Selasa, 11 Januari 2011

HARUMAN / 하루만 (Just One Day) FF NC

Hai 'elfanfic' Mania, sesuai permintaan, Saya (Admin Lee) membuat FF NC yang pernah saya janjikan, tapi sebelumnya saya ingin berterima kasih kepada admin Park yang sudah membantu menjadi editor hingga FF ini menjadi lebih baik, terima kasih banyak Park...tanpa bantuanmu mungkin FF ini tidak akan berkesan...*Bow* mohon maaf jika FF ini tidak berkenan di hati pembaca khususnya penggemar Nam Gil Oppa, karena ini hanya Fanfiction jadi bukan hal yang nyata *kebanyakan bacot*

Seperti kebanyakan FF NC yang lainnya, saya akan memberi peringatan khususnya bagi yang belum cukup umur dimohon jangan membaca FF ini karena tidak baik bagi kesehatan, ya sudah daripada kebanyakan bacot saya langsung saja pada FFnya, selamat menikmati.


________________________________________

HARUMAN / 하루만 (Just One Day)





- Kim Nam Gil -           

“Pagi, kak,” sapa seorang gadis manis berambut panjang, mengagetkanku yang kini sedang duduk termenung seorang diri di taman rumah sakit.

“Ahh… kau Yoo Hee,” balasku.

Sudah 2 minggu yang lalu aku mengenalnya, sejak aku diperbolehkan keluar menggunakan kursi roda oleh dokter. Setiap pagi aku pergi ke taman rumah sakit untuk menghilangkan rasa penat dan bosan karena suda satu bulan aku dirawat di rumah sakit ini. Ya, tidak terasa sudah lewat satu bulan sejak kematian sahabatku dalam perang yang dilancarkan Korea Utara di pulau Yeonpyong.

Masih segar dalam ingatanku. Hari itu kami sedang melancarkan serangan di pulau Yeonpyong, perbatasan barat antara Korea Selatan dan Korea Utara yang sebelumnya telah berhasil diserang Korea Utara dengan meluncurkan bom artileri. Aku dan teman-teman satu peleton yang saat itu sedang melaksanakan wajib militer dikirim ke perbatasan untuk melakukan serangan balasan.

Peperangan berlangsung sangat sengit, dengan suara tembakan terdengar dimana-mana. Suatu ketika komandan perang menyatakan mundur, namun aku tak bisa bergerak karena kakiku tertimpa sebuah pohon besar, membuatku tak dapat merasakan kakiku lagi. Aku sudah pasrah, tapi Eun Jo datang bagaikan dewa penyelamat bagiku, dia menyelamatkanku dengan berusaha mengangkat pohon itu seorang diri. Akhirnya dia berhasil menarikku keluar, dan saat kami sedang berlari, sebuah peluru melesak mengenai punggung Eun Jo. Malam itu Eun Jo tewas. Aku merasa bersalah atas kematiannya. Dia harus mati karena menolongku. Seandainya dia tidak pergi untuk menolongku, pasti dia tidak akan mati…

“Hai… apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Yoo Hee dengan senyum cerianya, mengembalikanku ke masa kini.

“Eh… tidak ada,” jawabku sekenanya.

“Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu,” tanyanya, masih penasaran dengan apa yang kupikirkan tadi.

“Benar, tidak ada yang serius. Aku hanya ingin menikmati indahnya pagi ini.”

“Oh… oke, kalau kau memang tidak ingin menceritakannya padaku, aku tidak keberatan,” ucapnya sambil terus tersenyum.

Kupandangi mata hitam jernihnya yang menatapku dengan penuh perhatian. Dia gadis yang baik. Setiap pagi dia selalu menghiburku dengan cerita-ceritanya yang sarat makna, sejak mengenalnya aku menjadi lebih baik. Cerita-cerita yang selalu dituturkan dengan lancar dari bibirnya yang mungil mengembalikan  semangat hidupku yang hilang semenjak kematian Eun Jo.

Keceriaannya yang lugu dan tulus membuatku kembali tersenyum. Aku selalu mengingat kata-katanya yang mengatakan bahwa penyesalan panjang tidak akan ada gunanya, karena masa lalu ada untuk dipelajari bukan untuk disesali. Usianya memang beberapa tahun lebih muda dariku, tapi kata-katanya yang sarat makna mampu membuatku terkesima dan mulai kembali menata hidupku yang hancur berantakan.

Sampai sekarang aku belum tahu penyakit apa yang dideritanya hingga dia dirawat di rumah sakit ini. Setiap kali aku ingin menanyakannya, pertanyaan itu sirna begitu saja saat melihat senyum ceria yang selalu tersungging di bibirnya itu, seolah-olah dia tidak sedang menderita penyakit apapun.



“Kak, kau melamun lagi,” ia kembali menyentakku dari lamunan. “Kau tidak perlu memikirkan mengapa diriku bisa secantik ini,” tambahnya diiringi tawa cerianya.

Sontak aku ikut tertawa mendengar perkataannya tersebut. “Mengapa kau selalu seceria ini, seolah-olah kau tidak menderita penyakit apapun?” tanyaku tiba-tiba dengan pertanyaan yang selama ini membuatku penasaran.

Dan dia pun menjawab dengan diiringi senyum khasnya, “Keadaan seseorang itu juga ditentukan oleh pikirannya, jika pikirannya baik pasti keadaannya juga akan membaik,” ucapnya santai.

“Aku suka caramu dalam memandang hidup,” ujarku tulus.

“Hidup itu indah, jadi selama kita masih diberi kesempatan untuk hidup kenapa kita tidak menikmatinya?” katanya. “Masih banyak orang di luar sana yang tak memiliki kesempatan sebaik kita. jadi, selagi masih bisa menikmati, lebih baik kita nikmati kehidupan ini," ia berhenti untuk tersenyum, "Oh iya, aku harus kembali ke kamar, Dokter pasti bingung mencariku,” ujarnya sambil terkekeh pelan. Yoo Hee menepuk pundakku. “Kak… semoga cepat sembuh. Kau juga harus memenuhi janjimu untuk membelikanku es krim,” ia mengingatkan.

Ya, aku baru ingat, dia bilang ingin makan es krim, karena dia sudah bosan sekali dengan makanan di rumah sakit ini. Hah… aku pun sudah bosan, Yoo Hee. Aku terus menatap punggungnya hingga menghilang di balik tembok rumah sakit.

***

“Besok kau bisa pulang Tuan Kim,” kata dr. Kang.

Aku senang sekali mendengarnya, kata-kata itulah yang kutunggu selama ini, karena aku sudah bosan berada di rumah sakit. Mungkin bila tidak mengenal Yoo Hee dan mendengarkan cerita-ceritanya, aku tak akan sebahagia ini menyambut kepulanganku. Yoo Hee benar, jika kita hanya memikirkan hal-hal baik, maka yang terbaik pulalah yang akan kita dapat.
Aku akan memberitahu Yoo Hee tentang berita kepulanganku besok. Dia pasti senang karena aku akan menepati janjiku padanya tentang es krim itu. Bergegas aku mengambil tongkatku, dan menuju ke taman. Biasanya jam segini dia sudah di sini dan bermain-main dengan anak-anak kecil yang juga dirawat di rumah sakit ini. Tapi hari ini dia tak ada. Kemana dia? kuedarkan pandangankan menyusuri taman rumah sakit, tapi tak kutemukan juga sosoknya.

“Baaa!!!” tiba-tiba kurasakan tepukan seseorang di belangkangku.

"Astaga! Yoo-hee! jantungku rasanya mau copot!,” gerutuku pura-pura kesal.

“Haha… aku melihat sepertinya kau sedang mencari sesuatu, ku asumsikan bahwa kau sedang mencariku—karena setahuku temanmu di sini cuma aku—makanya aku sengaja bersembunyi untuk mengagetkanmu,”cerocosnya panjang lebar, membuatku tersenyum geli.

“Ya, kau benar aku memang mencarimu,” aku berkata sambil menahan senyum.

“Ada berita apa? Sepertinya kau senang sekali?” 

“Aku akan memenuhi janjiku membelikanmu es krim,” Ia tampak terkejut mendengarnya.

“Apa? Jadi… kau sudah bisa pulang?”

“Ya, tadi dr. Kang mengabariku bahwa besok aku sudah bisa pulang, dan itu artinya aku bisa membelikanmu es krim,” candaku.

“Waaahh… selamat ya, Kak!” ucapnya tulus sambil menggenggam tanganku, “Aku ikut senang mendengarnya.”

“Kau tidak sedih akan kutinggalkan?” godaku.

