Jumat, 21 Januari 2011

THE THIRD ROOM part 3

Judul : THE THIRD ROOM part 3



Genre : Thriller, Horror, Romance

Rated : General

Cast :
Kang Hea In (author)
Noh Min Woo
Kim Nam Gil
Special appearance : Choi Yeon Rin

*************************

Jam 01.12

Aku sudah berada di atas ranjangku, duduk menelungkupkan kakiku dan memeluknya erat dengan kedua tanganku. Tubuhku masih sedikit bergetar, dan tangisku sudah reda sekarang, hanya tinggal cegukan kecil.

"ini minumlah.." saran Min Woo, menyerahkan segelas air putih agar aku lebih tenang. Aku menuruti sarannya dan memegang gelas dalam gengamanku. Lalu menatap Min Woo…

"Minu.. apa kau percaya padaku?" tanyaku penuh harap.

“tentu saja aku percaya padamu” balas Min Woo. Mendengar jawaban Min Woo aku hanya menghela nafas, dibutuhkan keberanian untuk menceritakan apa yang kualami agar Min Woo tidak menganggapku hanya mengada-ada.

“Minu…aku..aku..melihat seseorang yang bukan berasal dari dunia kita” kataku, sengaja memperhalus bahasa agar Min Woo lebih memahami. Min Woo mengernyitkan dahi tanda tidak mengerti.

“aku melihat hantu..!!” kataku cepat-cepat.

“hantu??”


“dia menghantuiku,, datang dalam mimpiku, menampakkan dirinya di toilet klub dan--dan--baru saja aku melihatnya jelas di rumah ini--saat aku berada di dapur. Itu sebabnya aku menemukan gulungan rambut disini tadi pagi, lalu aku meminum soju sekaligus di klub, dan di--di dapur aku memelukmu erat dan menangis --- Semua… semua.. karena aku ketakutan… aku takut” paparku setengah histeris, tanpa sadar aku berbicara dengan nada tinggi dan disela dengan isakanku.

Min Woo hanya terdiam sesaat mendengar penjelasanku dan ia memelukku erat.

“Hea In-ah, maafkan aku..” ucapnya pelan. Aku sebenarnya binggung dengan reaksinya.

“Mianhe, karena akhir-akhir ini aku sibuk sekali, kau tentu kesepian dan …” lanjut Min Woo

“mwo?”

“apa kau sangat merindukan dan mengingat kedua orangtuamu?” tanya Min Woo. Oh..tentu saja, Min Woo bukan orang yang konservatif, yang mudah percaya begitu saja dengan hal-hal yang abnormal. Sekarang dia berfikir aku hanya mencari perhatian darinya saja dengan mengatakan hal yang tidak masuk akal.

“kau tidak percaya padaku bukan?” tanyaku penuh selidik.

“jagiya..” katanya *sigh*

Tiba-tiba aku merasakan mual di perutku, rasanya perutku ingin mengeluarkan kembali semua isinya, dan tidak bisa kutahan, aku cepat bangkit dan berlari ke kamar mandi dan benar… aku benar-benar muntah. Apa karena soju yang kuminum tadi atau karena kejadian itu? Yang jelas sekarang Min Woo mengetuk-ketuk pintu kamar mandi dan memanggilku.

“Ya..jagiy, kau kenapa? Apa kau marah padaku?” tanya Min Woo dari balik pintu. Min Woo jadi salah paham atas sikapku. Setelah selesai mengeluarkan isi perutku, dan membersihkan diriku, akupun keluar dari kamar mandi ---Lelah--- aku hanya ingin tidur.

“Ani, aku lelah, aku mau tidur” elakku, ketika aku hendak berjalan menuju ranjang dan Min Woo menghentikan langkahku.

“besok kita akan pergi ke Cheongsam, ke makam orangtuamu dan aku akan menemanimu seharian. Kita akan menghabiskan waktu bersama, aku tidak mau melihatmu seperti ini” ujar Min Woo, menatap mataku. Akupun mengiyakan ajakannya, karena bagiku tidak ada gunanya bersikeras tentang apa yang kulihat dan berusaha menyakinkannya.

*********

Besoknya, hari sabtu..

Kami benar-benar menghabiskan waktu bersama, pergi ke Cheongsam dimana makam kedua orang tuaku berada. Berjalan-jalan disekitarnya, sambil mengingat masa kecilku dulu. Aku memang dilahirkan dan dibesarkan disana, namun sejak aku menginjak SMU, kami pindah ke Seoul dan meneruskan sekolah serta kuliah di Universitas yang sama dengan Min Woo.

Hingga malam menjelang, Min Woo harus tampil kembali di club dan seperti biasa, aku menemaninya. Tapi syukurlah, sampai hendak menjelang tidur, aku tidak mengalami dan menemui hal-hal yang aneh dan menakutkan lagi. Itu sangat membuatku lega, sampai-sampai aku mulai berpikir--mungkin Min Woo memang benar, semua yang kualami hanya bayanganku dan halusinasiku saja. Ya…mungkin hanya halusinasiku saja…ucapku dalam hati, mencoba melupakan dan menghibur diriku sendiri. Dan akupun terlelap…

<<flashback on>>
Sebuah kilasan---tanpa warna, hanya hitam putih abu--- menyadarkanku bahwa aku berada di dalam sebuah rumah, dengan bangunan yang masih tradisional. Rumah tua yang kusam di sebuah lingkungan yang mengingatkanku pada tempo dulu. Seperti melihat film bisu, aku memasuki ruang tamu mereka yang sempit, kupikir inilah ruang tamu sekaligus ruang tengah, dan aku melihat sekumpulan pria sedang bermain kartu---mungkin berjudi---karena ada banyak uang yang diletakkan di atas meja lalu arak-arak beras yang disimpan dalam teko kuningan, mereka meminumnya sampai mabuk dan tertawa-tawa lebar ---tanpa bisa kudengar suaranya---. Tiba-tiba salah seorang pria berdiri dengan angkuhnya dan menoleh ke arah sebuah kamar dengan tatapan lapar, lalu seorang pria yang duduk di depannya ---dengan muka kusut--- mengangguk-angguk lemah ketika pria yang berdiri itu mengerdikkan kepalanya. Kukira pria yang berdiri itu telah memenangkan taruhan dan pria yang menggangguk lemah adalah pihak yang kalah.
Si pria angkuh berperawakan kurus memasuki kamar, entah apa yang dilakukannya disana karena beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka dan keluarlah seorang gadis remaja belia, dengan pakaian sobek di bagian tangannya, berlari keluar sambil menangis dan mendekap dadanya, dia mendekati pria yang kalah taruhan dan menarik-narik lengannya ---dengan sikap memohon bantuan--- tapi pria itu malah menangkis kasar tangan si gadis dan mendorongnya hingga terjatuh. Aku sangat marah dengan perlakuan pria itu, tapi ternyata kehadiranku tidak disadari oleh mereka yang ada disana. Ingin rasanya aku menolong gadis itu tapi aku hanya mengapai bayangan dan terpaksa menyaksikan semua tanpa mampu berbuat apapun. Akhirnya si pria pemenang keluar kamar dengan bertelanjang dada mempertontonkan dadanya yang kurus, menarik paksa si gadis  dan menyeretnya kembali ke dalam kamar. Si gadis berusaha meronta, tapi si pria yang kalah malah membantu pria yang menang. Karena kalah tenaga, si gadis pun masuk kembali ke dalam kamar, pintu kamar kemudian ditutup oleh si pria yang kalah, ia tampak menghela nafas sejenak memandang pintu dan kembali ke meja untuk melanjutkan berjudi dan minum arak.
<<flashback off>>

Aku membuka mataku, memandang langit-langit kamar -- ternyata aku berada di kamarku sendiri. Mimpi itu tampak jelas bagiku, segala detail kejadian, dan gadis itu---aku masih mengingat raut ketakutan dan keputus-asaan yang tergambar jelas di wajahnya. Tampaknya dia harus mengalami kejadian yang amat sangat ditakuti seluruh wanita di dunia yaitu pemerkosaan.

********

Minggu pagi…

“Jagiyy,, kau sudah menghubungi orang yang bisa membetulkan saluran air bukan??” tanya Min Woo sambil memperhatikan wastafel dapur kami.

Ya Tuhan.. mengapa aku bisa lupa? Cepat-cepat aku matikan kompor yang sedang memanaskan bubur gandum yang kami beli kemarin. Selama kemarin, kami kerap makan di luar rumah sehingga urusan cuci piring terabaikan. Aku mengambil secarik kertas yang diberikan oleh pria yang kutemui di ruang laundry, tetanggaku---Tuan Kim Nam Gil, dan menghubungi nomor yang ditulis disitu. Setelah bicara beberapa saat, aku bernafas lega ternyata ia bersedia datang pagi ini dan sebentar lagi ia akan datang ke rumah kami.

“sudah??” tanya Min Woo. Aku mengangguk sebagai jawaban dan meneruskan pekerjaanku.

“berapa tarifnya” tanya Min Woo lagi.

“aku lupa menanyakannya, katanya sebentar lagi dia datang” jawabku sambil menuangkan bubur dalam mangkuk Min Woo dan aku.

Bel pintu berbunyi, ketika aku baru menyuap sebanyak 3 sendok… Aku pun segera membukakan pintu---ternyata yang datang adalah si pria deterjen itu,, tetanggaku.

“ajusshi??” tanyaku heran.

“apa anda yang menghubungiku untuk memperbaiki saluran air??”

“iya betul, tapi saya tidak menyangka anda sendirilah orangnya”

“annyeong,,ajushi.. silakan masuk” ucap Min Woo, mempersilahkan Nam Gil-shi masuk. Min Woo langsung menunjukkan wastafel dapur kami.

“kukira pada hari minggu begini tidak akan ada orang yang bersedia datang, tapi saya senang ternyata anda besedia” Min Woo berbasa basi.

“karena kita tinggal satu lantai dan aku sedang tidak ada kegiatan lain di rumah, maka saya memenuhi panggilan anda. Apa saluran ini sudah mampet lama?” balas Nam Gil-shi.

Selanjutnya aku tidak mendengar percakapan mereka karena aku meneruskan sarapanku di sofa tamu sambil menonton tivi. Dan lagi-lagi.…rasa mual kembali menyerangku, aku segera berlari ke kamar mandi sambil menutup mulut dengan tanganku, menahan agar tidak keluar sebelum sampai di kamar mandi. Apakah aku benar-benar sakit?? Kemarin, sebelum berangkat akupun mengalami hal yang sama tapi tidak sampai muntah, hanya mual ringan. Aahh… mungkin karena aku makan bubur gandum yang mengandung susu,, aku memang membenci susu, berbeda terbalik dengan Min Woo. Atau jangan jangan aku---hamil---tidak…tidak mungkin lagipula aku rutin meminum pil dan seingatku aku tidak pernah lupa meminumnya. Untuk kemungkinan yang kedua, jelas aku harus menepisnya kuat-kuat.

“jagiyy, kau tidak apa-apa?” tanya Min Woo yang sudah berdiri dihadapanku saat aku membuka pintu kamar mandi, membuatku sedikit terkejut.

“Aniyo..gwenchana. Minu, aku beli pot hiasan di Cheongsam kemarin, dimana kau meletakkannya?, aku akan menatanya sekarang” ujarku mengalihkan perhatiannya.

“oohh..masih di mobil, akan aku ambilkan, ya”

Aku mengikuti Min Woo keluar kamar, dan Min Woo langsung keluar rumah, menuju parkiran di basement, sedangkan aku menuju ke dapur mengambil segelas air hangat dari dispenser. Aku melihat Nam Gil-shi masih mengotak-atik saluran air wastafel. Aku membuatkan secangkir teh hangat, sebagai formalitas terhadap seorang tamu.

“ajusshi, silakan diminum tehnya” ucapku, aku meletakkannya di atas meja makan. Dia pun berhenti sejenak dari aktifitasnya dan melihatku. Aku menunjukkan telunjukku ke arah cangkir tehnya, tapi dia terus melihatku dengan tatapan seolah-olah mengingat sesuatu.

“ajusshi!!”kataku, menghentikan tatapannya, dan dia langsung tersenyum mengangguk.

“gomawo..! Hea In-shi, maaf, tapi kulihat anda sedikit pucat, apa anda tidak enak badan?” tanyanya. Aneh..apa benar wajahku pucat? Min Woo sendiri yang notabene suamiku, tidak menyadarinya, tapi orang asing ini langsung mengetahui keadaanku. Ahh…mungkin dia hanya berbasa-basi saja dan menebak-nebak kondisiku.

“Aniyo, Nam Gil-shi aku baik-baik saja” jawabku sopan.

“sudah berapa bulan?”

“mwo”

“biasanya bila seorang wanita merasa mual dan muntah di pagi hari, biasanya karena hamil” lanjutnya lagi.

“benarkah? Tapi kurasa tebakan anda salah, Nam Gil-shi. Silahkan lanjutkan pekerjaan anda” elakku lalu aku melangkahkan kakiku menuju ruang tamu…tapi,,.

“ouch…!!” aku terpeleset oleh genangan air yang merembes dari saluran air bagian bawah wastafel, karena sedang diperbaiki maka sedikit bocor. Tapi belum sempat pinggulku menghempas ke lantai, tangan kuat Nam Gil-shi telah menopang tubuhku, merangkul pinggangku kuat agar aku tidak jatuh ke bawah. Sehingga posisi kami seperti sedang menari tango dan bila digambarkan mungkin mirip dengan poster film ‘gone with the wind’.

“jagiyy...aku lupa membawa kun…!!” tiba-tiba Min Woo masuk dan langsung melihat kami seperti itu, dia tercenggang dan menunjukkan ekspresi tidak senang. Aku cepat-cepat berdiri---mencoba menyeimbangkan badanku---dan menepis tangan Nam Gil-shi dari pinggangku.

“Minu..tadi aku hampir terjatuh, untung saja Nam Gil-shi menahanku, kau lihat genangan air itu bukan, aku nyaris terpeleset disitu” jelasku sambil mendekati Min Woo dan menunjukkan genangan air yang tersebar di lantai dapur. Sementara Nam Gil-shi kembali bekerja tanpa mengatakan sepatah katapun, sampai pekerjaannya selesai. Dan Min Woo membayar jasa perbaikannya dengan ucapan terima kasih pendek. Rupanya Min Woo masih tidak terima dengan kejadian tadi, meskipun aku sudah menjelaskannya. Akhirnya Min Woo berhenti menunjukkan raut kesalnya setelah aku mengatakan bahwa lebih baik aku terjatuh saja dan menderita pinggul retak daripada melihat dia merenggut sepanjang hari.

Malam pun tiba, dan kami bersiap hendak tidur. Sama seperti hari sabtu kemarin, aku tidak mengalami kejadian yang aneh dan mengerikan lagi, mungkin karena Min Woo selalu di dekatku 2 hari ini, sehingga sosok itu tidak menampakkan dirinya. Lagipula aku sudah lupa dengan kejadian 2 hari yang lalu. Karena besoknya, hari senin tiba dan aktifitas kerjaku dimulai lagi.

*********

Senin… Jam 18.46

Aku tiba di rumahku. Hari ini aku sengaja pulang lebih cepat dari kantor, karena aku harus menyusun draft replik dari persidangan kasus perdata klaim utang piutang dari sebuah perusahaan besar di Korea versus Bank ternama selaku investor. Kasus ini sungguh rumit dan panjang, dan boss ku di kantor mempercayakan aku untuk membuat draft replik dari versiku untuk diserahkan dan diperiksa besok pagi. Untuk pertama kalinya aku mengemban tugas ini, dan ini sangat menguras pikiranku karena aku tidak mau ada kesalahan agar hasil kerjaku dihargai juga menentukan jenjang karierku di firma ini kelak.

Tidak ada hal lain yang kupikirkan kecuali pekerjaanku. Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan berganti pakaian, membuat kopi dan menghangatkan schootel panggang yang kubeli di jalan tadi sebagai makan malamku. Sedangkan Min Woo akan pulang malam seperti biasa, karena dia harus menemui talent manager yang tertarik dengan demo bandnya. Aku membuka laptopku dan mulai meneruskan pekerjaanku sambil menikmati makan malam.

Jam 21.36

Suara gaduh itu lagi, suara gaduh seperti alunan musik tahun 60-an, lalu suara orang tertawa dan mengetuk-ketuk tembok dinding.  Aku yakin suara itu berasal dari tetangga sebelahku---kamar 603. Ah sial...suara berisik itu berhasil membuyarkan konsentrasiku, menganggu susunan draftku yang harus aku ketik selanjutnya. Aku mulai tidak sabar… dan sedikit geram. Lagipula ini sudah malam dan hampir larut, dimana sebagian orang-orang bersiap untuk tidur, tapi mereka dengan seenaknya saja membuat keributan. Apa tetangga di sekelilingku tidak terganggu oleh ulah mereka? Mengapa tidak ada yang protes? Hampir setiap malam mereka membuat suara bising. Huh... tidak akan kubiarkan, sebaiknya mereka mendapatkan peringatan atau setidaknya pemberitahuan kalau ulah mereka telah menganggu kenyamanan tetangga.

Akupun beranjak dari kursiku, meraih cardigan dan menuju ke luar kamar apartment, kubiarkan pintu kamar terbuka. Aku menghentikan langkahku di depan pintu kamar no. 603. Astaga.. memang benar suara berisik itu berasal dari kamar ini. Aku menekan bel, tapi tidak ada yang menjawab…..lama….aku terdiam berdiri menunggu selama 10 menit, sambil terus menekan bel berulang-ulang. Aku mulai kesal, akhirnya aku mencoba mengedor pintu dan membuka handle pintu mereka sekuat tenaga---ternyata pintunya tidak terkunci, dan pintu membuka….

Entah mengapa suara berisik yang kudengar dari luar pintu sekarang menghilang, digantikan dengan suara hembusan angin lembut dan sangat hening. Aku pun menjulurkan kepalaku untuk melihat ke dalam, keadaan ruangan itu temaram, karena cahaya lampu dari luar jendela yang menyoroti ke dalam ruangan. Perasaanku sudah mulai ganjil melihat kejadian ini, suara berisik yang tiba-tiba menghilang dan juga ruangan yang remang. Tapi rasa penasaranku mengalahkan rasa takutku, aku pun melangkahkan kaki memasuki ruangan itu. Baru saja aku melangkah 2 langkah masuk,, tiba-tiba… BAMM… pintu menutup dengan sendirinya!!!

Kaget bercampur takut, dan binggung, karena ternyata pintu itu tidak bisa aku buka, walaupun aku berusaha membuka handle pintu dengan paksa, lalu aku mengedor-gedor pintu dengan putus asa. Sementara aku berusaha membuka pintu, ada sesuatu yang menerpa leherku dan membuat bulu kudukku merinding ---DESAHAN NAFAS--- aku merasakan udara di sekitarku menjadi dingin, dingin yang menusuk tulang, membuat diriku membeku sesaat. Tapi desahan nafas itulah yang membuat jantungku berdebar lebih keras dan badanku pun gemetar.

Aku merasakan kehadirannya, kehadiran sosok yang selalu menampakkan dirinya saat aku sendirian. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah membalikkan badanku dan berharap bahwa bukan sosok itu yang mendesah di belakang leherku tapi ….

“Awww!!!” aku menjerit, rasanya aku menjerit ---mungkin--- karena aku tidak bisa mengfungsikan seluruh inderaku karena diselubungi ketakutan, hanya mataku yang berfungsi dengan baik. Sosok itu tepat berada di depanku, sangat dekat, sehingga aku bisa merasakan hawa yang lebih dingin dan hembusan yang kuat ---entah dari mana--- dia mendekat dan menjulurkan tangannya yang berjari-jari kurus dan berwarna putih keabuan, seolah-olah hendak mencekikku.

Namun sekarang gelap, pandanganku kabur dan perlahan mengelap, aku masih bisa merasakan tubuhku ambruk ke bawah. PINGSAN…


!~~to be continued~~

 By Author Mila

Tidak ada komentar:

Posting Komentar