumah kami masing-masing bersama keluarga kami. Rumah Dong Hae jauh dari universitas kami jadi ia tinggal di apartemen, dan besok malam ia mengundang kami ke apartemennya untuk merayakan pergantian tahun. Semoga saja besok acaranya meriah.


- 31 Desember 2010, jam 20.17-


Untung saja rumah Min Woo tidak terlalu jauh dari rumahku, jadi aku bisa berjalan kaki ke rumahnya. Setelah selesai bersiap-siap, kami berangkat bersama. Tidak lama kemudian, kami tiba di apartemen Dong Hae, dan kami takjub melihat begitu banyak motor dan mobil yang ada di parkiran sampai-sampai kami hampir tidak bisa memarkir mobil.

“Ramai sekali malam ini. Memangnya siapa saja sih yang diajaknya kemari,” keluh Min Woo. Ia kurang menyukai keramaian, terutama di apartemen sesempit ini yang dipenuhi orang-orang sebanyak ini.

“Sabar sajalah. Dong Hae ‘kan punya teman banyak, kasihan yang lain kalau tidak diundang. Masuk yuk,” ajakku sambil menutup pintu mobil.

Kami berjalan memasuki lobby. Di dekat kami, segerombolan orang-orang muda—kira-kira 6-7 orang—berkumpul di dekat jalan masuk. Kelihatannya mereka teman-teman Dong Hae yang juga diajaknya karena tampaknya mereka seumuran dengan kami. Kami berjalan melewati mereka dan naik ke kamar Dong Hae menggunakan lift. Sesuai dugaan kami, kamar yang sempit itu sudah penuh sesak dengan orang. Min Woo hanya bisa geleng-geleng melihatnya.

Bisa dibilang, Dong Hae memang hebat. Tidak akan ada yang mengira kalau ini sebenarnya apartemen sempit yang sedikit berantakan seperti apartemen-apartemen pada umumnya. Di sini ada minuman, lampu warna-warni dan semuanya, seperti di club-club malam. Entah darimana Dong Hae mendapatkan semua ini, jangan-jangan ia berencana ingin mengubah apartemen ini menjadi club? Apa kata orangtuanya nanti.

Sesuai janjinya, Dong Hae memasak sendiri makanannya, dan aku menemukan sepotong besar ayam yang terletak di meja makan. Karena tinggal sepotong, aku langsung melahapnya sampai habis. “Ayam ini lezat sekali”, pikirku. “Dong Hae bisa masak juga rupanya.” Setelah selesai makan, aku berjalan mendekati Min Woo yang sedang memilih minuman bersama Dong Hae. Aku hendak memuji masakannya ketika aku mendengar ada suara perkelahian dari arah dapur.

“Sepertinya di sebelah sana ada keributan,” Min Woo menunjuk kearah dapur. Dong Hae melihat ke arah jari Min Woo dan mendatangi letak keributan itu. Aku yang penasaran menarik tangan Min Woo mengikuti Dong Hae. Min Woo pun dengan cepat melepaskan tangannya dariku.

“Nam Gil, sebaiknya kita jangan ikut-ikut urusan mereka,” sergahnya.

“Ah, ya, kalau begitu kita melihatnya saja, tidak akan terjadi apa-apa kan?”

“Kalau ada apa-apa aku tidak ikut-ikut ya!”

Merepotkan sekali, pasti itu ulah para pemabuk, sedikit-sedikit pasti sudah jadi keributan. Untung saja aku tidak menyukai alkohol, jadi aku tidak pernah mabuk lalu jadi sumber keributan…meskipun kadangkala juga aku menjadi sumber keributan juga karena ikut campur urusan orang. Yah, aku memang tidak bisa diam kalau melihat sesuatu yang tidak beres, dan tanpa sadar aku akan membuat keributan baru. Untung saja Min Woo mengingatkanku tadi.

Kami pun tiba di dapur. Astaga, berantakan sekali. Meksipun hanya dua orang, tetapi dapur kelihatan seperti sedang direnovasi. Memangnya mereka sudah berkelahi sejak kapan sih? Pasti Dong Hae akan kerepotan untuk membersihkan ini semua.

 “Sudah-sudah, jangan bertengkar di sini, memangnya kenapa?” Tanya Dong Hae sambil mencoba melerai kedua orang tadi. Sepertinya mereka orang yang kulihat di lobby.

 “Moon Seong mencuri-curi kesempatan dengan pacarku!,” teriak yang berbadan gendut.

“Sialan kau Ji Yong, siapa yang kau bilang pacarmu, hah?! Bukankah kau menginjak kakiku duluan!?” geram orang yang tadi dipanggil Moon Seong itu.

“Dasar, kalian selalu bertengkar saja! Mengapa kalian selalu mempeributkan aku?” seru perempuan di sebelahku, sepertinya ia pacar si Gendut. Tidak terlalu jelek, untuk ukuran seseorang seperti si Gendut itu…. Aku berpikir, “bagaimana bisa seorang perempuan cantik seperti dia menyukai berandalan seperti si Gendut.”

Seperti biasa, pasti keributan terjadi karena hal-hal yang remeh. Hanya karena terinjak, lalu menjatuhi seseorang, sudah jadi keributan hebat seperti terjadi gempa bumi. Yang benar saja.

“Tenanglah, jangan membuat keributan di sini. Yang lain jadi terganggu,” kataku pada kedua orang itu.

“Eh, Nam Gil…” bisik Dong Hae khawatir. “Kelihatannya orang itu tidak bersahabat.”

“Kau berani memerintahku, hah?!” si Gendut menoleh ke arahku sambil berteriak. Gawat. Lagi-lagi tanpa sadar aku mulai ikut campur dalam pertengkaran mereka. Orang itu mengarahkan tinjunya padaku. Aku cepat-cepat menghindar dan memukulnya dari bawah. Orang itu semakin mengamuk saja, ia menunduk dan memukul punggungku, kemudian berbalik dan meninju rahangku. Kurang ajar sekali dia. Aku langsung bangun dan tanpa berkedip sedikit pun aku langsung melayangkan tendanganku tepat di perutnya. Si Gendut langsung roboh ke lantai.

“Sudah cukup, jangan buat keributan lagi,” teriakku kepada orang itu. Ah, kuat juga orang itu. Rahangku dipukulnya sekuat ini, untung saja aku tidak luka, yah, mungkin besok hanya lebam sedikit.

“Kau tidak apa-apa Nam Gil?” Dong Hae mendekatiku sambil memegang rahangku yang tadi dipukul oleh si Gendut itu, siapa tadi namanya…ah iya, kalau tidak salah namanya Ji Yong.

“Sudah kubilang untuk tidak ikut campur urusan orang, untung saja kau tidak luka parah, kalau tidak, terpaksa acara kita jadi berantakan karena harus memanggil ambulans,” gerutu Min Woo. Hari ini moodnya kurang baik rupanya.

“Aku tidak apa-apa, kau urus saja si gendut itu,” sahutku. “Lho, perempuan yang tadi disini kemana?”

“Mungkin ia pergi mengambil minuman, Moon Seong juga tidak kelihatan. Oh iya, kau hebat sekali. Perkenalkan, namaku Jung Soo,” kata seorang dari gerombolan tadi yang sedang mengurus si gendut itu. “Baguslah, sepertinya kurang baik kalau perempuan itu ada di dekat Ji Yong sekarang, pasti akan menimbulkan pertengkaran, lalu mereka putus deh,” pikirku. Aku berdiri dan berjalan kearah kamar mandi untuk mencuci muka. Ketika keluar dari kamar mandi, aku menyenggol lengan Moon Seong.

“Hei,” Moon Seong menatapku tajam. Akupun membalas tatapannya dengan senyum sinis.

“Ada apa?” tantangku. Kalau ia bermaksud menghajarku di sini, kelihatannya aku memang harus memanggil ambulans, karena aku masih belum pulih total.

“Gara-gara kamu, Hwang Rin jadi kabur! Ayo tanggung jawab!”

Hwang Rin? Jadi perempuan tadi namanya Hwang Rin? Perempuan sombong yang mengira kedua laki-laki itu memperebutkannya, atau memang keduanya memperebutkannya?

“Jangan diam saja, ayo jawab!” Moon Seong mencoba menggertakku.

“Tenang saja, akan kucari dia,” jawabku santai. Aku melangkah keluar dan berjalan melewatinya. Ia tidak bermaksud menghajarku rupanya, ia sepertinya sedikit lebih baik dari Ji Yong. Moon Seong masih menatapku tajam.

Sesuai perkiraanku, Hwang Rin tidak mungkin pergi terlalu jauh. Ia berada di ruang tamu, menangis. Aku duduk di sampingnya dan mengajaknya bicara, tiba-tiba ia menamparku.

“Beraninya kau memukuli pacarku! Apa kau tidak kasihan padanya hah, dasar barbar!”

“Tolong tenang dulu nona. Bukankah ia yang memukulku duluan? Sepertinya kau sangat mencintainya yah? Kalau aku tahu akan seperti ini, aku seharusnya tidak mendekatinya.”

“Ji Yong…dulu ia teman SMP-ku. Kami berteman baik sekali, sampai suatu ketika Moon Seong datang dalam kehidupanku. Ia lebih baik dari Ji Yong yang mudah panas, dan kemudian aku berpacaran dengannya. Ji Yong tidak suka kepada Moon Seong karena ia menganggap Moon Seong sebagai hambatan dalam kehidupan percintaannya denganku, meskipun aku sebenarnya tidak pernah menyukai Moon Seong. Kami berpacaran karena aku dipaksa oleh orangtuaku yang tertarik dengan harta keluarga Moon Seong…dan Ji Yong yang menaruh dendam dengan Moon Seong selalu saja bertengkar dengannya, bahkan hal-hal kecil saja menjadi bahan keributan, seperti tadi ketika kau datang dan memukuli Ji Yong. Kau ini!…” ia berdiri dan mencoba memukulku kembali dengan tasnya. Aku mengelak dan menangkis tasnya, dan mendudukkannya kembali.

“Aku minta maaf,” kataku tulus. “Aku benar-benar tidak tahu tentang itu, aku hanya tidak tahan melihat keributan. Maafkan aku,” aku hendak menghapus airmatanya, ketika tiba-tiba ada seseorang mengagetkanku.

“Wah-wah, siapa nih yang sedang berpacaran, apakah aku mengganggu kalian?” Orang itu…aku mengenalinya. Dia Shindong, teman sekelas Dong Hae yang pernah menraktirku dulu.

“Hai, Shindong, kau masih ingat aku ya,” sapaku ramah sambil menjabat tangannya. “Aku tidak sedang berpacaran, ia sedang sedih, jadi aku menghiburnya”

“Jangan bohong, Nam Gil. Tadi aku melihatnya mencoba memukulmu dengan tasnya. Ya ‘kan, Hyungnim?” Ia menoleh pada orang di belakangnya.

“Ya, aku juga melihatnya, cantik juga ‘pacar’mu itu,” orang di belakang Shindong itu terkekeh. Aku tahu dia, ia kakak kelas Shindong, aku tidak ingat namanya.

“Halo, aku Hee Chul, kakak kelas Shindong,” katanya sambil tersenyum. Ah, aku ingat sekarang, namanya Hee Chul. Dasar, baru saja bertemu sudah menggoda aku.

 “Aku Nam Gil, senang bertemu denganmu. Kalian sudah bertemu Dong Hae?” tanyaku dengan senyum kecut. Mereka baru saja datang, jadi aku menyuruh mereka menemui Dong Hae. Heran, bagaimana mereka bisa parkir ya? Saat aku datang bersama Min Woo tadi, parkiran sudah sangat penuh.

“Belum,” jawab Shindong. “Ayo Hyungnim, kita menemuinya, daah Nam Gil,” ia melambaikan tangannya padaku.

“Hee Chul…Shindong…” Hwang Rin terbata-bata.

“Kau mengenal mereka?” tanyaku.

“Mereka teman Ji Yong. Kami belum pernah bertemu, hanya saja Ji Yong sering membicarakan mereka. Mereka orang baik,” katanya sambil terisak. Seperti tadi, aku merasa kasihan padanya dan aku ingin menghapus airmatanya, hingga tiba-tiba Min Woo berlari ke arahku dengan panik. Ada yang tidak beres.

“Nam Gil...di dapur…Moon Seong…” Min Woo masih terengah-engah sehingga tidak bisa meneruskan kalimatnya. Hwang Rin terkejut, ia langsung berlari ke dapur secepat mungkin. Aku meninggalkan Min Woo yang masih terengah-engah dan bergegas ke dapur.

Betapa terkejutnya aku, aku melihat Moon Seong tergeletak tak bernyawa di lantai dapur dengan pisau dapur menancap tepat di jantungnya dan ada bekas perkelahian. Telah terjadi pembunuhan di sini! Hwang Rin berteriak histeris dan jatuh pingsan.

“Jangan ada yang mendekat!” perintahku kepada orang-orang yang berusaha menyentuh mayat Moon Seong. Shindong dan Hee Chul tampak terkejut, mereka langsung menelepon polisi dan ambulans. Akhirnya ambulans harus datang kemari juga, pikirku. Aku mengedarkan pandanganku ke  sekelilingku, aku tidak melihat Dong Hae, Min Woo, dan Ji Yong!


~To be continued…

Kamis, 03 Februari 2011

ANOTHER LOVE STORY...Chap 2

Disclaimer: Kisah ini hanya sekedar fanfics (Fiktif)  belaka, nama tokoh, kisah, tanggal dan tempat kejadian yang terdapat di sini hanyalah  berdasarkan rekaan penulis belaka.


Chapter 2


-Rumah Kontrakan, Yuseon-gu-

“Itulah, makanya jangan suka ngeledekin orang yang lagi kena musibah, ada temen jatoh kena bola malah diketawain. Kena batunya kan!” olok Tia disertai tawa geli, hingga semakin membuat Syindi geram dan membanting pintu kamar tidurnya hingga menimbulkan bunyi berdebam keras. Membuat Tia semakin terkikik geli melihat kelakuannya.

“Emangnya dia kenapa?” tanya Yuli yang sejak tadi sedang asyik memakan nasi goreng buatannya di meja makan.

“Dia baru aja ketemu ama temen lamanya, atau tepatnya musuh lamanya,” ujar Tia kembali terkikik geli.

“Temen lama?” tanya Yuli tak mengerti.

“Jadi mereka udah saling kenal ya Tia?” tanya Mila menimpali. “Bukannya cowok itu orang Korea? Gimana dia bisa kenal ama Syindi?”

“Cowok? Siapa?” tanya Yuli lagi karena dia semakin tak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Mila dan Tia. Tadi dia tak bisa menemani mereka berkeliling karena harus mengikuti kuliah Mikrobiologi di kampusnya.

Setelah berhenti tertawa, Tia menjelaskan. “Gini, cowok tadi itu emang orang Korea asli. Dia tuh dulu sempet tinggal di Indonesia, soalnya Ayahnya dulu pernah jadi dubes Korea di Indonesia. Tapi karna udah gak menjabat lagi, ya mereka pulang ke Korea,” jelas Tia yang disambut o panjang oleh kedua seniornya itu.

“Oh, jadi kalian pernah satu sekolah ama cowok tadi ya?”

Selasa, 01 Februari 2011

THE THIRD ROOM part 10

Judul : THE THIRD ROOM part 10



Genre : Thriller, Horror, Romance

Rated :  General

Cast :
Kang Hea In (author)
Noh Min Woo
Kim Nam Gil
Special appearance :    Choi Yeon Rin

****************

Sabtu, 5 Maret 2011 – Jam 10.54 --

DDRRRRTTTT…. Ponselku berdering dan bergetar

“Yoboseyo…”

“Hea In, ini aku Kim Nam Gil. Bisakah kita bertemu hari ini? ada yang ingin aku bicarakan, ini sangat penting!”

“Erghh…tapi hari ini aku—“

“Ini mengenai Yeon Rin—Choi Yeon Rin, sekarang aku mengerti keinginannya” sesaat aku tersentak Yeon Rin, nama si hantu, dan apa keinginannya??

“Mwo?”

“Aku ke tempatmu?, atau kau ke tempatku?”

“Baiklah, aku akan datang ke rumahmu” jawabku.

“Telepon dari siapa?” tanya Min Woo memergokiku, membuatku kaget. Segera aku memijit tombol off.

“Itu---“ Min Woo segera merebut ponsel dari tanganku…dan dia melihat nama yang tertera dari telepon yang masuk.

“Nam Gil?? Kau masih berhubungan dengannya??”

“Tidak---tadi dia hanya…”

“Kau akan bertemu dengannya bukan?”

“….”

“JAWAB Hea In!! Kau tidak boleh bertemu dengannya! Tidak Boleh!!”

“Waeyo?” tanyaku, kurasa aku harus bertemu dengan Nam Gil Oppa karena mimpiku yang terakhir, karena aku takut itu akan menjadi pertanda buruk.

“Karena…aku melarangmu!” bentak Min Woo. Sebenarnya aku paham alasan Min Woo melarangku tapi demi rasa ingin tahuku, aku terpaksa membantahnya.

“Apa alasannya? Karena kau cemburu bukan, cemburu yang tidak beralasan”

ANOTHER LOVE STORY...Chap 1

Annyoong Member, aku ada FF baru nih...tapi masih agak bingung mau diterusin apa enggak, takutnya ceritanya kurang menarik. jadi sekarang aku publish dulu chapter awalnya biar kalian semua bisa baca dan komen, kira-kira menarik gak? kalau menarik nanti saya lanjutkan....tapi kalau membosankan yah, gak jadi dilanjot hihihi..*dasarr gak niat*, jadi mohon komentarnya yang jujur yaa!! makasiii......*bow*

_____________________________________________

Disclaimer: Kisah ini hanya sekedar fanfics (Fiktif)  belaka, nama tokoh, kisah, tanggal dan tempat kejadian yang terdapat di sini hanyalah  berdasarkan rekaan penulis belaka.


ANOTHER LOVE STORY...


 
Chapter 1



-Bandara Soekarno-Hatta-

“Doakan aku ya Bu!” kata Syindi kepada Ibunya. Saat ini, dia akan berangkat ke Korea, tepatnya ke Kota Daejeon untuk meneruskan kuliahnya di KAIST (Korea Advanced Institute of  Science and Technology).  Tiga bulan yang lalu, dia bahagia sekali karena mendapat pemberitahuan bahwa dirinya diterima kuliah di Korea dengan beasiswa. Betapa tidak, selama ini, dia sangat memimpikan bisa kuliah di negeri itu. Apalagi saat ini dia mendapatkannya dengan beasiswa full credit, tentu itu sangat membanggakan. Walaupun dengan persyaratan yang cukup ketat, karena setelah 2 tahun kuliah, beasiswanya bisa saja dicabut apabila Indeks Prestasinya tidak mencapai angka 3. Aku harus berjuang!!, pikirnya saat itu.

“Ibu dan Ayah akan selalu mendoakanmu Nak! Kau hati-hatilah di sana. Jangan sampai sakit, dan ingat, belajar yang rajin ya, jangan sia-siakan kesempatan ini. Ayah dan Ibu sangat bangga padamu.” Ibunya lalu memeluk Syindi dengan berlinangan air mata karena harus berpisah dengan putrinya dalam jangka waktu yang cukup lama dan terpisah dengan jarak yang tidak dekat.

“Baik Bu,” sahutnya seraya membalas pelukan Ibunya. Hatinya cukup sedih, karena harus terpisah jauh dari kedua orang tua tercintanya. Tapi, ini adalah jalan hidup yang dipilihnya sendiri, dia harus tegas.

“Masuklah, pesawatmu akan segera berangkat!” kata Ayah Syindi, yang tiba-tiba menyela adegan mengharukan tersebut.

“Iya Ayah, aku pergi dulu,” ucap Syindi pilu lalu bergegas menuju ke terminal pemberangkatan, setelah mencium kedua tangan orang tuanya.


Jumat, 28 Januari 2011

THE THIRD ROOM part 8

Judul : THE THIRD ROOM part 8



Genre : Thriller, Horror, Romance

Rated :  17+ (tolong perhatikan ratenya ya!)
               Mengandung unsur sadisme

Cast :

Kang Hea In (author)
Noh Min Woo
Kim Nam Gil
Special appearance :    Choi Yeon Rin

****************

<< Kim Nam Gil POV>>

 “tidak bisa kupercaya---aku tidak percaya---tidak mungkin” gumam Hea In berulang-ulang meracau dan aku melihat dia menangis tersedu mengalirkan air matanya yang turun ke bawah. Aku mampu merasakan kekalutannya, kebinggungan dan ketidakpercayaan atas kenyataan yang dialaminya. Karena aku melihat cara yang sama, reaksi yang sama yang ditunjukkan Hea In didepanku, semua sama persis seperti yang kusaksikan pada Mi Young---saudara kembarnya.

Suatu kenyataan yang pahit mengetahui bahwa kau pernah dibuang dan dibesarkan oleh orang lain yang lalu kau panggil sebagai ayah dan ibu. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa kau memiliki saudara kembar identik, yang seharusnya tidak perlu terpisah.

Aku hanya bisa memeluknya erat dalam dekapanku seperti aku memeluk Mi Young, aku biarkan dia—Hea In, menangis membasahi kemejaku. Aku tidak perduli, aku ingin memeluknya, seolah menumpahkan perasaan rindu yang mencengkram dadaku. Rasa getir karena sangat merindukan kekasihku yang meninggal 2 tahun yang lalu karena kecelakaan mobil. Lama aku memberikan dadaku untuk menjadi sandaran Hea In, tapi Hea In sudah berhenti terisak, dia diam---tak bergerak, kurasakan tubuhnya lunglai bagaikan tak bertulang dan menyandar lemas di badanku. Aku terkejut---Hea In pingsan.

Sabtu, 22 Januari 2011

THE THIRD ROOM part 7

Judul : THE THIRD ROOM part 7



Genre : Thriller, Horror, Romance

Rated :  General

Cast :
Kang Hea In (author)
Noh Min Woo
Kim Nam Gil
Special appearance :    Choi Yeon Rin
                                      Shin Yuri

****************

“Jagiyy..!! ada apa??” suara Min Woo menyadarkan aku, aku tersentak sebentar seolah sekantung kompres es dingin diangkat dari ubun-ubunku, dan aku mulai merasakan aliran darahku mengalir, dan hangatnya udara menyentuh kulitku. Namun aku kembali tersentak melihat sesuatu yang tertulis di cermin dengan warna merah---Dan aku melihat pantulan ekspresi Min Woo yang berubah terkejut setelah membaca yang tertulis di cermin….

---GA DA--- (pergi)

Tulisannya besar dan bila kulihat lebih teliti ternyata tulisan warna merah bukan berasal dari darah tapi seperti lipstick merah…

Kurasakan tanganku mengenggam sesuatu dan secara refleks aku mengacungkan tanganku ke depan---aku mengenggam lipstick di tanganku!! Batang lipstick itu patah tidak beraturan karena ditekan paksa---Apakah aku yang menulisnya? Tidak mungkin, aku melihat sosok hantulah yang menulis kata ‘pergi’ itu di cermin---lalu mengapa lipstick itu berada di tanganku.

“Kau yang menulisnya?” tanya Min Woo pelan dengan tatapan menuduh. Aku melemparkan lipstick itu ke depan dengan gugup. Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Bukan aku---bukan aku!

“Tidak---aku tidak menulisnya. Bukan aku!” jawabku jujur, karena bukan aku pelakunya. Tapi tatapan Min Woo mengatakan seolah-olah aku berbohong.

“Hantu itu---yang menulisnya, Minu. Bukan aku, percayalah padaku!” bantahku tercekat.

“Tapi bagaimana bisa?” keluh Min Woo, aku tahu ia mencoba mempercayaiku tapi bukti lipstick di tanganku begitu kuat mematahkan kepercayaannya. Aku bagaikan seorang pencuri yang sedang tertangkap basah. Aku pun lunglai, badanku merosot ke bawah, terduduk di lantai. Min Woo ikut berlutut di sampingku…

Jumat, 21 Januari 2011

TOTALLY FAIL (one shot)

Anneyong semuwa….

Author gejeh yang tak beradab kembali…. Hehehe!!! *dilempar permen ma duit recehan…

Sudah baca Fanfic-ku yg Third Room belum?? Karena fic ini aku bikin berdasarkan cerita dari sana.

Disini menceritakan bagaimana bisa seorang Hea In yang super duper cantik #plakk ~kelewat narseesssss buuuu!!!  berhubungan dan pacaran dengan seorang Noh Min Woo yang super duper ganteng #ga usah diplakk, ini kenyataan emang benerr!!

Memang author masii gemeterr ama Third Room chapter 6 itu dan masii terbawa suasana. Jadi dengan sangat terpaksa dan dengan sangat ingin menyalurkan pikiran ero-ku terhadap sosok suami keduaku jadi ehm..ehm…
Ya udah daripada ntarr banyak ngemeng kaya tukang obat…cekidot yaa….
Dan yang penting ga bolee ngirii krena Noh Min Woo hanya milik saia seorang….#digamparr hwanjas…

*************

JUDUL :  TOTALLY FAIL (one shot)



Genre : romance (kayanya…)

Rated : NC 18+ (sekali lagii author mohon perhatiin ratednya yaa…)


Cast :

Noh Min Woo

Kang Hea In (author)


************

Suatu sore yang cerah di suatu tempat, Seoul…

<<HEA IN POV>>

“yoboseyo…” jawabku ketika ponselku berdering.

“apa ini Hea In agashi?”

“ya betul…siapa ini?”

“ahh..agashi, saya Pak Jun pelayan Tuan Muda Noh Min Woo..”

Aku tersentak mendengar bahwa pelayan Min Woo meneleponku, ada apa dengan Min Woo? Aku memang sudah hampir 2 minggu tidak bertemu dengannya di kampus. Beberapa kali aku menghubungi ponselnya sering kali tidak aktif, kalaupun aktif tidak pernah diangkat.

“Agashi, Tuan Muda sedang sakit, sekarang dia ada di rumah, saya diminta untuk menghubungi agashi agar agashi bersedia datang ke rumah Tuan Muda untuk menemuinya”

“Min Woo sakit apa Pak Jun?”

“Sebaiknya agashi datang saja, supir akan menjemput agashi sejam lagi”

“Baiklah”

“Gamsahamnida agashi”

THE THIRD ROOM part 6

Judul : THE THIRD ROOM part 6



Genre : Thriller, Horror, Romance

Rated :  17+ (tolong perhatikan ratenya ya!)

Cast :
Kang Hea In (author)
Noh Min Woo
Kim Nam Gil
Special appearance :    Choi Yeon Rin

****************

"Sedang apa kalian disini?" tanya Min Woo sambil memandang curiga ke arah kami, menurut pandangannya posisi kami memang tidak lazim, kami tengah berpelukan, aku membenamkan kepalaku didada Nam Gil-shi setelah dia berusaha menenangkanku dari penglihatan itu. Spontan aku melepaskan pelukanku mendengar Min Woo bertanya dengan nada penuh curiga.

Min Woo langsung menarik lenganku sedikit kasar, berusaha menjauhkan aku dari Nam Gil-shi. “Aku mencarimu di apartemen, aku mendengarmu berteriak di ponsel dan langsung menuju ke ruang laundry" tanya Min Woo cepat-cepat sambil menatapku tajam,, Oh Tuhan.. jangan karena hal ini Min Woo jadi salah paham.

"Kukira aku sudah tidak diperlukan lagi, aku pergi" ujar Nam Gil-shi, sambil melangkah pergi.

"Tunggu.., sebenarnya siapa kau??" tanya Min Woo, membalikkan badannya mencegah Nam Gil-shi pergi.

"Tanya saja pada istrimu itu.." jawab Nam Gil-shi pendek, tanpa menoleh pada Min Woo yang bertanya penasaran dan melangkah pergi dengan dinginnya.

THE THIRD ROOM part 5

Judul : THE THIRD ROOM part 5



Genre : Thriller, Horror, Romance

Rated : General

Cast :
Kang Hea In (author)
Noh Min Woo
Kim Nam Gil
Special appearance :    Choi Yeon Rin
                                      Shin Yuri

*************************

Kami, aku dan Nam Gil-shi pergi meninggalkan basement dan menuju ke lantai 6, tempat kami tinggal.

“selamat atas kehamilannya” ucap Nam Gil-shi tiba-tiba saat kami berada di dalam lift.

“terima kasih, ehh…Nam Gil-shi, apa yang sebenarnya terjadi di kamar 603?”

“itulah yang ingin aku dengar darimu, karena aku sangat tidak percaya dengan desas desus di luar”

“desas desus apa?”

“kau belum mendengarnya?” Nam Gil-shi mendelik heran, aku menggelengkan kepala ---jujur.

“menurut yang kudengar…..”

DDDRRRTTT…… Suara ponsel-ku berbunyi…

“Yoboseyo…Minu?”