Sabtu, 22 Januari 2011

MY PERFECT PRINCE (One Shot)

MY PERFECT PRINCE



Cast:

Fitria Primi Aprilia as Shin Hyo-rin
Kim Hyun-joong as Him Self
Yuli ~Admin Lee~ (Author) as Lee Yoo-hee




-Shin Hyo-rin, Seoul University of Agriculture-

“Hai...! kau melamun yaa? Dia memang tampan,” ledek Yoo-hee sahabatku.

“Ah...eh...tidak, aku tidak sedang memperhatikan Kak Hyun-joong kok,” sahutku kikuk.

“Ehm...kapan aku pernah bilang bahwa yang kau perhatikan itu Kak Hyun-joong?” tanyanya dengan memasang senyum andalannya.

“Hah...kau ini?!” kutinju lengannya ringan.

“Kau tak bisa berbohong padaku Hyo-rin, kau menyukainya kan? Sudah...jujur saja, pada sahabatmu sendiri kau masih tak mau jujur kah?”

Yoo-hee benar, aku memang selalu memikirkannya akhir-akhir ini. Kim Hyun-joong, kakak tingkatku, si pria sok sempurna itu,  tapi tak salah dia memang sempurna. Selain tampan, dia juga pandai dan menjadi mahasiswa kesayangan dosen-dosen di kampusku. Tapi sikapnya yang dingin dan sok idealis itu yang awalnya membuatku tidak menyukainya. Namun entah mengapa akhir-akhir ini, aku selalu memikirkannya? Apakah aku mulai menyukainya? Hah...aku tak tau...semoga saja tidak...lagi pula, aku sekarang sedang dekat dengan seseorang walaupun hanya dari dunia maya, jadi tidak mungkin aku menyukainya...

“Kau mulai melamun lagi rupanya,” olok Yoo-hee kembali membuyarkan lamunanku.

“Ah...tidak kok, aku tidak sedang melamun.”

“Ya, kau memang tidak sedang melamun, cuma sedang memikirkan seseorang.”

“Kau ini peramal ya? Dari tadi kau main tebak saja!” gerutuku.


“Terserah kau mau bilang aku apa? Tapi semuanya terbaca jelas di wajahmu.” Yoo-hee kembali memasang senyum menyebalkannya itu, sudah sekitar 3 tahun yang lalu aku mengenalnya, sejak semester pertama menjadi mahasiswa Fakultas pertanian di Seoul University. Semakin lama kami semakin dekat, dan bersahabat, hingga semester lima ini. Tapi aku masih ragu menceritakan tentang perasaanku akhir-akhir ini pada Yoo-hee, dia pasti akan menertawakanku, karena dia tau bagaimana bencinya aku pada Kak Hyun-joong sebelumnya.

“Hah..sudahlah, aku tak mau membahasnya lagi,” elakku sambil mengeluarkan buku patologi tumbuhan dari tasku, dan pura-pura sibuk menekurinya.

“Yah...sudahlah kalau kau tak mau mengaku,” ujarnya sembari melenggang pergi.


-Kediaman keluarga Shin-

Ah...kulemparkan tasku sembarangan, dan kurebahkan tubuhku di ranjang. Nyaman sekali. Setelah seharian beraktivitas di kampus, rasanya nyaman sekali bila bisa meregangkan tubuh sejenak seperti ini. Tapi aku harus segera mandi, membersihkan tubuhku dan Online...ya, itulah kegiatan wajibku setiap harinya, saat ini. Aku sedang dekat dengan seseorang dari salah satu email messenger yang kugunakan. Walaupun aku belum pernah bertemu dengannya secara langsung, tapi entah mengapa aku merasa dekat dengannya. Aku sering sekali mencurahkan isi hatiku padanya. Dan dia pasti memiliki pandangan-pandangan yang menyenangkan dalam menanggapi curhatanku tersebut. Biasanya, saat ini dia sudah online, tapi karena kesibukanku, aku baru pulang. Yah...aku harus bergegas...

Begitu selesai mandi, segera kunyalakan Laptopku dan menyambungkannya dengan saluran internet. Benar saja, dia sudah online dan langsung menyapaku begitu melihat aku muncul.

@Perfect_Prince: hai Princess...kupikir kau tak muncul malam ini..

@Princess_Aurora: ah...maaf, kau pasti menungguku...

@Perfect_Prince: ya, aku menunggumu..^^

@Princess_Aurora: maaf, tapi tadi aku sibuk sekali...

@Perfect_Prince: ah...tidak apa-apa, yang penting sekarang kau sudah muncul ^^

@ Princess_Aurora: Ya....pasti aku muncul :) 

@Perfect_Prince: karena kau merindukanku kan?

@ Princess_Aurora: ah...kau percaya diri sekali :p

@Perfect_Prince: bukannya percaya diri, tapi itu kenyataan :)

@ Princess_Aurora: Hoeekss......

@Perfect_Prince: Kenapa? Kamu sakit? :D

@ Princess_Aurora: iyaa...aku tiba-tiba ingin muntah mendengarnya hahaha...:D

@Perfect_Prince: Memangnya sudah telat berapa bulan?

@ Princess_Aurora: 10 bulan haha...:D

@Perfect_Prince: :D, eh...Princess, bagaimana kalau kita bertemu...?!

@ Princess_Aurora: apa? Kau mengajakku bertemu?

@Perfect_Prince: iyaa...apa kau tidak bisa membaca? Ayo kita bertemu...sudah lama kita saling mengenal tapi tak pernah bertemu sekalipun, kau mau kan?

@ Princess_Aurora: mau...aku mau sekali...

@Perfect_Prince: kau girang sekali sepertinya, pasti kau sudah tak sabar ingin bertemu pria tampan sepertiku yaa...

@ Princess_Aurora: hah...kau ini, tetap saja...yaa..aku memang tidak sabar ingin bertemu denganmu, kapan kita bisa bertemu? Dimana?

@Perfect_Prince: akhirnya kau mengakuinya juga...:D

@ Princess_Aurora: haissh...jawab saja pertanyaanku...!!

@Perfect_Prince: kau sensitif sekali malam ini, ya..ya...bagaimana kalau hari Minggu ini di Namsang Tower? Kata orang, pemandangan di sana indah sekali.

@ Princess_Aurora: baiklah...kita bertemu di sana jam 4 sore, jangan terlambat! Kau akan pakai baju apa? Aku akan memakai kaos biru dan celana Jeans.

@Perfect_Prince: Hmm....aku akan memakai kaos putih dan topi hitam, baiklah kita bertemu di sana, semoga kau tidak pingsan melihat ketampananku...:)

@ Princess_Aurora: ahh....aku mulai pusing lagi mendengarnya :D oke....sampai jumpa hari Minggu, kau pun pasti akan mati berdiri melihat kecantikanku...

@Perfect_Prince: aku tak akan pernah mati konyol seperti itu :p

@ Princess_Aurora: hahaha....awas saja kau, aku off dulu...sudah malam...

@Perfect_Prince: oke...Nite My Princess

@ Princess_Aurora: Nite My Prince ^^

Kumatikan laptopku dan menyeringai senang, akhirnya...aku bisa bertemu dengannya. Aku senang sekali, benar-benar senang!! Aaaaaa.......rasanya sudah tak sabar menunggu sampai hari Minggu, dan itu masih tiga hari lagi. Ah...Yoo-hee harus tau tentang ini. Sepertinya aku akan mimpi indah malam ini. Kurebahkan tubuhku, dan mulai memejamkan mataku sambil tetap mempertahankan senyum di bibirku. Pangeranku...aku akan datang!

Tapi tiba-tiba aku terbangun, karena bayangan Hyun-joong kembali merasuk. Ah...kenapa aku harus mengingatnya? Sebentar lagi aku akan bertemu dengan pangeranku, aku tak boleh merusak suasana hatiku dengan mengingat pria itu. Tidak...tidak...kugelengkan kepalaku, mencoba untuk mengusir bayangan Hyun-joong yang tengah tersenyum, memperlihatkan giginya yang putih, senyum itu benar-benar menawan. Oh...Tuhan, bagaimana ini? Bayangannya tetap tak mau hilang...kututup wajahku dengan bantal dan mengerang pelan.


-Seoul Universty of Agriculture-

“Kau terlihat senang sekali hari ini,” sapa Yoo-hee.

“Ya, aku memang sedang senang hari ini.”

“Memangnya ada apa?” selidiknya.

“Ayo, kita ke kantin, aku akan menceritakannya di sana!” ajakku sembari menggamit lengan Yoo-hee.

“Tapi kau harus mentraktirku!”

“Ya, ya...aku akan mentraktirmu.”


“Ada apa? Apa kau baru saja mendapat lotre?” tanya Yoo-hee antusias saat kami sudah di kantin dan mulai memakan mie pesanan kami.

“Hah...kau ini, kalau masalah uang saja, pasti langsung—“

“Ah....sudah..sudah jangan terlalu banyak basa-basi...katakan saja, kenapa kau senang sekali hari ini?” desaknya.

“Aku akan bertemu dengan pangeranku!” seruku disertai senyuman terbaikku.

“Pangeranmu? Siapa? Kak Hyun-joong?”

“Hush...enak saja, bukan...mana mungkin dia menjadi pangeranku, bukankah kau seorang peramal, ayo tebak saja!” candaku.

“Aih...kau ini...katakanlah, tidak perlu  pakai teba-tebakan begitu, siapa pangeranmu? Atau jangan-jangan...kau sudah dijodohkan oleh orang tuamu sejak kecil ya? Dan sebentar lagi kau akan bertemu dengannya? Begitu?” cerocosnya.

“Astaga...Yoo-hee, mana ada cerita seperti itu di jaman sekarang ini?”

“Bisa saja, lalu?”

“Kau lupa, aku pernah bercerita—“

“Ah...teman chatting-mu itu?” selanya, aku tersenyum dan mengangguk mantap, “Hah...kau ini, masih saja memikirkan pria yang tidak nyata.”

“Tidak nyata bagaimana?”

“Kau kan hanya mengenalnya di dunia maya, bagaimana kalau dia orang jahat? Atau bagaimana kalau dia hanya menipumu, dan dia tidak seperti yang kau bayangkan.”

“Kau berlebihan...tidak mungkin dia seperti itu. Aku mengenalnya, walaupun hanya dari dunia maya. Dan selama kami berhubungan, aku yakin dia pria baik-baik.”

“Hyo-rin...Hyo-rin....” ucapnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dan berdecak tak percaya, “Kau terlalu percaya pada seseorang yang belum pernah kau temui.”

“Tapi sebentar lagi aku akan bertemu dengannya.”

“Ya, tapi bagaimana kalau dia tidak seperti yang kau harapkan? Bagaimana kalau dia tak setampan perkiraanmu?” tantangnya.

“Aku tidak peduli, aku sudah menyukainya.”

“Hah...terserah padamu saja kalau begitu, aku hanya bisa mendoakan agar kau tidak kecewa nantinya.”

“Tenang saja, aku tak akan kecewa,” ujarku sambil menepuk bahunya.

“Hmmm...kau percaya diri sekali rupanya, baiklah...aku menyerah saja. Padahal kalau menurutku kau lebih baik mengejar yang nyata saja.”

“Maksudmu?”

“Itu,” ucap Yoo-hee sambil menunjuk seseorang dengan kepalanya, Kim Hyun-joong, pria itu sedang memesan makanan dan hendak mencari tempat duduk kosong “Dia lebih baik,” tambahnya seraya menunjukkan senyum itu lagi. “Haruskah kita mengajaknya duduk di sini?”

“K-kau?” tapi terlambat, dia sudah berdiri dan memanggil Hyun-joong.

“Kak, duduk  di sini saja bersama kami, kami sudah hampir selesai kok!” panggilnya sambil melambaikan tangan ke arah Hyun-joong, pria itu yang sejak tadi memang mencari bangku kosong langsung menuruti kata-kata Yoo-hee, karena kantin sedang penuh saat ini.

“Terima kasih,” katanya seraya tersenyum, ah...dia benar-benar tampan...entah bagaimana Yoo-hee bisa se-akrab itu dengannya. Padahal setahuku dia orang yang dingin, jadi sulit sekali untuk medekatinya. “Kupikir aku akan berdiri lama, menunggu bangku kosong, sekali lagi terima kasih Yoo-hee.”

“Kau tak perlu begitu, ah...bagaimana penelitianmu? Apakah sudah menemukan jalan temu?”

“Ya, aku sudah menemukannya, terima kasih atas bantuanmu kemarin.” Bantuan? Apa yang Yoo-hee lakukan? Kenapa dia tak pernah bercerita padaku?

“Ah...itu bukan apa-apa Kak, kau lah yang berusaha keras,” ucapnya dan dibalas dengan senyum menawan itu lagi, senyum yang semalam sempat membuatku tak bisa tidur.

“Eh...Hyo-rin, bagaimana kabarmu?” tanyanya mebuatku kaget, ternyata dia masih mengingat namaku. Setahuku, kami tak terlalu akrab, kami saling mengenal karena sebelumnya dia, Hyun-joong, bertindak sebagai asisten dalam praktikum ilmu tanah yang kami laksanakan semester kemarin.

“B-baik,” hah...kenapa aku jadi segugup ini? Biasanya juga tak begini...bodohnya! kulihat Yoo-hee kembali memasang senyum menyebalkannya itu. Dan memandangku dengan pandangan ‘Bagaimana? Kau senang?’ Awas kau Yoo-hee!!


“Bagaimana kau bisa dekat dengannya?” tanyaku saat tiba di kelas. Dia menyeringai puas.

“Kenapa? Kau cemburu melihatku dekat dengannya?”

“Kau?!”

Yoo-hee terkikik geli, tapi kemudian menjelaskan, “Dua hari yang lalu aku bertemu dengannya di perpustakaan, kulihat dia sedang kebingungan, saat kutanya, dia bilang sedang mencari jalan keluar untuk penelitiannya. Yah...karena sedang senggang dan tak ada yang kulakukan, maka kubantu dia mencari jawaban itu.” Jadi begitu, pantas mereka terlihat akrab. Hah...kenapa dia tak menceritakan padaku sebelumnya?

“Kenapa? Kau ingin aku menjadi cupidmu dengannya?” Apa? Cupid? Hah...semakin aneh saja ide sahabatku ini.

“Tidak...tidak...terima kasih, buat kamu saja.” sahutku menggeleng.

“Apa? Aku? Sayangnya dia bukan tipeku,” ujarnya penuh percaya diri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sekali lagi kutawarkan, kau mau tidak?”

“Tidak!” ucapku mantap.

“Yah...penawaranku hanya berlaku satu kali ini saja, kalau kau tidak mau ya sudah... jangan menyesal! Dan, semoga sukses dengan pangeranmu itu! Ah...iya, terima kasih untuk makanannya.” Yoo-hee melenggang pergi sambil bersenandung riang, meninggalkanku sendiri yang menatapnya heran. Ada apa dengan sahabatku itu? Apa dia sudah gila? Tidak mungkin aku menyesal.


-Kediaman Keluarga Shin-

Kujalani hari-hariku dengan tak sabar menunggu hari Minggu, rasanya tiga hari itu lama sekali, kalau sedang menunggu begini. Tapi akhirnya...hari itu datang juga, hatiku berdeba-debar sekali rasanya...aku sudah tak sabar untuk bertemu dengan pangeranku itu. Semoga dia tak mengingkari janjinya untuk bertemu denganku hari ini. Setiap kali aku chatting dengannya pun selalu mengingatkan akan pertemuan kita hari ini. Kurasa dia tak akan lupa, kecuali benar kata Yoo-hee, kalau dia seorang penipu. Ah...tidak, pangeranku tak mungkin begitu. Kau harus tenang Hyo-rin...

.......
@Princess_Aurora: ingat...besok kita bertemu di Namsang Tower jam 4 sore, jangan terlambat!!

@Perfect_Prince: iyaa...iyaa...aku tak mungkin lupa, dan persiapkan dirimu!

@Princess_Aurora: Untuk apa?

@Perfect_Prince: untuk melihat seorang pria tampan...:p
.....

Begitulah, cuplikan obrolanku semalam dengannya, aku kembali tersenyum bila mengingat obrolan-obrolan kita. Dia sungguh seorang pria yang menyenangkan, semoga dia benar-benar tak mengingkari janjinya.

“Hyo-rin!” panggil Ibu.

“Ya Bu,” sahutku lalu bergegas menghampirinya di dapur. “Ada apa?”

“Bantu Ibu menyiapkan makanan, sebentar lagi kan waktu makan siang, kalau makanan belum siap, ayahmu bisa marah.”

“Ah...ya, baiklah!” aku terlalu antusias menunggu nanti sore, sampai-sampai lupa membantu Ibu di rumah.


Setelah kuikat rambutku membentuk kuncir kuda, kurasa penampilanku sudah sempurna. Ku lihat cermin di depanku, dengan memakai kaos biru berlengan pendek dan celana Jeans gombrong, oke...aku sudah siap sekarang.

“Begitukah penampilan seorang gadis yang ingin berkencan?” aku sempat terlonjak kaget, saat melihat Yoo-hee yang kini sedang menyandarkan dirinya di pintu kamarku.

“Kau?! Sedang apa kau di sini?”

“Sejak kapan aku tidak boleh mengunjungimu?”

“Ya, tapi kenapa kau tiba-tiba ada di sini?”

“Tadi, Ibumu bilang kau ada di kamar, ya sudah, aku masuk saja,” ucapnya santai sambil merebahkan dirinya di ranjangku. “Empuk sekali!!” desahnya. Aku hanya bisa menggeleng melihat tingkahnya, dia memang aneh, tapi aku menyayanginya. “Kau yakin dengan penampilanmu?” tanyanya kemudian sembari memperhatikan penampilanku yang sama sekali tidak feminin ini. Aku memang tidak suka memakai rok, dan ya, dia benar aku memang tidak feminin. Tapi aku tidak peduli, selama aku merasa nyaman memakainya.

“Tidak ada yang salah dengan penampilanku,” sahutku.

“Hah...ya sudahlah, kalau kau sudah menginginkan sesuatu, memang sulit untuk dibelokkan lagi.”

“Kau akan tetap di situ?” tanyaku yang melihatnya kini nyaman merebahkan dirinya di ranjang.

“Tentu saja tidak, aku akan menemanimu.”

“Apa?”

“Ya, aku akan menemanimu. Dari kemarin aku berpikir, siapa tau dia penipu yang berhasil menipumu, jadi kuputuskan untuk menemanimu. Aku akan siap membantu memukulnya, jika dia berani berbuat sesuatu padamu.”

“Astaga...Yoo-hee, kau masih menganggap dia penipu?”

“Bukankah kita tak boleh percaya pada orang begitu saja?”

“Tapi, aku sudah mengenalnya. Tidak...tidak...aku tak perlu ditemani. Lagipula aku sudah dewasa, aku bisa menjaga diriku sendiri,” tolakku.

“Kau yakin?”

“Aku yakin sekali.”

“Yah...okelah kalau begitu! Aku tidak ingin mengganggu acar kencanmu dengan pangeranmu itu. Aku rasa aku tak diperlukan lagi sekarang, aku pulang dulu. Bye, semoga sukses!”

“Hah? Kau mau pulang?”

“Lalu? Apakah aku harus menunggumu di sini, sampai kau pulang nanti?”

“Ah...tentu saja tidak.”

“Ya sudah, aku pulang. Sampaikan salamku pada pangeran impianmu itu!” ujarnya seraya berbalik pergi.

“Yoo-hee...Yoo-hee....dia benar-benar sudah gila,” desahku tapi aku tersenyum atas perhatian yang diberikannya, dia sudah repot-repot kemari hanya untuk menawarkan bantuan.


-Namsang Tower-

Kutatap bangunan di depanku dengan hati berdebar. Aku akan bertemu dengannya hari ini. Dia bilang akan memakai kaos putih dengan topi hitam. Kuedarkan pandangan ke sekelilingku, mencari sosok pria yang ku cari. Dan di sana dia, seorang pria berbaju putih dan topi hitam sedang duduk membelakangiku di kursi taman di depan Namsang Tower. Mendadak aku gugup, dan resah, jangan-jangan benar kata Yoo-hee. Bagaimana kalau dia orang baik? Apakah aku terlalu berharap yang tidak mungkin? Haruskah aku menyesal tak menerima tawaran Yoo-hee tempo hari?
ah...tidak, yakinlah Hyo-rin, dialah pangeranmu dan bukan si ‘Sempurna Hyun-joong’. Hah...kenapa aku justru mengingatnya? Kugelengkan kepalaku, dan menatap sosok itu. Dialah pangeranmu Hyo-rin, ayo hampiri dia! kumantapkan hatiku, lalu berjalan ke arah pria itu. Semoga aku tak salah orang.

“Permisi!” sapaku saat sampai di dekatnya. Pria itu pun berdiri dan menoleh.

Deg...

Hyun-joong? Tidak, aku pasti salah lihat. Ini pasti hanya halusinasiku saja. Kukedipkan mataku, berharap setelahnya akan melihat sosok orang lain yang berdiri di depanku. Tapi aku salah, tetap si Pria ‘Sempurna’ itu yang kini berada di depanku, kulihat diapun tampak terkejut melihatku. Atau, jangan-jangan aku salah orang. Ya, pasti aku salah orang...mungkin kebetulan dia hanya menggunakan pakaian yang sama dengan pangeranku. Ya pasti begitu.
Aku meringis ke arahnya. “Maaf, kukira aku salah orang,” ucapku lalu berbalik pergi. Tapi belum beberapa langkah...
“My Princess?!” serunya membuat jantungku mencelos. Rasanya aku kesulitan bernafas selama beberapa saat. Tidak mungkin, pasti aku hanya salah mendengar saja. Aku menggeleng, lalu kulanjutkan berjalan menjauhinya. “Kau tidak mendengarku?” serunya lagi, “Kau Princess Aurora kan?” kini dia sudah berada di depanku. Ya Tuhan...rasanya jantungku ingin melompat keluar saat ini juga. Rupanya aku sedang tidak bermimpi atau berhalusinasi. Tapi, mungkinkah si Pria yang terkenal dingin ini, ternyata memiliki kepribadian yang hangat seperti saat kami sedang chatting? Rasanya sama sekali tidak mungkin, tapi...bila dilihat dari namanya, ya, bagaimana aku tak menyadarinya? Perfect Prince...Oh Tuhan...aku benar-benar bingung sekarang. Dibalik rasa kagetku karena ternyata pangeranku adalah Hyun-joong, tapi kurasakan juga sepercik rasa senang, karena ternyata dia adalah orang yang sama dengan seseorang yang selama ini selalu mengusik hatiku. “Apakah kau kaget, karena aku benar-benar tampan?” tanyanya membuatku tersadar telah mengamatinya dengan begitu intens.

“Ah...jadi, benar kau Perfect Prince?”

“Ya, aku juga tak menyangka, kalau Princess Aurora adalah dirimu Hyo-rin,” ujarnya,”Tapi aku senang, ternyata Princess-ku benar-benar cantik.” Apa? Dia senang? Dia memujiku cantik? Aaaa...jantungku semakin berdebar-debar rasanya.

“A-aku juga,” ujarku terbata.

“Tapi sepertinya, kau tak senang melihatku.”

“Bu-bukan begitu, aku hanya—“

“Kau membenciku?” ujarnya sambil mendekatkan wajahnya padaku, kurasakan wangi colongne yang menyenangkan dari tubuhnya.

“Tidak mungkin, aku tidak mungkin membencimu.”

“Lalu? Kenapa kau pergi?”

“A-aku...kupikir aku salah orang.”

“Meskipun aku telah memanggilmu My Princess?”

“Ah...itu, kupikir tadi hanya pendengaranku saja yang salah,” jawabku jujur. Dia tersenyum, tampan sekali!

“Kalau begitu kau tidak membenciku?”

“Tidak, tentu saja tidak!” jawabku cepat.

“Syukurlah kalau begitu, jadi, kau masih mau melanjutkan kencan kita hari ini?” tanyanya dan kujawab dengan anggukan. Ya Tuhan...si ‘Pri Sempurna’ kini berkencan denganku? Mimpi apa aku semalam? Lalu dia merangkul pundakku “Ayo, kita lihat pemandangan kota Seoul dari atas sana!” ajaknya sembari menunjuk Tower yang menjulang tinggi di hadapan kami.
Ini memang tak bisa dipercaya, tapi jujur, aku benar-benar bahagia. Dia yang selama ini kukira sebagai pria dingin dan menyebalkan, ternyata...sangat hangat dan mampu membuatku tersenyum dengan ucapan-ucapannya. Aku tak tau lagi, apa yang akan dikatakan Yoo-hee, saat dia tau aku berkencan dengan Hyun-joong. Tapi aku tak peduli, yang penting sekarang aku senang! Sungguh rasa itu, tak terlukiskan dengan kata-kata...


FIN

By Yuli ~Admin Lee~

1 komentar:

  1. endingnya terlalu cepet thor...
    kependekan banget jd gk dpt pilnya
    di tnggu ff selanjutnya

    BalasHapus