“Egois sekali,” ucapnya. “mana mungkin aku sedih saat temanku senang, teman macam apa itu?”

***

Sepuluh hari telah berlalu semenjak kepulanganku dari rumah sakit, dan kini aku sudah dapat berjalan tanpa menggunakan tongkat, walaupun langkahku masih terseok-seok. Hari ini ku putuskan untuk mengunjungi Yoo Hee di rumah sakit. Aku sudah sangat merindukannya. Aku yakin dia juga pasti  sangat menantikan kedatanganku untuk memenuhi janjiku membawakannya es krim.

Pagi-pagi sekali aku segera bergegas ke sebuah supermarket,  membeli es krim vanilla untuk Yoo Hee dan menuju ke rumah sakit.

Perlahan kubuka pintu kamarnya. Dia sedang berbaring di ranjang menghadap jendela. “Permisi…” sapaku, tapi dia tak menoleh. “Yoo Hee, kau marah padaku?” tanyaku seraya mengguncang pundaknya.

“Ku pikir kau sudah melupakanku,” katanya dengan nada dingin.

“Mana mungkin aku melupakanmu,” sergahku.

“Tapi mengapa kau baru berkunjung?” tanyanya dengan ekspresi sedih.

“Maaf Yoo Hee, aku sengaja menunggu sampai kakiku bisa berjalan lagi tanpa menggunakan tongkat, baru aku menemuimu,” kucoba menjelaskan tentang keterlambatanku ini. “Kupikir akan repot kalau aku masih mengenakan tongkat,” lanjutku.

“Apakah kau membawakan pesananku?” tanyanya sambil terus menatap jendela dan tak mengacuhkan keberadaanku.

“Tentu saja. Ini dia Es krim yang kau minta,” kataku sambil menyodorkan es krim rasa vanila itu padanya.

Dia menatapku dan tersenyum senang, perubahan ekspresinya yang tiba-tiba mebuatku terkejut. “Apakah aku terlihat benar-benar marah?” tanyannya disertai tawa renyahnya.

Astaga… .jadi tadi itu hanya sandiwara? “Kau ini...” ujarku sambil mencubit pipinya gemas.

“Awww! Sakit!” gerutunya sambil memperlihatkan senyum isengnya yang sangat kurindukan.

“Makanlah. Katanya kau ingin makan es krim.”

“Ya, nanti saja. Ada yang ingin kubicarakan denganmu,” ucapnya serius.

“Apa itu?” tanyaku penasaran.

“Aku… punya satu permintaan untukmu,” ucapnya ragu-ragu.

“Permintaan apa?”

“Tapi kau harus berjanji memenuhinya,” katanya sambil menatapku penuh arti.

“Selama aku bisa melakukannya, pasti akan kulakukan untukmu,” kataku tulus.

“Aku ingin… kau mengajakku jalan-jalan,” ucapnya lirih. Aku tertawa mendengarnya. “Aku belum selesai,” lanjutnya menghentikan tawaku. “Aku ingin kau membawaku jalan-jalan ke luar dari rumah sakit ini,” tentu saja aku terkejut mendengarnya.

“Kau bercanda, kan?” tanyaku dengan ekspresi bingung.

“Tidak. Aku sungguh-sungguh. Kak, ku mohon… aku sudah bosan berada di sini. Hari ini saja… dan aku akan sangat berterimakasih padamu,” pintanya penuh harap.

“Tapi, bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu?”

“Tidak akan terjadi sesuatu padaku. Percayalah. Aku sudah sembuh, Kak, hanya saja sepertinya Dokter terlalu menyukaiku sehingga dia tidak mengijinkanku pulang dulu. Aku mohoooon…” pintanya. Matanya yang sehitam beledu menatapku dengan tatapan memohon, aku tak bisa menolaknya jika sudah begini, aku sangat menyayanginya dan aku akan melakukan apapun untuk membuatnya bahagia. Lagi pula, toh hanya sehari ini.

“Baiklah. Tapi bagaimana kita bisa keluar dari sini?” tanyaku, yang segera disambut dengan senyumannya.

“Benarkah? Kau akan melakukannya untukku?” tanyanya senang, kemudian memelukku erat “Aku menyayangimu, Kak!” ucapnya tulus di telingaku. Aku juga menyayangimu Yoo Hee. “Jangan khawatir Kak, tidak akan ada yang tahu,” katanya meyakinkanku.

Yoo Hee bergegas ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Aku tidak menyangka akan menuruti kemauannya ini. Bagaimana bila terjadi sesuatu padanya? Tidak, dia terlihat sangat sehat, Nam Gil, kau harus percaya padanya.


Beberapa menit kemudian Yoo Hee keluar dari kamar mandi dan telah mengganti piyamanya dengan gaun putih selutut dan berhias pita hitam di bagian pinggang. Dia duduk di pembaringan seraya menyisir rambut hitamnya yang panjang dan membubuhkan gincu tipis di bibirnya. Aku belum pernah melihatnya dengan dandanan seperti ini. Yoo Hee tampak manis sekali. Selama ini aku hanya melihatnya dalam balutan piyama rumah sakit. Dia terlihat berbeda sekarang, Rambutnya yang hitam dan panjang dibiarkannya terurai, seperti dirinya yang ingin bebas. Aku tak dapat mengalihkan pandanganku darinya. Saat ini dia tidak terlihat seperti sedang sakit.

“Hei, Kim Nam Gil!” serunya, mengejutkanku. “Apa yang sedang kau pikirkan? Apakah kau terpesona dengan kecantikanku?” tanyanya, tiba-tiba membuatku salah tingkah karena tertangkap basah sedang memikirkannya.

“Ah… tidak,” dustaku sembari menggelang. “Ayo, cepat, mumpung masih pagi,” ajakku, segera berbalik untuk menyembunyikan rasa maluku.

“Hmm… baiklah,” katanya sambil menggandeng lenganku.

Deg… Apa ini? Kenapa tiba-tiba jantungku berdetak lebih cepat? Saat tangan lembutnya menyentuh lenganku, aku merasakan aliran hangat mengaliri jantungku. Ya Tuhan… apa yang terjadi padaku?

***

Kami melewati hari ini dengan bersenang-senang di sebuah taman bermain, tepatnya di Seoul Grand Park. Di sini terdapat arena bermain, kebun binatang, dan sebuah danau kecil yang indah. Dia terlihat begitu bahagia hari ini. Sejak tadi dia tak berhenti tersenyum. Senyum yang sangat indah dan menggetarkan hatiku. Ah… Kim Nam Gil, kau mulai lagi. aku berusaha menepis pikiran yang tidak-tidak di otakku.

 “Kak, ayo kita ke pinggir danau,” ia menarik lenganku untuk mengikutinya.

Kami berjalan bak sepasang kekasih ke tepi danau. Kami duduk di kursi panjang sambil memandangi indahnya danau di depan kami, dia menyandarkan kepalanya di bahuku. “Aku senang sekali hari ini. Terimakasih, Kak, aku tak akan melupakannya,” ucapnya tulus.

“Aku senang jika kau senang.”

Dia menatapku. Wajah kami saling berdekatan. Aku tak kuasa menahannya lagi. Kutangkup wajahnya dengan kedua tanganku dan mencium lembut bibirnya. Yoo Hee pun membalas ciumanku, membuat darahku berdesir karenanya. Kurasakan tangannya telah dirangkulkan di bahuku, memberiku dorongan untuk memeluk pinggangnya. Kami terlarut dalam buaian ciuman selama beberapa saat, hingga akhirnya aku tersadar, dan segera menghentikannya, karena mengingat Yoo Hee harus kembali ke rumah sakit sebelum malam.

“Yoo Hee, kita harus kembali,” ujarku lembut.

“Baiklah,” gumamnya setuju, dan kami pun bergegas menuju ke mobil. “Emm, Kak, sebenarnya ada satu lagi yang kuinginkan… aku… ingin melihat matahari terbenam di pinggir pantai,” pintanya. “Aku janji ini permintaan terakhirku,” tambahnya buru-buru. “Setelah itu, kita benar-benar akan langsung pulang,” janjinya.

“Oke, kita ke sana,” kataku setuju, lalu segera melajukan mobilku ke pantai sesuai keinginannya.

Kami sampai di pinggir pantai Daecheon, dan tepat saat kami tiba, matahari mulai sembunyi diperaduannya.

“Indah sekali,” desahnya sambil memandang matahari terbenam di pinggir pantai. Rambutnya yang terurai menjadi berantakan tertiup semilir angin pantai sore ini.

“Ayolah, kita harus kembali,” ajakku. “Bagaimana kalau ibumu dan pihak rumah sakit mencarimu?” tanyaku khawatir.

“Sebentar, Kak, aku masih ingin menikmati hari ini,” ia bergumam seolah tak akan pernah ada hari esok.

Setelah capek berdiri, kami kembali ke mobil. Kupandangi dirinya, wajahnya kembali memancarkan kebahagiaan yang tiada terkira. Kemudian, yang membuatku sangat terkejut, secara tiba-tiba Yoo Hee mengecup bibirku. “Terima kasih atas segalanya,” ucapnya sambil lalu.

Darahku kembali berdesir. Mata hitamnya menatapku dengan pandangan penuh rasa terima kasih. Aku mengecup keningnya penuh kasih. “Tidak perlu berkata begitu,” kataku tulus. “aku pun senang bisa berdua denganmu.”


Dia memelukku erat seakan kami tak ingin berpisah. Kutangkup wajahnya, menatapnya lekat-lekat. “Nanti, saat kau sudah sembuh, aku akan mengajakmu jalan-jalan sepuasnya,” janjiku.

“Bagaimana kalau aku tak pernah sem—“ Belum sempat Yoo Hee menyelesaikan kalimatnya, kulumat bibirnya yang hangat dan basah. Dia pun dengan terbuka membalas ciumanku. Lidahku menjelajahi seluruh rongga mulutnya. Semakin lama ciumanku semakin mengganas. Kualihkan ciumanku ke lehernya dengan penuh antisipasi, mencari-cari tanda ketidaksukaannya atas tindakanku, tapi tak ada penolakan sedikit pun darinya, sebaliknya Yoo Hee justru mendesah senang menerima ciuman-ciumanku.

Dengan berani tanganku menemukan risleting pakaiannya yang terletak di bagian punggung, dan mulai menurunkannya. “Kak,” ucapnya menyelaku.

“Maafkan aku, Yoo Hee, aku tak bermaksud—“

“Sssst.” Yoo Hee menempelkan jari telunjuknya di bibirku. “Aku tak melarangmu. Aku… juga menginginkannya,” ujarnya malu-malu. “Sebaiknya kita pindah ke jok belakang,” tambahnya.

Sesuai sarannya, dan demi kenyamanan, kami pun pindah ke jok belakang. Kami kembali berciuman sambil menanggalkan pakaian kami satu persatu. Kubelai tubuhnya yang lembut tanpa kulewatkan sedikitpun. Dadanya yang penuh sangatlah menggoda. Kubenamkan wajahku di sana, lalu kukecup puncak merah muda yang sangat kontras dengan kulit putihnya dan mulai mengeras. Aku berlama-lama bermain di sana, membuat Yoo Hee gemetar oleh hasrat tak tertahankan. Yoo Hee melenguh senang menerima perlakuanku. Kutelusuri perutnya hingga ke bawah, membuat tubuhnya bergetar saat kumasukkan jemariku ke sana. Ia melengkungkan tubuhnya ke depan.

“Sekarang, Kak,” bisiknya penuh rasa damba.

Perlahan kutelusuri tubuhnya, menyentuh setiap jengkal dari tubuh lembutnya yang terasa hangat di kulitku. Aku berusaha menahan nafsuku dan bergerak selembut mungkin karena tahu ini saat pertamanya, namun selembut apapun, tetap saja dia merasa sakit di permulaan hingga membuatnya memekik pelan saat kumasuki tubuhnya.

Aku menggeram merasakan sensasi yang menyelubungi tubuhku ketika merasakan penyatuan kami. mudah sekali untuk lepas kendali, tapi aku berusaha sekuat tenaga untuk tak bergerak hingga Yoo Hee dapat menyesuaikan diri dengan tubuhku dan merasa lebih nyaman. Tak berapa lama, Yoo Hee mulai rileks kembali, membuatku berani mendorong masuk semakin dalam, membuatnya mengeluarkan lenguhan-lenguhan yang menandakan kenikmatan yang dirasakannya. Erangan nikmat pun meluncur keluar dari tenggorokanku. Aku tak pernah merasakan sesuatu seperti ini…

Merasakan penerimaan Yoo Hee, ditambah nafsuku sendiri yang sudah sulit untuk dibendung, aku pun bergerak cepat, cepat, dan makin cepat, membuat kami berdua sama-sama berkeringat dan terengah-engah. Walau jelas ini pengalaman pertamanya, Yoo Hee terbilang cukup agresif. Dia dapat mengimbangi gerakanku dengan sangat manis. Kami bergerak bersama mengikuti irama hati kami yang bahagia, hingga akhirnya sama-sama merasakan klimaks. Bukan klimaks biasa… ini yang terhebat dalam hidupku. Aku tak pernah merasakan ini. baru dengan Yoo Hee. Hanya dengannya.

Kutatap wajahnya yang terlihat letih namun puas dan bahagia, lalu kukecup keningnya, matanya, hidungnya hingga bibirnya. “Aku Mencintaimu, Yoo Hee,” bisikku ditelinganya.

“Aku juga sangat mencintaimu, Kak,” balasnya, lalu memelukku erat. Kami berpelukan selama beberapa saat dalam diam, hingga aku teringat bahwa aku harus segera mengantarnya ke rumah sakit.

Kami bergegas berpakaian, lalu aku mengantarkannya pulang. Benar saja, ibu Yoo Hee sudah kebingungan mencarinya ke sana-kemari, begitu juga para perawat yang merawatnya. Ketika kami datang ibunya langsung menyerbu kami dengan banyak pertanyaan “Kemana saja kau? Kau tahu ibu sangat mengkhawatirkanmu? Kalau terjadi sesuatu padamu, ibu tidak akan memaafkan dia!” kata ibunya kasar sambil menunjuk ke arahku.

“Ibu, sudahlah. Sekarang aku sudah pulang dengan selamat, jadi ibu tidak perlu marah pada kak Nam Gil. Lagi pula, akulah yang memaksanya untuk membawaku keluar. Ini bukan salahnya,” kata Yoo Hee menenangkan ibunya yang panik. “Kak, pulanglah,” katanya padaku. “Terima kasih atas semuanya,” ucapnya lirih seraya tersenyum menatapku.

Melihat senyumnya, aku pun membalasnya dengan senyuman yang tulus terpancar dari hatiku. Aku pun berbalik pulang sambil sesekali menatapnya yang menjauh. Yoo Hee, aku tak akan melupakan malam ini. Tak akan pernah…

***

Trrrrrttt… trrrrtttt… ponselku bergetar. Terpampang sebuah nomor tak kukenal di sana. “Hallo,” sapaku pada si penelepon, tapi tak terdengar balasan, hanya sayup-sayup terdengar isak tangis dari seberang sana. “Hallo?” ulangku lagi. “Siapa ini?”

 “Yoo Hee…” ucap si penelepon pelan, membuatku tersentak mendengar nama gadis yang telah menenpati bagian terbesar hatiku itu, lalu kembali ku dengar isak tangis setelahnya tanpa ada ucapan atau penjelasan apa pun lagi. Hatiku resah. Ada apa dengan Yoo Hee-ku?

Aku bergegas menuju rumah sakit tempat Yoo Hee dirawat, tapi… aku terlambat. Ketika tiba di sana, aku hanya bisa berdiri terpaku tak berdaya saat kusaksikan orang yang sangat kukasihi tergeletak tak bernyawa di depan mataku. Hatiku hancur. Kurasakan cairan hangat membasahi pipiku. Yoo Hee, kenapa kau meninggalkanku seperti ini!?


“Ini surat yang dituliskannya untukmu,” kata ibu Yoo Hee padaku dengan suara yang bergetar karena kepedihan. “Kuharap kau mau memaafkan segala kesalahan putriku, jika dia pernah bersalah padamu.” Ya, dia bersalah padaku. Teganya dia meninggalkanku seperti ini!? Aku tak pernah menyangka bahwa malam itu adalah pertemuan terakhir kami. Kupikir… kupikir ada banyak waktu untuk kami habiskan bersama… banyak hal yang belum pernah kami lakukan bersama…

Kurangkul ibunya yang sekarang menangis semakin keras. “Apa yang terjadi padanya? Apakah ini semua karena aku?” tanyaku. Aku tak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri bila ternyata aku ikut bertanggung jawab dalam kematiannya…

“Tidak, dia sudah menderita sejak kecil. Ada kelainan pada jantungnya, dan dokter sudah memvonisnya tak akan bertahan sampai usia 20 tahun. Bila sampai usia 20 tahun dia belum juga mendapatkan donor, maka hidupnya akan berakhir…” kata ibunya, menjelaskan sambil terisak.

“Bibi, tenangkan dirimu. Yoo Hee tak akan senang bila melihat kita menangis,” kataku menenangkannya, walau sebenarnya aku pun tak yakin bisa menepati perkataanku sendiri. kehilangan Yoo Hee seperti ini… Aku tak sanggup.




Aku duduk di taman rumah sakit, tempat pertama kali kami bertemu. Aku  mencari tempat tenang untuk membaca surat terakhir yang dituliskan Yoo Hee untukku.

Hai, Kak.
Saat kau membaca surat ini mungkin aku sudah tidak lagi berada di dunia yang sama denganmu. Aku ingin mengucapkan terimakasih atas semua yang pernah kau berikan padaku. Aku juga minta maaf karena tak pernah menceritakan tentang penyakitku padamu. Selama ini aku sudah berusaha untuk terus optimis dan berharap dapat hidup lebih lama lagi, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Aku mohon jangan menangis, aku tak suka jika ada air mata lagi. Kau ingat, kan, hidup ini bukan untuk disesali, tapi untuk dijalani. Segala sesuatu yang belum atau telah terjadi itu adalah rahasia Tuhan. Manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhanlah yang menentukan.

Aku senang bisa bertemu denganmu sebelum pergi, dan kurasa kau lah nikmat Tuhan yang terindah dalam hidupku. Aku titip Ibuku padamu. Anggaplah Beliau sebagai ibumu sendiri. Beliau tak mempunyai siapa-siapa lagi selain aku di dunia ini. Aku yakin kau pasti akan melakukannya untukku. Sekali lagi terima kasih, Kak, terlebih untuk hari terkhir kita bersama, itu adalah hari terindah dalam hidupku. Aku takkan pernah melupakannya. Jika kau merindukanku hiruplah udara di sekitarmu, dan yakinlah bahwa aku akan selalu ada di hatimu.



Kekasihmu Lee Yoo Hee

Air mataku menetes membasahi kertas surat dari Yoo Hee yang kupegang. Aku pun tak akan pernah melupakanmu. Kau akan selalu memiliki tempat di hatiku. Selamat jalan Yoo Hee, semoga kau bahagia di sana. Selamat tinggal kekasihku…



 Suddenly you would have done when you walk your own way Pass it on
But this sign came to me for years I miss you so much

Everything is going well sweetly Even i go to sleep still thinking about you Just one day, just one minute Come back to me again

Take me to hold my own eternal love to you even it be late, finally i knew my destiny

The best time of day when the sun starts to arise at night This longing pushed on

To get rid more down to the corner of my heart It hurts to continue

Do you remember to listen Nobody can not love their lives

Just one day If only for just a moment Come back to be with me again

Take me to hold my own eternal love to you Even it be late, finally i knew my destiny

Um.... even an awful break up of the wretched love all bears go away

Again, you can't stop love even a little bit

Finally, even if it is stupid I want to remain close to your dream

I love you I love you the words can not even bear to fill Gone behind my confession my destiny

Just one day for me

-by Big Mama-



- FIN -

By Yuli  (Admin Lee)

9 komentar:

  1. WuiH.......Langsung tamat yea...

    Bl0g baRu yea Nie..
    M0ga makin banyaK penguNjungNya..

    BalasHapus
  2. iyaaa, yg ni emang oneshot, jadi langsung tamat ^^

    makasii daa baca, hu um blog baru....
    Amiiin....kamu juga sering2 berkunjung yaaa :)

    BalasHapus
  3. ngobrak abrik google ketemu deh ff ne ^^
    certa na sedih banget T_T
    tapi keren banget lho ff na, pemakaian kata na ^_^d bagusss baget jadi terbawa suasana.
    suskses terus yah buat ff na :)
    salam kenal.

    BalasHapus
  4. makasii yg udah baca ^^

    salam kenal juga Lanna :)

    BalasHapus
  5. ceritanya sedih terharu T __ T

    BalasHapus
  6. Ceritanya bagus bangett... :)

    Kurang NC.y dehh.. #plakk

    #yadong kumat# Sukses buat ff.y semoga semakin bagus dengan karya yang lain.. :)

    BalasHapus
  7. lumayan, tapi yadonng nya ketutup sama sedih endingnya..

    BalasHapus
  8. terharu bngt ceritanya abgus hiks, hiks, hiks, hiks.....

    BalasHapus