Senin, 17 Januari 2011

THE REINCARNATION - Chap 19 - Fanfiction BIDEOK / NAMWON -

CHAPTER 19



Cast :

Bi Dam : Kim Nam Gil                             
Deokman : Lee Yo Won

Mi Shil : Go Hyun Jung                           
Yong Soo : Kim Jung Chul
Yong Choon : Do Yi Sung   
Kim Min Sun : TETAP


---------------------------------------------------------


- Lee Yo Won - 4 April 2011 -      

“Studio foto?” tanyaku heran saat Nam Gil menuntunku masuk ke dalam gedung bertingkat dua itu.

Nam Gil tersenyum. “Benar,” sahutnya singkat.

“Kau ingin membuat foto bersama?” tanyaku.

“Selamat datang!” sebelum Nam Gil sempat menjawab, pemilik studio foto itu telah datang menyapa kami.

“Kami ingin berfoto dengan pakaian tradisional,” kata Nam Gil langsung.

Pria itu tersenyum. “Ya, pilihan bagus. Ayo, silakan ikut ke belakang untuk memilih pakaiannya,” katanya ramah, lalu berjalan mendului kami.

“Kapan kau terpikir untuk melakukan ini?” bisikku sambil berjalan mengikuti pria tadi.

Nam Gil menyeringai. “Saat jam pelajaran sejarah tadi,” jawabnya.

Setelah memilih pakaian yang ukuran dan warnanya sesuai untuk kami, aku dan Nam Gil berpisah untuk berganti pakaian. Karena cukup sulit, aku memakai hanbok itu dengan bantuan asisten si fotografer.

“Rambutmu bagus,” puji wanita itu. “Lebih bagus kalau kau difoto dengan rambut dikuncir,” sarannya.

“Ya, kurasa itu ide bagus,” kataku setuju, dan membiarkan wanita itu menguncir rambut panjangku dan memberi sedikit riasan untuk wajahku agar tidak terlihat pucat saat di foto.

Ketika aku keluar dari ruang ganti wanita, ternyata Nam Gil sudah menunggu di depan pintu.

Si asisten tadi tersenyum melihat kami. “Wah, kalian benar-benar terlihat seperti pasangan di film kolosal,” komentarnya. “Kalian mengobrol saja dulu di sini, aku akan lihat apakah fotografernya sudah siap memotret kalian,” tambahnya sebelum pergi.


Mataku melahap keseluruhan diri Nam Gil yang memakai pakaian tradisional lengkap dengan topinya. Dia terlihat semakin tampan. Dadaku terasa sesak dengan tumpukan kasihku untuknya. Pakaian yang kami kenakan sekarang memang tidak sama seperti yang dulu kami pakai, tetapi melihatnya dalam balutan pakaian tradisional seperti ini mengingatkanku pada dirinya saat menjadi Bi Dam.

“Pakaian itu memang tidak sama dengan pakaianmu dulu, tapi melihatmu seperti ini mengingatkanku pada kecantikan dan keanggunanmu saat menjadi Putri Deokman,” kata Nam Gil, menyuarakan isi hatiku sendiri tadi.

Aku tersenyum dan melangkah mendekatinya. “Aku pun merasa begitu setelah melihatmu dalam pakaian ini,” kataku jujur.

Nam Gil menatapku dengan pandangan penuh cinta yang membuat hatiku tergetar. Tangannya terangkat untuk mengelus pipiku, membuat jantungku langsung berdegup kencang.

“Di kehidupan kali ini, aku bersumpah tidak akan membiarkan apa pun membuat kita terpisah lagi,” janji Nam Gil sepenuh hati.

Aku tersentuh saat melihat dan mendengar kesungguhannya mengatakan hal itu. “Aku pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini,” kataku. “Bila benar ini kesempatan terakhir, aku akan berusaha agar di kehidupan yang akan datang kita dapat kembali bersama.”

“Aku mencintaimu,” gumam Nam Gil. “Dirimu sebagai Deokman, dan dirimu sebagai Yo Won.”

Aku menggenggam tangan kirinya. “Aku juga mencintaimu. Bi Dam dan Nam Gil hanya nama. Jiwa yang mengisi nama-nama itu tetaplah sama, karena itu cintaku tak pernah berubah. hanya untukmu.”

Nam Gil menundukkan kepalanya. Dekat. Semakin dekat. Jantungku pun berdetak semakin kencang. Semakin cepat. Rasa senang, gugup, dan malu bercampur aduk dalam diriku.

Dan ketika akhirnya bibir Nam Gil menyentuh bibirku, seketika itu juga tubuhku terasa lemas seolah akan mencair. Sekujur tubuhku gemetaran, dan jantung ini rasanya seperti akan meloncat keluar. Agar tidak jatuh, aku mengalungkan tanganku ke leher Nam Gil, dan dia balik memeluk pinggangku dengan erat.

Bibirnya yang awalnya hanya menyentuh ringan bibirku, kini semakin menekan, walau tetap dengan penuh kelembutan. Aku tidak bisa berpikir. Otakku tak berfungsi. Aku hanya mengikuti gerakan Nam Gil. ketika dia memiringkan kepala, refleks aku pun memiringkan kepalaku. Saat Nam Gil menggigit pelan bibir bawahku, tubuhku langsung menggigil. Kehangatan yang awalnya berasal dari hatiku, kini menyebar ke sekujur tubuh.

“Persiapannya— ah, maaf.”

Kami langsung menjauhkan diri begitu mendengar kedatangan si asisten. Aku merasa gugup, kikuk, salah tingkah, dan… kacau. Aku yakin, bila sekarang berkaca, wajahku pasti terlihat semerah kepiting rebus. Ya Tuhan… ini ciuman pertamaku. Ciuman pertamaku dengan Nam Gil! Aku melirik Nam Gil, dan mendapati dirinya juga sedang melirikku. Sama-sama merasa jengah, kami saling memalingkan wajah.

“Eh, ayo, semua sudah siap,” kata asisten fotografer itu lagi dengan canggung.



- Kim Nam Gil - 5 April 2011 -   

Jam dindingku masih menunjukkan pukul lima pagi. Sejak semalam aku tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, pasti akan langsung teringat pada kelembutan kulit wajah dan bibir Yo Won. bibirnya yang mungil, merah, dan manis… Ya Tuhan, aku harus menghentikan ini! Namun sulit rasanya tidak mengingatnya. Bagaimana dia bereaksi dengan begitu polos. Dia mengalungkan tangannya di leherku dan membiarkanku menciumnya tanpa membalas sama sekali. Aku cukup berpengalaman—bagaimanapun juga sebelumnya aku pernah berpacaran beberapa kali—untuk tidak membuatnya takut atau kaget dengan ciumanku. Aku suka menciumnya. Sangat suka. Rasanya begitu tepat. Karena dia memang pasangan yang paling tepat untukku.

Lamunanku terganggu oleh bunyi ponselku. Buru-buru aku meraihnya dan berharap itu dari Yo Won, walaupun aku meragukan dirinya sudah bangun sepagi ini di hari libur. Dan ternyata benar, bukan Yo Won, melainkan kak Jung Chul. Ada apa?

“Halo?” sapaku.

“Maaf membangunkanmu,” kata kak Jung Chul. “tapi aku terbangun dan tak bisa tidur lagi, jadi kuputuskan untuk mencoba meneleponmu.”

“Tidak masalah, aku juga sudah bangun,” kataku santai. “Ada apa menelepon sepagi ini?”

“Pagi ini akan diadakan pesta di rumah. Datanglah,” pintanya.

“Pesta di rumah? Kau sedang berada di Seoul?” tanyaku kaget.

“Ya, aku baru sampai semalam,” jawabnya.

“Dalam rangka apa kau pulang ke Seoul? Apakah urusan penjualan perusahaan dan rumah Ayah?”

“Ya,” jawab kak Jung Chul. “perusahaan sedang dalam tahap tawar menawar, sedangkan rumah sudah dibeli. Karena itulah hari ini Ayah mengadakan pesta perpisahan dengan keluarga, tetangga dan teman-temannya.”

Rasa tak nyaman menyebar dalam dadaku. Sebentar lagi Ayah akan pindah ke Amerika bersama kak Jung Chul, padahal baru saja aku dan dirinya mulai akrab.

“Nam Gil?” desak kak Jung Chul. “Kau masih mendengarku?”

“Ya,” sahutku.

“Bisakah kau datang? Aku tahu kau membenci rumah ini, tapi demi Ayah kuharap kau mau datang.”

Bisakah? aku membenci kenangan yang ada dalam rumah itu, tetapi rumah itu sudah terjual. Melihatnya sekali lagi saja tak akan berarti apa-apa. “Baik, aku akan datang.”



Rumah itu tetap terlihat besar dan kokoh seperti dulu. Ketika melangkahkan kaki memasuki rumah itu langsung terbayang olehku kenangan ketika istri Ayah memukulku, tapi segera kusingkirkan pikiran itu dan berusaha santai.

“Nam Gil!” seru Ayah gembira saat melihatku. “Perkenalkan, ini putra keduaku, Kim Nam Gil,” katanya, memperkenalkanku pada teman-temannya.

“Tampan sekali,” puji seorang wanita tua diantara kerumunan itu.

“Sepertiku saat muda, kan?” canda Ayah, membuat kerumunan teman-temannya itu tertawa.

“Nam Gil!”

Aku menoleh ke arah suara pemanggilku, dan melihat Min Sun berlari mendekat. Hah… dia lagi.

“Ah, Min Sun yang cantik,” gumam Ayah. “Pergilah mengobrol dengannya.”

“Apa? Tidak—“

“Senang sekali bisa melihatmu lagi,” seru Min Sun, yang dengan cepat telah tiba di sisiku.

“Jangan berlebihan,” gerutuku sambil berusaha menghindar saat gadis itu ingin mencium pipiku.

“Paman Im Ho, bisakah aku meminjam Nam Gil sebentar?” tanyanya pada Ayah.

“Silakan. Pergilah kalian,” jawab Ayah geli.

“Terima kasih,” kata Min Sun manis. “Ayooo,” ajaknya sambil menarikku.

Ketika melihat kak Jung Chul sedang mengobrol dengan seorang pria di kursi teras belakang, aku menemukan alasan utuk melarikan diri dari Min Sun.

“Maaf, tapi aku tidak bisa menemanimu,” kataku tanpa penyesalan. “Aku ingin menyapa kakakku. Sudah lama kami tidak bertemu.”

“Oh, kak Jung Chul. Benar, aku juga sudah lama tidak bertemu dengannya,” kata Min Sun. “Baiklah, kalau begitu kita datangi dia.”

Sial. Tapi paling tidak aku tidak perlu berduaan dengannya. “Kakak,” sapaku.

“Nam Gil! ayo duduk,” ajaknya. “Min Sun? astaga, lama tak melihatmu, kau sudah sebesar dan secantik ini,” pujinya.

Min Sun tersenyum lebar. “Terima kasih,” sahutnya.

“Nam Gil, Min Sun, perkenalkan, ini sahabatku, Do Yi Sung, dan juga pembeli rumah ini,” kata kakak memperkenalkan pria yang menemaninya itu.

“Selamat pagi, Nam Gil,” sapa Do Yi Sung.

“Kau!” seruku kaget. Do Yi Sung pembeli rumah ini? “anda yang membeli rumah ini?” tanyaku, dan dijawab anggukan kepala pria itu.

“Kalian saling mengenal?” tanya kak Jung Chul kaget.

Do Yi Sung tersenyum geli. “Yah, kami sudah bertemu beberapa kali,” jawabnya sambil melayangkan tatapan bersekongkol denganku.

Kak Jung Chul terlihat masih penasaran, tapi tidak lagi membahasnya dan melanjutkan obrolannya dengan Do Yi Sung. Min Sun yang duduk di sebelahku terus bicara, tapi aku tidak mendengarkannya karena lebih tertarik pada pembicaraan kak Jung Chul dan Do Yi Sung.

“Kuharap kau tidak buru-buru ingin pindah kemari,” kata kakak. “Karena kami baru siap berangkat pada tanggal 11 atau 12 nanti.”

Do Yi Sung bersandar di kursinya dengan santai. “Tidak masalah, aku tidak terburu-buru. Lagi pula sebenarnya aku membelinya bukan untukku, melainkan untuk kekasihku,” katanya. “Dan saat ini dia masih sibuk menghabiskan uangku di Milan, jadi rumah ini tidak akan diperlukan dalam waktu dekat.”

Kak Jung Chul tertawa. “Apakah ini masih gadis yang sama yang tiga bulan lalu kulihat bersamamu di New York?”

Do Yi Sung tersenyum geli. “Bukan. Gadis yang kau maksud itu kesal karena aku tidak juga bersedia menikah dengannya, dan akhirnya memutus hubungan kami. Ini gadis baruku.”

“Kau tidak berubah,” komentar kakak geli. “Masih suka mempermainkan gadis.”

Do Yi Sung hanya menanggapinya dengan senyum santai. “Apakah Nam Gil juga akan ikut pindah bersama kalian ke Amerika?” tanyanya.

“Apa!?” seru Min Sun, tiba-tiba menghentikan ocehannya tentang teman-temannya dan memfokuskan pendengaran pada apa yang baru ditanyakan Do Yi Sung. “Kau akan ikut pindah ke Amerika? Kenapa tidak mengatakannya padaku?”

Aku mendelik kesal padanya. “Aku tidak akan pindah kemanapun,” kataku dingin. “Dan kalaupun aku akan pindah, apa urusannya denganmu?”

Min Sun memasang tampang cemberut. “Aku selalu menyukai Amerika,” katanya tanpa ditanya. “Kalau kau juga pindah ke sana, aku bisa minta orangtuaku mengirimku bersama kalian. Pasti menyenangkan bila bisa tinggal bersama-sama di Amerika.”

Kak Jung Chul tertawa. “Aku bahkan belum mengundangmu tinggal di rumahku, tapi kau sudah menawarkan diri,” godanya. “Tapi tidak apa-apa. Kalau kau benar ingin pindah ke Amerika, hubungi saja aku, akan selalu ada kamar kosong untukmu,” janjinya.

Wajah Min Sun langsung berbinar. “Benarkah? Terima kasih, Kak!”

“Kau benar tak mau mempertimbangkan untuk ikut bersamaku dan Ayah?” tanya kak Jung Chul padaku.

Aku menggeleng. “Tidak,” kataku tegas. Aku mungkin akan merindukan mereka nantinya, tapi itu masih lebih baik, dibanding harus berpisah jauh dari Yo Won. Aku tidak akan sanggup.

“Kenapa tidak? Amerika sangat menyenangkan. Kita pindah ke sana saja,” bujuk Min Sun.

“Kau saja yang pindah ke sana,” gerutuku.

“Hah… kau benar-benar keras kepala,” gerutu kak Jung Chul. “Baiklah, terserah kau saja. tapi bila kau berubah pikiran, katakan saja, aku akan mengurus semuanya dengan cepat.”

Aku tersenyum. “Baik,” sahutku.

Ponselku berbunyi. Yo Won. “Ya? ada apa?” tanyaku langsung.

“Apa kau sedang sibuk?” Yo Won balik bertanya.

“Tidak,” jawabku. Sekalipun aku benar sibuk, pasti akan kusempatkan waktu untuk Yo Won.

“Bisakah kita bertemu siang ini?”

“Kenapa? kau merindukanku?” godaku.

“Ada yang ingin kubicarakan,” jawab Yo Won serius, tidak seperti biasanya.

“Apa ada hal buruk yang terjadi?”

“Tidak,” sahut Yo Won cepat. “Tapi aku perlu membicarakan sesuatu denganmu.”

“Baiklah. Jam berapa kau ingin aku datang?” tanyaku.

“Jam dua belas siang ini,” jawabnya.

Aku melirik jam tanganku. Masih jam setengah sepuluh. “Baik. Di mana?”

“Di rumah Ayahku. Baiklah, sampai jumpa nanti,” katanya.

“Ya, sampai nanti,” sahutku, kemudian memutus sambungan telepon.

“Siapa? Gadismu?” goda kak Jung Chul. “Diakah alasanmu tak ingin pindah?”

Aku menyeringai. “Begitulah.”

“Apakah gadis yang waktu itu pergi denganmu?” tanya Min Sun. “Kau masih berhubungan dengannya?” gerutunya.

Seringaiku semakin lebar. “Tentu saja. Selamanya kami akan berhubungan. Bahkan setelah kematian,” kataku puas dan yakin.



Jam dua belas kurang sepuluh menit aku sudah sampai di rumah keluarga Lee. Oleh pelayan, aku dibawa ke halaman belakang, menuju rumah kaca.

“Nona, teman anda datang mencari,” kata pelayan itu melapor. “Permisi,” pamitnya kemudian.

Yo Won yang sedang asyik membaca, menutup bukunya dan tersenyum padaku. “Kau lebih cepat sepuluh menit,” komentarnya.

Aku masuk dan duduk di kursi yang bersebelahan dengannya. “Aku tidak sabar ingin bertemu denganmu,” sahutku jujur. “Bunga-bunganya indah,” komentarku, mengamati seisi ruangan.

“Bunga-bunga yang dulu dirawat Ibuku. Sekarang hanya ditangani tukang kebun,” kata Yo Won.

Aku menatapnya penasaran. “apa yang ingin kau bicarakan denganku?”

Yo Won menatapku tajam. “Kau ingat ceritaku dulu? Mengenai alasan Ibu memabawaku pergi dari Ayahku?”

Aku mengangguk. “Karena ayahmu berselingkuh, kan?”

“Sebenarnya Ayahku tidak berselingkuh,” kata Yo Won hati-hati. “Orangtuaku mengalami kesalah pahaman parah karena pada suatu malam Ibuku melihat…”

“Melihat apa?” tanyaku semakin penasaran.

Yo Won mengalihkan pandangannya dariku ke arah bunga bunga lili yang dirangkai indah dalam vas yang diletakan di tengah meja. “Ibuku melihat Bibi Hyun Jung… Ibumu… sedang mencium Ayahku.”

Kaget masih terlalu ringan untuk mendefinisikan apa yang kurasakan sekarang. Aku benar-benar… terkejut, tak percaya, dan malu. Ibu melakukannya? Ibu juga mencoba merayu saudara tirinya sendiri!?

“Maaf, bukan maksudku untuk menyakiti hatimu, hanya saja, kurasa sudah saatnya kau tahu masalah antara keluargaku dengan… Ibumu,” katanya hati-hati.

Aku masih tak mampu bersuara. Jadi inilah alasan permusuhan antara Ibu dan Tuan Lee. Karena Ibu sudah menghancurkan rumah tangga kakak tirinya. Aku menatap Yo Won dengan sedih. Karena Ibuku, Yo Won hidup terpisah dari Ayahnya sejak kecil. Lagi-lagi karena Ibu. Bahkan di kehidupan yang lalu pun, Ibu jugalah yang memperumit hidup Yo Won saat menjadi Deokman. Pasti Yo Won sangat membenci Ibu.

“Nam Gil?” panggil Yo Won.

“Pantas saja kau memandang Ibuku penuh kemarahan dan kebencian,” gumamku mengingat beberapa kejadian yang mempertemukan mereka berdua. “Tapi selama ini aku tidak pernah benar-benar memperhatikan hal itu.”

“Maaf, karena sudah membuatmu sedih,” kata Yo Won lagi. “Tapi Ayahku mendesak agar aku menceritakannya padamu secepatnya.”

Aku tersentak kaget. “Ayahmu? Apakah dia tahu kalau sebenarnya aku bukan keponakan, melainkan anak Ibuku?” tanyaku.

“Dia sudah menebaknya saat malam itu kau mengaku keponakan bibi Hyun Jung,” jawab Yo Won. “Dia tahu skandal ibu dan ayahmu, dan langsung menghubung-hubungkan kemiripanmu dengan kedua orangtuamu dan nama Kim yang kau sandang. “

“Apa dia… membenciku? Apa dia tidak menyukai hubunganmu denganku? Karena itukah dia mendesakmu untuk mengatakan ini padaku?” desakku.

“Tidak, tidak begitu,” bantah Yo Won. “Ayahku tidak pernah membencimu. Sekalipun dia marah pada Ibumu, itu tidak ada hubungannya denganmu.”

“Bagaimana denganmu?” tanyaku langsung. “Apa kau tidak terganggu karena berpacaran dengan anak dari orang yang menghancurkan pernikahan orangtuamu?”

“Tidak. Karena cintaku padamu lebih besar dibanding amarahku pada Ibumu,” jawab Yo Won bersungguh-sungguh.

Mendengarnya, membuat hatiku yang gelisah menjadi lebih tenang. Aku meraih tangan Yo Won dan menggenggamnya erat. “Terima kasih. Karena jujur padaku, dan karena tetap mencintaiku dalam situasi seperti ini,” ucapku tulus.

Yo Won mencondongkan tubuh ke arahku dan tersenyum. “Tak perlu berterima kasih. Dalam situasi apapun, hatiku tetap milikmu,” katanya.



To Be Continued...

by Destira ~ Admin Park ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar