Jumat, 14 Januari 2011

THE REINCRNATION - Chap 11 - Fanfiction BIDEOK / NAMWON -

CHAPTER 11



Cast :

Bi Dam : Kim Nam Gil                             
Deokman : Lee Yo Won

Mi Shil : Go Hyun Jung                           
Se Jong : Go Young Jae
Chil Sook : Park Kil Kang                            
Sohwa : Park Young Hee

Yoo Shin : Uhm Tae Wong                         
Cheon Myeong : Park Ye Jin
Choon Choo : Yoo Seung Ho                           
Bo Ryang : Yoo Eun Bin
Bo Jong : Go Do Bin                                 
Yeom Jong : TETAP
San Tak : TETAP
Im Jong : Kang Ji Hoo


----------------------------------------------------------


- Lee Yo Won - 19 Januari 2010 -    

Inilah hari yang ditunggu-tunggu. Hari pemungutan suara untuk memilih ketua OSIS yang baru. Aku harap Nam Gil bisa memenangkannya, karena bila dia sampai mau repot-repot merubah diri seperti sekarang, berarti dia memang sangat menginginkan jabatan itu.

Semua anak berkumpul di aula untuk memilih satu dari ketiga calon ketua OSIS. Dua saingan Nam Gil cukup berat. Kang Ji Hoo dikenal sebagai murid teladan dan populer di kalangan gadis karena citra pemuda baik-baik dan manis andalannya. Dan saingan yang satu lagi, Reng Bit Na, adalah gadis terpintar di sekolah dan memiliki kepribadian yang sangat tegas. Bahkan murid-murid pria pun kabarnya takut membuatnya gusar.      

Saat berada dalam antrian untuk memilih, kulihat Nam Gil sedang berdiri berjejer bersama dua saingannya yang lain dengan senyum lebar penuh antisipasi. Aku tersenyum saat melihat seragamnya tidak lagi sekaku beberapa hari sebelumnya, saat dia dengan serius mengira aku menyukai penampilan kelewat rapi seperti professor itu.

“Aku tidak bisa!” jerit pemuda di deretan terdepan. “Walaupun aku harus mati, aku tidak sudi memilih bocah brengsek itu!” katanya, menunjuk Nam Gil yang terperanjat.

Kak Tae Wong berdiri dari kursi panitianya, dan mencoba menenangkan pemuda itu. “Ada apa ini sebenarnya?” tanyanya. “Kalau kau tidak mau memilihnya, maka pilih yang lain saja.”

Pemuda itu menunjuk dan memelototi Nam Gil, juga beberapa pemuda lain yang tersebar di sudut-sudut aula seperti bodyguard. “Kim Nam Gil mengancam akan menghajar siapa saja yang tidak memilihnya,” adunya. “Lihat saja, semua anak buahnya sudah disiapkan di sekeliling aula untuk mengintimidasi kami!”

Seketika aula menjadi ribut dengan seruan murid-murid lain yang rupanya mendapat ancaman serupa. Mereka menjadi berani setelah pemuda tadi nekat melawan. Tapi ini tidak mungkin benar. Nam Gil tidak mungkin melakukan itu semua. Aku sudah melihat kerja kerasnya dua minggu ini. Bila dia memang benar memakai ancaman seperti ini, untuk apa dia repot-repot merubah diri?

“Itu tidak mungkin!” seruku membela Nam Gil. “Apakah kau berani bersumpah bahwa Kim Nam Gil mendatangimu dan mengancam akan menghajarmu bila kau tidak memilihnya!?” tuntutku sambil keluar dari barisan pemilih.

“Benar!” dukung San Tak, yang selama ini kutahu memang salah satu teman dekat Nam Gil. “Kau tidak boleh sembarangan menuduh seperti itu.”

Seketika aula menjadi sunyi senyap. Pemuda itu menatap ke arahku dan San Tak dengan pandangan kesal. “Tidak,” jawabnya. “Aku tidak bisa bersumpah begitu karena memang bukan Kim Nam Gil yang mendatangi serta mengancamku secara langsung, melainkan tangan kanannya, Yeom Jong, dan anak-anak buahnya.”


Aula kembali ribut dengan seruan setuju dari murid-murid lain. Dengan cemas aku melihat postur tubuh Nam Gil yang berubah sekaku patung. Kedua matanya menyipit tajam dan menusuk ke arah Yeom Jong—yang sedang berdiri di salah satu sudut aula—senior yang kutahu memang sering bersama Nam Gil. Tangan Nam Gil yang terkepal erat menunjukkan kemarahan yang amat sangat sedang melanda pemuda itu.

“Tapi tetap bukan Kim Nam Gil sendiri yang mengancam kalian,” lanjutku. “Bisa saja teman-teman Kim Nam Gil bertindak tanpa sepengetahuannya!”  

“Benar!” timpal San Tak lagi. “Aku tahu sekali Kim Nam Gil tidak pernah mengeluarkan perintah seperti itu pada Yeom Jong. Itu inisiatif Yeom Jong sendiri!”

“Tapi untuk apa mereka melakukan itu tanpa perintah dari Kim Nam Gil!?” balas mereka. “apa untungnya mereka membantu Kim Nam Gil tanpa ada perintah darinya? Dan lagi, omonganmu tidak bisa dipercaya karena kau sendiri teman Kim Nam Gil!”

Dengan desakan hampir seluruh murid, yang hanya dibantah dengan pembelaan kecilku dan San Tak,  maka dewan panitia terpaksa membuat keputusan untuk mendiskualifikasi Nam Gil dari pemilihan ini. Yeom Jong mencoba menjelaskan bahwa itu memang keputusannya sendiri untuk membantu Nam Gil, tapi kata-katanya tak dipercaya siapapun, dan keputusan untuk mendiskualifikasi Nam Gil tak dapat diganggu gugat.

Nam Gil berjalan keluar dari aula dengan sangat geram. Melalui isyarat kecil, dia menyuruh Yeom Jong mengikutinya. Karena khawatir, aku pun langsung mengikuti mereka. Apa yang akan Nam Gil lakukan pada Yeom Jong? apakah dia akan menghajarnya?

Belum jauh berjalan, tiba-tiba Nam Gil berbalik dan menarik kerah baju seragam Yeom Jong. “Apa yang kau pikirkan, brengsek!?” desisnya penuh ancaman.

Yeom Jong terlihat gemetar ketakutan. “Ma… maaf, aku tidak tahu akan jadi seperti ini akhirnya—“

“Tentu saja kau tidak tahu!” bentak Nam Gil. “Karena kau tidak punya otak!” cacinya sambil mendorong tubuh Yeom Jong hingga membentur dinding.

“Aku hanya ingin membantu,” kata Yeom Jong membela diri. “Sepertinya kau sangat menginginkan jabatan itu, maka—“

“Tapi sudah kukatakan aku bisa melakukannya dengan caraku sendiri!” sergah Nam Gil emosi. “kau melakukan semua ini tanpa bertanya padaku lebih dulu!’

“Aku—“

Nam Gil kembali menarik kerah baju Yeom Jong dengan penuh emosi, dan sudah mengepalkan tangan untuk meninju, tetapi kemudian perlahan diurungkannya niatnya. “Kali ini kau kumaafkan karena aku tahu tujuanmu untuk membantuku,” desisnya. “Tapi, bila sekali lagi aku melihatmu ikut campur dalam urusanku tanpa kuminta, aku akan benar-benar menghabisimu. Ingat itu!” bentaknya sambil mendorong Yeom Jong hingga jatuh terduduk, kemudian dia pergi dengan langkah-langkah panjang.

Setelah Yeom Jong beranjak pergi dari tempat itu, aku segera keluar dari tempat persembunyianku dan meneruskan langkahku mengikuti Nam Gil. Sialnya dengan cepat pemuda itu sudah menghilang. Tapi sepertinya aku tahu di mana bisa menemukannya. Dan tepat seperti dugaanku, dia menyendiri di atap. Awalnya aku hanya memandanginya lewat kaca pintu atap itu, tapi kemudian kuputuskan untuk mendatanginya, walaupun aku bingung bagaimana harus menyapanya dalam kondisi seperti ini. Tiba-tiba aku teringat permen susu yang ada di saku rokku, maka langsung saja aku melempar permen itu ke arahnya, dan dengan sigap dia menangkapnya tanpa berbalik menatapku.

“Hebat. Bagaimana kau bisa melakukan itu?” pujiku.

Nam Gil menoleh dengan senyum masam tersungging di bibirnya. “Hai,” sapanya.

“Aku ikut menyesal atas apa yang terjadi,” kataku tulus. “Sepertinya kau sangat menginginkan jabatan itu. tapi tidak menjadi ketua OSIS bukan akhir dunia, kan?” candaku.

Nam Gil menghela napas lelah. “Sekarang aku tidak bisa membuktikan bahwa aku memiliki kemampuan yang sama dengan Tae Wong dalam menjalankan tanggung jawab sebagai ketua OSIS,” gumamnya.

“Tapi untuk apa kau melakukan itu? tidak perlu menjadi ketua OSIS untuk menunjukan kau berguna,” kataku. “Ketua OSIS hanyalah sebuah jabatan. Kurasa tidak ada yang spesial.”

Nam Gil menatapku tajam. “Kau mengagumi Tae Wong karena dia bisa melakukan tugasnya sebagai ketua OSIS dengan baik, kan?”

Selama beberapa saat aku terdiam tanpa tahu harus berkata apa, lalu tertawa. “Jangan bilang kalau kau menginginkan jabatan itu karena aku lagi,” kataku geli.

Nam Gil terlihat salah tingkah. “Aku memang ingin membuktikan bahwa aku bisa melakukan lebih baik dari apa yang sudah dilakukan Tae Wong selama ini,” katanya.

Aku meninju bahunya pelan. “Hei, bukankah sudah kubilang, jadilah dirimu sendiri. Jangan memaksakan diri menjadi sosok yang bukan dirimu hanya karena orang lain,” kataku. “Aku tersanjung kau melakukan ini karenaku… eh, tunggu, kau naksir aku, ya?” godaku.

Wajah Nam Gil langsung memerah karena malu. “Emm… kau teman yang baik, dan—“

Aku terkikik geli melihatnya salah tingkah. “Sudahlah, aku hanya ingin menggodamu,” kataku. “dan mengenai jabatan itu, aku memang kagum padanya karena kedewasaannya, tapi tidak ada hubungannya sama sekali dengan jabatannya. Lagi pula, aku juga kagum padamu, walaupun kau bukan ketua OSIS.”

“Kau mengejekku?” gerutunya.

“Aku serius,” bantahku. “Pertama, dengan latar belakangmu yang seperti itu—maaf, bila aku lancang sudah mengungkit-ungkitnya—tapi kau tumbuh menjadi anak yang kuat dan tegar. Kedua, kau sangat jago berkelahi—walaupun aku kurang suka bila kemampuanmu itu dipergunakan sembarangan. Ketiga, kau memiliki tekad kuat bila sudah menginginkan sesuatu seperti yang kau tunjukkan belakangan ini. Keempat, aku kagum kau berhasil mengendalikan emosimu—seperti yang barusan kau tunjukan dengan tidak meninju temanmu, walaupun aku tahu kau sangat ingin menghajarnya,”

“Benar, aku ingin sekali menghajarnya,” geramnya. “Tapi aku sadar dia melakukannya karena berpikir itu akan baik untukku, jadi… yah, kali ini dia kumaafkan.”

“Kelima, emm…” lanjutku, tapi kemudian sengaja berhenti sebentar untuk berpura-pura memikirkannya. “Ah, kau punya senyum yang hebat. Aku suka senyummu.”

Nam Gil langsung tersenyum. “Kenapa? aku tampan, ya? Pantas saja malam itu kau memotretku,” katanya balas menggodaku.

Aku melengos. “Jangan besar kepala,” gerutuku. “Singkatnya, tidak usah merubah dirimu bila tujuannya bukan untuk kebaikan dirimu sendiri. Biarkan orang lain menyukaimu apa adanya. Karena setiap orang pasti punya kualitas bagus dalam dirinya,” kataku. “Dan seperti yang kubilang, aku menyukaimu apa adanya. Walaupun kau terkadang kekanakan dan berantakan, tapi kau tetap teman yang baik, sama seperti kak Tae Wong.”

“Baiklah, terima kasih,” kata Nam Gil sambil menatapku tajam. “Juga untuk permennya. Ngomong-ngomong, kau mencontek ideku waktu itu,” guraunya sambil memakan permen pemberianku.

“Aku memang tidak kreatif,” sahutku. “Ah, karena hari ini sangat menyebalkan, bagaimana kalau kita membolos saja?” usulku.

Nam Gil terlihat kaget mendengar usulku. Sejujurnya, aku pun kaget mendengar usulanku sendiri. Tapi, yah… sekali-sekali bersenang-senang tidak ada salahnya, kan?



- Kim Nam Gil - 19 Januari 2011 -                                  

“Hei! Siapa itu!?” terdengar suara seruan seorang pria yang kuduga adalah salah seorang guru, meneriaki Yo won yang sedang berusaha melompat dari tembok belakang sekolah.

“Ayo cepat!” seruku dari sisi luar tembok, karena aku sudah lebih dulu melompat.

Yo Won melompat turun, lalu menarikku berlari sambil tertawa lepas. “Astaga, sensasi ketika hampir tertangkap rasanya menyenangkan sekali!” celotehnya geli.

Aku ikut tertawa bersamanya sambil mempercepat lariku. “Ayo cepat, siapa tahu dia mengejar kita?”

“Kita akan pergi kemana?” tanya Yo Won, tapi sebelum aku sempat memberi usul, dia sudah menjawab pertanyaannya sendiri. “Bagaimana kalau kita ke game center?”

“Ide bagus,” sahutku. Sejujurnya aku tidak perduli kemana pun kami pergi, asalkan aku bersamanya.



Dengan bus, kami pergi ke game center terdekat. Tapi sebelum masuk, Yo Won berhenti di kios pedagang yang berjualan di pinggir jalan. Sepertinya dia suka sekali pada bingkai foto berbentuk bintang yang dipegangnya.

“Bagus, ya?” tanyanya padaku. “aku sangat suka barang-barang berbentuk bintang. Bingkai ini bagus untuk memajang fotoku dan kak Ye Jin.”

“Mau kubelikan?” tawarku, sambil dalam hati mencatat tetang kesukaan Yo Won ini.

“Tidak usah. Aku bawa uang,” katanya sambil membayar bingkai yang dibelinya itu. “Eh, aku sampai lupa, bagaimana dengan motormu? Apa tidak apa-apa ditinggal di sekolah begitu?”

Aku mengangkat bahu acuh tak acuh. “Tak masalah. Aku bisa mengambilnya saat jam pulang sekolah,” jawabku.

“Baiklah, ayo masuk!” ajak Yo Won bersemangat.

Selama berjam-jam kami terus asyik berpindah dari mainan yang satu ke mainan yang lain. Rasanya belum pernah aku sesenang ini berkunjung ke game center. Ini karena sekarang aku bersama Yo Won.

“Kenapa aku selalu kalah!?” gerutu Yo Won saat kami bermain balap mobil. “Kau pakai cara curang, ya?” tuduhnya.

“Tidak. Kebetulan aku master permainan ini,” godaku sambil tertawa. “Aku lapar. Bagaimana kalau kita makan dulu?”

“Ya, kau benar. Aku juga lapar,” kata Yo Won setuju. “Hei, itu kan—“

“Bibi Yo Won!”  aku menoleh ke arah yang ditunjuk Yo Won, dan melihat pasangan peramal aneh itu. Yoo Seung Ho dan Yoo Eun Bin. Hah… sial.



Kami berempat—aku, Yo Won, dan kedua anak aneh itu—akhirnya makan siang bersama di restoran cepat saji yang bersebelahan dengan gedung game center. Yoo Seung Ho dan Yoo Eun Bin terlihat sangat gembira dapat bertemu Yo Won, tapi jelas terlihat mereka takut padaku. Memangnya aku pernah menghajar mereka? Membentak saja tidak pernah. Dasar aneh.

“Kami membolos karena ini hari ulang tahun kami,” kata Yoo Eun Bin.

“Hari ulang tahun kalian sama?” tanya Yo Won kaget.

“Sebenarnya bukan. Tapi karena kami berdua sama-sama ditemukan di depan kuil pada tanggal sembilan belas januari, maka orang-orang di kuil menetapkan tanggal ini sebagai hari kelahiran kami,” kata Yoo Seung Ho menerangkan. “Oh ya, dimana Ibu?” tanyanya.

“Kakakku bernama Park Ye Jin,” koreksi Yo Won. “Dia tidak ikut membolos denganku.”

Yoo Seung Ho melirikku takut-takut, dan kubalas dengan sengaja menyeringai seram hingga bocah itu bergidik ngeri. Haha… dasar bodoh. Lalu tiba-tiba aku teringat pernyataannya bahwa pada kehidupan pertamanya dia adalah seorang raja. Bila dia menganggap Yo Won sebagai reinkarnasi bibinya dulu, maka… di kehidupan lalu Yo Won seorang putri, kan? Mungkinkah… Yo Won dan putri Deokman…?

“Hei, kau,” tegurku. Bocah itu terlihat kaget karena sejak tadi aku diam saja dan sekarang tiba-tiba mengajaknya bicara. “Apa kau yakin reinkarnasi itu ada?” tanyaku.

Yoo Seung Ho dan Yoo Eun Bin saling bertukar pandang dengan gelisah. “Kenapa kau menanyakannya lagi?” tanya mereka kompak.

“Jawab saja,” kataku. “Benarkah di kehidupan pertamamu kau seorang raja?”

“Eh, iya,” jawab Yoo Seung Ho takut-takut.

“Dan kau bilang Park Ye Jin dulunya adalah ibumu, dan Yo Won adalah bibimu?” cecarku.

“Ya. Tapi kenapa—“

“Kalau begitu, Park Ye Jin dan Yo Won dulunya adalah putri?” potongku langsung.

Yoo Seung Ho semakin gelisah. Dia tidak menjawab, dan sebagai gantinya hanya mengangguk.

Yo Won menyeruput coke-nya dengan suara berisik, lalu berkomentar, “Kedengarannya hebat, ya? Aku tidak bisa membayangkan diriku sebagai putri. Pasti kehidupan di istana sangat menyenangkan,” katanya menggoda Yoo Seung Ho.

Yoo Seung Ho dan Yoo Eun Bin kembali saling bertukar pandang dengan gelisah. Ada apa dengan mereka?

“Siapa nama Yo Won saat itu?” desakku penasaran. “Oh, kau juga belum menyebutkan siapa aku di masa lalu,” cecarku.

Butiran keringat terlihat membasahi sisi wajah Yoo Seung Ho. “Maaf, tapi aku tiba-tiba merasa tidak enak badan, aku harus pulang sekarang. Sampai jumpa nanti!” katanya sambil berdiri, kemudian dengan cepat keduanya melesat pergi. sial. Padahal aku penasaran sekali.

“Ada apa dengan mereka?” gumam Yo Won heran. “dan kau, kenapa tiba-tiba tertarik dengan reinkarnasi?”

“Tidak apa-apa, hanya penasaran,” kataku menghindar. Yo Won akan menganggapku gila bila aku menceritakan tentang mimpi dan kilasan yang kudapat.



“Terima kasih sudah mengantarku pulang,” kata Yo Won sambil turun dari motorku, saat kami sudah sampai di depan rumahnya. “Sampai jumpa besok.”

Kami kembali ke sekolah saat jam pulang sekolah untuk mengambil motorku, lalu aku mengantarnya pulang.

“Yo Won,” panggilku. “Terima kasih karena sudah mempercayaiku lagi,” kataku tulus. Saat melihatnya membelaku di depan banyak orang di aula tadi, aku benar-benar tercengang. Tak kusangka Yo Won akan tetap mempercayaiku dalam situasi seperti tadi. Aku benar-benar… terharu.

Yo Won tersenyum. “Itu gunanya teman, kan?” katanya.

Senyumku memudar. Teman. Tapi aku tidak ingin menjadi sekedar temannya. Aku ingin lebih. Aku menyukainya. Sangat menyukainya. Aku tidak pernah begitu tertarik pada seorang gadis seperti yang kurasakan padanya sekarang. Tidak pernah, karena tidak ada gadis sepertinya selama ini. Dia bukan sekedar gadis cantik—aku biasa melihat gadis cantik—tapi dia juga cerdas dan pemberani. Dan yang paling penting, dia mempercayaiku. Selalu mempercayaiku walau dalam kondisi terburuk sekalipun. Tidak pernah ada yang begitu mempercayaiku seperti yang dilakukannya. Aku ingin memilikinya.

“Lagi pula,” lanjut Yo Won saat melihat aku diam saja. “Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kau berupaya merubah dirimu. Tidak mungkin kau mau repot-repot melakukannya bila di saat bersamaan kau justru menyuruh orang untuk mengancam anak-anak lain agar memilihmu,” katanya.

“Terima kasih atas kepercayaanmu,” kataku tulus. Mengingat dia menyukai senyumku, maka aku tersenyum lebar untuknya. “Sampai jumpa besok,” gumamku, kemudian melajukan motorku.



- Lee Yo Won - 22 Januari 2011 - Busan -                             

Di hari sabtu yang cerah ini, aku dan Ayah berjalan berdampingan menuju makam Ibu. Hari kamis lalu aku mengunjungi Ayah dengan niat berdamai, dan kami sepakat untuk mengunjungi makan Ibu bersama-sama.

Ayah berjongkok dan menaruh rangakaian bunga lili kesukaan Ibu di depan makamnya. “Sudah lama sekali,” gumam Ayah dengan suara parau sambil mengusap lembut batu nisan Ibu. “Maafkan aku karena lama tidak mengunjungimu. Bukan berarti aku melupakanmu. Tidak akan pernah. Selamanya hanya kau satu-satunya wanita untukku.”

Aku ikut berjongkok di sebelah Ayah dan mengusap batu nisan Ibu juga. “Ibu, kami merindukanmu,” gumamku.

“Seharusnya aku berkeras membawamu dan Yo Won pulang, walaupun dengan resiko kau nekat kabur keluar negeri bersama anak kita,” katanya lagi. “Seharusnya aku tidak menyia-nyiakan waku. Maafkan kebodohanku. Maafkan aku…” gumam Ayah sambil terisak.

Kurasakan mataku pun mulai basah. Selama beberapa saat aku hanya berdiam diri melihat Ayah mencurahkan segala kesedihan dan penyesalannya di depan makam Ibu. Aku salah karena tidak mempercayainya. Ayah memang menyayangi kami.

“Ayah,” panggilku dengan suara parau. “Maafkan aku. Aku menyayangi Ayah,” isakku.

Ayah memelukku, dan aku langsung membalas pelukannya dengan erat. Karena kekeras kepalaanku, aku terus menolak mempercayai ketulusan perasaan Ayah padaku. Tapi mulai sekarang tidak akan lagi. Aku tidak akan menyia-nyiakan waktu. Ayah dan Ibu sama-sama melakukan kesalahan dengan mempertahankan kekeras kepalaan dan gengsi mereka. Tapi aku tidak mau lagi menyia-nyiakan waktu. aku tidak mau nantinya aku menyesali kekeras kepalaanku yang tidak mau memaafkan Ayah saat dia sudah tidak ada.

Seperti kata Nam Gil, aku beruntung karena masih memiliki Ayah yang menyayangiku. Aku tidak boleh menyia-nyiakannya.

“Maafkan Ayah juga karena tidak berusaha lebih keras untuk menemukanmu. Maafkan Ayah.”

Selama beberapa saat kami terus berpelukan dan menangis dengan makam Ibu sebagai saksinya.

“Hah… sudahlah, Ibumu juga tidak akan senang bila melihat kita menangis seperti ini,” katanya, berusaha tegar.

“Ayah benar,” kataku setuju sambil menghapus air mataku. “Yang terpenting, sekarang kita sudah berbaikan.”

“Kau benar. Itulah yang terpenting,” sahut Ayah setuju, sambil menatap batu nisan Ibu penuh kasih.

Seandainya saja Ibu masih ada. Seandainya saja Ibu tidak berkeras untuk tak memaafkan Ayah. seandainya saja Ibu tidak langsung pergi meninggalkan Ayah tanpa meminta penjelasan. Seandainya saja Ibu tidak melihat Ayah dicium Bibi Hyun Jung. seandainya saja Bibi Hyun Jung tidak menggoda Ayah. aku mengepalkan tangan geram. Benar. Ini salah wanita itu. keluargaku akan tetap bahagia seandainya dia tidak mengacau. Semua ini salahnya!



- 31 Januari 2011 - Seoul -  

“Kau mau menginap berapa hari di rumah Ayahmu—maksudku rumahmu,” tanya kak Ye Jin saat pagi itu aku mempersiapkan beberapa barang untuk menginap di rumahku. Rumahku. Rasanya agak janggal menyebut rumah itu rumahku lagi. 

“Hingga hari rabu,” jawabku. Aku memang sudah berbaikan dengan Ayah, tapi aku tidak ingin menyakiti hati kak Ye Jin, Paman Kil Kang, dan terutama Bibi Young Hee yang sangat menyayangiku, dengan langsung meninggalkan mereka setelah aku berbaikan dengan Ayah. maka diputuskan aku akan membagi waktu menginap di antara dua rumah.

“Pasti sepi bila nanti kau benar-benar pindah kerumahmu lagi,” gumam kak Ye Jin.

“Jangan bicara begitu—“

“Kau benar. Maaf,” potong kak Ye Jin. “Ayo kita berangkat!”

Seperti biasa, setiap pagi kak Tae Wong sudah menunggu kami di depan pagar rumahnya sambil membaca koran langganan keluarganya.

“Berita apa yang menarik hari ini?” tanya kak Ye Jin ceria. “Eh, bukankah itu foto…” kakak tak melanjutkan perkataannya, dan melirikku ragu.

Aku juga melihatnya. Foto Bibi Hyun Jung dan suaminya, Paman Young Jae. Mereka berdua terlihat begitu bahagia dan romantis. Seketika aku teringat wajah pucat, kuyu dan penuh gurat rasa sakit di wajah Ibu di saat-saat sebelum kematiannya. Melihat kekontrasan itu membuat kebencianku pada Go Hyun Jung semakin berkobar.

“Benar, paman dan bibi Kim Nam Gil. orangtua Go Do Bin,” kata kak Tae Wong. “Go Young Jae mencalonkan diri menjadi Presiden. Kurasa kesempatannya untuk menang dalam pemilihan nanti sangat besar, karena reputasinya sebagai pengusaha sukses, dengan keluarga harmonis dan istri yang berjiwa sosial tinggi, dia mendapat banyak dukungan dari masyarakat.”

“Kedengarannya sempurna sekali,” komentar kak Ye Jin kaku.

“Memang benar,” sahut kak Tae Wong. “beruntung sekali. lawan-lawannya yang lain tidak diuntungkan dalam bersaing dengannya karena publik pernah mendengar skandal-skandal yang mereka buat. Sosok bersih nyaris sempurna seperti keluarga Go pasti langsung menarik minat publik.”

Bersih? Sempurna? Hah!

“Tapi menurutku, sepertinya Nyonya Go lah yang paling bersemangat mencalonkan suaminya, ketimbang Tuan Go sendiri,” tambah kak Tae Wong. “Dia terus muncul di beragam acara untuk ‘menjual’ suaminya.”

Sementara kak Ye Jin dan kak Tae Wong terus berdiskusi, aku larut dalam pikiranku sendiri. Jadi rupanya Bibi Hyun Jung sangat menginginkan suaminya dapat menjadi Presiden? Apakah itu yang paling diinginkannya? Kak Tae Wong mengatakan bahwa keluarga Go nyaris sempurna. Tentu saja nyaris. Karena aku tidak percaya mereka tidak menyembunyikan skandal. Mengingat Bibi Hyun Jung pernah mencoba menggoda kakak tirinya sendiri, ada kemungkinan dia juga pernah berselingkuh dengan orang lain lagi. Bila publik mengetahui skandalnya, bisa dipastikan Bibi Hyun Jung tak akan mendapatkan apa yang diinginkannya, yaitu menjadikan suaminya seorang Presiden.

Ya, benar sekali. selama ini aku membenci dan berniat membalas dendam padanya, tapi tidak tahu harus dengan cara apa. Kini, setelah mengetahui hal yang paling diinginkannya, segalanya menjadi sedikit lebih mudah. Aku kehilangan Ibuku, dan Bibi Hyun Jung akan kehilangan jabatan penting untuk suaminya. Yang harus kulakukan sekarang adalah mencari tahu rahasia kelam keluarga Go. Dan itu berarti aku harus mengorek informasi dari orang dekatnya. Do Bin? Dia jelas tahu semua rahasia keluarganya. Kalau aku bisa mendekati dan menggali informasi darinya— tunggu dulu, kenapa aku harus memaksakan diri berdekatan dengan anak menyebalkan itu, bila ada sumber informasi yang jauh lebih kusukai? Benar. Kim Nam Gil. walaupun hanya keponakan, dia tinggal bersama keluarga Go sejak kecil. Dia pasti tahu beberapa rahasia kelam keluarga itu. Ya, Nam Gil pilihan paling tepat. Go Hyun Jung, tunggu saja balasanku.



To Be Continued...

by Destira ~ Admin Park ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar