Selasa, 11 Januari 2011

A NEW LOVE (새로운 사랑/ Saeroun Sarang)--- Chap 1

Eheem....ehem.....*grogi neh*, sebenernya ini FF masih dipikir-pikir dulu mau dipublish atau enggak, tapi kata Admin Park gpp dipublish aja, ya udah dee ku publish...

Maap yaa sebelumnya, mungkin bosen ama Lee Yoo Hee dan Kim Nam Gil haha....abisnya diriku bias-nya Kim Nam Gil jadi mau gak mau bikin FFnya Kim Nam Gil aja...kalau memang tidak berkenan membaca juga tidak apa-apa kug, cuma buat have fun doank, ya sudah daripada kebanyakan omong yang gak penting, aku langsung aja ke FF-nya



selamat membaca!! ^^



-Lee-

____________________

A NEW LOVE...(새로운 사랑/ Saeroun Sarang)






Chapter 1




-Lee Yoo Hee-

Hujan.....

Mataku menatap jauh ke arah gemericik hujan di luar sana, terlihat beribu-ribu tetes air jatuh dari langit bagaikan berkah Tuhan bagi umatnya yang tak terhitung jumlahnya. Tapi aku benci hujan..... hujan selalu mengingatkanku akan peristiwa kelam masa laluku. Ingatanku kembali pada tiga tahun silam, saat itu aku tengah sibuk menyiapkan tugas akhirku di kampus. Hujan yang turun dengan derasnya membuatku tak bisa pulang, padahal tubuhku sudah terasa pegal karena seharian di kampus dan ingin segera beristirahat, maka kuputuskan untuk meminta pertolongan Kak Hyun jae kekasihku untuk menjemputku. Tentu saja dia tak menolak permintaanku. Sudah 4 tahun lalu kami menjalin hubungan, sejak Kak Hyun-jae masih menjadi kakak tingkatku. Sekarang dia telah lulus dan bekerja sebagai staf marketing di salah satu perusahan ternama di Korea. Begitu aku lulus kuliah, dia berjanji akan segera melamarku dan menikahiku. Aku sangat mencintainya, begitu pula sebaliknya. Dia seorang pria sederhana yang memiliki tekad kuat untuk sukses.

Tapi setelah kutunggu selama 2 jam dia tak kunjung tiba, kucoba menghubungi ponselnya, tak ada jawaban. Aku benar-benar gelisah takut terjadi sesuatu dengannya, dan benar saja. Tak selang berapa lama setelah menelponnya, tiba-tiba ponselku berdering, dan Kak Jang Hyuk kakaknya yang mengabariku bahwa Kekasihku itu kecelakaan dan tewas seketika di lokasi kejadian. Seketika itu juga lututku lemas dan tak sanggup berkata apa-apa lagi. Aku pun mulai menyalahkan diriku sendiri akan kejadian itu. Karena kesalahanku Kak Hyun Jae meninggal, karena kesalahanku Kak Hyun jae mengalami kecelakaan, seandainya aku tak memintanya menjemputku, seandainya.....



“Kak”, sebuah suara menyadarkanku dan mengembalikanku ke masa kini.

“Dae Jia?”.

“Apa yang kau lakukan di sini Kak?.”

“Aku hanya....sedang memandang hujan”, jawabku asal.

“Apakah kau masih memikirkan Kak Hyun Jae?”, tanya Dae Jia, terlihat jelas kekhawatiran di matanya. “Kak, sampai kapan kau akan begini?. Sudah tiga tahun sejak kematiannya tapi kau tetap saja tak mau membuka hatimu untuk pria lain. Jangan sia-siakan waktumu hanya untuk meratapi semua ini Kak, Kak Hyun Jae tak akan kembali walaupun kau menangisinya setiap hari”.

Aku tahu Dae-jia, tapi tolong jangan bahas masalah ini lagi “Apa yang membawa seorang calon pengantin datang kemari?”, tanyaku untuk mengalihkan arah pembicaraan kami, dan kulihat Dae-jia merona karenanya.

“Oh... aku sampai lupa...maaf tadi aku sudah mengetuk pintu beberapa kali tapi tak ada jawaban, setelah tau pintu tidak dikunci aku langsung masuk saja”, katanya menjelaskan.

“Ya, tidak apa-apa...aku memang sedang melamun tadi, sampai-sampai tidak mendengar kau mengetuk pintu, ibu sedang belanja jadi hanya ada aku di sini. Bagaimana rencana pernikahanmu, apakah semuanya lancar?”.

“Yah...itulah maksud kedatanganku ke sini Kak, aku bermaksud memberikan undangan ini padamu”, ujarnya seraya menyodorkan sebuah undangan cantik berwarna merah Jambu bermotif mawar merah dengan foto sang mempelai menghiasi halaman depan undangan itu.

“Undangan yang sangat cantik”, ujarku tulus. “Akhirnya adikku yang manis ini menikah juga, kenapa kau sendiri yang mengantarkannya? Harusnya calon pengantin cukup istirahat saja di rumah”, godaku.

“Ah....Kakak bisa saja, tadi aku sedang fitting baju pengantin di Bridal dekat sini, jadi sekalian saja aku mampir ke rumahmu, lagi pula sudah lama aku tak berkunjung ke sini, kau dan Bibi harus datang ya Kak....”, pintanya.

“Ya, ya, aku pasti datang”, ujarku seraya tersenyum. “Apakah kau datang bersama calon suamimu?”.

“Tidak, dia sedang sibuk menyiapkan pernikahan kami. Jadi, setelah fitting dia langsung pergi menyelesaikan urusannya”.

“Ohh...begitu”, gumamku pendek.

Dae Jia adalah adik sepupuku, ibunya adalah adik dari almarhum ayahku, usianya dua tahun lebih muda dariku, aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri begitu pula sebaliknya, dalam waktu dekat ini dia akan melangsungkan pernikahannya dengan seorang aktor tampan Choi Si Won, ya...dia memang beruntung sekali bisa mendapatkan pria idamannya, aku hanya bisa mendoakan agar kau bahagia Dae Jia.

“Oh...iya, di dalam undangan itu juga sudah terdapat tiket pulang pergi Pulau Jeju untuk Kau dan Bibi”.

“Oke”, sahutku singkat.

Calon suami Dae Jia memang sangat kaya, hingga hampir semua undangan yang notabene adalah keluarga besarnya juga, sudah dilengkapi dengan akomodasi lengkap dengan kamar hotel di Jeju.

“Sampaikan salamku pada Bibi Kak”, ujarnya sembari beranjak pergi.

“Kenapa terburu-buru, aku belum sempat membuatkanmu minum, lagi pula di luar sedang hujan, kenapa kau tak tinggal dulu sebentar”.

“Tidak perlu Kak, aku datang dengan temanku Shin Woo tapi dia tak mau ku ajak masuk karena masih ada urusan yang harus kita lakukan”, jelasnya.

“Oh, baiklah kalau begitu, sampaikan salamku juga pada Paman dan Bibi”.

“Oke”, sahutnya pendek sambil beranjak pergi dan melambaikan tangan ke arahku.

***



“Ahh....akhirnya sampai juga”, desahku saat kami sampai di depan Lotte Hotel Jeju, sebuah hotel mewah bergaya eropa yang merupakan hotel nomer satu di Jeju, tidak salah karena hotel ini dilengkapi oleh toko-toko bermerk terkenal di dalamnya, fasilitias-fasilitas di yang terdapat di sana pun lengkap, mulai dari pusat kebugaran, restoran sampai kolam renang out door. Saking asyiknya memperhatikan keindahan tatanan hotel ini, sampai-sampai aku tak melihat kedatangan Bibi Yon-su –Ibu Dae Jia- yang sedang bersiap-siap menuju ke restoran hotel untuk makan siang.

“Ikutlah makan siang bersama kami”, ajak Bibi Yon-su ramah, tapi Ibu menolaknya karena beliau masih lelah setelah perjalanan kami tadi dan menyarankan aku saja yang mengikuti acara makan siang bersama Bibi. Karena tak kuasa untuk menolak, walaupun ingin rasanya segera mengistirahatkan otot-ototku yang pegal karena perjalanan yang melelahkan tadi dan segera berbaring di tempat tidur yang nyaman, akhirnya kuturuti saja kemauan Ibu untuk menghargai undangan Bibi Yon-su, kami pun berpisah setelah menyelesaikan urusan di meja resepsionis dan mendapatkan kunci kamar kami.

Makan siang itu berlangsung dengan suasana kekeluargaan yang menyenangkan, walaupun tak semua keluarga berkumpul –karena acara resmi untuk keluarga baru diadakan malam ini dan juga karena masih ada anggota keluarga lain yang belum datang— senang sekali rasanya melihat kedua mempelai saling memperlihatkan kemesraan mereka. Hanya dengan melihat bagaimana cara Si-won menatap Dae-jia saja, sudah dapat diketahui bahwa dia sangat mencintainya, begitu pula sebaliknya. Pasangan itu memang pasanagan serasi.

Aku masih ingat saat dulu Dae-jia mengungkapkan impian masa depannya padaku, saat itu kami masih duduk di bangku sekolah dasar, dia mengatakan padaku dengan polosnya bahwa saat dewasa nanti dia ingin sekali menikah dengan seorang pangeran tampan impiannya, kupikir itu hanya impian khas anak-anak yang terlalu tidak mungkin untuk dicapai, tapi ternyata aku salah, kini Dae-jia telah menemukan pangeran yang dia impikan selama ini, tanpa sadar bibirku mulai tersenyum saat mengenang kembali masa kecil kami dulu.

Setelah makan siang selesai, aku segera menuju kamar hotel untuk memenuhi hasratku mengistirahatkan tubuhku yang lelah. Setelah berpamitan dengan Paman dan Bibi aku segera beranjak ke kamar. Namun sudah berkali-kali aku mengetuk pintu kamar, tapi tetap tak ada jawaban dari dalam. Apakah Ibu sedang tertidur pulas?. Lalu kucoba untuk membuka pintu kamar itu, mungkin saja Ibu lupa menguncinya. Dan ternyata benar pintu itu tidak terkunci. Hah...kenapa tidak sejak tadi saja aku mencobanya. Mungkin Ibu sengaja tak menguncinya agar aku bisa masuk, walaupun dia sedang tidur.

Tapi saat aku sampai di dalam, kulihat tempat tidur berukuran kingsize itu kosong, dimana Ibu?. Sayup-sayup kudengar gemericik air dari kamar mandi, oh..mungkin ibu sedang mandi. Melihat tempat tidur itu hasratku untuk mengistirahatkan diriku semakin membuncah. Segera kurebahkan tubuhku di tempat tidur empuk yang ada di depanku.

“Ahhh......nikmatnya”, desahku senang karena akhirnya dapat meregangkan otot-ototku yang kaku sejak perjalanan yang melelahkan tadi. Sejenak kupejamkan mataku yang lelah, sampai akhirnya terdengar suara pintu terbuka dan aku terlonjak kaget ketika menemukan seorang pria tampan alih-alih Ibuku keluar dari kamar mandi, pria tersebut hanya mengenakan handuk yang dililitkan dipinggangnya dan rambut yang basah setelah mandi. Pria itu menatapku lekat-lekat seakan-akan aku ini sampah yang tak seharusnya ada di sini. Dengan mata terbelalak kaget aku bertanya kepadanya.

“Si...siapa kau?”, tanyaku tajam, “Mengapa kau berada di kamarku? Dan dimana Ibuku?”, suaraku meningkat satu oktaf lebih tinggi karena panik.

“Apa maksudmu Nona, harusnya aku yang bertanya, siapa kau dan sedang apa kau di kamarku? Aku tak tahu-menahu tentang Ibumu”.

“Apa kau bilang? Sudah jelas-jelas kau berada di kamarku dan kau masih tak mau mengaku”, desisku tak percaya.“Keluar Kau dari kamarku atau kupanggil keamanan untuk mengusirmu”.

“Apa?...kamarmu? Maaf Nona, harusnya kau berpikir, kalau ini memang kamarmu, tentunya kau bisa menemukan Ibumu di sini”.

“Ya, tapi bisa saja kau—“,

“Bisa saja apa? Menculiknya? Menyanderanya?? Oh Tuhaan...sepertinya aku yang harus memanggil pihak keamanan untuk mengusir Nona keras kepala yang dengan seenaknya masuk ke kamarku dan menuduhku menculik Ibunya”, ucapnya gusar.

Tidak mungkin aku salah, aku ingat betul nomer kamarnya, tapiii....perkataan pria itu ada benarnya. Tidak, bisa saja dia telah menyekap Ibuku, hingga....ah, tidak aku tak boleh memikirkan hal semengerikan itu. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan, berharap dapat mengenali sebuah barang yang dapat menguatkan posisiku. Tapi tak ada satupun barang-barang itu yang kukenali. Kulihat pria itu masih menatapku tajam. Jadi...benar aku yang salah. Ohh...Tuhaan, betapa malunya diriku, rasanya ingin sekali tiba-tiba menghilang dari dunia ini. Tak terbayang betapa merahnya wajahku saat ini, aku yakin diapun telah menyadari perubahan ekspresiku ini.

“Bagaimana Nona? Apakah kau masih ngotot bahwa ini kamarmu?”, tanya pria itu tiba-tiba setelah hening sejenak. Terlihat seringai puas dibalik tatapan matanya.

“A..aku...,Ta..tapi Kau juga salah karena tak mengunci pintu kamarmu”, sial, aku pun kaget dengan kata-kata yang keluar dari mulutku itu, harusnya aku minta maaf, tapi aku benar-benar tak mau Pria ini merasa menang atas perdebatan ini.

“Sialan—“, makinya.”Ternyata Kau benar-benar menyebalkan, sudah jelas di sini Kau yang salah, dan sekarang Kau masih menyalahkan aku? Hah...sungguh tak bisa dipercaya. Ini kamarku, jadi terserah padaku, ingin menguncinya atau tidak, kau tidak berhak mengaturku Nona. Beruntung sekali Kau masuk ke kamarku—karena aku adalah orang baik—kalau tidak, kau pasti sudah diperkosa karena berani masuk seorang diri ke kamar seorang pria dengan kondisi kamar terkunci”, ucapnya sambil terus berjalan mendekatiku. “Dan, kekeraskepalaanmu memberiku ide akan hal itu”.

“Ya Tapi.........a.apa yang kau lakukan?”, ucapku panik sambil bergerak mundur, tapi sialnya ada dinding di belakangku, jadi aku tak bisa mundur lagi dan tiba-tiba saja dia telah mengapitku dengan kedua lengannya yang kekar. Jantungku berdegup kencang merasakan kedekatan kami, kurasakan hangat nafasnya dan aroma mint yang menyegarkan serta aroma sabun dan shampo maskulin yang digunakannya. Kucoba mendorongnya dengan kedua tanganku, tapi aku tak cukup kuat untuk hal itu, hingga dia tak bergeming sedikitpun dan tetap di tempatnya.

“Sekarang, aku berubah pikiran tentang Pria baik itu”, seringainya.

“Tidak, Kau pasti bercanda kan, Kau tak akan mungkin—“,

Kata-kataku terhenti ketika tiba-tiba bibirnya melumat bibirku dengan ciuman yang dalam dan menuntut, bibirrnya yang hangat dan lembut memaksa bibirku untuk membuka dengan tekanan-tekanan erotis yang sanggup membuat lututku lemas. Sejenak aku benar-benar lupa cara bernafas, merasakan lidahnya menyentuh setiap senti dari mulutku semakin dalam seakan tak ingin melewatkannya sedikit pun, hingga menimbulkan sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Sekalipun itu dengan Kak Hyun Jae.

Tapi ciuman kami berhenti saat tiba-tiba terdengar ponselku berdering, dengan kikuk segera kuraih ponselku sambil setengah berlari ke arah pintu, Terima kasih Ibu, kau menyelamatkanku pikirku. Kurasakan punggungku menggelenyar saat merasakan tatapan pria itu di balik punggungku, tapi aku tak perduli, aku harus segera pergi dari sini sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

“Kemana saja Kau Yoo-hee?”, tanya Ibu khawatir saat aku tiba di kamar.

“Aku..tersesat Bu, aku lupa nomer kamar kita”, jawabku tidak sepenuhnya bohong.

“Astaga, bagaimana bisa begitu? harusnya kau menelepon Ibu tadi, ya sudah sebaiknya kau istirahat saja sekarang, kau tampak pucat, apa kau sakit?”.

“Tidak Bu, aku tidak apa-apa hanya sedikit lelah”, sahutku seraya merebahkan tubuhku di tempat tidur, semoga Ibu tidak menyadarinya, dasar pria brengsek, aku benar-benar berharap tak pernah bertemu dengannya lagi, sial.

***

Malam harinya kami bersiap-siap untuk acara makan malam keluarga besar beserta beberapa teman yang hadir di pernikahan Dae-jia dan Si-won. Begitu selesai bersiap kami segera menuju ke lantai bawah karena acara itu dilaksanakan di restoran out door yang tersedia di hotel ini .

“Kak Yoo Hee”, sapa seseorang dibelakangku saat aku dan Ibu akan masuk lift, kontan aku menoleh dan melihat seorang gadis manis menggunakan gaun biru selutut dan rambut sebahu tengah tersenyum ke arahku.

“Shin-woo!!, kapan kau datang? “.

“Tadi sore Kak”, jawabnya sambil tersenyum dan menghormat ke arah Ibuku.

Shin-woo adalah sahabat baik Dae-jia, mereka bersahabat sejak masih duduk di bangku sekolah menengah dan dia juga adik kelasku. Kami berbincang-bincang selama perjalanan menuju ke lantai bawah.

“Dimana kekasihmu?, Apa dia tidak ikut?”.

“Eun Hyuk sudah di bawah Kak, tadi aku terpaksa kembali ke atas karena tasku ketinggalan”.

“Oh, begitu”. Dan ternyata benar, Eun-hyuk telah menunggunya di lantai bawah yang terlihat senang dengan kehadiran kami.

“Kau benar-benar ceroboh”, ucapnya sambil mengacak-ngacak rambut Shin-woo.

“Ah...tatanan rambutku bisa rusak tau”, gerutunya.

Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka, sudah menjadi rahasia umum jika pasangan ini tak pernah berhenti bertengkar, tentu saja bukan bertengkar sungguhan. Eun-hyuk yang jahil senang sekali menjahili kekasihnya yang sedikit pemarah. Dia akan merasa senang dan puas bila berhasil membuat Shin-woo marah.

Restoran out door itu telah penuh dengan keluarga besar Park dan Choi serta beberapa teman dekat mereka, karena malam ini keluarga Choi memang sengaja menyewa tempat ini untuk mengadakan makan malam bersama keluarga besar mempelai yang akan menikah besok malam. Salah satu keunggulan restoran out door ini, adalah kami dapat menyaksikan atraksi air mancur berbentuk gunung berapi ditengahnya. Benar-benar pertunjukan yang mengesankan.

Aku tersenyum ke arah Dae-jia yang malam ini terlihat sangat cantik dan anggun menggunakan gaun merah muda panjang dan rambut digelung ke atas.

“Duduklah Bi, kami sudah menunggumu”, ucap Dae-jia sopan. “Tadi siang aku belum sempat bertemu Bibi”.

“Ya, maafkan Bibi, tadi siang Bibi capek sekali Dae-jia, jadi Bibi tak bisa ikut makan siang bersama kalian”.

“Tidak apa-apa Bi, yang penting Bibi dan Kak Yoo-hee bisa hadir di pernikahanku, aku sudah sangat senang”.

Kami pun duduk di meja bundar yang sudah disiapkan bagi para tamu. Berbagai macam sajian menu internasional telah tersedia di meja prasmanan yang memanjang. Acara makan malam dimulai dengan meriah dan menyenangkan. Suasana santai dan akrab pun benar-benar terasa dengan diiringi suara musik yang mengalun lembut. Setelah acara makan malam selesai dilanjutkan dengan acara santai yang diisi dengan mengobrol bersama para tamu yang datang. Tiba-tiba Dae-jia mendekatiku dan menggamit lenganku agar mengikutinya.

“Kak, ada seseorang yang ingin kuperkenalkan padamu”, katanya sambil terus menarik lenganku.

“Siapa?”, tanyaku penasaran.

“Ayolah....ikut saja dulu”. Aku mencoba bertanya, tapi Dae-jia tak menjawab hanya terus tersenyum ke arahku. Kami berjalan menembus kerumunan tamu yang sedang asyik berbincang-bincang, sampai tiba-tiba—

Deg.....seerrrrr, jantungku rasanya berhenti berdetak saat itu juga, aku pun terpaku di tempat ketika melihat siapa pria yang tengah berdiri di depanku, ingin rasanya membenamkan diri di dalam tanah seketika. Pria itu benar-benar tampan, menggunakan setelan jas putih dengan kaos hitam melekat di tubuhnya. Memperlihatkan betapa kekar dan bidangnya dada itu. Kembali teringat kejadian siang tadi, saat tubuhnya yang tak memakai apa-apa berada sangat dekat dengan tubuhku, rasa bibirnya di bibirku, hangat nafasnya di kulitku.....Astaga, tidak, hentikan Yoo Hee, kau tak mengenal pria ini, apalagi setelah kejadian tadi, harusnya aku menamparnya karena telah lancang menciumku dengan cara seperti itu. Tapi apa yang kulakukan, aku justru memikirkan ciuman itu....Oh Tuhan, benar-benar tak bisa dipercaya, setan apa yang telah merasukiku.

Pria itu menunjukkan senyum samar ke arahku, dan menatapku lekat-lekat yang membuat jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Mengapa aku harus bertemu dengannya lagi, mengapa dia bisa ada di sini dan ada hubungan apa antara dirinya dengan Dae-jia, setelah kejadian memalukan tadi siang bagaimana aku bisa menghadapi pria ini dengan cara biasa. Dae-jia, kau tidak berniat memperkenalkan aku dengan pria ini kan?.

“Hai Kak”, Dae-jia menyapanya dengan akrab dan dia pun membalasnya dengan senyuman yang menurutku sangat menawan.

“Kak kenalkan, ini Kak Nam Gil, dia salah satu rekan bisnis Ayah Kak Si-won dan masih kerabat dekat Kak Si-won”, kata Dae-jia memperkenalkan.”Dan ini Kakak sepupuku Lee Yoo-hee”.

Mati aku....jadi benar pria ini yang akan dikenalkannya padaku?. Tanganku sedingin es sekarang, oh Tuhaan...kesalahan apa yang telah kuperbuat, hingga aku harus ditimpa kemalangan seperti ini. Dan yang lebih mengkhawatirkan lagi, statusnya yang masih kerabat dekat Si-won, sial.

“Senang berkenalan dengan Anda”, sapanya seraya mengulurkan tangan ke arahku dan aku hanya menyambutnya dengan kikuk dan seulas senyum yang kupaksakan. Aku yakin dia pasti menyadarinya, tapi syukurlah dia tak mengungkit masalah itu di sini. Entah betapa malunya diriku, jika sampai dia mengungkit hal itu di depan Dae-jia.

“Ya sudah, kutinggal dulu ya Kak, selamat bersenang-senang”, kata Dae-jia kemudian seraya mengedipkan sebelah matanya ke arahku.

Aku hanya bisa menatap adik sepupuku itu dengan tatapan pasrah dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dae-jia....teganya dirimu....meninggalkanku sendiri di lubang singa....

Ketika Dae-jia sudah berada cukup jauh dari tempat kami berada saat ini, dia mulai menyapaku “Apa kabar Nona keras kepala?”, diiringi seringai puas dan tatapan tajamnya yang mampu meruntuhkan tembok cina sekalipun.



~ to be continued.......

By Yuli ~Admin Lee~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar