Jumat, 14 Januari 2011

THE REINCARNATION - Chap 10 - Fanfiction BIDEOK / NAMWON -

CHAPTER 10



Cast :

Bi Dam : Kim Nam Gil                             
Deokman : Lee Yo Won

Mi Shil : Go Hyun Jung
Moon No : Jung Ho Bin                         
King Jin Pyeong : Lee Min Ki

Yoo Shin : Uhm Tae Wong                         
Cheon Myeong :  Park Ye Jin
Alcheon : Lee Seung Hyo    
San Tak : TETAP                     
Yeom Jong : TETAP   
Jook Bang :  Lee Moon Shik                          
Go Do :  Ryu Dam


------------------------------------------------------------


- Kim Nam Gil - 3 Januari 2011 -

Sial sekali Bu Gu Kyong Won masuk di saat aku baru mau memulai mengobrol dengan Yo Won. Hah…

“Putri Deokman menjadi Raja wanita pertama di Korea, yang kemudian bergelar Ratu Seondeok—“ Bu Gu memulai ceritanya, tapi aku tak lagi dapat berkonsentrasi mendengarkannya.

Deokman… sebuah kilasan kejadian menyerbuku. Di hadapanku ada seorang wanita berpakaian tradisional Korea mewah dengan mahkota emas. Wanita yang mirip dengan Yo Won itu lagi.

“Pernah suatu ketika, segala sesuatunya sangat mudah. Tapi lalu mereka mengetahui bahwa aku adalah seorang putri. Mereka mencoba membunuhku. Orang lain yang mencoba melindungiku, mati di depan mataku. Dan sisanya, berlutut padaku dan mengatakan aku harus melakukan segala sesuatu yang terbaik,” wanita itu berkata padaku. “Lalu suatu hari, kau datang. Seperti tidak terjadi apapun, kau bicara padaku dengan nada biasa. Aku mengatakan padamu untuk tetap seperti itu. Kau memperlakukanku seperti aku yang dulu. Paling tidak denganmu, aku bisa merasakan kehidupanku yang dulu. Bahkan ketika aku sudah masuk ke istana, kau membawakan aku bunga, dan dengan pandangan mata cemas kau menggenggam tanganku dan menyentuhku. Jikapun kau punya alasan lain, aku tidak peduli. Ketika aku melihatmu, aku merasa menjadi diriku yang dulu. Aku sangat menyukainya,” lanjutnya.

Melihat kesedihan yang membayang di wajahnya membuatku ikut merasa sakit. Tidak seharusnya dia merasakan kesedihan seperti ini. Kemudian, tanpa kusadari mulutku sudah membuka, lalu mengeluarkan suara dan bertanya, “Lalu kenapa? Kenapa kau berubah?” Aku sendiri sejujurnya tidak mengerti kenapa mengeluarkan pertanyaan sejanggal itu.


“Karena aku tidak lagi memiliki nama. Putri mahkota, Putri. Bahkan bandit di pasar pun punya nama. Tapi seorang raja, tidak memiliki nama. Aku hanyalah, ‘Yang Mulia’. Sekarang tidak ada lagi yang memanggil namaku.”

Dia mengatakannya dengan penuh keyakinan. Terlihat dan terkesan begitu sepi dan sedih. Hatiku terenyuh mendengar keinginan yang tak tersampaikan olehnya. Bahwa ia ingin menjadi seperti dirinya yang dulu. Bukan seorang yang dihormati tapi merasa sendiri dan sepi.

“Aku. aku akan memanggil namamu,” kataku tegas. Aku tidak tahu namanya, tapi aku akan menyebut namanya bila dia memberitahuku.

“Memanggil namaku adalah pengkhianatan. Bahkan jika kau memanggil namaku karena kau mencintaiku, dunia akan berkata itu pengkhianatan. Kenapa aku berubah? Karena pada saat kehilangan namaku, kau menjadi tidak lebih dari orang yang dapat menghancurkan aku. Aku sebagai penguasa harus selalu mengawasi dan mencurigaimu. Karena aku harus selalu mencurigaimu dan berpikir bahwa kau akan menjadi Mishil yang lain,” katanya dengan suara yang semakin sarat dengan kesedihan. “Tapi Bi Dam…” dia berhenti dan mulai menangis. “Apa kau menyadari betapa beratnya itu bagiku? Apa kau tahu bagaimana aku ingin mempercayaimu, bagaimana aku ingin bergantung padamu?”

Aku tersadar dalam kondisi mata basah seperti mau menangis atau justru habis menangis. “Nam Gil? Kau tidak apa-apa?” tanya San Tak.

Aku hanya diam dan tak dapat menjawab pertanyaan San Tak. Aku masih kalut dengan kilasan yang kulihat tadi. Kenapa wanita itu menyebut Mi Shil? Apakah ini Mi Shil yang sama dengan yang ada dalam sejarah? Sang penjaga stempel istana? Kenapa dihubung-hubungkan denganku? Dan… kenapa dia memanggilku Bi Dam? Nilai pelajaran sejarahku tidak pernah terlalu baik, tapi… seingatku, bukahkah dalam pelajaran sejarah disebutkan Bi Dam itu adalah putra penjaga stempel istana Mi Shil dengan Raja Jin Ji? Dia adalah mantan perdana menteri yang berkhianat pada Ratu Seondeok? Lalu kenapa?

“Ratu Seondeok wafat tiga hari setelah berhasil memberantas pemberontakan yang dipimpin oleh mantan perdana menteri Bi Dam—“ saat mencoba kembali berkonsentrasi terhadap pelajaran dan mendengarkan penjelasan Bu Gu, kilasan lain kembali muncul.

Aku melihat wanita berpakaian tradisional korea berwajah mirip Yo Won itu lagi. Dari kedua bola mata indahnya yang bersinar redup oleh kesedihan, mentes air mata. Aku bergerak maju untuk mendekatinya, tapi pria berwajah mirip Tae Wong menghalangiku, kemudian menusukku dengan pedangnya.

Ditengah rasa sakit yang kurasakan, tanpa sadar aku membuka mulut dan mengeluarkan suara, menyebut, “Deokman… Deokman…”

“Kim Nam Gil!”

Aku tersadar dan melihat Bu Gu berdiri di hadapanku dengan wajah kesal. “Apa yang kau lamunkan hingga ternganga seperti itu?” tanyanya. “Apakah pelajaranku begitu membosankan?”

Apa yang bisa kukatakan? Sebelumnya aku sudah sering mendengar dan membaca kisah mengenai raja wanita pertama di korea itu, dan tak pernah aku mengalami kilasan kejadian aneh seperti barusan. Ada apa denganku? Kenapa sekarang mendengar kisah ini membuatku… tunggu  dulu, dalam kilasan yang kulihat tadi aku memanggilnya… Deokman? Mengapa? Itukah namanya? Deokman… Putri Deokman!?
       
“Karena aku tidak lagi memiliki nama. Putri mahkota, Putri. Bahkan bandit di pasar pun punya nama. Tapi seorang raja, tidak memiliki nama. Aku hanyalah, ‘Yang Mulia’.” Aku mengingat-ingat perkataannya. Putri Mahkota. Raja. Deokman. Astaga… mungkinkah wanita itu Ratu Seondeok? Itukah sebabnya dia juga menyebut-nyebut nama penjaga stempel istana Mi Shil dan mantan perdana mentri Bi Dam? Tapi kenapa dia muncul dalam kilasan-kilasan kejadian dan mimpiku selama ini? Kenapa wajahnya begitu mirip dengan Yo Won?

“Kim Nam Gil! Aku bertanya padamu!”

Aku melirik Bu Gu yang masih berdiri menjulang di hadapanku dengan ekspresi kesal dan tak sabaran, lalu hanya bisa meringis dan menggaruk-garuk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. Hah… sial.



“Belakangan ini kau aneh sekali,” kata San Tak sambil memilih makanan di kafetaria. “Kenapa kau jadi sering melamun? Apa yang kau lamunkan? Pasti hal-hal porno!”

Aku langsung memukul punggungnya dengan nampanku yang masih kosong. “Jangan samakan aku denganmu,” gerutuku.

San Tak merengut kesal sambil mengusap-usap punggungnya. “Aku juga tidak,” protesnya. “Oh ya, menurutmu aku pantas jadi ketua OSIS, tidak?” tanyanya, tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.

“Tentu saja tidak,” jawabku tegas. “Kenapa kau bertanya begitu? Apa Tae Wong sudah akan turun dari jabatannya?”

Walaupun kesal dengan jawabanku, San Tak tetap mengangguk. “Mulai hari ini siapa saja yang ingin mencalonkan diri sebagai ketua OSIS dipersilakan mendaftarkan diri ke ruang OSIS,” katanya.

“Untuk apa menginginkan posisi itu? memangnya hebat?” ejekku.

San Tak mengerucutkan bibirnya. “Tentu saja hebat. Tidakkah kau perhatikan? Gadis-gadis menyukai Uhm Tae Wong dan Lee Seung Hyo karena jabatan mereka sebagai ketua dan wakil ketua OSIS!” katanya berapi-api.

Aku mendengus. Yang benar saja. “Mereka digilai bukan karena jabatan, melainkan penampilan mereka yang cukup bagus,” kataku.

Saat itu tak terpikir olehku bahwa pada akhirnya aku justru akan mencalonkan diri menjadi pengganti Tae Wong. Semua karena Yo Won. melihat gadis itu dan Park Ye Jin membahas tentang posisi ketua OSIS dan kekaguman mereka pada hasil kerja Tae Wong, membuatku betekad untuk memperlihatkan padanya bahwa aku juga mampu menjadi ketua OSIS sebaik Tae Wong. Salah, menjadi ketua OSIS yang lebih baik dari Tae Wong.

“Kau serius?” tanya San Tak dan Yeom Jong bersamaan. Kami berkumpul di kelasku setelah makan siang, dan aku memberitahu mereka mengenai niatku. “Tapi saat di kafetaria tadi kau tidak terlihat tertarik dengan jabatan itu?” tanya San Tak penasaran.

“Sekarang aku tertarik,” jawabku acuh tak acuh. “Tapi benar kata Yo Won, dengan reputasiku, aku sangat meragukan ada yang mau memillihku.”

Yeom Jong tertawa. “Kau memusingkan hal sepele seperti itu? apa gunanya memiliki kami sebagai teman-temanmu bila tidak dapat membantu?” katanya.

Sejujurnya mereka lebih sering menyulitkan dibanding berguna. “Aku akan mengikuti saran Yo Won,” gumamku, tak mengacuhkan Yeom Jong dan San Tak yang mulai berdiskusi. “Aku akan mencoba merubah citra diriku yang terlihat buruk selama ini. Akan kucoba menjadi murid teladan.”

Seketika  Yeom Jong dan San Tak terdiam. “Kau tidak serius, kan?” tanya keduanya kompak. “Untuk apa merepotkan diri seperti itu?” lanjut Yeom Jong tak mengerti.

“Aku mau mencobanya,” jawabku sambil berjalan pergi meninggalkan mereka. Bahkan aku akan mencoba lebih dari itu. aku ingat Yo Won pernah berkata dia tidak menyukai sikapku yang sering kali menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Akan ku tunjukkan padanya bahwa aku bisa bersikap beradab. Aku bisa menahan diri. Akan kubuktikan itu



Sial. Aku kehilangan keseimbangan, dan berhasil dibuat jatuh oleh Tae Wong. Padahal aku ingin Yo Won melihatku mengalahkan sang ketua OSIS yang dianggapnya hebat ini, tapi belum apa-apa aku sudah kehilangan keseimbangan.

Seketika sebuah kilasan melintas di kepalaku. Aku melihat pria yang mirip Tae Wong dalam versi lebih dewasa itu lagi. Aku kembali berhadapan dengannya. Kali ini di sebuah arena dengan banyak penonton. Pria yang mirip Tae Wong itu terlihat sangat pucat dan berantakan. Sepertinya dia terluka parah, tapi tetap berusaha bertarung sebaik mungkin denganku.

Tanpa sengaja mataku terarah pada wanita yang duduk di salah satu kursi penonton. Wanita itu lagi! Wanita yang mirip dengan Yo Won. Sang Ratu!? Sorot matanya sama khawatir dan sedih seperti yang beberapa kali pernah kulihat. Tapi kali ini sorot itu tidak tertuju padaku. Dia menatap pria yang mirip Tae Wong itu. hanya menatapnya, tanpa memperdulikan yang lainnya. Tanpa melihatku.

“Kim Nam Gil. Uhm Tae Wong,” panggil guru Jung. “Apa yang kalian lakukan? Kenapa diam saja?” tegurnya.

Aku tersadar dan buru-buru bangkit untuk kembali melawan Tae Wong. Aku berusaha serius bertanding, tetapi pikiranku terus teralih pada ingatan sorot mata wanita itu yang hanya tertuju untuk si pria yang mirip Tae Wong. Sorot cemas, sedih, dan cinta. Untuk pria itu. Hatiku terasa sakit. Entah kenapa aku merasa terganggu. Mungkin karena wanita dan pria dalam kilasan pengelihatanku itu begitu serupa dengan Yo Won dan Tae Wong.

Tae Wong berhasil mengalahkanku. Sial. Dengan geram aku berjalan ke sudut ruangan dan duduk menyendiri di sana. Dan kilasan tadi kembali menghantuiku.

“Kau kenapa?” tanya Yo Won, yang tiba-tiba datang menghampiriku. “Kenapa tadi tiba-tiba kau melamun?”

Setengah sadar aku menengadahkan kepala untuk menatapnya. “kau hanya menatapnya,” gumamku.

“Ha? Apa maksudmu?” tanya Yo Won bingung, membuatku tersadar.

Aku sendiri bingung. Kenapa aku berkata begitu? Aku sengaja menyeringai jail. ”Tidak, aku hanya asal bicara. Entahlah, belakangan ini sepertinya aku jadi gila,” kataku.

Yo Won duduk di sebelahku, tapi kami tak saling bicara. Aku sibuk dengan pikiranku, sedangkan Yo Won… entah apa yang dipikirkannya. Sampai akhirnya dia pergi karena dipanggil Guru Jung untuk dites, aku mengamatinya sambil terus memikirkan kesamaan Yo Won dengan wanita dalam kilasan yang kulihat. Deokman. Putri Deokman. Ratu Seondeok.


***


- Lee Yo Won - 17 Januari 2011 -                                     

“Tidakkah menurutmu dia terlihat aneh belakangan ini?” komentar Ryu Dam.

“Bukan aneh,” sahut Moon Shik sok tahu. “Dia begini karena menginginkan posisi ketua OSIS. Masa begitu saja perlu kujelaskan?”

“Oh… ya, kau benar juga,” kata Ryu Dam setuju.

“Tentu saja aku benar,” kata Moon Shik sombong.

Aku memperhatikan Nam Gil yang sekarang berpenampilan rapi sedang mengobrol sopan dengan seorang guru. Benar kata Ryu Dam. Nam Gil jadi aneh belakangan ini. Dia seperti bukan dirinya sendiri. Nam Gil yang biasanya tampil berantakan sekarang berpakaian rapi. Nam Gil yang kasar sekarang menjadi lebih sopan pada orang-orang di sekelilingnya. Nam Gil yang sering tidak memperhatikan pelajaran, sekarang terlihat serius berkonsentrasi mendengarkan penjelasan guru. Singkatnya, dalam waktu kurang lebih dua minggu ini Nam Gil berubah. Bukannya aku tidak suka dengan perubahannya—lagipula kejailan dan senyum lucunya yang kusuka itu tidak berubah sedikitpun—tapi aku hanya merasa aneh dengan perubahan tiba-tibanya ini. Walaupun beberapa minggu ini kami sudah menjadi lebih akrab lagi, tapi perubahannya belakangan ini tetap membingungkanku.

Karena hari ini kak Ye Jin tidak ada jadwal di klubnya, maka dia pulang lebih dulu dariku yang harus berlatih taekwondo. Pada pukul lima, saat bersiap untuk pulang, Nam Gil menghampiriku dan kami mengobrol mengenai persiapan pertandingannya beberapa bulan lagi. Aku memang tidak terpilih, seperti dugaanku sebelumnya, tapi aku ikut bersemangat untuk pertandingan Nam Gil nanti, karena dari kelompok murid pria, Nam Gil dan kak Tae Wong lah yang dipilih oleh guru Jung.

“Kau kelihatan berbeda belakangan ini,” kataku beberapa saat kemudian.

Nam Gil tersenyum lebar. “Kau suka?” tanyanya bersemangat.

Aku mengerutkan kening heran. “Yah, aku senang melihat sikapmu berubah lebih baik,” akuku. “Sudah dua minggu ini aku tidak mendengarmu berkelahi dengan siapapun. Dan itu sangat ajaib,” godaku.

Seringai Nam Gil semakin lebar. “Aku menuruti perkataanmu. Aku mencoba menahan diri. Walaupun kuakui rasanya sulit sekali, apalagi bila kau dikelilingi orang-orang yang mengesalkan,” katanya.

“Maksudmu, saranku agar kau merubah citra dirimu untuk terpilih sebagai ketua OSIS itu?” tanyaku sambil berjalan keluar dari ruang latihan bersamanya.

Nam Gil memonyongkan bibir dan memasang ekspresi seolah sedang berpikir keras. “Yah… karena itu juga,” akunya. “Tapi sebenarnya lebih dari itu. Aku berubah karenamu.”

Seketika aku menghentikan langkahku. “Apa maksudmu?”

Nam Gil ikut menghentikan langkahnya dan setengah memutar tubuhnya menghadapku. Sekarang wajahnya terlihat serius. “Ya, aku sengaja berubah demi dirimu,” katanya. “Hari itu kau berkata tidak suka dengan caraku yang selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan, maka aku berusaha mengubah diri menjadi lebih baik dan terutama menahan emosiku yang sering kali meluap-luap. Aku berusaha menjadi orang yang lebih baik. Perubahanku bukan hanya untukku sendiri, tapi untukmu,” lanjutnya.

Kurasakan jantungku berdetak seratus kali lebih cepat dari biasanya. Selama beberapa saat aku hanya berdiri mematung sambil menatap Nam Gil yang juga berdiri diam tiga langkah di hadapanku. Dia bilang dia melakukan ini karena aku. Demi diriku. Dia berubah dan mencoba menahan diri untukku. Aku benar-benar tersentuh… terharu… apapun itu sebutannya untuk perasaanku sekarang ini.

“Yo Won,” sapa kak Tae Wong menghampiriku. “Aku dan Seung Hyo ada urusan, jadi hari ini aku tidak dapat pulang bersamamu,” katanya.

“Oh… ah, tidak, tidak apa-apa,” sahutku sedikit tergagap. “Aku bisa pulang sendiri. Baiklah, kalau begitu aku pulang sekarang,” kataku, kemudian berjalan melewatinya.

“Memangnya setiap hari kalian harus selalu pulang bersama?” tanya Nam Gil sambil mengikutiku hingga ke gerbang depan.

Aku menengok ke arahnya dengan kening berkerut heran. Kenapa nada suaranya ketus begitu? “Tidak,” jawabku. ‘Tapi… yah, bisa dibilang seperti kebiasaan. Jadwal klub kak Ye Jin dan klub taekwondo berbeda, jadi seringnya aku pulang dengan kak Tae Wong. Dia baik sekali. rasanya seperti memiliki kakak laki-laki yang sangat melindungi,” lanjutku.

“Kakak laki-laki? Benarkah? Kau tidak tertarik padanya?” tanya Nam Gil bersemangat.

Kuakui beberapa kali aku sempat bereaksi aneh saat berdekatan dengannya, tapi… sekarang tidak pernah lagi. “Kuakui dia menarik,” kataku. “Dan mungkin aku sempat tertarik padanya juga, tapi… tidak, aku tidak memiliki perasaan romantis padanya.”

Nam Gil menyeringai. “Bagus. Bagus sekali,” gumamnya.

“Apanya yang bagus?” tanyaku. tapi sebelum Nam Gil sempat menjawab, aku tiba-tiba teringat. “Ah, kenapa kau mengikutiku kemari? Kau tidak mengambil motormu?”

Nam Gil menggeleng. “Tadi pagi hujan lebat dan aku malas mengendarai motor, jadi aku pergi ke sekolah menggunakan bus.”

Aku baru akan menanggapi perkataannya, ketika sebuah mobil mercedes hitam berhenti di hadapan kami. Pintu penumpang belakang terbuka dan seorang pria setengah baya keluar dari sana…

“Ayah!?” seruku terkejut.



“Biar supir yang mengantar kalian pulang,” tawar Ayah.

“Tidak usah,” tolakku. “Terima kasih, tapi kami pulang sendiri saja,” kataku.

“Tapi—“

“Selamat malam, Ayah,” kataku. “Ayo,” ajakku pada Nam Gil.

“Selamat malam, Tuan Lee. Permisi,” pamit Nam Gil sopan sambil membungkukkan badan.

“Ah, ya,” sahut Ayah. “Selamat malam. hati-hati di jalan. Sering-seringlah kalian berkunjung kemari,” pesannya.

“Baik,” sahut Nam Gil mewakiliku.

Selama dalam perjalanan menuju halte bus, tak ada satupun dari kami yang bersuara. Aku menghargai sikap Nam Gil yang membiarkanku tenang.

Karena terus kutolak, Ayah nekat menjemputku ke sekolah untuk mengajakku makan malam bersama di rumahnya. Sebenarnya tadi aku ingin menolaknya lagi, tapi aku merasa tidak enak hati menolaknya di depan banyak orang. Untung saja Nam Gil bersedia kuajak menemaniku walaupun aku memutuskannya secara sepihak tanpa bertanya dia setuju atau tidak. Aku memerlukan kehadiran Nam Gil karena aku tidak ingin hanya berduaan dengan Ayah. aku tidak mau mendengar Ayah mencoba membahas tentang perselingkuhannya lagi.

Halte itu kosong, dan hanya ada kami berdua. “Kau menunggu bus juga?” tanyaku setelah hening selama beberapa saat. seingatku rumah Bibi Hyun Jung tak terlalu jauh dari sini.

“Tidak. Aku menunggu busmu,” katanya.

“Ini sudah malam, mungkin orang rumahmu mencarimu sejak tadi,” kataku. “Tidak apa-apa, aku bisa menunggu sendiri. Sebentar lagi juga busnya datang.”

Nam Gil bersedekap sambil melirik kesal padaku. “Kau pikir aku akan membiarkanmu sendirian di pinggir jalan malam-malam begini?” tanyanya. “Aku akan menunggu hingga kau aman dalam bus,” lanjutnya tegas.

Hatiku terasa hangat dengan keperduliannya padaku. “Terima kasih,” kataku. “Karena mau menemaniku menunggu bus, dan karena bersedia menjadi penengah antara aku dan Ayahku. Aku bahkan tidak bertanya lebih dulu padamu tadi, apakah kau bersedia atau tidak.”

Nam Gil tersenyum. “Tidak perlu bertanya. Aku justru senang kau mengajakku,” katanya.

“Apa pendapatmu mengenai Ayahku?” tanyaku setelah sekali lagi kami sempat terdiam.

“Dia mencintaimu dan Ibumu,” jawab Nam Gil langsung.

Aku menutup mata dan mengingat ketika di rumahnya tadi, sehabis keluar dari toilet, diam-diam aku mengawasi Ayah yang memperlihatkan album foto kenangan keluarga kecil kami pada Nam Gil. Dari nada suara dan sorot matanya saat melihat dan menjelaskan sejarah foto-foto tersebut, aku merasakan cintanya. Sepertinya dia memang benar-benar menyayangi dan mencintaiku juga Ibu.

“Kau beruntung memiliki Ayah yang sangat menyayangimu seperti itu,” kata Nam Gil dengan sekilas rasa sedih terpancar dari suaranya. “Aku tidak pernah mendengar atau melihat rasa sayang sebesar dan setulus seperti yang dicurahkannya saat menceritakanmu dan ibumu.”

Benar. Mungkin sudah saatnya aku memaafkan Ayah. mungkin sudah saatnya aku mempercayai kata-kata Ayah. Mungkin ayah memang tidak pernah berselingkuh dengan Bibi Hyun Jung. mungkin Ayah memang menolak godaan wanita itu. mungkin selama ini hanya kesalah pahaman. Mungkin…

“Kau benar,” kataku sambil tersenyum. “Sekali lagi, terima kasih sudah menemaniku.”

Nam Gil langsung tersenyum lebar. “Aku tidak keberatan sama sekali. kapan saja kau membutuhkanku, aku akan ada untukmu.”

Senyumanku semakin mengembang. Aku sangat menghargai janjinya. “Terima kasih,” kataku lagi. Aku mengamati wajah Nam Gil lekat-lekat. Aku sangat suka melihatnya tersenyum. Dia punya senyum menawan yang dapat membuat orang ikut tersenyum. Berulang kali senyumnya berhasil membuat hatiku tenang. Tiba-tiba kurasakan sekali lagi jantungku berdebar cepat.

Saat memaksakan diri mengalihkan pandangan dari wajah dan senyum Nam Gil, aku melihat sebuah bus mendekat, walaupun masih cukup jauh. Ketika berdiri, sebuah ide melintas di kepalaku. “Nam gil, bisakah kau berdiri di bawah lampu jalan itu?” tanyaku. “Ayo cepat, busnya hampir sampai,” kataku.

Walaupun jelas heran dengan permintaanku, Nam Gil tetap menurut. “Untuk apa?’ tanyanya heran.

“Tersenyumlah,” pintaku. “Yang lebar,” tambahku sambil mengeluarkan ponselku.

“Begini?” tanyanya.

“Yang alami. Kalau seperti ini kau jadi terlihat seperti kucing melihat sarden,” omelku. “Ya, bagus. Seperti itu,” kataku sambil mengambil beberapa foto dirinya lewat kamera ponselku. Bertepatan dengan itu, bus yang kutunggu mulai merapat ke halte. Tapi aku sudah puas karena berhasil mengambil beberapa fotonya saat tersenyum. Bila aku sedang kesal atau sedih dan dia sedang tidak ada, paling tidak aku bisa melihat foto wajahnya yang sedang tersenyum.

“Selamat malam. Sampai jumpa besok,” kataku. “Sekali lagi, terima kasih telah menemaniku.”

“Dan sekali lagi, kubilang itu bukan masalah,” sahutnya dengan senyum lebar.

Aku membalas senyumnya, kemudian melangkahkan kaki memasuki bus. Tapi kemudian aku berputar dan melongokan kepala untuk menatapnya lagi. “Ah, aku lupa mengatakan ini. Aku suka kau mencoba menahan emosimu. Tapi, selebihnya… tidak usah menjadi sosok yang bukan dirimu hanya untukku, bila itu tidak membuatmu nyaman,” kataku. “Lagi pula, aku suka kau apa adanya,” lanjutku terakhir kalinya, lalu masuk ke dalam bus.



To Be Continued...

 by Destira ~ Admin Park ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar