Jumat, 14 Januari 2011

THE REINCARNATION - Chap 12 - Fanfiction BIDEOK / NAMWON -

CHAPTER 12



Cast :

Bi Dam : Kim Nam Gil                             
Deokman : Lee Yo Won

Mi Shil : Go Hyun Jung                           
King Jin Pyeong : Lee Min Ki

Cheon Myeong : Park Ye Jin                                
Yeom Jong : TETAP  
San Tak : TETAP


-------------------------------------------------------------


- Kim Nam Gil - 1 Februari 2011 -     

“Ayolah, sudah lama kita tidak berkumpul bersama,” San Tak ikut mendesakku.

“Bar pamanku sangat bagus,” promosi Yeom Jong. “Dan lagi, ini juga sebagai tanda permintaan maafku karena mengacaukan rencanamu hari itu,” lanjutnya.

Aku bersedekap sambil memperhatikan wajah memohon mereka. Yah, lama juga aku tidak pergi bersenang-senang, tapi malam ini aku sudah berencana makan malam berdua dengan Ayah.    

Setelah malam itu makan bersama dengan Yo Won dan ayahnya, aku teringat pada Ayahku sendiri. Aku berpikir bahwa mungkin bila aku memberi Ayah kesempatan, dia bisa menyayangiku seperti Tuan Lee menyayangi Yo Won. malam itu juga aku menelepon Ayah, dan setelahnya kami sudah beberapa kali bertemu. Untuk makan bersama, ataupun bermain golf di akhir pekan—walaupun permainanku payah dan tak sebanding dengan Ayah.

Kuakui, sekarang hubungan kami jauh lebih baik dibanding bertahun-tahun sebelumnya. Aku cukup puas dengan perkembangan hubungan kami.

“Maaf, tapi aku—“


“Kalian ingin berpesta, ya?” Tiba-tiba Yo Won sudah muncul di sisiku dan memotong perkataanku. Sejak kemarin gadis ini bertingkah aneh. sepertinya di mana pun aku berada, dia akan segera muncul. Bukannya aku tidak suka—jelas aku sangat senang dia sering berada dekat denganku—tapi aku hanya heran melihat tingkahnya yang tidak seperti biasanya ini.

“Kami akan berpesta di bar milik paman Yeom Jong,” jawab San Tak.

“Ke bar? Memangnya bisa? kalian kan belum cukup umur,” komentar Yo Won heran.

Yeom Jong tertawa. “Dengan jaminan namaku, anak usia empat tahun sekalipun dapat masuk,” sombongnya.

“Bolehkah aku ikut dengan kalian?” tanya Yo Won. “Aku belum pernah pergi ke bar sebelumnya.”

“Tapi—“

“Tentu saja boleh,” sahut San Tak dan Yeom Jong bersamaan, memotong perkataanku. “Nam Gil akan senang sekali kau mau menemaninya,” lanjut San Tak.

“Hei!” bentakku. Apa-apaan mereka ini? Seenaknya saja memutuskan tanpa menanyakan pendapatku. “Aku belum bilang akan pergi, kan!?”

“Kenapa? kau tidak ingin aku ikut?” tanya Yo Won kecewa.

Aku berdecak kesal. “Bukan begitu. Aku—“ Tapi… bukankah bagus? Kami bisa bersama-sama lagi. Makan malam dengan Ayah bisa ditunda. “Baiklah, aku akan menjemputmu nanti malam jam sembilan. Tapi memangnya kau boleh keluar malam?” tanyaku.

Yo Won berpikir sejenak, lalu mengangguk bersemangat. “Tidak masalah,” sahutnya. “Tapi jangan menjemput ke rumah kak Ye Jin. Sejak kemarin aku menginap di rumah Ayahku.”

“Ha? Memangnya kau tidak tinggal dengan orangtuamu?” tanya San Tak heran.

“Aku—“

“Baik. Bersiaplah nanti malam. aku akan menjemputmu,” kataku, sengaja memotong jawaban Yo Won untuk pertanyaan San Tak. Dasar usil. Untuk apa dia ingin tahu Yo Won tinggal dengan siapa!? “Oh ya, gunakan pakaian yang tertutup… emm, maksudku, di tempat seperti itu—“

“Tenang saja,” sergah Yo Won diiringi dengan senyum lebarnya. “Aku tidak berencana mengundang bencana.”

Aku tersenyum kikuk. “Yah, baguslah,” komentarku. Aku tidak ingin semua mata laki-laki tertuju pada lekuk tubuh Yo Won bila dia mengenakan pakaian terbuka. Tidak boleh. Tak ada yang boleh menginginkan Yo Won selain aku.



“Jadi seperti ini suasana di bar,” gumam Yo Won saat kami sudah duduk di salah satu meja di bar milik paman Yeom Jong sambil menunggu minuman pesanan kami datang.

Aku tersenyum geli melihat rasa penasaran yang tercetak jelas di wajah Yo Won saat gadis itu memperhatikan sekelilingnya. Karena sejak dulu sudah sering menyelinap masuk ke bar, aku sudah tidak asing dengan suasana ataupun keremangan ruangan seperti ini.

Wanita berdada besar dengan pakaian minim yang tadi mencatat pesanan kami akhirnya datang. Dia sempat melayangkan kedipan genit padaku, tapi kubalas dengan tatapan dingin. Cih. Sekalipun dia telanjang di hadapanku, aku tak akan tertarik padanya.

“Apa!?” seru San Tak, yang sedang merangkul dua orang gadis sekaligus—aku tidak tahu dibayarnya berapa gadis-gadis itu hingga mau dipeluk-peluk olehnya. “Jauh-jauh datang ke bar, kau hanya pesan diet coke?” katanya pada Yo Won.

“Memangnya kenapa?” sergahku sebelum Yo Won sempat menjawab. “Biar saja kalau dia mau memilih minuman itu. apa urusannya denganmu!?”

San Tak memonyongkan bibirnya dengan kesal. “Aku kan hanya bertanya, tidak perlu segalak itu,” gerutunya.

Yo Won yang duduk di sebelahku tertawa geli melihat ekspresi bodoh San Tak. “Aku memang penasaran ingin melihat bar, tapi aku tidak ingin minum minuman keras. Di Busan aku pernah mencicipi bir yang dibawa teman sekolahku, dan tidak menyukai rasanya,” katanya.

Sambil mendengarkan jawaban Yo Won, aku memperhatikan pakaiannya dengan puas. Ya, tepat seperti yang kumau. Cukup tertutup, tapi tetap modis dan menonjolkan kecantikannya. Aku suka.

“Bagaimana kabar orang rumahmu?” tanya Yo Won santai.

Aku meneguk birku sambil  mengamatinya. Sejak kemarin Yo Won secara tidak langsung sepertinya terus menyelipkan masalah keluargaku dalam pembicaraan kami. Tapi mungkin itu karena dia perhatian padaku. “Baik-baik saja,” jawabku sambil tersenyum senang. “Hubunganku dengan Ayahku pun sekarang sudah jauh membaik. Kami sudah beberapa kali makan bersama, juga menghabiskan akhir pekan dengan bermain golf di clubhouse-nya,” lanjutku gembira.

“Benarkah? Aku ikut senang untukmu,” kata Yo Won gembira. “Aku pun sudah berbaikan dengan Ayahku. Berkat kata-katamu waktu itu. Kau bilang aku beruntung memiliki ayah yang menyayangiku. Kata-katamu membuatku berpikir dan akhirnya memutuskan untuk berbaikan dengannya. Terima kasih.”

Aku merasa salah tingkah menerima pernyataan terima kasihnya yang tulus. “Yah, sama-sama. Aku juga berterima kasih padamu. Karena makan malam bersamamu dan ayahmulah, aku teringat pada ayahku sendiri, dan mencoba untuk memberinya kesempatan kedua,” kataku.

“Kalian ini membicarakan apa?” tanya San Tak sambil menatapku dan Yo Won bergantian. “Kenapa kau tidak pernah bercerita padaku kalau kau bermasalah dengan ayahmu?” tanyanya padaku.

“Tidak ada urusannya denganmu,” sahutku. “Lagi pula, kenapa aku harus bercerita padamu? Memangnya kau Ibuku!?”

Lagi-lagi San Tak memonyongkan bibirnya dengan kesal. “Kita kan sudah berteman lama, tapi kau tak pernah cerita apa-apa mengenai keluargamu,” gerutunya. “Dan sekarang kau malah menceritakannya pada Yo Won, padahal kau baru mengenalnya. Memangnya dia Ibumu!?”

Aku berdecak kesal. Cerewet sekali. “Kau ini benar-benar bodoh, ya? Mana mungkin Yo Won Ibuku!?” omelku.

“Tapi kau sendiri yang bilang—“

“Argh! Sudahlah. Lama-lama aku ikut bodoh kalau menanggapi omonganmu terus,” gerutuku. “Yo Won, ayo kita ke lantai dansa saja,” ajakku sambil berdiri dan menarik tangannya.

Yo Won masih saja terus tertawa saat kami sampai di lantai dansa yang sudah disesaki pengunjung lain yang bergoyang liar.

“Kalian akrab sekali, ya?” komentar Yo Won saat tawanya berakhir.

“Dia teman yang setia,” sahutku singkat. “Ah, aku lupa menanyakan ini, tapi apa alasan yang kau pakai pada ayahmu untuk keluar malam ini?”

“Kukatakan saja aku ada janji dengan temanku. Ayahku pengertian. Dia kan juga pernah muda,” jawabnya. “Dia hanya berpesan agar jangan pulang terlalu malam.”

“Seberapa malam ‘jangan terlalu malam’ itu?” tanyaku sambil tersenyum.

Yo Won tersenyum. “Tidak jelas juga,” jawabnya. “Berarti itu tergantung padaku menilai seberapa lama ‘jangan terlalu malam’ nya.” candanya.

“Tenang saja, kita tidak akan pulang terlalu malam,” kataku. “Aku tak ingin membuat ayahmu khawatir. Tapi, sekarang kita bersenang-senang saja,” lanjutku.

Sebenarnya aku bukan pedansa yang baik. setiap kali pergi ke bar atau pesta manapun, aku tak pernah menari dan lebih suka pada minuman yang kupesan. Maka tak heran kalau sekarang gerakanku terlihat kaku sekali. berbeda dengan Yo Won yang terlihat luwes bergoyang.

“Kau sering menari?” tanyaku.

“Tidak juga. hanya kadang-kadang, saat dikamar dengan kak Ye Jin,” jawabnya. “gerakanmu kaku sekali,” godanya.

Aku tersenyum masam. “Yah, sebenarnya aku tidak biasa menari. Setiap kali ke bar aku hanya minum-minum,” kataku.

“Kau sering ke bar?” tanya Yo Won. “Apakah keluargamu tidak melarangmu terlalu sering pergi malam-malam?”

Yo Won terdengar sangat penasaran, dan itu membuatku geli. “Aku anak laki-laki. Dan aku juga bisa menjaga diri sendiri,” jawabku. “Lagi pula, masing-masing orang di rumahku sibuk dengan urusan mereka sendiri sehingga tidak akan ada yang mencampuri urusanku selama aku tidak mencoreng nama baik keluarga,” tambahku dengan nada masam.

“Bibimu?” desak Yo Won. “Tidakkah dia khawatir keponakannya berkeliaran di luar? Aku tidak tahu kalau Bibi Hyun Jung sesibuk itu sampai tidak memperhatikanmu.”

Aku mendengus. Ibu? Mengkhawatirkanku? Yang benar saja. “Dia memang selalu sibuk,” jawabku singkat.

“Begitukah? Memangnya Bibi bekerja?” tanya Yo Won lagi. “Apakah hubunganmu dengan Bibi baik?”

“Bibi tidak bekerja, tapi kegiatannya setiap hari mengalahkan kesibukan presiden sekalipun,” jawabku sinis. “Dan mengenai hubungan kami… bisa dibilang cukup baik. Dia bersikap dingin, tapi aku memang tidak pernah mengharapkan dia akan melimpahiku dengan kasih sayang.  Yah… setidaknya dia tidak suka memukul,” lanjutku muram.

“Memukul?” seru Yo Won terkejut. “Memangnya ada yang suka memukulimu? Kau— hei!” tiba-tiba Yo Won berseru sambil berbalik menghadap pria di belakangnya. “Kurang ajar!” bentaknya pada pria itu, kemudian menamparnya.

“Ada apa!?” tanyaku cepat.

“Dia meraba-raba bokongku!” gerutu Yo Won.

Amarah itu bergolak dalam darahku. Aku sudah berusaha menahan diri untuk tidak menghajar siapapun selama beberapa minggu ini, tapi… orang brengsek ini… berani-beraninya dia menaruh tangan menjijikannya di tubuh Yo Won! berani-beraninya dia menyentuh gadisku! Dengan tangan terkepal erat, aku berjalan mendekati pria brengsek itu dengan tatapan tajam yang terkunci pada sosoknya.

Pria setengah baya berperut buncit dengan wajah mesum itu mundur dengan cepat menjauhiku. Wajahnya yang bulat dan pucat, berkilat dengan keringat. “Ini… ini hanya salah paham… aku tidak tahu… aku tidak… gadis itu berdusta!” ocehnya, berusaha membela diri.

“Apa!?” seru Yo Won tak percaya. “Kau menuduhku!? Dasar brengsek! Kau berani mengusap-usap bokongku, dan sekarang menuduhku sebagai pembohong!?”

Dengan cepat aku menarik kerah kemeja pria itu, dan mendekatkan wajahnya dengan wajahku. “Kau menyentuhnya. Kau berani mengusap bokongnya!?” desisku. “Apa kau punya nyawa cadangan!? Berani sekali kau mengganggunya!” bentakku.

“Ada apa ini ribut-ribut!?” seru Yeom Jong sambil berusaha menerobos kerumunan pengunjung yang menonton keributan yang di sebabkan pria mesum ini. “Nam Gil? apa-apaan ini?”

“Nam Gil, sudahlah,” kata Yo Won sambil menyentuh lenganku. “Lagi pula tadi aku sudah menamparnya.”

“Jangan buat masalah di sini, Nam Gil,”  pinta Yeom Jong. “Ini bar pamanku. Kumohon.”

Tapi aku tidak lagi mendengarkan perkataan mereka. Wajah pria di hadapanku ini bagaikan lambaian kain merah yang semakin mengobarkan amarahku. Akan kupatahkan tangannya yang berani menyentuh Yo Wonku!

Aku mendorong pria itu hingga terjatuh ke lantai dan mulai meninjunya. Terus dan terus. Ketika beberapa penjaga keamanan bar itu berusaha menarikku, aku pun menghajar mereka. Tidak perduli sakit yang kurasakan saat mereka membalas pukulanku, aku terus menghajar pria mesum tadi, dan juga siapa saja yang berusaha menahanku. Tidak ada yang boleh menyentuh Yo Won selain aku! Tidak ada! Dia milikku! Milikku!



Beberapa jam kemudian aku keluar dari kantor polisi bersama Yo Won, San Tak, Yeom Jong, dan pamannya, Tuan Oem Hyo Soeb. Dengan pengaruh paman Yeom Jong lah aku dapat segera dibebaskan. Aku sadar dia melakukannya bukan murni karena kebaikan hati. Pasti dia menginginkan sesuatu dariku. Tapi aku tidak perduli itu sekarang. Aku puas sudah membuat pria mesum itu babak belur. Itu imbalannya karena berani berbuat mesum pada Yo Won.

“Terima kasih,” gumamku pada Tuan Oem.

Paman Yeom Jong itu tertawa sambil menghisap cerutunya. “Hal seperti ini hanya masalah kecil bagiku,” sahutnya. “Ikutlah ke barku. Kita perlu mengobrol sebentar,” lanjutnya.

Mengobrol sama artinya dengan dia menginginkan imbalan atas bantuan yang diberikannya padaku. “Baik. tapi aku harus mengantar temanku pulang dulu,” kataku.

Tuan Oem tersenyum sambil menatap Yo Won. “Baiklah. Tidak baik membiarkan seorang gadis berkeliaran di luar rumah hingga larut malam, kan?” katanya. “Yeom Jong akan mengantar kalian dengan mobilnya, dan dia bisa membawamu kembali ke bar untuk menemuiku.”

Aku mengangguk setuju, kemudian berjalan bersama Yo Won dan San Tak, mengikuti Yeom Jong menuju mobilnya.

“Lukamu…” gumam Yo Won khawatir saat kami sudah duduk nyaman di kursi belakang mobil Yeom Jong. “Biar kubersihkan sedikit,” lanjutnya sambil mengusap darah di wajahku dengan sapu tangannya.

Wajah dan tubuhku rasanya sakit. pasti karena hantaman para penjaga keamanan berbadan besar bagai binaragawan tadi. Sial. Tapi… tidak sepenuhnya sial juga. karena ini Yo Won jadi menunjukkan perhatiannya padaku.

“Kau seperti iblis mengamuk karena tanduknya dipatahkan,” komentar San Tak dari kursi depan. “Sudah lama aku tidak melihatmu semarah tadi.”

“Untung saja Pamanku tidak mengamuk, dan malah membantumu keluar dari kantor polisi,” gerutu Yeom Jong. “Padahal aku sudah takut sekali berpikir akan menghadapi amarahnya. Kau membuat keributan dan menghancurkan beberapa barang di barnya. Aku heran melihatnya kali ini justru bersikap lunak padamu.”

Apakah Yeom Jong memang bodoh atau pura-pura bodoh? Tentu saja pamannya membantuku karena menginginkan sesuatu dariku. Tapi aku malas mengomentari perkataan mereka dan memutuskan untuk diam saja.

“Maafkan aku,” gumam Yo Won penuh penyesalan. “Kalau bukan karena membelaku—“

“Sudahlah, bukan salahmu,” sergahku. “aku menghajarnya atas kemauanku sendiri,” kataku serius sambil menatap wajahnya.

Selama sisa perjalanan itu suasana di dalam mobil menjadi hening. Semua sepertinya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

“Rumahmu bagus,” komentar San Tak saat akhirnya Yeom Jong menghentikan mobilnya di depan rumah Yo Won.

“Terima kasih atas tumpangannya,” kata Yo Won sopan pada Yeom Jong yang hanya menjawabnya dengan anggukan.

Aku mengikuti Yo Won keluar dan mengantarnya hingga ke pintu gerbang rumahnya. “Maaf karena malam ini berakhir kacau,” kataku menyesal.

Yo Won tak menghiraukan perkataanku, dan malah mengamati wajahku dengan teliti. Seketika ekspresinya berubah sedih. “Setelah diperhatikan lebih teliti, luka-lukanya lebih parah dari yang kuduga,” keluhnya. “Maafkan aku.”

Aku mengernyit heran mendengar nada suara Yo Won yang terdengar benar-benar menyesal. “Kenapa? kau kan tidak salah apa-apa. Pria mesum tadi yang bersalah. Dan aku,” kataku sambil berusaha tersenyum walau terasa agak sakit. “Aku yang memutuskan untuk menghajarnya. Bukan kau. Jadi ini bukan salahmu.”

“Tapi seandainya aku tidak memaksa ikut denganmu ke bar, pasti hal ini tidak akan terjadi. Kau tidak akan memukulnya. Kau tidak akan ditangkap polisi. Dan kau tidak akan terluka seperti ini. Maafkan aku.”

“Sudahlah. Jangan dipikirkan. Masuklah, ini sudah malam. sampaikan salamku pada ayahmu,” kataku. “Maaf, aku buru-buru pergi. selamat malam,” lanjutku sambil berbalik pergi.

“Tunggu!” tahan Yo Won. “Apa yang akan dilakukan paman Yeom Jong padamu? Apakah dia akan menghajarmu? Apakah dia—“

“Tenanglah,” pintaku. “Kurasa dia tidak bertujuan untuk melukaiku. Mungkin dia menginginkan sesuatu dariku, tapi itu tidak usah kau khawatirkan.”

“Tapi—“

“Masuklah. Selamat malam,” kataku untuk terakhir kalinya, lalu masuk ke dalam mobil Yeom Jong.

Saat mobil mulai melaju, aku menengok ke belakang lewat kaca jendela, dan melihat sosok Yo Won yang masih berdiri di pinggir jalan memandangi mobil ini. Tidak apa. Demi dirinya, terluka ataupun berurusan dengan orang seperti Tuan Oem bukan masalah bagiku.



- Lee Yo Won - 1 Februari 2011 -        

Ini salahku. Karena dendamku pada Go Hyun Jung, aku malah mencelakakan Nam Gil. dia terluka karena berusaha membelaku. Dan sekarang, dia harus berurusan dengan orang seperti paman Yeom Jong. Aku merasa pria itu bukan orang baik. bagaimana kalau dia malah mencelakakan Nam Gil? Bagaimana bila terjadi sesuatu pada Nam Gil?

Ya Tuhan, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri bila benar-benar terjadi sesuatu padanya nanti. Ini salahku. Salahku.

“Lupakan masa lalu, lanjutkan saja hidupmu. Lupakan orang-orang yang menyakitimu dan ibumu. Pada saatnya nanti mereka akan mendapat balasannya sendiri. Balas dendam hanya akan menimbulkan masalah saja,”

Nasehat kak Ye Jin terngiang di benakku. Ternyata kakak benar. Balas dendam hanya menimbulkan masalah. Itulah yang terjadi sekarang. Karena niatku membalas dendam pada Bibi Hyun Jung, aku malah mencelakakan Nam Gil. padahal dia sudah begitu baik dan tulus padaku.

Tulus. Ya, tulus. Itulah yang tersorot dari kedua matanya saat memandangku. Seketika kurasakan getaran di hatiku. Getaran manis, walau jantungku serasa tertusuk. Itulah yang selalu kurasakan, walau setiap kali juga berusaha kuabaikan dengan canda. Inilah alasan mengapa jantungku berdenyut dengan rasa bahagia setiap kali dia tersenyum dan menatapku dengan sorot penuh kasih itu. Karena jauh di lubuk hatiku aku tahu… aku menyadari persaannya padaku.  Ketertarikan tulusnya padaku. Karena aku pun merasakan hal yang sama padanya.

Aku menyukai senyumnya. Aku menyukai tawanya. Aku menyukai raut wajah kekanakannya. Semua itu karena aku tertarik padanya. Aku menyukainya. Semakin mengenalnya, semakin aku simpati padanya, semakin aku menyukainya. Dan sekarang, aku malah mencelakakannya. Aku malah berniat memanfaatkannya. Bagaimana bisa aku sejahat itu padanya?

Dia memang hanya keponakan Bibi Hyun Jung, tapi wanita itu sudah bersedia membesarkan Nam Gil disaat orangtua kandungnya justru membuangnya. Walaupun tidak dekat, pastilah Nam Gil tetap merasa berhutang budi pada Bibinya. Dia akan membenciku bila tahu aku memanfaatkannya. Bisakah aku menahan rasa bencinya? Tidak. Aku tidak ingin dibenci olehnya.

Sebuah kilasan kejadian melintas di benakku. Seorang pria… pria yang berwajah mirip Nam Gil itu. Pria yang bernama… Bi Dam? Kali ini dia tidak tampak dengan busana prajurit berwarna hitamnya. Melainkan pakaian tradisional mewah berwarna ungu. Rambutnya yang biasa dikuncir kuda pun sekarang terikat rapi di puncak kepalanya. Tapi bukan perubahannya yang menggangguku, melainkan sorot sedih kedua matanya. Kenapa? ada apa? Aku ingin menanyakan itu, tetapi aku malah mendengar diriku sendiri berbicara dengan nada lantang dan keras, menuduhnya menginginkan kekuasaanku. Aku tidak habis pikir, kekuasaan apa yang kupunya? Kenapa tanpa bisa kuhentikan, aku mengeluarkan kata-kata yang menuduh dan menyakiti pria itu?

Sorot matanya… begitu sedih dan terluka. Aku tidak tahan melihatnya. Tapi aku juga tak bisa menghentikan diri mengeluarkan kata-kata yang menyudutkannya. Hatiku terasa diremas kuat saat melihatnya berjalan keluar ruangan dengan rasa kecewa, sakit hati, dan… kalah.

“Yo Won?” Aku tersadar dari lamunanku dan segera berbalik menghadap Ayah. “Aku berjalan-jalan di taman untuk menunggu kepulanganmu, dan mendengar suara mobil. Kenapa kau tidak masuk?”

Kurasakan pipiku basah, dan buru-buru aku menghapusnya, lalu memaksakan diri tersenyum pada Ayah. “Tidak apa-apa. Ayo masuk. Maaf sudah membuat Ayah menunggu.”

“Tidak apa-apa. Bagaimana malammu? Menyenangkan?”

Menyenangkan? “Ya,” sahutku singkat. Memang menyenangkan. Hingga terjadi kekacauan itu.

Sambil berjalan masuk, aku kembali teringat pada pria dalam kilasan yang kulihat tadi. Aku teringat sorot mata sedih dan kecewanya. Siapa sebenarnya pria itu? kenapa dia begitu mirip dengan Nam Gil?

Nam Gil. Aku tidak ingin melihat sorot mata sedih dan kecewanya—seperti pria dalam kilasan pengelihatanku tadi—diarahkan padaku. Aku tidak mau dia membenciku. Kurasa aku tidak sanggup menerima kebenciannya.

Seperti kata kak Ye Jin, aku harus melanjutkan hidup dan mencoba melupakan perbuatan Bibi Hyun Jung. aku tidak bisa berjanji akan mampu menghilangkan kebencianku padanya, tapi paling tidak akan kucoba untuk tidak lagi mempermasalahkannya. Melihat kacaunya malam ini akibat rencana pembalasan dendamku, aku akan menahan diri dan menghilangkan semua rencana itu dari otakku.

Nam Gil, maafkan aku. Kuharap tidak terjadi hal buruk padamu.



To Be Continued...

by Destira ~ Admin Park ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar