Jumat, 21 Januari 2011

TOTALLY FAIL (one shot)

Anneyong semuwa….

Author gejeh yang tak beradab kembali…. Hehehe!!! *dilempar permen ma duit recehan…

Sudah baca Fanfic-ku yg Third Room belum?? Karena fic ini aku bikin berdasarkan cerita dari sana.

Disini menceritakan bagaimana bisa seorang Hea In yang super duper cantik #plakk ~kelewat narseesssss buuuu!!!  berhubungan dan pacaran dengan seorang Noh Min Woo yang super duper ganteng #ga usah diplakk, ini kenyataan emang benerr!!

Memang author masii gemeterr ama Third Room chapter 6 itu dan masii terbawa suasana. Jadi dengan sangat terpaksa dan dengan sangat ingin menyalurkan pikiran ero-ku terhadap sosok suami keduaku jadi ehm..ehm…
Ya udah daripada ntarr banyak ngemeng kaya tukang obat…cekidot yaa….
Dan yang penting ga bolee ngirii krena Noh Min Woo hanya milik saia seorang….#digamparr hwanjas…

*************

JUDUL :  TOTALLY FAIL (one shot)



Genre : romance (kayanya…)

Rated : NC 18+ (sekali lagii author mohon perhatiin ratednya yaa…)


Cast :

Noh Min Woo

Kang Hea In (author)


************

Suatu sore yang cerah di suatu tempat, Seoul…

<<HEA IN POV>>

“yoboseyo…” jawabku ketika ponselku berdering.

“apa ini Hea In agashi?”

“ya betul…siapa ini?”

“ahh..agashi, saya Pak Jun pelayan Tuan Muda Noh Min Woo..”

Aku tersentak mendengar bahwa pelayan Min Woo meneleponku, ada apa dengan Min Woo? Aku memang sudah hampir 2 minggu tidak bertemu dengannya di kampus. Beberapa kali aku menghubungi ponselnya sering kali tidak aktif, kalaupun aktif tidak pernah diangkat.

“Agashi, Tuan Muda sedang sakit, sekarang dia ada di rumah, saya diminta untuk menghubungi agashi agar agashi bersedia datang ke rumah Tuan Muda untuk menemuinya”

“Min Woo sakit apa Pak Jun?”

“Sebaiknya agashi datang saja, supir akan menjemput agashi sejam lagi”

“Baiklah”

“Gamsahamnida agashi”


Pikiranku langsung berkecamuk, Min Woo sakit! Dan aku sebagai kekasihnya tidak tahu sama sekali, pantas saja aku tidak melihatnya dua minggu. Aku memang berpacaran dengan Min Woo selama 1 ½ tahun ini. Tapi kami menjalani jenis pacaran yang unik, kami tidak seperti pasangan lainnya yang selalu kemana-mana berdua seperti sedang memamerkan dan mendeklarasikan bahwa mereka sedang berkencan.

Sudah biasa bagi kami bila seminggu tidak bertemu atau tidak saling menghubungi karena masing-masing sibuk dengan kegiatannya. Bagi kami yang penting kualitas pertemuan bukan dari intensitas pertemuan yang kelewat sering, itu sangat membosankan.

Aku membebaskan Min Woo untuk tetap bergaul dan hang out dengan teman-temannya baik pria dan wanita, aku tidak akan melarangnya. Biarpun dia akan berjalan berdua dengan seorang wanita, begitupun aku! Min Woo tidak boleh melarangku untuk mempunyai teman pria manapun. Karena bagiku pergaulan itu penting, memperluas jaringan dengan berteman sebanyak-banyaknya akan membuka wawasan dan pikiran, tidak terkungkung dengan perasaan saling curiga dan saling cemburu.

Modalku untuk menjalani gaya pacaran seperti ini menguatkan hati, menutup telinga terhadap gossip dan menebalkan keyakinan dan percaya bahwa jika suatu saat kami tidak bisa meneruskan hubungan dan harus putus di tengah jalan maka Min Woo bukanlah jodohku, begitu pula dengan Min Woo padaku. Kami berdua enjoy dengan pacaran seperti ini dan hanya saling berkencan bila memang salah satu dari kami membutuhkannya.

Sebelum supir Min Woo menjemputku, aku mempersiapkan diri dengan baik. Mandi dan berhias seadanya, karena aku khawatir bila nanti aku akan bertemu dengan orang tua Min Woo. Setidaknya aku sedikit memperhatikan penampilanku. Akhirnya aku tiba di rumah Min Woo, sebuah rumah yang besar dan mewah, kedua orang tua Min Woo adalah pengusaha sukses dan kaya. Min Woo adalah anak terakhir dari 3 bersaudara.

Pak Jun menyambutku dan mempersilahkan masuk, aku memasuki rumah ini dengan canggung, karena ini pertama kalinya aku mengunjungi rumah Min Woo. Keadaan sangat sepi disini, lalu Pak Jun membawaku ke kamar Min Woo dan menyuruhku untuk menunggu disana. Aku sedikit mengkhawatirkan Min Woo, apakah sakitnya separah itu? Hingga tidak bisa meninggalkan kamarnya?.

Saat kumasuki kamarnya, aku langsung mencari sosok kekasihku itu tapi dia tidak ada di tempat tidurnya. Pak Jun bilang mungkin Min Woo sedang mandi. Lalu aku duduk menyapukan seluruh pandanganku ke seluruh bagian kamar Min Woo. Kamar yang sangat nyaman, berdesain semi futuristic minimalis yang didominasi warna deep blue sea dan abu muda, suatu perpaduan warna yang bagus. Tampak berserakan CD-CD game, DVD beberapa film barat dan local, majalah-majalah sport dan kutemukan beberapa majalah dewasa diantaranya, aku hanya tersenyum kecil melihatnya. Tampaknya Min Woo memang menghabiskan waktunya di kamar ini karena kulihat TV plasma berukuran besar masih menayangkan film Twilight Saga.

Aku merasa tidak nyaman dengan segala sesuatu yang ‘berantakan’ lalu aku membereskan CD-CD game, DVD, konsol game, majalah-majalah dan merapikannya. Setengah jam kemudian, Min Woo muncul memakai jubah mandi.

“Kau sudah datang..” sapanya. Dia menatapku sambil tersenyum riang, aku sungguh merindukannya.

“Kau terlihat sehat untuk ukuran orang yang sakit” balasku, dia hanya berdecak kecil dan mengibas-gibaskan rambutnya yang masih basah.

“Kau sangat tidak perhatian sebagai seorang kekasih” gerutunya. “Kenapa kau tidak mencari tahu apa yang terjadi denganku?” tanyanya sambil merenggut.

“Mana kutahu kau sedang sakit? Aku beberapa kali menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif bahkan sering tidak diangkat” elakku, itu memang benar.

“Kau kurang keras berusaha”

“Ahh…sudahlah! Sebenarnya kau sakit apa sih?”

“aku terkena virus, katanya radang otak---aku sempat dirawat 2 hari dirumah sakit, lalu dokter menyuruhku beristirahat total di rumah. Orang tuaku benar-benar mengisolasikan aku disini---karena katanya penyakitnya menular, jadi aku tidak boleh bertemu siapapun. Itulah sebabnya aku tidak menghubungimu, aku pikir kau akan berusaha keras. Sebagai seorang kekasih kau sangat mengecewakan?” keluhnya datar sambil menghempaskan tubuhnya di kursi sofa.

“Mianhe---aku mengecewakanmu! Tapi sekarang kau sudah sembuh bukan?” kataku merajuk, aku duduk di samping Min Woo dan menatapnya geli saat melihatnya  tengah merenggutkan bibirnya. ‘CHU’ aku mencium pipinya tanda permintaan maaf. Dia terkejut tapi rautnya terlihat senang… “Mianheyo…minu…na chagiya…” ulangku lagi.

“mwo…kau bilang apa tadi?” tanyanya dengan wajah jahil. “kau memanggilku---minu...na chagiya….ulangi!” katanya. Selama ini aku hanya memanggilnya dengan sebutan namanya atau sesekali minu…tidak pernah memanggilnya chagiya. Entah kenapa, rasanya aneh saja! tapi kali ini aku ingin membahagiakannya karena merasa bersalah, tidak bisa berperan sebagai gadis yang perhatian saat kekasihnya sakit.

Dia mencondongkan tubuhnya, aku mundur perlahan menghindari, kurasa Min Woo akan menciumku. Tapi saat kami berdekatan 5 cm lagi, Min Woo bertanya “aku suka kau mengatakan itu…apa kau sudah mulai jatuh cinta padaku?”

“….”

Aku bisa menghisap aroma mint yang keluar dari mulutnya dan juga harumnya sabun mandi yang Min Woo pakai dan dengan rambutnya yang basah menambah kesan maskulin yang kuat. Aku refleks memejamkan mata karena bibir Min Woo telah menempel di bibirku---

“ehm…ehm…” suara deheman memisahkan kami. Aku merasa kikuk, tapi Min Woo memasang tampang jaim.

“Ya…Pak Jun?” tanya Min Woo tanpa ekspresi.

“Ini teh dan sandwich, juga jus untuk Tuan Muda dan Hea In agasshi” katanya, tapi bisa kulihat raut wajahnya menahan geli.

“Simpan saja disitu..” kata Min Woo ketus, dia merasa Pak Jun menganggu aksinya tadi. Pak Jun menyimpan nampan di meja sofa dan hendak keluar.

“Pak Jun!” seru Min Woo, Pak Jun menoleh. “Kau sudah melaksanakan apa yang kuperintahkan bukan?”

“Ya Tuan Muda. Sudah” jawab Pak Jun pendek lalu keluar.

“Sampai mana tadi?” Min Woo balik menatapku. Apa dia mau meneruskan aksinya? Melihat tatapannya, sepertinya iya. Tapi segera kutahan dan beralasan.

“Kau masih memakai jubah mandimu, sebaiknya kau berpakaian nanti masuk angin, dan tambah sakit” perintahku. “Ayolah…” paksaku. Akhirnya Min Woo menurut dan masuk ke dalam.


<<Noh Min Woo POV>>

Kang Hea In, gadis yang selama 1 ½ tahun ini berstatus menjadi kekasihku. Aku langsung menyukainya setelah aku mengenalnya di klub basket di kampus, kami berbeda jurusan di Universitas Hansung, dia mengambil fakultas hukum dan aku mengambil fakultas Seni. Dia satu angkatan denganku, dia gadis yang energik, suka berolahraga, tinggi, berbadan ramping dan pastinya cantik!. Dengan rambut pendek sebahu sangat cocok dengan kepribadiannya yang ceria dan terbuka. Dia gadis yang popular di kampus, pandai bergaul dan punya banyak teman. She’s so perfect bagiku.

Setelah mendekatinya dan menyatakan bahwa aku menyukainya, dia hanya tertawa renyah. Dia sangat mengetahui reputasiku sebagai pria sering berkencan dengan gadis-gadis berbeda alias playboy, tapi mereka hanya teman hang out-ku tidak ada yang istimewa bagiku, aku berharap bisa mulai menjalin hubungan yang serius dengan seorang wanita yaitu Kang Hea In.

Hea In akhirnya bersedia menjadi kekasihku dengan syarat kami tidak boleh saling melarang untuk bergaul dengan siapapun, karena ia ingin menjalani masa mudanya dengan mempunyai banyak teman dan bergaul. Tidak ingin dibatasi hanya karena keterikatan hubungan, awalnya aku merasa aneh karena biasanya seorang gadis yang kukencani selalu menuntut agar selalu berdua kemana-mana setiap saat, itu membuat aku bosan dan jenuh. Tapi kemudian aku menyetujuinya, lagipula persyaratannya sangat mudah dan menguntungkan bagiku, bagi seorang pria sepertiku yang mudah sekali bosan.

Kami pun menjalani masa pacaran yang unik, akupun nyaman menjalani status sebagai seorang kekasih Hea In. Tapi sekarang aku kena batunya, aku jatuh cinta padanya, pada pribadinya yang hangat dan terbuka, dia sangat nyaman diajak bicara, tidak pernah kaku, dan mengaturku, memaksaku untuk melakukan hal ini itu yang biasa dituntut seorang gadis pada pacarnya. Aku jatuh cinta padanya karena aku penasaran apakah dia benar-benar menyukaiku dan mencintaiku sebagai seorang kekasih. Hingga akhirnya aku menuntut agar dia lebih perhatian padaku.

Dan dia berada disini, dikamarku, selama 2 minggu ini kami memang tidak pernah bertemu karena selain aku sakit dan harus menjalani pengobatan secara terisolir juga karena aku ingin menguji perhatiannya padaku, aku sengaja mengnon-aktifkan ponselku dan tidak mengangkatnya kala ia menghubungiku. Aku hanya ingin tahu apakah ia merindukanku seperti aku merindukannya. Ternyata ia mencariku dan berusaha menghubungiku, aku sangat senang saat mengetahuinya.

Sekarang saatnya bagiku, untuk memilikinya untuk menjadikan dia kekasihku seutuhnya. Aku ingin selalu bersamanya, berada di dekatnya. Aku ingin menyelami perasaannya padaku, apakah dia mencintaiku dan jatuh cinta padaku. Karena sampai saat ini aku tidak pernah mendengar dia mengatakan itu padaku. Aku ingin mendengar dari mulutnya, dari bibirnya yang ranum, membayangkannya saja sudah membuat aku berdesir. Tapi bukankah tadi dia bilang ‘na chagiya??’ haha…aku sangat senang mendengarnya.

Saat berkencan kami memang berciuman sesekali tapi tidak lebih dari itu, dia selalu menghindar. Dia memang bukan gadis gampangan seperti gadis-gadis lain yang kukencani. Itu yang membuat aku mati gaya karenanya, karena ciuman pertamanya hanya dia lakukan bersamaku! Benarkah?? Tapi kukira memang benar karena ciuman pertama kami dia hanya diam sekaku patung sebagi reaksinya. Kurasa dia memang hanya untukku. Hea In malam ini kau adalah milikku---milikku seutuhnya. Aku menyeringai lebar, bila memikirkannya…
Aku memilih pakaian seadanya berupa t-shirt longgar dan celana pendek rumah karena hari ini aku akan menghabiskan malam bersama Hea In, sebisa mungkin akan kubuat dia tidak menolakku.

Aku duduk disamping Hea In yang sedang mengupas apel, dia membawa sekeranjang buah-buahan untukku, biarpun harganya tak seberapa tapi karena itu bingkisan dari Hea In aku sangat senang.

“aku mau...” rajukku, melebarkan mulutku. Hea In tersenyum dan menyuapi potongan apel. Setelah itu kami berbincang-bincang ringan seputar apa yang terjadi ketika kami tidak bertemu. Setelah dirasa cukup kenyang, Hea In pergi ke kamar mandi dan aku melanjutkan nonton twilight yang tadi sempat tertunda. Hea In telah kembali dan duduk disampingku, penampilannya lebih formal dari biasanya memakai kemeja victorian krem tanpa lengan dan rok A line kotak-kotak warna coklat, menampilkan kakinya yang indah, serta riasan yang minimalis yang semakin menonjolkan kecantikan alaminya. (nii author narsiiss bener yaa…ga peduli ahhh…mmg harus very2 beautiful daa untuk seorang Noh Min Woo *getokk ~lanjootthh!!)

“Aku belum pernah nonton film ini? Rame ngak?” tanya Hea In, serius memperhatikan film.

“Rame…kau belum pernah nonton?”

“Hanya sekilas--“

“Mau kuceritakan…”

“Biasanya film romance seperti ini yang disukai wanita, tapi kau ternyata menyukainya…”

“Karena pemeran wanitanya hampir mirip denganmu”

“Bella?”

“iyaa…”

“gombal…” Hea In mencibirkan bibirnya. Aku semakin gemas dan merangkulkan tanganku ke pundaknya sehingga tubuhnya menempel erat. Aku hafal bau parfume Hea In, Clinique Happy karena aku pernah menghadiahkannya. Aku menghirup dalam-dalam rambutnya yang wangi..

“Kau wangi sekali jagiyy..”

“Mulai deh…apa sih maumu?”

“Mau kamu..”

“Huuhh…”

“Bogoshippo jagiyya, jeongmal…”

“Basi…”

“Saranghaeyo…”

“Biasa…”

“I need you---“ (nii author ga tau bahasa koreanya,,jadi nyelipp)

“Apaan sii---“ belum sempat Hea In menyela, aku segera membengkap mulutnya dengan ciumanku. Aku menyapukan bibirku ke bibirnya dengan lembut seperti sentuhan kapas yang ringan, aku ingin menikmati secara mendalam setiap detik, setiap sentuhan, setiap reaksi yang Hea In berikan untukku dengan caraku, dengan perlakuanku. Masih banyak waktu untuk menuntaskan semuanya. Tapi caranya bereaksi dengan diam membuat aku harus agresif lagi, kuhisap habis dan mengigit pelan bibir bawahnya membuat dia membuka mulutnya lebih lebar. Selama beberapa menit aku melakukan deep kissing dengan melumat bibirnya, dan sekarang waktunya lidahku beraksi.

“mmphh…mmphh..hmm” Hea In bergumam pelan, membuat aku semakin liar mempermainkan lidah dan bibirku penuh nafsu, sekarang tubuh kami condong kebelakang menyender di sandaran sofa, membuat aku semakin leluasa menyerang gadisku dengan ciumanku, Tapi beberapa saat kemudian Hea In mendorong tubuhku dan terpaksa aku menghentikan ciumanku.

“kau mau membuatku kehilangan nafas yaa..” gerutunya sambil mengusap bibirnya yang penuh dengan salivaku.dengan punggung tangannya. Aku hanya tersenyum kecil menanggapinya.

“Aku akan memberimu nafas buatan..” godaku. Aku langsung menciuminya lagi karena takut bila level nafsu Hea In menurun, kali ini aku tertawa dalam hati karena ternyata Hea In menyambut ciumanku dengan melingkarkan lengannya di leherku. Ciumanku berpindah ke lehernya yang jenjang dan putih, membuatku tidak bisa menahan diri untuk meninggalkan jejak disana, menghisapnya kuat dan terbentuklah tanda merah menyala. Lama aku terus merangsang Hea In yang sudah meremas gemas rambutku, tangannya begitu lembut menyentuh kepalaku itu.

Tanganku mulai nakal, aku menyusupkan tanganku dibalik kemejanya yang terangkat dan mengusap punggungnya lembut, Hea In sedikit bergidik karena geli. Aku semakin berani menciuminya liar dan mempermainkan lidahku di bibir dan lehernya sampai turun ke bagian atas dadanya. Aku meremas lembut dadanya yang masih terbungkus rapat kemejanya. Dan aku mulai membuka kancingnya satu persatu, otakku sudah dipenuhi dengan gairah yang tidak bisa kutahan. Darahku terasa panas mengalir ke sekujur tubuhku. Aku tidak tahan, aku menginginkan dia sekarang---sekarang juga.

Ketika aku akan melepaskan kemejanya dan aku melihat sesuatu yang indah tersembunyi dibalik bra-nya, tetapi tiba-tiba Hea In mendorong lembut pundakku, sehingga akupun melepaskan ciumanku di atas dadanya.

“Cukup Min Woo, cukup sampai disini---“ katanya tiba-tiba.

“mwo?” ucapku heran, dan terus terang aku tidak suka pernyataannya.

“Tidak, aku ingin berhenti. Kita tidak boleh melakukan lebih daripada ini” lanjutnya.

“jagiyya…ayolah! Aku sangat merindukanmu” rayuku sambil siap mengambil posisi untuk menciuminya lagi.

“Aniyo…aku tidak mau. Bukan ini yang aku inginkan” katanya ketus, lalu Hea In merapikan kemejanya dan mengancingkannya kembali. Aku menelan ludahku dan berdecak kesal.

“Kau tidak mencintaiku…hingga kau menolakku” tuduhku kesal. Hea In melebarkan matanya.

“Darimana kau mengambil kesimpulan seperti itu?, apa karena aku menolak untuk melakukan lebih jauh lagi lantas kau menarik kesimpulan bahwa aku tidak mencintaimu, kau salah---Aku sangat mencintaimu dan tidak ingin kehilangan dirimu” jawabnya. Aku sungguh terkejut mendengar kata-katanya, bila dia memang mencintaiku lantas kenapa dia menolak.

“Aku ingin kau membuktikannya, jagiyya” sahutku pelan. Tiba-tiba Hea In matanya berkaca-kaca.

“Kurasa---kau telah salah persepsi mengenai cinta. Cinta tidak perlu dibuktikan dengan hanya melakukan hubungan sex, kau sangat dangkal bila berpikiran seperti itu, Minu. Aku sungguh mencintaimu, merindukanmu dan harus kuakui sebagian dari diriku menginginkan itu. Tapi itu bertentangan dengan prinsipku, bagiku kesucian hanya diberikan pada orang yang telah memilikiku seutuhnya. Diberikan sebagai penghargaan atas penyatuan cinta yang diikrarkan. Karena bisa kubayangkan hal itu jauh lebih indah daripada hanya nafsu sesaat” paparnya, kemudian air matanya jatuh tidak terbendung.

Aku terhenyak, penjelasan Hea In membuatku malu. Aku membenarkan perkataan Hea In dalam hati. Dia sangat dewasa dan mempunyai harga diri, aarrgghh…aku sangat gila karenanya. Kecewa dan malu atas penolakannya, juga kagum dan bangga atas prinsipnya.

“Minu…bila karena ini kau ingin putus, aku siap menerimanya. Memang sulit mempertahankan apa yang kuyakini di jaman serba bebas seperti ini, aku mengerti bila kau beranggapan aku kolot dan ortodok. Tapi---“ lanjutnya lagi, dia mengenggam tanganku lembut, dan mencoba menatap mataku. Aku balas menatapnya dengan perasaan campur aduk. “Tapi---saranghe, jeongmal saranghaeyo, Minu”

Aku melihat kesungguhan dimatanya, aku tidak mau kehilangannya. Putus?? Tidak!! Aku ingin tetap melanjutkan hubungan ini, apalagi setelah mendengar pengakuannya, setelah mengetahui prinsipnya. Dia memang gadisku, dan aku bahagia telah mengenal dirinya. Aku merangkul dan memeluk tubuhnya, lalu dengan lembut aku mencium keningnya.

“Tidak, aku ingin melanjutkan hubungan ini lebih serius denganmu. Aku bersedia menunggu hingga kau benar-benar siap dan aku tidak mau kehilangan dirimu” kataku, Hea In menengadahkan kepalanya dan mengusap pipiku tersenyum lembut.

“Gomawoyo, gomawo---telah memahami aku” katanya. Aku pun tersenyum manis, paling manis yang bisa aku berikan untuknya.

Rencana malam ini ---GAGAL TOTAL--- tapi kelak aku akan memiliki dia seutuhnya, dan aku akan menghapus cara pacaran unik kami.

“Nanti kau akan bosan…” jawabnya ketika aku mengungkapkan keinginanku, aku ingin mulai dari sekarang kami menjalani pacaran seperti umumnya pasangan yang lain.

“Tidak akan pernah…”janjiku. Lalu aku mencium bibirnya lagi bukan penuh nafsu seperti yang tadi, tapi karena rasa sayangku untuknya.


~~~ TAMAT ~~~

By Author Mila

1 komentar:

  1. Chiiiatttt~~ jurus cinta baru..
    Hidup Hae In!! *gaje*

    BalasHapus