Jumat, 21 Januari 2011

THE REINCARNATION - Chap 21 - Fanfiction BIDEOK / NAMWON -

CHAPTER 21



Cast :

Bi Dam : Kim Nam Gil                             
Deokman : Lee Yo Won

Mi Shil : Go Hyun Jung                           
King Jinji : Kim Im Ho
Se Jong : Go Young Jae                            

Yoo Shin : Uhm Tae Wong
Cheon Myeong : Park Ye Jin                                
Alcheon : Lee Seung Hyo
Yeom Jong : TETAP
Ha Jong : Go Jung Hyun                           
Bo Jong : Go Do Bin
Young Mo : Qri                                             
Jook Bang : Lee Moon Shik
Go Do : Ryu Dam       


--------------------------------------------------------


- Kim Nam Gil - 9 April 2011 -             

Setelah memarkir motor, aku sengaja menunggu Tae Wong di depan gerbang sekolah. Aku harus memperingatkannya untuk menjauhi Yo Won. sejak dulu Yo Won ditakdirkan untukku. Milikku. Yoo Shin maupun Tae Wong tak boleh merebutnya!

Sebelumnya dengan sembunyi-sembunyi aku melihat Yo Won dan Ye Jin masuk, dan tak seperti biasanya mereka tidak bersama Tae Wong. Kuharap itu tidak berarti dia tak masuk sekolah hari ini.

Tiba-tiba aku teringat bahwa sejak kemarin ponselku belum diaktifkan lagi. Aku merogoh sakuku, dan dengan kaget melihat gantungan ponselku tak ada. Pemberian Yo Won tak ada. Dimana aku menjatuhkannya? Apakah di rumah? Sial.

Suara batuk mengalihkan perhatianku. Itu suara Tae Wong. Dia terbatuk beberapa kali. Tak seperti biasanya, dia terlihat lemas dan wajahnya agak pucat. Apa dia sakit? tapi itu bukan urusanku. Urusanku dengannya hanyalah untuk memperingatkannya agar tidak lagi mendekati Yo Won.

“Uhm Tae Wong,” panggilku. “Kita perlu bicara.”


Tae Wong menghentikan langkahnya dan menatapku. “Ada apa?” tanyanya dengan suara serak.

“Tidak di sini,” jawabku. “Ayo ke halaman belakang.”

Tanpa menjawab, dia mengikutiku. Saat dalam perjalanan, aku berpapasan dengan Yeom Jong dan anak buahnya, tapi aku berusaha tidak menghiraukan mereka. Saat ini urusan yang paling penting adalah dengan Tae Wong.

“Jadi, ada apa?” tanya Tae Wong segera setelah kami sampai di tempat tujuan.

Aku melangkah mendekatinya sambil menyeringai geram. “Aku kagum kau punya nyali untuk menantangku,” kataku.

“Apa maksudmu?”

“Yo Won milikku!” desisku tepat di depan wajahnya. “Milikku. Kau dengar itu? Jangan pikir aku akan diam saja melihatmu mencoba merebutnya dariku!”



Aku melajukan motorku semakin cepat di jalan raya yang padat, melesat melewati kendaraan-kendaraan lain. aku butuh sendiri. setelah memperingatkan Tae Wong, perasaanku tidak juga membaik.

Kecurigaan itu tanpa bisa dicegah merasuk di hatiku. Pasangan yang kulihat itu benar Tae Wong dan Yo Won. walaupun Tae Wong berkata dia tidak ada maksud merebut Yo Won dariku, tapi… bagaimana dengan Yo Won sendiri? Pelukan di bawah tangga itu, lalu rangkulan mereka kemarin… perasaan Deokman pada Yoo Shin… mungkinkah setelah mengingat semuanya, Yo Won akhirnya juga mengingat bahwa cintanya pada Yoo Shin tak pernah padam? Mungkinkah dulu Deokman tidak benar-benar mencintaiku? Mungkinkah… benarkah Yo Won memanfaatkanku? Tapi untuk apa? Argh!

Aku terus melaju tanpa tentu arah dan berhenti di daerah pertokoan. Setelah membeli minuman kaleng dan meminumnya di atas motor, aku kembali mengeluarkan ponsel yang belum sempat kunyalakan tadi. Ada belasan panggilan dari Yo Won sejak kemarin dan tadi pagi. Baru saja aku akan memencet tombol untuk meneleponnya, masuk sebuah pesan dari Yeom Jong. Sial. Mau apa lagi dia?


Kau bukanlah keponakan pasangan Go Young Jae dan Go Hyun Jung, melainkan putra dari hasil hubungan gelap Nyonya Go dan pengusaha Kim Im Ho.


Cairan yang baru saja kuminum langsung tersembur dari mulutku. Brengsek! Dari mana dia mengatahuinya!? Tapi sebelum aku sempat menelepon ataupun membalas pesannya, telah masuk pesan lain lagi.


Kemarin aku menyuruh seorang anak buahku mengikuti gadismu dan Tae Wong saat mereka pulang cepat dari klub, dan tanpa sengaja dia melihat Lee Yo Won menceritakan rahasiamu itu pada sebuah stasiun TV swasta. Menyedihkan. Gadis yang kau cintai justru mengkhianatimu. Sudah kukatakan, dia memanfaatkanmu. tapi kau tak percaya padaku. Sekarang beritanya telah tersiar di mana-mana.


Aku terdiam terpaku memandangi layar ponselku. Yo Won tidak mungkin melakukannya. Tidak akan. Dia tidak akan melakukan hal sekeji itu. tidak mungkin dia menyakitiku. Untuk apa? Untuk membalas Ibu… pikiran itu melintas begitu saja di benakku. Tidak. Aku tidak percaya. Tidak mungkin! Ini pasti hanya tipu muslihat Yeom Jong lagi. Tidak, aku tidak boleh terhasut lagi. Tidak akan. Aku tak boleh melakukan kesalahan yang sama. aku harus mempercayai Yo Won.

“Wah, tidak disangka, ya?”

“Benar, padahal selama ini kupikir mereka keluarga harmonis.”

“Iya, Nyonya Go terlihat sesuci malaikat, tapi siapa sangka…”

Komentar-komentar itu sampai di telingaku dan membuatku mengalihkan perhatian dari pesan yang dikirim Yeom Jong untukku. Aku menoleh ke sumber keributan itu, dan melihat sekelompok orang berdiri di depan sebuah toko barang elektronik. Di beberapa TV yang terpajang di etalasenya, tengah disiarkan berita-berita dari sejumlah stasiun TV mengenai terkuaknya skandal yang pernah dilakukan Ibu dengan beberapa pria, dan salah satunya adalah hubungan terlarangnya dengan Ayah. Brengsek!

Aku menerobos kerumunan itu untuk melihat lebih jelas berita tersebut. Mereka menyorot kebaikan-kebaikan Ibu selama ini, lalu membandingkannya dengan rahasia kelam yang kemarin baru didapat dari seorang narasumber yang tak mau menyebutkan namanya. Orang itu mengaku dekat dengan salah satu anggota keluarga Go, tapi selebihnya dirahasiakan. Berita itu masih terus berlanjut, entah apa lagi yang mereka ungkap, tapi aku tak lagi perduli. Hatiku serasa diremas kuat. benarkah? Mungkinkah Yo Won yang melakukan semua ini?

Ponselku kembali berbunyi. Dari Yeom Jong lagi. Kali ini dia mengirim sebuah video. Dengan tak percaya aku melihat rekaman yang diambil secara sembunyi-sembunyi itu. di video itu terlihat sosok Yo Won sedang diwawancarai seorang wanita yang selama ini memang sering kulihat tampil di TV. Mobil van di belakang mereka menampakkan logo sebuah stasiun TV swasta terkenal. Percakapan mereka tak terdengar karena perekam gambar ini bersembunyi cukup jauh dari Yo Won dan pewawancaranya.

Aku tidak ingin percaya. Tapi… bukti ini… untuk apa Yo Won diwawancarai? Tusukan tajam pengkhianatan melukai hatiku. Benarkah Yo Won melakukannya? Tapi karena apa? Untuk membalas dendamnya pada Ibu? Tegakah dia melakukan ini semua walau tahu dia juga akan melukaiku?
       
“Bagaimana denganmu?” Tanyaku padanya waktu itu. “Apa kau tidak terganggu karena berpacaran dengan anak dari orang yang menghancurkan pernikahan orangtuamu?”
      “
Tidak, karena cintaku padamu lebih besar dibanding amarahku pada Ibumu.” Ketika dia mengucapkannya, setulus hati aku mempercayainya. Tapi sekarang… kenapa?

Tak ada orang selain keluarga yang mengetahui rahasia ini. Mereka yang begitu mementingkan nama baik keluarga, tak mungkin membocorkannya. Hanya Yo Won dan ayahnya yang tahu rahasia ini, tapi tak akan terpengaruh dengan kabar buruk yang beredar.
       
“Tapi aku berani bersumpah atas nama almarhum orangtuaku, dan segala yang suci… aku mendengar sendiri ketika dia berkata pada temannya bahwa dia memanfaatkanmu, entah untuk apa.” Sumpah Yeom Jong terus menghantuiku.     

Benarkah itu? Yo Won memanfaatkanku? Aku mengingat pada awal pertemuan kami Yo Won terus berusaha menjauhiku, tapi kemudian dengan tak terduga dia mulai mendekat dan bersikap ramah padaku. Selalu dipihakku. Membuatku merasa dekat dan nyaman dengannya, juga mempercayainya. Mungkinkah semua itu sudah direncanakan? Mungkinkah Yo Won benar memanfaatkanku? Untuk mencari kelemahan Ibu? Untuk membalas dendam? Rasa sakit, kecewa, dan perihnya dimanfaatkan mencabik-cabik hatiku. Tapi di sisi lain, aku masih ingin mempercayainya. Dulu pun Yeom Jong menghadapkanku pada bukti yang membuatku percaya bahwa Deokman ingin menyingkirkanku, tapi ternyata semua itu tidak benar. Pasti ada penjelasan untuk semua ini. Kali ini aku tidak akan membuat kesalahan dengan mempercayai semua kata-kata dan bukti Yeom Jong tanpa menanyakan kebenarannya pada Yo Won. Aku harus bicara padanya.

Ponselku kembali berbunyi. Jung Hyun. Ada apa? “Halo?”

Terdengar isakan. “Nam Gil, dimana kau sekarang?” tanyanya sambil menangis. “Do Bin sudah dalam perjalanan ke Rumah Sakit M. Ayah… ayah kecelakaan. Dia sekarat. Setelah… melihat berita di TV, Ayah dan Ibu bertengkar, lalu Ayah pergi dalam keadaan marah… dan… kemudian kami mendapat kabar—“

Aku tersentak kaget. Go Young Jae mungkin bukan ayah tiri yang penyabar dan penuh kasih—tak ada yang mengharapkan sikap seperti itu dari seorang pria pada anak-anak hasil perselingkuhan istrinya—tapi selama ini dia sudah begitu baik, tidak hanya padaku, juga pada Do Bin. Dia membiarkan kami tinggal di rumahnya, juga membiayai dan memberi segala macam fasilitas terbaik yang sama dengan anak kandungnya sendiri. aku tak pernah mengharapkan hal buruk menimpanya.

“Aku akan segera ke sana.”



- Lee Yo Won - 9 April 2011 -            

Dudukku gelisah. Aku tak sabar menanti kedatangan Nam Gil. sejak kemarin ponselnya tidak aktif, entah kenapa. padahal aku ingin menyampaikan berita gembira padanya.

Rasanya aku masih sulit percaya saat kemarin orang dari stasiun TV G mendatangi rumahku dan mengabarkan bahwa aku adalah pemenang hadiah dua tiket liburan ke Bali. Aku mengikuti kuis itu beberapa bulan lalu. Setelah mengirim jawabanku atas pertanyaan yang mereka berikan, aku terus menunggu dengan sabar kabar apakah aku memenangkan hadiah liburan itu, dan ternyata aku menang!

Hari itu, ketika Nam Gil mengusulkan untuk pergi berlibur ke Bali, hampir saja aku menceritakan mengenai kuis yang kuikuti, tapi tak jadi karena kupikir belum pasti aku akan memenangkannya. Dan kalaupun akhirnya aku tidak menang pun tak masalah, aku bisa menggunakan uang tabunganku untuk pergi ke Bali bersamanya. Tapi itu tak perlu lagi. Aku memenangkannya! Nam Gil pasti juga akan senang mendengar berita ini. Menurut wanita kemarin, keberangkatan kami baru akan dilakukan di bulan Mei, setelah semua persiapan selesai diurus. Aku merogoh ke dalam saku jaketku, dan mengeluarkan dua lembar kertas berwarna cokelat dengan tulisan Bali dalam huruf emas tebal tercetak di tengahnya. Ini hanya semacam simbol bahwa aku telah memenangkan hadiah itu, karena tiket baru akan diberikan di bulan Mei. Ah, aku tak sabar ingin menyerahkan satu diantaranya untuk Nam Gil. ini kado yang sangat menyenangkan untuk ulang tahunku kali ini.

Moon Shik berlari memasuki kelas dengan ribut. “Gawat! Kak Tae Wong… kak Tae Wong terluka parah!” katanya dengan napas terengah-engah.

“Apa!?” seru hampir seluruh anak yang berada di kelas—termasuk aku. rasanya mustahil, dengan keahlian taekwondo kak Tae Wong. Tapi, kemarin dia tidak sehat, mungkin karena keadaannya yang sedang lemah membuatnya tak dapat melawan dengan maksimal.

“Di mana dia!?” tanyaku dan kak Ye Jin panik.

“Di halaman belakang,” jawab Moon Shik.

Kami semua buru-buru keluar kelas dan berlari ke tempat yang di sebutkan oleh Moo Shik. Saat tiba di sana, kak Tae Wong telah dikerumuni murid-murid lain, dan salah satunya adalah kak Seung Hyo yang terlihat sedih.

“Yo Won, Ye Jin, tolong temani Tae Wong selama menunggu orang-orang dari Rumah Sakit M yang dipanggil Kang Ji Hoo datang,” pintanya, begitu melihatku dan kakak menerobos masuk kerumunan. “Aku harus pergi ke rumah Tae Wong dan menjemput ibunya. Sejak kemarin kepala sekolah tak ada di tempat karena mengikuti seminar pendidikan di Busan.” Setelah menitipkan sahabatnya itu pada kami, kak Seung Hyo segera berlari pergi.

“Baik,” sahutku dan kak Ye Jin lemah. kami berlutut di sisi tubuh kak Tae Wong dan mengamati keadaannya dengan rasa kasihan. Di pakaian seragamnya terlihat noda-noda bekas tendangan sepatu, wajahnya penuh lebam dan luka berdarah. Siapa yang melakukan ini?

“Tadi aku melihat Tae Wong dan Nam Gil berjalan berdua ke arah tempat ini,” kata seseorang. Aku menengadah untuk melihatnya, dan mendapati Yeom Jong sedang berdiri di antara kerumunan orang yang mengelilingi kami. Pemuda itu berdecak pelan mengamati keadaan kak Tae Wong. “Setahuku Tae Wong sangat kuat. Jarang ada yang bisa mengalahkannya, apalagi sampai terluka parah seperti ini. tapi kalau Kim Nam Gil pelakunya… yah, kita tahu dia sangat kuat, kan?”

Segera saja terdengar gumaman setuju dari murid-murid lain. Dengan geram aku bangkit berdiri dan mendorong tubuh Yeom Jong kuat-kuat. “Nam Gil tidak mungkin melakukannya!” hardikku.

Yeom Jong tersenyum mengejek. “Tapi bukti yang ada memberatkannya. Aku dan beberapa temanku melihatnya berjalan bersama Tae Wong ke arah tempat ini, dan tak lama kemudian Tae Wong ditemukan dalam keadaan seperti ini, sedangkan Nam Gil hilang entah ke mana,” katanya.

“Dia tidak bohong.” Aku menoleh ke arah suara yang terisak itu, dan melihat Qri sedang menangis memandangi kak Tae Wong yang tak sadarkan diri. “Aku juga melihat… Kim Nam Gil dan kak Tae Wong berjalan menuju tempat ini. tapi aku tidak terpikir…Nam Gil akan menghajar kak Tae Wong…”

Tidak. Aku tidak percaya. Tidak mungkin Nam Gil pelakunya. Tapi… Nam Gil… Bi Dam… tak pernah menyukai kak Tae Wong dan Yoo Shin. Nam Gil selalu menganggap kak Tae Wong saingan beratnya. Mungkinkah Nam Gil melakukan ini karena cemburu dengan kedekatanku dengan kak Tae Wong? Tidakkah dia tahu aku tak mungkin dapat mencintai orang lain selain dirinya? Tidak. Sudah pasti ini bukan perbuatan Nam Gil. Dia tahu pasti perasaanku padanya. Aku tak akan meragukan Nam Gil.

“Yo Won,” panggil Ryu Dam pelan. “Milikmu, kan? Terjatuh di dekat kaki kak Tae Wong,” katanya sambil menyerahkan gantungan ponsel berwarna perak itu padaku.

Dengan terperanjat aku menerima pemberiannya. Memang sama persis dengan milikku. Gantungan ponsel dengan bentuk bintang dan cincin. Tapi inisial yang ada di cincin itu… bukan KNG seperti yang sekarang tergantung di ponselku, melainkan LYW, yang seharusnya tergantung di ponsel Nam Gil. bagaimana mungkin ada di sini? Benarkah Nam Gil… apakah Qri dan Yeom Jong tidak berdusta? Nam Gil…



Aku dan kak Ye Jin ikut mengantar kak Tae Wong ke rumah sakit, dan dengan heran kami melihat banyaknya wartawan berkerumun di depan pintu masuk.

Setelah berhasil menerobos masuk dan kak Tae Wong sudah ditangani oleh dokter, barulah kami tahu dari beberapa pasien yang sedang duduk menunggu bersama kami, bahwa para wartawan itu ingin meliput berita mengenai keadaan seorang pengusaha sekaligus politikus yang mengalami kecelakaan di jalan raya.

Aku mendengar kak Ye Jin berbasa-basi bertanya pada orang yang duduk di sebelahnya itu mengenai identitas si pengusaha, tapi tak benar-benar kuperhatikan karena sekarang hatiku sedang gelisah. Aku tidak mau percaya. Tidak mungkin Nam Gil. tapi… kenapa gantungan ponsel ini bisa ada di tempat kejadian? Tidak. Tidak, aku tidak boleh meragukannya. Pasti ada alasan di balik semua ini. aku tidak boleh mengambil kesimpulan dengan gegabah seperti dulu. Tidak, aku harus membicarakannya dengan Nam Gil secara langsung.

“Go Young Jae,” kata si wanita yang ditanya oleh kak Ye Jin.

Seketika perhatianku terpusat pada pembicaraan mereka. “Go Young Jae!?” seruku kaget.

Wanita itu mengangguk. “Dia mengalami tabrakan beruntun di jalan raya,” jawabnya.

Go Young Jae… suami Bibi Hyun Jung. Mungkinkah… mungkinkah Nam Gil tidak ada di sekolah karena kecelakaan ayah tirinya? Apakah Nam Gil ada di gedung ini juga?

Aku berdiri dan berjalan menjauh untuk menelepon Nam Gil. selama dalam perjalanan menuju Rumah Sakit ini aku sudah berusaha menghubunginya, tapi tidak diangkat.

“Keluarga Go yang selama ini dikenal harmonis dan sempurna, ternyata menyimpan rahasia kelam—“

Aku menoleh ke arah TV di ruang tunggu itu, dan melihat seorang pembawa acara berita sedang mengoceh mengenai skandal Bibi Hyun Jung. Aku tak percaya ini. bagaimana bisa rahasia itu bocor ke media? Dari mana mereka mengetahuinya!?

Bagaimana perasaan Nam Gil mendengar berita ini diketahui umum? Apakah dia sudah mengetahuinya? Di mana Nam Gil sekarang? Semakin gelisah, aku kembali mencoba menghubunginya. Tapi sebelum aku sempat memencet tombol, sebuah panggilan masuk telah menghiasi layar ponselku. Panggilan dari Nam Gil. Oh Tuhan, syukurlah, akhirnya.

“Halo? Nam Gil, kau di mana?”

Sambungan terputus. Aku menatap ponselku dengan terkejut. Ada apa?

“Yo Won,” panggil sebuah suara yang sangat kukenal. Aku berbalik, dan melihat Nam Gil yang berwajah murung sedang berjalan mendekatiku sambil memasukkan ponselnya ke saku celana.

“Nam Gil, aku terus berusaha menghubungimu sejak tadi—“

“Kita perlu bicara,” kata Nam Gil dengan nada datar.



To Be Continued...

by Destira ~ Admin Park ~

1 komentar: