Hai...hai...hai....#Lambai2 Author Ababil dateng lagi ekekekek....jangan bosen yaa baca FFku yang sangat aneh bin ajaib ini. maklum saia bukan Novelis seperti Miss Destira aka (Admin Park). Juga bukan Author FF berbakat yang karyanya sudah melanglang buana seperti Mila Aulia (Admin Hea-in), Teresia Dian, Patricia Jessica dan masih banyak lagi yg lainnya. Saia cuma Admin Iseng gak ada kerjaan (?) yang pengen juga bikin FF hahaha #Kebanyakan Bacot nii, keburu Reader ketiduran :p
ya udah deh, aku terbitin FFnya dulu. Miaaaaaann banget kelamaan nunggunya *emang ada yg nunggu?* XD
karena udah kelamaan dan pasti udah jamuran ingatannya tentang FF satu ini, aku sengaja ngasih ringkasan cerita chapter sebelumnya. Maaf yah...*maaf mulu* ekekekek....
oke dah, aku bersih-bersih dulu Note-ku dari sarang laba-laba yang sudah lama bersarang (?) di sini #MakinNgaco
sebelum semakin kemana-mana (?) ama omongan gak jelasku, aku kasih aja deh FFnya (Reader: dari tadi kek Thor!) hahaha XD
cekidottt!!! jangan kecewa ama hasilnyaa!!! ^^
Chapter 5
Ringkasan Chapter sebelumnya:
Yu-ri berhasil menjadi yang terbaik pada audisi Taekwondo di kampusnya, namun di akhir ia harus menelan kekecewaan karena ia tak berhasil melawan Soo-hyun yang ternyata adalah senior dan pemegang sabuk hitam Taekwondo.
Dong-hae mendapati Hae-bin tengah menangis pada saat ia berkunjung ke rumah gadis itu untuk belajar bahasa Inggris, dan ia pun akhirnya menawarkan diri untuk menghibur gadis itu. Hae-bin mulai merasakan sesuatu yang aneh menjalari tubuhnya ketika ia secara tak sengaja bersentuhan dengan kekasih sahabatnya itu.
Ketika Soo-hyun tengah merenung di sebuah cafe, ia tak sengaja bertemu Yu-ri yang saat itu tengah bertengkar dan hendak berkelahi dengan seorang pria paruh baya yang dikatainya telah mengganggu ibunya. Namun Soohyun menggagalkan rencana Yu-ri, dan hal itu sukses membuat Yu-ri geram.
-Han River, Seoul-
Hae-bin menghela nafas dengan tatapan menerawang ke arah aliran sungai Han yang sore itu tampak tenang. Gadis itu menggenggam erat pinggiran bangku besi panjang yang kini didudukinya bersama Dong-hae. “Apa kau sudah merasa lebih tenang?” Dong-hae membuka percakapan setelah terjadi keheningan yang cukup panjang semenjak mereka tiba di tempat itu.
“Sedikit,” balas Hae-bin lirih.
Dong-hae berdeham, ia bingung harus mengatakan apa. ia ingin sekali menawarkan diri menjadi pendengar segala keluh kesah gadis itu, tapi ia juga tak mau memaksa Hae-bin untuk menceritakan sesuatu yang tak ingin diceritakannya. Bukankah dia bukan siapa-siapaku?, pikir Dong-hae.
“Aku minta maaf karena menggagalkan rencanamu—“
“Kau sudah mengatakan itu tadi,” potong Dong-hae.
“Ah...ya,” Hae-bin mengangguk kikuk, “maaf, aku memang gadis membosankan yang—“
“Maaf lagi?!” Dong-hae kembali memotong kalimat Hae-bin, “kata maaf memang bagus untuk meredakan amarah seseorang, tapi mengucapkan kata maaf secara terus menerus membuat kita akan tampak sebagai pribadi yang lemah. Berhenti mengatakan maaf, saat dirimu tidak membuat satu kesalahan pun.”
Hae-bin menunduk, “Lalu aku harus mengatakan apa?”
“Hah...” Dong-hae beranjak dari bangku panjang itu, berjalan lambat-lambat ke arah sungai Han yang memantulkan sinar mentari sore berwarna kemerahan. “Aku membawamu ke mari bukan untuk membuatmu semakin sedih. Bagaimana kalau kita hentikan pembicaraan ini?” ia memutar tubuhnya menghadap gadis itu.
Hae-bin menegang dan merasakan detak jantungnya kembali meningkat ketika melihat senyum tulus yang disunggingkan pria itu. Mata hitam dan jernihnya menatap mata Hae-bin lurus-lurus dan tampak begitu teduh juga menenangkan. Gadis itu tersenyum kaku, “Ya, kau benar.” Ia kembali menunduk. Tak sanggup menatap sinar mata Dong-hae yang membuat jantungnya kembali menghentak-hentak tak kenal kompromi.
“Aduh!” jeritan Dong-hae membuatnya buru-buru mengangkat wajahnya.
“Kak Dong-hae, kau tidak apa-apa?” tanyanya khawatir mendapati pria itu tengah berjongkok sembari memegangi kakinya di pinggir pembatas sungai Han, “Apa kau menginjak pecahan kaca atau semacamnya?” Hae-bin yang sudah tiba di sana ikut berjongkok dan mencoba memeriksa apa yang terjadi pada pria itu.
Tampilkan postingan dengan label Kyuhyun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kyuhyun. Tampilkan semua postingan
Minggu, 18 Desember 2011
FF MY LOVE JOURNAL chap. 1 - Meet the Boss, A Bitch or A Devil?
FF MY LOVE JOURNAL - Chap. 1
Subtittle : Meet the Boss, a Bitch? Or a Devil?
Genre : Romance
Cast :
Cho Kyu Hyun Hyun
Shin Min Ki
Kim Jong Woon (Yesung)
Shin Yoon Hee
Rated : PG 17
Language : mixed, pls don’t be confuse.
****
( SHIN MIN KI )
Pernahkah kau merasa terikat dengan sesuatu yang kau rencanakan?, sesuatu yang kau ingin lakukan? Tapi sampai detik ini kau belum dapat memenuhi apa yang menjadi harapanmu….
ini semacam target yang harus kau capai dalam hidupmu, agar jalan hidupmu lurus dan punya motivasi untuk memenuhi target itu.
Maksudku begini….
Setiap orang mempunyai rencana dalam hidupnya atau angan-angan. Begitu juga aku, rencanaku sederhana saja seperti kebanyakan wanita pada umumnya, mempunyai karier bagus, menikah dengan pria kaya nan tampan, mempunyai rumah berkolam renang di halaman belakang, punya sepasang anak yang lucu dan menggemaskan, lalu mempunyai tabungan yang cukup untuk menikmati masa tua bersama suami tercinta dengan berkeliling dunia…
Sederhana bukan? Tapi aku bukanlah orang yang dibesarkan dengan cerita dongeng semacam itu. Ya..siapa sih yang tidak mau mengalamai hal yang kusebut diatas, tapi kenyataan jauh sekali dengan angan-angan.
Oleh karena itu, aku hanya mempunyai target sederhana saja dalam setiap kehidupanku. Aku selalu menulis semua rencana dan targetku dalam jangka pendek di dalam jurnalku. Ini sudah menjadi kebiasaanku semenjak SMP, misalnya target sederhana untuk mendapat nilai minimal 80 pada ujian matematika besok.
Tapi namanya juga target, kadang berhasil kadang gagal---seringnya sih meleset.
Bila kuingat semua itu kadang-kadang aku ingin mempunyai mesin waktu untuk memperbaiki kegagalanku. Dan aku juga suka menulis tentang kegagalanku itu agar aku selalu mengingat kebodohan yang sudah kulakukan. Tapi tidak semuanya kutulis, soalnya aku takut bila adikku yang super ganjen atau kakakku yang extra konyol membacanya, bisa-bisa aku menjadi bahan olokan sepanjang hidupku.
Ok…jam di meja nakasku sudah menunjukkan jam 23.00. Udara Seoul saat ini sedang dingin-dinginnya karena ini bulan November---musim dingin sudah tiba. Aku menelungkupkan badanku di atas kasur single di kamarku yang sempit, kutopang daguku dengan siku seraya menulis di jurnalku…
November Wish, Do and Not to do :
1. I hope my new boss is not a bitch : kinda rude?
Tidak---aku menulisnya dengan mencibirkan bibirku. Besok kantor Allure Magazine tempatku bekerja akan kedatangan seorang editor baru, sementara editor yang lama Nona Jang yang tubuhnya dipenuhi dengan sayatan pisau bedah plastic dikeluarkan oleh direktur karena suatu kasus.
Kedudukanku sebagai asisten chief editor, sangat berharap bahwa boss baruku tidak seperti Nona Jang yang materialistis dan kecentilan.
2. Sisihkan gaji untuk membeli tas Chloe kuning busuk impianku : target akhir bulan November harus kubeli.
3. Stop nongkrong di Handel & Gretel Café hanya untuk secangkir expresso seharga 25.000 won!!! Si Mr. X yang super cute itu tidak akan pernah melirikmu. : sepertinya ini hiburan termahal untukku.
4. Jangan biarkan Yoon Hee meminjam krim malammu lagi, itu harganya sangat mahal.
5. Violet adalah warna bulan novembermu. : artinya besok cari barang-barang bernuansa ungu.
6. Selesaikan baca buku “How to make you a perfect journalist” : buku setebal 365 halaman, baru kubaca sekitar 30 halaman. Kau pemalas, Min Ki.
Aku melamun sebentar untuk memikirkan apa lagi yang akan kutulis, tapi buntu. Akhirnya aku hanya membaca ulang seraya mengingat-ingat. Ini sudah cukup, putusku.
Setelah semua targetku kutulis, lalu akupun merebahkan badanku seraya menatap ke atap kamar apartemenku. Memejamkan mata dan memanjatkan doa agar harapanku terkabul. Kemudian aku bangkit menuju meja riasku, mencopot kacamataku dan meng-roll rambutku dengan roll extra besar agar poni rambutku tidak mengajakku berkelahi besok pagi.
Subtittle : Meet the Boss, a Bitch? Or a Devil?
Genre : Romance
Cast :
Cho Kyu Hyun Hyun
Shin Min Ki
Kim Jong Woon (Yesung)
Shin Yoon Hee
Rated : PG 17
Language : mixed, pls don’t be confuse.
****
( SHIN MIN KI )
Pernahkah kau merasa terikat dengan sesuatu yang kau rencanakan?, sesuatu yang kau ingin lakukan? Tapi sampai detik ini kau belum dapat memenuhi apa yang menjadi harapanmu….
ini semacam target yang harus kau capai dalam hidupmu, agar jalan hidupmu lurus dan punya motivasi untuk memenuhi target itu.
Maksudku begini….
Setiap orang mempunyai rencana dalam hidupnya atau angan-angan. Begitu juga aku, rencanaku sederhana saja seperti kebanyakan wanita pada umumnya, mempunyai karier bagus, menikah dengan pria kaya nan tampan, mempunyai rumah berkolam renang di halaman belakang, punya sepasang anak yang lucu dan menggemaskan, lalu mempunyai tabungan yang cukup untuk menikmati masa tua bersama suami tercinta dengan berkeliling dunia…
Sederhana bukan? Tapi aku bukanlah orang yang dibesarkan dengan cerita dongeng semacam itu. Ya..siapa sih yang tidak mau mengalamai hal yang kusebut diatas, tapi kenyataan jauh sekali dengan angan-angan.
Oleh karena itu, aku hanya mempunyai target sederhana saja dalam setiap kehidupanku. Aku selalu menulis semua rencana dan targetku dalam jangka pendek di dalam jurnalku. Ini sudah menjadi kebiasaanku semenjak SMP, misalnya target sederhana untuk mendapat nilai minimal 80 pada ujian matematika besok.
Tapi namanya juga target, kadang berhasil kadang gagal---seringnya sih meleset.
Bila kuingat semua itu kadang-kadang aku ingin mempunyai mesin waktu untuk memperbaiki kegagalanku. Dan aku juga suka menulis tentang kegagalanku itu agar aku selalu mengingat kebodohan yang sudah kulakukan. Tapi tidak semuanya kutulis, soalnya aku takut bila adikku yang super ganjen atau kakakku yang extra konyol membacanya, bisa-bisa aku menjadi bahan olokan sepanjang hidupku.
Ok…jam di meja nakasku sudah menunjukkan jam 23.00. Udara Seoul saat ini sedang dingin-dinginnya karena ini bulan November---musim dingin sudah tiba. Aku menelungkupkan badanku di atas kasur single di kamarku yang sempit, kutopang daguku dengan siku seraya menulis di jurnalku…
November Wish, Do and Not to do :
1. I hope my new boss is not a bitch : kinda rude?
Tidak---aku menulisnya dengan mencibirkan bibirku. Besok kantor Allure Magazine tempatku bekerja akan kedatangan seorang editor baru, sementara editor yang lama Nona Jang yang tubuhnya dipenuhi dengan sayatan pisau bedah plastic dikeluarkan oleh direktur karena suatu kasus.
Kedudukanku sebagai asisten chief editor, sangat berharap bahwa boss baruku tidak seperti Nona Jang yang materialistis dan kecentilan.
2. Sisihkan gaji untuk membeli tas Chloe kuning busuk impianku : target akhir bulan November harus kubeli.
3. Stop nongkrong di Handel & Gretel Café hanya untuk secangkir expresso seharga 25.000 won!!! Si Mr. X yang super cute itu tidak akan pernah melirikmu. : sepertinya ini hiburan termahal untukku.
4. Jangan biarkan Yoon Hee meminjam krim malammu lagi, itu harganya sangat mahal.
5. Violet adalah warna bulan novembermu. : artinya besok cari barang-barang bernuansa ungu.
6. Selesaikan baca buku “How to make you a perfect journalist” : buku setebal 365 halaman, baru kubaca sekitar 30 halaman. Kau pemalas, Min Ki.
Aku melamun sebentar untuk memikirkan apa lagi yang akan kutulis, tapi buntu. Akhirnya aku hanya membaca ulang seraya mengingat-ingat. Ini sudah cukup, putusku.
Setelah semua targetku kutulis, lalu akupun merebahkan badanku seraya menatap ke atap kamar apartemenku. Memejamkan mata dan memanjatkan doa agar harapanku terkabul. Kemudian aku bangkit menuju meja riasku, mencopot kacamataku dan meng-roll rambutku dengan roll extra besar agar poni rambutku tidak mengajakku berkelahi besok pagi.
Label:
Fanfiction,
Kyuhyun,
TBC,
Yesung
Sabtu, 10 Desember 2011
FF Disaster Love - Chap 17 - Fanfiction Super Junior -
CHAPTER 17
- KK Entertainment -
From : Dong-hae
Aku sudah dekat. Sebentar lagi sampai.
Hea-in tersenyum membaca pesan singkat tersebut. Dengan langkah ringan ia melangkah menuruni tangga menuju lobby di lantai dasar. Semenjak kejadian beberapa hari lalu, ketika ia menyatakan perasaannya pada pria itu, mereka menjadi lebih akrab. Memang bukan sebagai kekasih, dan juga tak ada pernyataan cinta dari Dong-hae—sebenarnya dia justru tak mengomentari pernyataan cinta Hea-in—namun persahabatan, dan perhatian pria itu untunya dirasa Hea-in cukup untuk saat ini. ia tak ingin memaksa Dong-hae. perlahan, Hea-in berharap dapat menyusup masuk ke hati pria itu.
Hmm… di restoran mana sebaiknya kami makan malam hari ini? batin Hea-in, menimbang-nimbang pilihannya sambil terus berjalan menuju pintu kaca ganda yang merupakan pintu masuk kantor ayahnya ini.
“Hea-in.”
Senyum diwajah Hea-in menguap, terhapus oleh ketegangan. Suara itu. ia menoleh sedikit, dan melihat ibunya berjalan menghampirinya. Tak ingin hari ini dihancurkan oleh kehadiran wanita yang telah melahirkannya itu, Hea-in memilih pergi.
Hea-in bergegas keluar dari gedung KK Entertainment, menuju tempat dimana mobilnya diparkir. Ia akan menelepon Dong-hae dan menyuruh pria itu menyusulnya saja. Ia tak bisa menunggu pria itu datang, dan terpaksa harus menghadapi ibunya.
“Hea-in, tunggu!” seru Noh Ji-ni, mengejar putrinya.
Sementara itu, Dong-hae, yang baru saja memasuki area parkir KK Entertainment, memarkirkan mobilnya di tempat kosong, di sebelah van perusahaan Tuang Kang.
Baru saja Dong-hae akan mengeluarkan ponsel untuk menelepon Hea-in dan memberitahu keberadaannya, ia melihat wanita itu berjalan cepat menuju ke arah mobilnya.
“Apa dia melihat kedatanganku?” gumam Dong-hae sedikit heran sembari memperhatikan Hea-in. dipencetnya tombol untuk menurunkan kaca jendela mobilnya untuk memanggil wanita itu, namun kemudian diurungkannya niatnya ketika melihat ternyata Hea-in tak sendiri. Seorang wanita lain mengejar dan menangkap lengannya. Eh? Itu… bukankah dia ibu Hea-in? pikir Dong-hae, mengingat-ingat.
“Beginikah ayahmu membesarkanmu? Bersikap tak hormat pada orang yang lebih tua!?” bentak Noh Ji-ni marah. Begitu emosi dan sakit hati melihat sikap putri semata wayangnya itu. “Aku ibumu!”
“Lepaskan aku,” ucpa Hea-in dingin tanpa emosi.
“Aku hanya ingin kita bicara!” sergah Noh Ji-ni, “Jelas sudah terjadi salah paham sampai-sampai kau memperlakukan ibumu sendiri seperti ini! apa ayahmu menyuruhmu membenciku!? Dia menghasutmu, iya kan!?”
Suara tawa Hea-in yang melengking tanpa humor sama sekali. itu tawa yang menjeritkan luka hatinya. “Ayah tak ada hubungannya dengan semua ini. Kaulah yang membuatku membencimu. Kau!”
Walaupun dalam kegelapan malam, dan lampu di sekitar area parkir tersebut remang-remang, namun Dong-hae tetap bisa melihat betapa terpukulnya ibu Hea-in. sebagai anak yang sangat mencintai orangtuanya, Dong-hae mengernyit, seolah ikut merasakan sakit hati yang dirasakan Noh Ji-ni. tak seharusnya Hea-in sekasar itu pada ibunya… tetapi seperti kata Hea-in, Dong-hae tak akan mengerti karena dia tidak pernah menjalani hidup seperti wanita itu.
Tiba-tiba, sesuatu yang bergerak di sebelah kanan mobilnya mengalihkan perhatian Dong-hae. menyipitkan mata agar dapat lebih jelas melihat, akhirnya ia mengenali sosok itu. bukan satu, tetapi dua orang. Seo-min dan Hyun-in, yang rupanya baru keluar dari kantor, dan mungkin ingin mengambil kendaraan mereka, tetapi ketika melihat pertengkaran Hea-in dengan ibunya, kedua gadis itu memilih untuk tidak mengganggu, dengan bersembunyi di antara mobil Dong-hae dan van perusahaan yang terparkir di sebelah kanan mobilnya.
“Apa perkataanku terakhir kali itu belum cukup?” tanya Hea-in dingin, penuh permusuhan, sambil menyentak lepas tangannya dari pegangan ibunya. “Aku tak ingin bertemu denganmu lagi. Aku tak sudi melihatmu—“
Plak. Sebuah tamparan keras melayang ke pipi Hea-in. Dong-hae tersentak di dalam mobilnya, ia bergerak gelisah, ingin keluar dan melerai, namun akhirnya menahan diri. Ia tak boleh ikut campur. Kecuali memang dibutuhkan…
Dong-hae melirik Seo-min dan Hyun-in, yang sama terkejutnya dengan dirinya melihat kejadian itu. kedua gadis itu begitu focus pada kakak tiri mereka, hingga tak menyadari keberadaan Dong-hae di dalam mobil, apalagi dengan kegelapan malam seperti ini.
Memegangi pipinya yang panas, Hea-in mendengus. Ditatapnya wanita dihadapannya itu penuh kebencian.
“Ma-maafkan ibu… aku tidak—“
“Hanya tamparan,” Hea-in menyela perkataan ibunya dengan sinis. “Tak sebanding dengan rasa sakit dihatiku selama ini atas perbuatanmu.”
Noh Ji-ni amat menyesal karena menampar putrinya. Penderitaan terlihat di ekspresi wajahnya. “Oh, anakku, maafkan—“
- KK Entertainment -
From : Dong-hae
Aku sudah dekat. Sebentar lagi sampai.
Hea-in tersenyum membaca pesan singkat tersebut. Dengan langkah ringan ia melangkah menuruni tangga menuju lobby di lantai dasar. Semenjak kejadian beberapa hari lalu, ketika ia menyatakan perasaannya pada pria itu, mereka menjadi lebih akrab. Memang bukan sebagai kekasih, dan juga tak ada pernyataan cinta dari Dong-hae—sebenarnya dia justru tak mengomentari pernyataan cinta Hea-in—namun persahabatan, dan perhatian pria itu untunya dirasa Hea-in cukup untuk saat ini. ia tak ingin memaksa Dong-hae. perlahan, Hea-in berharap dapat menyusup masuk ke hati pria itu.
Hmm… di restoran mana sebaiknya kami makan malam hari ini? batin Hea-in, menimbang-nimbang pilihannya sambil terus berjalan menuju pintu kaca ganda yang merupakan pintu masuk kantor ayahnya ini.
“Hea-in.”
Senyum diwajah Hea-in menguap, terhapus oleh ketegangan. Suara itu. ia menoleh sedikit, dan melihat ibunya berjalan menghampirinya. Tak ingin hari ini dihancurkan oleh kehadiran wanita yang telah melahirkannya itu, Hea-in memilih pergi.
Hea-in bergegas keluar dari gedung KK Entertainment, menuju tempat dimana mobilnya diparkir. Ia akan menelepon Dong-hae dan menyuruh pria itu menyusulnya saja. Ia tak bisa menunggu pria itu datang, dan terpaksa harus menghadapi ibunya.
“Hea-in, tunggu!” seru Noh Ji-ni, mengejar putrinya.
Sementara itu, Dong-hae, yang baru saja memasuki area parkir KK Entertainment, memarkirkan mobilnya di tempat kosong, di sebelah van perusahaan Tuang Kang.
Baru saja Dong-hae akan mengeluarkan ponsel untuk menelepon Hea-in dan memberitahu keberadaannya, ia melihat wanita itu berjalan cepat menuju ke arah mobilnya.
“Apa dia melihat kedatanganku?” gumam Dong-hae sedikit heran sembari memperhatikan Hea-in. dipencetnya tombol untuk menurunkan kaca jendela mobilnya untuk memanggil wanita itu, namun kemudian diurungkannya niatnya ketika melihat ternyata Hea-in tak sendiri. Seorang wanita lain mengejar dan menangkap lengannya. Eh? Itu… bukankah dia ibu Hea-in? pikir Dong-hae, mengingat-ingat.
“Beginikah ayahmu membesarkanmu? Bersikap tak hormat pada orang yang lebih tua!?” bentak Noh Ji-ni marah. Begitu emosi dan sakit hati melihat sikap putri semata wayangnya itu. “Aku ibumu!”
“Lepaskan aku,” ucpa Hea-in dingin tanpa emosi.
“Aku hanya ingin kita bicara!” sergah Noh Ji-ni, “Jelas sudah terjadi salah paham sampai-sampai kau memperlakukan ibumu sendiri seperti ini! apa ayahmu menyuruhmu membenciku!? Dia menghasutmu, iya kan!?”
Suara tawa Hea-in yang melengking tanpa humor sama sekali. itu tawa yang menjeritkan luka hatinya. “Ayah tak ada hubungannya dengan semua ini. Kaulah yang membuatku membencimu. Kau!”
Walaupun dalam kegelapan malam, dan lampu di sekitar area parkir tersebut remang-remang, namun Dong-hae tetap bisa melihat betapa terpukulnya ibu Hea-in. sebagai anak yang sangat mencintai orangtuanya, Dong-hae mengernyit, seolah ikut merasakan sakit hati yang dirasakan Noh Ji-ni. tak seharusnya Hea-in sekasar itu pada ibunya… tetapi seperti kata Hea-in, Dong-hae tak akan mengerti karena dia tidak pernah menjalani hidup seperti wanita itu.
Tiba-tiba, sesuatu yang bergerak di sebelah kanan mobilnya mengalihkan perhatian Dong-hae. menyipitkan mata agar dapat lebih jelas melihat, akhirnya ia mengenali sosok itu. bukan satu, tetapi dua orang. Seo-min dan Hyun-in, yang rupanya baru keluar dari kantor, dan mungkin ingin mengambil kendaraan mereka, tetapi ketika melihat pertengkaran Hea-in dengan ibunya, kedua gadis itu memilih untuk tidak mengganggu, dengan bersembunyi di antara mobil Dong-hae dan van perusahaan yang terparkir di sebelah kanan mobilnya.
“Apa perkataanku terakhir kali itu belum cukup?” tanya Hea-in dingin, penuh permusuhan, sambil menyentak lepas tangannya dari pegangan ibunya. “Aku tak ingin bertemu denganmu lagi. Aku tak sudi melihatmu—“
Plak. Sebuah tamparan keras melayang ke pipi Hea-in. Dong-hae tersentak di dalam mobilnya, ia bergerak gelisah, ingin keluar dan melerai, namun akhirnya menahan diri. Ia tak boleh ikut campur. Kecuali memang dibutuhkan…
Dong-hae melirik Seo-min dan Hyun-in, yang sama terkejutnya dengan dirinya melihat kejadian itu. kedua gadis itu begitu focus pada kakak tiri mereka, hingga tak menyadari keberadaan Dong-hae di dalam mobil, apalagi dengan kegelapan malam seperti ini.
Memegangi pipinya yang panas, Hea-in mendengus. Ditatapnya wanita dihadapannya itu penuh kebencian.
“Ma-maafkan ibu… aku tidak—“
“Hanya tamparan,” Hea-in menyela perkataan ibunya dengan sinis. “Tak sebanding dengan rasa sakit dihatiku selama ini atas perbuatanmu.”
Noh Ji-ni amat menyesal karena menampar putrinya. Penderitaan terlihat di ekspresi wajahnya. “Oh, anakku, maafkan—“
Label:
Donghae,
Fanfiction,
Kibum,
Kyuhyun,
Sungmin,
Super junior,
TBC
DISASTER LOVE - Chap 16 - Fanfiction Super Junior -
CHAPTER 16
- Kediaman keluarga Kang -
Hea-in sekuat tenaga berusaha untuk tidak lari dari ruangan ini. tidak disaat ayahnya tengah mengucapkan sambutan untuk para tamu dan bercerita singkat mengenai pengalaman hidupnya selama ini.
Dong-hae melirik Hea-in dengan kening berkerut. Sejak menemui Tuan Kang tadi dia jadi aneh. Begitu tegang dan pucat. Apakah dia sakit? batinnya bertanya-tanya.
“Ini,” Dong-hae menyodorkan sapu tangannya pada Hea-in untuk mengelap keringatnya. “Apa kau tak sehat?”
Hea-in hanya menanggapinya dengan menggeleng sambil menerima sapu tangan itu. saat ini bahkan senyum palsu pun tak sanggup ia sunggingkan untuk Dong-hae. memalingkan wajah dari tatapan menyelidik Dong-hae, sialnya Hea-in justru beradu pandang dengan mimpi buruknya. Hong Jin-mo.
Suara pekikan pelan keluar dari tenggorokan Hea-in tanpa dapat dicegah saat melihat seringai licik dan tatapan melecehkan pria itu padanya. Ia bergerak mundur dengan tubuh gemetaran penuh rasa takut.
“Hea-in?” panggil Dong-hae khawatir sembari menopang tubuh lemas wanita itu.
“…aku… merasa tidak sehat…” ucap Hea-in terbata-bata.
Dong-hae melirik Kang Ha-jong yang masih bicara, sebelum membawa Hea-in keluar dari ruangan penuh sesak itu untuk mencari udara segar.
Seo-min menatap kepergian kedua orang itu dalam diam, tak menyadari sama sekali bahwa ia tengah diperhatikan oleh Hyun-in dan Sung-min.
“Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Ki-bum. setelah Kang Ha-jong secara resmi memulai pesta tersebut, Hyun-in membawa pemuda itu menjauh untuk bicara empat mata.
Dengan gelisah Hyun-in menceritakan apa yang telah diketahuinya tanpa sengaja dari pembicaraan Ki-bum dan Seo-min waktu itu. “Apa yang harus kulakukan? Aku merasa sangat bersalah terhadap kak Seo-min,” keluh Hyun-in resah.
Ki-bum menatap gadis di hadapannya dengan tenang. “Kau yang harus menentukannya sendiri,” jawabnya. “Sanggupkah kau melihat kakakmu bersama kak Dong-hae demi kebahagiaannya?”
Hyun-in menunduk menatap ujung sepatunya. “Perasaan kakak lebih penting dariku—“
“Tidak begitu anggapan kakakmu. Dia mengorbankan perasaannya demi kau. Itu menunjukkan betapa pentingnya perasaanmu baginya,” sela Ki-bum halus.
Hyun-in pun menyadarinya, dan amat menghargai pengorbanan kakaknya itu. ia menatap Ki-bum dengan ekspresi polos dan bingung. “Menurut kakak… apakah sudah terlalu terlambat untukku bicara mengenai hal ini pada kak Seo-min?”
Ki-bum menyunggingkan senyum menghibur dan menepuk pundak Hyun-in. “Tak pernah ada kata terlambat untuk suatu niat yang baik.”
Hyun-in mengangguk. Ya. mungkin belum sepenuhnya terlambat… kakaknya dan Dong-hae masih bisa bersatu. Dan mengenai perasaannya sendiri… Hyun-in yakin dapat mengatasinya.
“Hyun-in?”
Kompak, Hyun-in dan Ki-bum sama-sama menoleh ke arah si pemanggil. Mata Hyun-in membesar melihat sosok tampan yang dulu sempat digilainya. Im Sang-ji. Ayah pria itu memang teman ayahnya, namun tak terpikir olehnya Sang-ji akan hadir juga malam ini.
Sang-ji melangkah mendekat sembari menyunggingkan senyum ramah. “Lama tak melihatmu, Hyun-in,” ucapnya berbasa-basi. “Kau terlihat lebih cantik dibanding yang kuingat selama ini.”
“Terima kasih,” sahut Hyu-in kaku.
Bertepatan dengan sahutan Hyun-in, music pengiring dansa telah dimainkan. Sang-ji mengulurkan tangannya pada Hyun-in. “Maukah kau berdansa denganku?” tawarnya manis. “Aku ingin mengobrol denganmu.”
Ki-bum menatap Hyun-in, menyadari ketegangan dan keenganan gadis itu. baru saja ia akan menengahi dengan mengatakan Hyun-in telah lebih dulu menjanjikan dansa dengannya, ternyata Hyun-in justru menerima ajakan tersebut.
Begerak pelan dan santai di tengah-tengah pasangan lain yang berdansa di sekitar mereka, Sang-ji menatap wajah Hyun-in tajam. sejak tadi gadis itu terus diam dan tak bersedia menatapnya.
“Maafkan aku,” ucapnya, memecah keheningan.
Terkejut mendengar permintaan maaf yang tak disangka-sangka itu, Hyun-in mendongak menatap Sang-ji.
- Kediaman keluarga Kang -
Hea-in sekuat tenaga berusaha untuk tidak lari dari ruangan ini. tidak disaat ayahnya tengah mengucapkan sambutan untuk para tamu dan bercerita singkat mengenai pengalaman hidupnya selama ini.
Dong-hae melirik Hea-in dengan kening berkerut. Sejak menemui Tuan Kang tadi dia jadi aneh. Begitu tegang dan pucat. Apakah dia sakit? batinnya bertanya-tanya.
“Ini,” Dong-hae menyodorkan sapu tangannya pada Hea-in untuk mengelap keringatnya. “Apa kau tak sehat?”
Hea-in hanya menanggapinya dengan menggeleng sambil menerima sapu tangan itu. saat ini bahkan senyum palsu pun tak sanggup ia sunggingkan untuk Dong-hae. memalingkan wajah dari tatapan menyelidik Dong-hae, sialnya Hea-in justru beradu pandang dengan mimpi buruknya. Hong Jin-mo.
Suara pekikan pelan keluar dari tenggorokan Hea-in tanpa dapat dicegah saat melihat seringai licik dan tatapan melecehkan pria itu padanya. Ia bergerak mundur dengan tubuh gemetaran penuh rasa takut.
“Hea-in?” panggil Dong-hae khawatir sembari menopang tubuh lemas wanita itu.
“…aku… merasa tidak sehat…” ucap Hea-in terbata-bata.
Dong-hae melirik Kang Ha-jong yang masih bicara, sebelum membawa Hea-in keluar dari ruangan penuh sesak itu untuk mencari udara segar.
Seo-min menatap kepergian kedua orang itu dalam diam, tak menyadari sama sekali bahwa ia tengah diperhatikan oleh Hyun-in dan Sung-min.
“Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Ki-bum. setelah Kang Ha-jong secara resmi memulai pesta tersebut, Hyun-in membawa pemuda itu menjauh untuk bicara empat mata.
Dengan gelisah Hyun-in menceritakan apa yang telah diketahuinya tanpa sengaja dari pembicaraan Ki-bum dan Seo-min waktu itu. “Apa yang harus kulakukan? Aku merasa sangat bersalah terhadap kak Seo-min,” keluh Hyun-in resah.
Ki-bum menatap gadis di hadapannya dengan tenang. “Kau yang harus menentukannya sendiri,” jawabnya. “Sanggupkah kau melihat kakakmu bersama kak Dong-hae demi kebahagiaannya?”
Hyun-in menunduk menatap ujung sepatunya. “Perasaan kakak lebih penting dariku—“
“Tidak begitu anggapan kakakmu. Dia mengorbankan perasaannya demi kau. Itu menunjukkan betapa pentingnya perasaanmu baginya,” sela Ki-bum halus.
Hyun-in pun menyadarinya, dan amat menghargai pengorbanan kakaknya itu. ia menatap Ki-bum dengan ekspresi polos dan bingung. “Menurut kakak… apakah sudah terlalu terlambat untukku bicara mengenai hal ini pada kak Seo-min?”
Ki-bum menyunggingkan senyum menghibur dan menepuk pundak Hyun-in. “Tak pernah ada kata terlambat untuk suatu niat yang baik.”
Hyun-in mengangguk. Ya. mungkin belum sepenuhnya terlambat… kakaknya dan Dong-hae masih bisa bersatu. Dan mengenai perasaannya sendiri… Hyun-in yakin dapat mengatasinya.
“Hyun-in?”
Kompak, Hyun-in dan Ki-bum sama-sama menoleh ke arah si pemanggil. Mata Hyun-in membesar melihat sosok tampan yang dulu sempat digilainya. Im Sang-ji. Ayah pria itu memang teman ayahnya, namun tak terpikir olehnya Sang-ji akan hadir juga malam ini.
Sang-ji melangkah mendekat sembari menyunggingkan senyum ramah. “Lama tak melihatmu, Hyun-in,” ucapnya berbasa-basi. “Kau terlihat lebih cantik dibanding yang kuingat selama ini.”
“Terima kasih,” sahut Hyu-in kaku.
Bertepatan dengan sahutan Hyun-in, music pengiring dansa telah dimainkan. Sang-ji mengulurkan tangannya pada Hyun-in. “Maukah kau berdansa denganku?” tawarnya manis. “Aku ingin mengobrol denganmu.”
Ki-bum menatap Hyun-in, menyadari ketegangan dan keenganan gadis itu. baru saja ia akan menengahi dengan mengatakan Hyun-in telah lebih dulu menjanjikan dansa dengannya, ternyata Hyun-in justru menerima ajakan tersebut.
Begerak pelan dan santai di tengah-tengah pasangan lain yang berdansa di sekitar mereka, Sang-ji menatap wajah Hyun-in tajam. sejak tadi gadis itu terus diam dan tak bersedia menatapnya.
“Maafkan aku,” ucapnya, memecah keheningan.
Terkejut mendengar permintaan maaf yang tak disangka-sangka itu, Hyun-in mendongak menatap Sang-ji.
Label:
Donghae,
Fanfiction,
Kibum,
Kyuhyun,
Sungmin,
Super junior,
TBC
Selasa, 06 Desember 2011
DISASTER LOVE - Chap 15 - Fanfiction Super Junior -
CHAPTER 15
- Kediaman keluarga Kang -
“Kau pikir usiamu baru 17 tahun? Untuk apa merayakan acara tak penting seperti ini!?” Kang Bo-jong mengejek kakaknya.
Kang Ha-jong tertawa gembira, tak terganggu sama sekali dengan ejekan adiknya. “44 tahun terdengar seperti 17 tahun untukku,” balasnya.
Bo-jong hanya geleng-geleng kepala mendengar komentar tersebut. “Dimana para gadis kesayanganku?”
Ha-jong mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, di mana sudah banyak tamu berkeliaran dalam ruang-ruang rumahnya yang luas, namun ketiga putrinya tak terlihat di mana pun.
“Sepertinya mereka belum turun—“
“Itu mereka!” ucap Bo-jong tiba-tiba, menunjuk ke arah tangga. Ha-jong berputar untuk melihat, dan tersenyum memandangi ketiga putrinya yang tengah menuruni tangga.
Malam ini Hea-in tampak spektakuler seperti biasa, mengenakan gaun putih panjang bermotif bunga berwarna hitam, dipadu dengan mantel hitam tipis dan perhiasan mewah. Dibelakangnya kedua adiknya berjalan berdampingan. Seo-min yang tak memiliki gaun—bukan karena tak mampu membeli, namun tak berselera mengenakan rok—hanya mengenakan blus putih yang walau sederhana namun tetap terlihat elegan, dipadu celana panjang kain berwarna abu-abu muda yang membungkus kaki jenjangnya dengan sempurna, dan sekedar mencepol rambut pirang panjangnya dengan rapi tanpa perhiasan apapun. Sedangkan Hyun-in terlihat cantik dengan mini dress merah muda, dan sedikit perhiasan untuk melengkapi penampilannya.
“Selamat ulangtahun, Ayah,” ucap Hyun-in ceria sembari memeluk Kang Ha-jong, sementara kedua kakaknya hanya menggumamkan ucapan selamat seadanya di belakang mereka.
“Terima kasih, Tuan Putri,” sahut Ha-jong gembira. “Ah, Hea-in, managermu sudah memberikan skrip drama komedi romantis yang kuusulkan untukmu?” tanyanya tiba-tiba.
Hea-in mengangguk. “Sepertinya memang menarik,” jawabnya mengomentari. “Apalagi karena aku akan menjadi pemeran utamanya kali ini. tapi tetap saja aku harus memikirkannya dulu.”
Ha-jong mengangguk. “Tentu saja. Pikirkanlah. Hari ini orang yang akan menjadi investor dalam pembuatan drama itu akan datang, kau harus menemaniku menyambutnya.”
“Baiklah,” gumam Hea-in tak berminat.
“Selamat malam,” sapa Sung-min, Dong-hae, Ki-bum, dan Kyu-hyun yang tanpa disadari telah menghampiri sang tuan rumah.
“Ah, kalian datang juga rupanya,” ucap Ha-jong ramah.
“Tentu saja. Suatu kehormatan mendapat undangan dari Anda,” jawab Sung-min, selaku yang tertua, mewakili grupnya.
Tanpa berusaha menahan diri, Seo-min mendengus meremehkan perkataan Sung-min yang dianggapnya berlebihan, dan mendapat delikan dari pria tersebut. Dengan sengaja Seo-min membuang muka dan tanpa sengaja bertatapan dengan Dong-hae sesaat sebelum keduanya bersama-sama mengalihkan pandangan.
Hyun-in yang memperhatikan hal tersebut merasa tak nyaman. Hatinya terasa tak tenang. Ia menyalahkan dirinya sendiri yang tak juga berani bicara mengenai hal tersebut pada kakaknya.
“Pink— maksudku, Sung-min,“ panggil Seo-min tiba-tiba. “Ayo, kuantar kau berkeliling,” ajaknya, dengan sengaja ingin menjauh dari Dong-hae sekaligus memamerkan keakrabannya dengan Sung-min.
Sung-min pun memahami hal tersebut. Ia melirik Dong-hae, lalu menatap Seo-min kesal. “Terima kasih, tapi tidak perlu,” katanya berusaha sopan demi menghormati Kang Ha-jong.
“Oh, kurasa itu ide bagus,” komentar Ha-jong sembari tersenyum ramah. “Benar, biar putri-putriku mengajak kalian berkeliling. Bersenang-senanglah.”
Seo-min melayangkan senyum kemenangan pada Sung-min sembari menarik tangan pria itu untuk mengikutinya. gerakannya tersebut tak luput dari perhatian Dong-hae, yang kemudian berusaha melihat ke arah lain.
Hea-in mengamati reaksi kecemburuan Dong-hae selama beberapa detik sebelum melangkah maju dan menggandeng pria itu. Dong-hae yang terkejut, menunduk memandang Hea-in yang tengah tersenyum padanya.
“Ayo pergi,” ajak Hea-in. “Ada banyak tempat menarik di rumah ini, dan aku bukan menyombong, hanya mengungkapkan fakta.”
Dong-hae tersenyum tipis. “Baiklah,” komentarnya setuju.
- Kediaman keluarga Kang -
“Kau pikir usiamu baru 17 tahun? Untuk apa merayakan acara tak penting seperti ini!?” Kang Bo-jong mengejek kakaknya.
Kang Ha-jong tertawa gembira, tak terganggu sama sekali dengan ejekan adiknya. “44 tahun terdengar seperti 17 tahun untukku,” balasnya.
Bo-jong hanya geleng-geleng kepala mendengar komentar tersebut. “Dimana para gadis kesayanganku?”
Ha-jong mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, di mana sudah banyak tamu berkeliaran dalam ruang-ruang rumahnya yang luas, namun ketiga putrinya tak terlihat di mana pun.
“Sepertinya mereka belum turun—“
“Itu mereka!” ucap Bo-jong tiba-tiba, menunjuk ke arah tangga. Ha-jong berputar untuk melihat, dan tersenyum memandangi ketiga putrinya yang tengah menuruni tangga.
Malam ini Hea-in tampak spektakuler seperti biasa, mengenakan gaun putih panjang bermotif bunga berwarna hitam, dipadu dengan mantel hitam tipis dan perhiasan mewah. Dibelakangnya kedua adiknya berjalan berdampingan. Seo-min yang tak memiliki gaun—bukan karena tak mampu membeli, namun tak berselera mengenakan rok—hanya mengenakan blus putih yang walau sederhana namun tetap terlihat elegan, dipadu celana panjang kain berwarna abu-abu muda yang membungkus kaki jenjangnya dengan sempurna, dan sekedar mencepol rambut pirang panjangnya dengan rapi tanpa perhiasan apapun. Sedangkan Hyun-in terlihat cantik dengan mini dress merah muda, dan sedikit perhiasan untuk melengkapi penampilannya.
“Selamat ulangtahun, Ayah,” ucap Hyun-in ceria sembari memeluk Kang Ha-jong, sementara kedua kakaknya hanya menggumamkan ucapan selamat seadanya di belakang mereka.
“Terima kasih, Tuan Putri,” sahut Ha-jong gembira. “Ah, Hea-in, managermu sudah memberikan skrip drama komedi romantis yang kuusulkan untukmu?” tanyanya tiba-tiba.
Hea-in mengangguk. “Sepertinya memang menarik,” jawabnya mengomentari. “Apalagi karena aku akan menjadi pemeran utamanya kali ini. tapi tetap saja aku harus memikirkannya dulu.”
Ha-jong mengangguk. “Tentu saja. Pikirkanlah. Hari ini orang yang akan menjadi investor dalam pembuatan drama itu akan datang, kau harus menemaniku menyambutnya.”
“Baiklah,” gumam Hea-in tak berminat.
“Selamat malam,” sapa Sung-min, Dong-hae, Ki-bum, dan Kyu-hyun yang tanpa disadari telah menghampiri sang tuan rumah.
“Ah, kalian datang juga rupanya,” ucap Ha-jong ramah.
“Tentu saja. Suatu kehormatan mendapat undangan dari Anda,” jawab Sung-min, selaku yang tertua, mewakili grupnya.
Tanpa berusaha menahan diri, Seo-min mendengus meremehkan perkataan Sung-min yang dianggapnya berlebihan, dan mendapat delikan dari pria tersebut. Dengan sengaja Seo-min membuang muka dan tanpa sengaja bertatapan dengan Dong-hae sesaat sebelum keduanya bersama-sama mengalihkan pandangan.
Hyun-in yang memperhatikan hal tersebut merasa tak nyaman. Hatinya terasa tak tenang. Ia menyalahkan dirinya sendiri yang tak juga berani bicara mengenai hal tersebut pada kakaknya.
“Pink— maksudku, Sung-min,“ panggil Seo-min tiba-tiba. “Ayo, kuantar kau berkeliling,” ajaknya, dengan sengaja ingin menjauh dari Dong-hae sekaligus memamerkan keakrabannya dengan Sung-min.
Sung-min pun memahami hal tersebut. Ia melirik Dong-hae, lalu menatap Seo-min kesal. “Terima kasih, tapi tidak perlu,” katanya berusaha sopan demi menghormati Kang Ha-jong.
“Oh, kurasa itu ide bagus,” komentar Ha-jong sembari tersenyum ramah. “Benar, biar putri-putriku mengajak kalian berkeliling. Bersenang-senanglah.”
Seo-min melayangkan senyum kemenangan pada Sung-min sembari menarik tangan pria itu untuk mengikutinya. gerakannya tersebut tak luput dari perhatian Dong-hae, yang kemudian berusaha melihat ke arah lain.
Hea-in mengamati reaksi kecemburuan Dong-hae selama beberapa detik sebelum melangkah maju dan menggandeng pria itu. Dong-hae yang terkejut, menunduk memandang Hea-in yang tengah tersenyum padanya.
“Ayo pergi,” ajak Hea-in. “Ada banyak tempat menarik di rumah ini, dan aku bukan menyombong, hanya mengungkapkan fakta.”
Dong-hae tersenyum tipis. “Baiklah,” komentarnya setuju.
DISASTER LOVE - Chap 14 - Fanfiction Super Junior -
CHAPTER 14
- Perumahan Jogang, lokasi shooting -
Noh Ji-ni, ibu Hea-in, mengalihkan perhatiannya sejenak dari putri semata wayangnya itu, dan tersenyum ramah pada Seo-min, Kyu-hyun, dan Hyun-in.
“Kalian teman-teman Hea-in?” tanyanya ramah.
Seo-min dan Hyun-in tak dapat menjawab. Mereka terlalu terkejut karena akhirnya bertemu dengan istri pertama ayah mereka.
Mengambil kesempatan dalam keheningan canggung tersebut, Kyu-hyu melangkah maju dan membungkuk hormat pada Noh Ji-ni. “Cho Kyu-hyun, senang berkenalan dengan Anda,” katanya memperkenalkan diri dengan sopan, lalu dengan sengaja menyunggingkan senyum paling menawan yang dimilikinya untuk memikat ibu Hea-in.
Noh Ji-ni tersenyum senang. “Tentu saja aku mengenalmu,” katanya dengan suara seksi. “Bahkan alien pun pasti pernah mendengar tentang Super Junior.”
Kyu-hyun tertawa. “Anda pintar memuji.”
Noh Ji-ni tersenyum menggoda. “Karena itu banyak pria yang terpikat olehku,” sombongnya bercanda. tiba-tiba sorot matanya berubah menyelidik. “Kau berteman akrab dengan putriku?”
Senyum tipis tersungging di bibir Kyu-hyun. Ia melirik Hea-in yang masih mematung dan pucat, tak dapat dipungkiri Kyu-hyun penasaran dengan alasan dibalik reaksi Hea-in ini, tetapi dia lebih memilih focus menarik perhatian ibu dari gadis incarannya tersebut. “Aku dan Hea-in bisa dibilang lebih dekat dari sekedar teman,” jawabnya.
Mata Noh Ji-ni membesar terkejut. “Benarkah?” gumamnya senang.
Jawaban Kyu-hyun menyadarkan Hyun-in dari keterdiamannya. Ia langsung menatap pemuda itu. Kyu-hyun yang merasa seseorang tengah memandanginya, menoleh, dan heran melihat tatapan “aneh” yang dilayangkan Hyun-in padanya sebelum gadis itu lagi-lagi membuang muka dengan sengaja.
Seo-min berdeham canggung sebelum membungkuk. “Maafkan reaksi kami,” katanya berusaha sopan. “kami hanya terlalu terkejut… ini pertama kalinya kami melihat ibu dari Hea-in. Ah, namaku Kang Seo-min,”
Hyun-in buru-buru membungkuk hormat. “Namaku Kang Hyun-in.”
Noh Ji-ni tersenyum kecil. “Tak apa, Sayang,” katanya menengangkan. “Jadi, sudah berapa lama kalian berteman dengan Hea-in?”
Seo-min dan Hyun-in bertukar pandang. “Kami… adik-adiknya,” jawab Hyun-in pada akhirnya, menyebabkan keterkejutan di pihak Noh Ji-ni.
“Adik-adik…? Oh! Kau… kalian…” ucap Noh Ji-ni tercengang. Kang Seo-min dan Kang Hyun-in. pantas saja, rupanya mereka bersaudara. Putri-putri dari pernikahan Kang Ha-jong yang lain? pikirnya menebak-nebak.
“Pergi,” perintah Hea-in tiba-tiba—ketika sudah dapat mengendalikan dirinya—dengan suara yang terdengar aneh, bahkan untuk di telinganya sendiri.
“Apa—“ Kyu-hyun, memulai, namun dipotong oleh bentakan Hea-in.
- Perumahan Jogang, lokasi shooting -
Noh Ji-ni, ibu Hea-in, mengalihkan perhatiannya sejenak dari putri semata wayangnya itu, dan tersenyum ramah pada Seo-min, Kyu-hyun, dan Hyun-in.
“Kalian teman-teman Hea-in?” tanyanya ramah.
Seo-min dan Hyun-in tak dapat menjawab. Mereka terlalu terkejut karena akhirnya bertemu dengan istri pertama ayah mereka.
Mengambil kesempatan dalam keheningan canggung tersebut, Kyu-hyu melangkah maju dan membungkuk hormat pada Noh Ji-ni. “Cho Kyu-hyun, senang berkenalan dengan Anda,” katanya memperkenalkan diri dengan sopan, lalu dengan sengaja menyunggingkan senyum paling menawan yang dimilikinya untuk memikat ibu Hea-in.
Noh Ji-ni tersenyum senang. “Tentu saja aku mengenalmu,” katanya dengan suara seksi. “Bahkan alien pun pasti pernah mendengar tentang Super Junior.”
Kyu-hyun tertawa. “Anda pintar memuji.”
Noh Ji-ni tersenyum menggoda. “Karena itu banyak pria yang terpikat olehku,” sombongnya bercanda. tiba-tiba sorot matanya berubah menyelidik. “Kau berteman akrab dengan putriku?”
Senyum tipis tersungging di bibir Kyu-hyun. Ia melirik Hea-in yang masih mematung dan pucat, tak dapat dipungkiri Kyu-hyun penasaran dengan alasan dibalik reaksi Hea-in ini, tetapi dia lebih memilih focus menarik perhatian ibu dari gadis incarannya tersebut. “Aku dan Hea-in bisa dibilang lebih dekat dari sekedar teman,” jawabnya.
Mata Noh Ji-ni membesar terkejut. “Benarkah?” gumamnya senang.
Jawaban Kyu-hyun menyadarkan Hyun-in dari keterdiamannya. Ia langsung menatap pemuda itu. Kyu-hyun yang merasa seseorang tengah memandanginya, menoleh, dan heran melihat tatapan “aneh” yang dilayangkan Hyun-in padanya sebelum gadis itu lagi-lagi membuang muka dengan sengaja.
Seo-min berdeham canggung sebelum membungkuk. “Maafkan reaksi kami,” katanya berusaha sopan. “kami hanya terlalu terkejut… ini pertama kalinya kami melihat ibu dari Hea-in. Ah, namaku Kang Seo-min,”
Hyun-in buru-buru membungkuk hormat. “Namaku Kang Hyun-in.”
Noh Ji-ni tersenyum kecil. “Tak apa, Sayang,” katanya menengangkan. “Jadi, sudah berapa lama kalian berteman dengan Hea-in?”
Seo-min dan Hyun-in bertukar pandang. “Kami… adik-adiknya,” jawab Hyun-in pada akhirnya, menyebabkan keterkejutan di pihak Noh Ji-ni.
“Adik-adik…? Oh! Kau… kalian…” ucap Noh Ji-ni tercengang. Kang Seo-min dan Kang Hyun-in. pantas saja, rupanya mereka bersaudara. Putri-putri dari pernikahan Kang Ha-jong yang lain? pikirnya menebak-nebak.
“Pergi,” perintah Hea-in tiba-tiba—ketika sudah dapat mengendalikan dirinya—dengan suara yang terdengar aneh, bahkan untuk di telinganya sendiri.
“Apa—“ Kyu-hyun, memulai, namun dipotong oleh bentakan Hea-in.
DISASTER LOVE - Chap 13 - Fanfiction Super Junior -
CHAPTER 13
- Kediaman keluarga Kang -
Kang Ha-jong dan putri bungsunya, Hyun-in, tengah menyantap sarapan berdua. Hea-in sejak pagi-pagi sekali telah berangkat ke lokasi shooting—kedua artis yang sebelumnya terluka karena kecelakaan kini telah dapat kembali beraktivitas, maka proses shooting pun dilanjutkan—sedangkan Seo-min masih di kamarnya.
“…ya, lakukan itu,” kata Ha-jong tegas pada pengacaranya lewat ponsel. “Buat sesulit mungkin. Aku ingin bajingan-bajingan cilik itu terus mengingat ini, dan menyesal telah berurusan dengan keluarga Kang,” tambahnya dingin. “Hmm. Itu bagus. Kabari aku begitu ada perkembangan.”
Hyun-in melirik ayahnya dalam diam. Semalam, kakaknya, Seo-min, mengejutkan seisi rumah karena datang dengan diantar oleh Lee Sung-min, dan dalam kondisi wajah yang memar dan terluka. Ha-jong sangat khawatir pada Seo-min, dan amat murka pada para pemuda yang mengeroyok putrinya tersebut. Karena itu tak mengherankan bila sekarang dia menyuruh pengacara keluarga untuk menuntut pemuda-pemuda tersebut.
baru saja mengangkat gelas susunya, Hyun-in terpaksa menaruhnya kembali ke meja karena ponselnya berbunyi. SMS dari managernya.
From : Kak Pil-Sook
Hyun-in, ingat untuk datang ke kantor redaksi majalah MINE jam 1 siang nanti. Oh ya, aku mengurus banyak hal kemarin hingga lupa menanyakan, sebenarnya ada keperluan apa Cho Kyu-hyun denganmu? Kemarin dia meminta nomor ponselmu padaku karena katanya ada urusan penting. Apakah masalah pekerjaan? Bila memang penting, beritahu aku.
Jadi kak Pil-sook yang memberikan nomorku pada kak Kyu-hyun… pantas saja, pikir Hyun-in. ia sedang sibuk mengetik SMS balasan untuk managernya itu, ketika tiba-tiba mendengar suara Seo-min.
“Di mana kunci motorku?” tanya Seo-min. “motorku sudah datang, kan?”
“Semalam orangku sudah membawanya kemari, kau tenang saja,” sahut Ha-jong. “Untuk apa kau menginginkan kuncinya? Kau tak boleh ke mana-mana dalam kondisi seperti itu. istirahatlah di rumah—“
“Hanya karena wajahku sedikit terluka, bukan berarti aku menjadi lumpuh,” protes Seo-min keras kepala. “Berikan kunciku!” desaknya memaksa.
Namun kekeraskepalaan Seo-min merupakan turunan dari Ha-jong, karena itu pria itu pun berkeras dengan keputusannya. “Tidak,” ucapnya tegas.
Seo-min memutar bola matanya sambil menggeram. “Aku ada urusan penting. Bila Ayah tak mau memberikan kuncinya padaku, terserah, aku pergi dengan taksi—“
“Kakak mau ke mana?” sela Hyun-in cepat. “Bila memang penting, aku bisa mengantarmu. Kebetulan pagi ini aku tidak ada kegiatan,” tawarnya.
Ha-jong mengamati putri kedua dan bungsunya itu bergantian. Ia memang lebih suka Seo-min beristirahat di rumah, tetapi ini kejadian langka. Tidak setiap hari dia bisa melihat kedua putrinya pergi bersama seperti ini.
“Kau?” tanya Seo-min terkejut, menatap adiknya.
Hyun-in mengangguk. “Bila kau mau,” katanya.
Seo-min diam sejenak untuk memikirkannya sebelum mengangguk. “Bagaimana?” tanyanya pada ayahnya.
Ha-jong berusaha menahan senyumnya. “Baiklah, kau boleh pergi.”
- Kediaman keluarga Kang -
Kang Ha-jong dan putri bungsunya, Hyun-in, tengah menyantap sarapan berdua. Hea-in sejak pagi-pagi sekali telah berangkat ke lokasi shooting—kedua artis yang sebelumnya terluka karena kecelakaan kini telah dapat kembali beraktivitas, maka proses shooting pun dilanjutkan—sedangkan Seo-min masih di kamarnya.
“…ya, lakukan itu,” kata Ha-jong tegas pada pengacaranya lewat ponsel. “Buat sesulit mungkin. Aku ingin bajingan-bajingan cilik itu terus mengingat ini, dan menyesal telah berurusan dengan keluarga Kang,” tambahnya dingin. “Hmm. Itu bagus. Kabari aku begitu ada perkembangan.”
Hyun-in melirik ayahnya dalam diam. Semalam, kakaknya, Seo-min, mengejutkan seisi rumah karena datang dengan diantar oleh Lee Sung-min, dan dalam kondisi wajah yang memar dan terluka. Ha-jong sangat khawatir pada Seo-min, dan amat murka pada para pemuda yang mengeroyok putrinya tersebut. Karena itu tak mengherankan bila sekarang dia menyuruh pengacara keluarga untuk menuntut pemuda-pemuda tersebut.
baru saja mengangkat gelas susunya, Hyun-in terpaksa menaruhnya kembali ke meja karena ponselnya berbunyi. SMS dari managernya.
From : Kak Pil-Sook
Hyun-in, ingat untuk datang ke kantor redaksi majalah MINE jam 1 siang nanti. Oh ya, aku mengurus banyak hal kemarin hingga lupa menanyakan, sebenarnya ada keperluan apa Cho Kyu-hyun denganmu? Kemarin dia meminta nomor ponselmu padaku karena katanya ada urusan penting. Apakah masalah pekerjaan? Bila memang penting, beritahu aku.
Jadi kak Pil-sook yang memberikan nomorku pada kak Kyu-hyun… pantas saja, pikir Hyun-in. ia sedang sibuk mengetik SMS balasan untuk managernya itu, ketika tiba-tiba mendengar suara Seo-min.
“Di mana kunci motorku?” tanya Seo-min. “motorku sudah datang, kan?”
“Semalam orangku sudah membawanya kemari, kau tenang saja,” sahut Ha-jong. “Untuk apa kau menginginkan kuncinya? Kau tak boleh ke mana-mana dalam kondisi seperti itu. istirahatlah di rumah—“
“Hanya karena wajahku sedikit terluka, bukan berarti aku menjadi lumpuh,” protes Seo-min keras kepala. “Berikan kunciku!” desaknya memaksa.
Namun kekeraskepalaan Seo-min merupakan turunan dari Ha-jong, karena itu pria itu pun berkeras dengan keputusannya. “Tidak,” ucapnya tegas.
Seo-min memutar bola matanya sambil menggeram. “Aku ada urusan penting. Bila Ayah tak mau memberikan kuncinya padaku, terserah, aku pergi dengan taksi—“
“Kakak mau ke mana?” sela Hyun-in cepat. “Bila memang penting, aku bisa mengantarmu. Kebetulan pagi ini aku tidak ada kegiatan,” tawarnya.
Ha-jong mengamati putri kedua dan bungsunya itu bergantian. Ia memang lebih suka Seo-min beristirahat di rumah, tetapi ini kejadian langka. Tidak setiap hari dia bisa melihat kedua putrinya pergi bersama seperti ini.
“Kau?” tanya Seo-min terkejut, menatap adiknya.
Hyun-in mengangguk. “Bila kau mau,” katanya.
Seo-min diam sejenak untuk memikirkannya sebelum mengangguk. “Bagaimana?” tanyanya pada ayahnya.
Ha-jong berusaha menahan senyumnya. “Baiklah, kau boleh pergi.”
Sabtu, 10 September 2011
Disaster Love - Chap 12 - Fanfiction Super Junior -
CHAPTER 12
- Studio - Lokasi shooting video klip -
Hyun-in membiarkan asistennya menyisir rambutnya untuk terakhir kali sebelum proses shooting dimulai, sementara itu ia terus mengawasi gerak-gerik Dong-hae yang berada di seberang ruangan.
Semenjak melihat Dong-hae bersama kakaknya di rumah sakit sekitar sembilan hari lalu, Hyun-in belum pernah lagi bertemu dengan pria tersebut hingga hari ini, untuk shooting video klip soundtrack Disaster Love yang dinyanyikan Hyun-in, yang berjudul Sad Story.
Ada dua versi video klip Sad Story; yang pertama adalah cuplikan-cuplikan adegan di film, sedangkan versi kedua adalah yang sedang dibuat saat ini, dimana Dong-hae menjadi model prianya.
Sad Story berkisah tentang gadis yang diam-diam mencintai seorang pria namun tak yakin akan ketulusan pria tersebut hingga memilih berhati-hati dan menjaga jarak walau sang pria terus berusaha mendapatkan perhatian gadis tersebut. Sesuai judul lagunya, kisah tersebut berakhir sedih karena di saat sang gadis akhirnya mempercayai pria tersebut, semua sudah terlambat… pria itu jatuh cinta dan menikah dengan wanita lain.
“Hyun-in,” sapa Dong-hae ramah ketika Hyun-in menghampirinya. “Tidak gugup menghadapi shooting pertamamu?”
Hyun-in ikut tersenyum. “Sebenarnya, aku cukup gugup.”
“Tenang saja, kau pasti melewatinya dengan baik,” dukung Dong-hae.
“Nona Kang, Lee Dong-hae, kita mulai sekarang!” panggil seorang kru.
“Semangat!” kata Dong-hae sambil menepuk pundak Hyun-in.
Hyun-in bersiap ditempatnya, menunggu aba-aba dari sutradara untuk melangkah maju. “Action!” seru sutradara, dan ia pun berjalan di antara kursi-kursi yang berjejer membentuk lorong menuju altar dimana Dong-hae tengah berdampingan dengan seorang model wanita dan pendeta. Studio ini di setting menjadi sebuah gereja kecil bernuansa putih, serasi dengan gaun pengantin yang dikenakan sang mempelai wanita.
Sembari berjalan, kedua mata Hyun-in terpaku sepenuhnya pada Dong-hae yang tengah tersenyum manis pada si model wanita. Tiba-tiba saja ingatan tentang kakaknya, Hea-in, dan Dong-hae bersama di rumah sakit waktu itu menyerbu benaknya.
Aku tidak sebanding dengan kak Hea-in… tentu saja kak Dong-hae lebih menyukai kakak… aku hanya bocah ingusan jelek bila dibandingkan dengan kak Hea-in yang dewasa dan mempesona… seharusnya aku menyadarinya dari dulu… seharusnya aku tidak banyak berharap, pikirnya sedih.
Dan semua kesedihan tersebut tergambar di wajahnya, membuat sang sutradara melihatnya dengan tersenyum puas, mengira Hyun-in sedang berakting. Sang sutradara memberi aba-aba pada asistennya, yang segera memutar rekaman lagu Sad Story yang dinyanyikan Hyun-in.
Sesuai instruksi yang telah diberikan padanya sebelumnya, begitu mendengar music, Hyun-in segera bersiap, dan ketika rekaman suaranya mulai mengalun, ia pun menyanyi tanpa suara.
Label:
Donghae,
Fanfiction,
Kibum,
Kyuhyun,
Sungmin,
Super junior,
TBC
DISASTER LOVE - Chap 11 - Fanfiction Super Junior -
CHAPTER 11
- Perumahan Jogang, lokasi shooting - Seoul -
Entah sudah berapa menit Hyun-in duduk diam di dalam mobilnya memandangi rumah yang menjadi lokasi shooting film Disaster Love hari ini. diliriknya kantung kertas yang ditaruhnya di kursi penumpang.
Saat di vila waktu itu, tanpa sengaja Hyun-in telah memutuskan kalung ponsel Kyu-hyun, dan ia amat tak enak hati. Sejak kecil Hyun-in sangat jarang—mungkin dapat dihitung dengan jari—melampiaskan amarah atau kesedihannya dengan melakukan kekasaran, tetapi hari itu ia melakukannya pada Kyu-hyun.
Karena itu, kemarin, saat pulang dari vila, ia pergi ke toko aksesoris untuk membelikan kalung ponsel baru untuk menggantikan milik Kyu-hyun yang rusak. Namun sekarang Hyun-in ragu untuk memberikannya karena malu.
Ketika masih menimbang-nimbang akan memberikannya pada Kyu-hyun atau tidak, pemuda yang sedang menjadi bahan pikiran Hyun-in itu baru saja sampai di lokasi shooting. Kyu-hyun keluar dari van perusahaannya dengan mengenakan kacamata hitam yang membuat penampilannya semakin terlihat keren.
Tanpa pikir panjang lagi Hyun-in bergegas keluar dari mobilnya dan berlari kecil untuk menyusul Kyu-hyun.
“Kak Kyu-hyun!” panggilnya, menghentikan langkah pemuda itu.
“Kenapa?” tanya Kyu-hyun santai sambil berputar untuk menghadap Hyun-in, seolah tidak kaget melihat gadis itu menghampirinya.
Saat tiba di hadapan Kyu-hyun, Hyun-in berubah gugup dan canggung. Hari-hari terakhir mereka di vila keduanya tak bertegur sapa akibat pertengkaran tentang sikap Kyu-hyun yang dianggap Hyun-in kelewatan pada gadis-gadis yang menghinanya.
Karena Hyun-in tak kunjung bicara, Kyu-hyun sedikit tak sabaran. “Kalau mencari kak Dong-hae, sepertinya dia sudah di dalam—“
Senin, 08 Agustus 2011
DISASTER LOVE - Chap 10 - Fanfiction Super Junior -
CHAPTER 10
Hea-in sedang mengambil susu dari kulkas ketika Sung-min memasuki dapur dengan wajah murung dan lesu.
“Selamat pagi,” sapa Hea-in, yang hanya dibalas seadanya oleh Sung-min. “Kurang tidur? Bukankah semalam kau lebih dulu selesai shooting?”
Sung-min duduk di kursi yang di susun di depan counter, dan mengusap wajahnya dengan kasar. “Aku tidak bisa tidur,” gumamnya. “Ah, apa kau melihat Dong-hae pagi ini?” tanyanya tiba-tiba.
Hea-in mengerutkan kening heran. “Dong-hae? Tidak, aku belum bertemu dengannya hari ini. Ada apa?”
Sung-min menghembuskan napas lelah. “Pergi ke mana dia…” gumamnya tanpa menjawab Hea-in.
“Ada apa sebenarnya— ah, itu dia,“ kata Hea-in tiba-tiba, ketika Dong-hae memasuki dapur lewat pintu belakang.
Secepat kilat Sung-min berputar di kursinya untuk menghadap Dong-hae. “Dari mana saja kau? Kenapa semalam tidak pulang!?” tuntut Sung-min.
Dong-hae melirik ‘kakaknya’ itu sekilas sebelum membuang muka. Semalam ia berjalan kaki ke bukit di sekitar kompleks vila untuk menangkan diri. Jika saja mereka berada di Seoul, ia pasti akan memilih pergi jauh menggunakan mobilnya, namun tak ada kendaraan lain di lokasi ini selain milik Tuan Kang, karena itu terpaksa ia berjalan kaki.
Berjam-jam ia duduk di bawah sebuah pohon, memikirkan apa yang telah terjadi, dan tetap tak bisa mengerti bagaimana mungkin Sung-min tega melakukan semua itu padanya. Dong-hae memang menyukai Seo-min, tetapi ia belum mengenal betul siapa dan bagaimana gadis itu. mungkin bila ia melihat Seo-min berciuman dengan pria lain—siapa saja selain Sung-min, sahabatnya sendiri—sakit yang dirasakannya tak akan sebesar ini. pengkhianatan Sung-minlah yang paling melukai hati Dong-hae.
Mengapa kak Sung-min tidak jujur saja padaku bila dia juga menyukai Seo-min? kenapa harus menusukku dari belakang? Bila dia jujur, kami bisa bersaing secara adil… tak perlu begini… semua itu yang dipikirkan oleh Dong-hae semalaman. Dan kekecewaannya pada Sung-min membuatnya tak berselera untuk bicara baik-baik dengan pria itu sekarang.
“Dong-hae, kita harus bicara,” kata Sung-min sambil beranjak dari kursinya untuk mendekati Dong-hae.
Hea-in benar-benar terkejut saat melihat sikap tak peduli yang Dong-hae pertunjukkan terang-terangan pada teman segrupnya itu. tak pernah dilihatnya Dong-hae bersikap sekasar ini sebelumnya.
“Dong-hae—“ perkataan Sung-min terhenti ketika Seo-min memasuki dapur.
Seketika langkah Dong-hae pun terhenti. Keduanya berhadap-hadapan di ambang pintu dapur yang menuju ruang makan. Tatapan tajam Dong-hae yang berbalut kekecewaan tertuju sepenuhnya pada Seo-min yang berusaha terlihat acuh tak acuh walau sebenarnya amat gugup dan merasa bersalah.
“Aku mau bicara denganmu,” kata Dong-hae.
“Tak ada yang perlu dibicarakan,” kata Seo-min santai sambil berjalan melewati pria itu.
“Ikut aku,” perintah Dong-hae tegas sembari menarik lengan Seo-min agar mengikutinya.
“Jelaskan padaku apa yang terjadi semalam,” pinta Dong-hae setelah berada di ruang tengah yang kosong.
Seo-min tak sanggup menatap wajah pria itu ketika menjawab. “Bukankah kau sudah melihatnya sendiri?”
Diam sesaat sebelum Dong-hae kembali bertanya. “Kak Sung-min kah orangnya?” tanyanya. “Pria yang kau suka?”
“Ya,” sahut Seo-min dengan berat hati.
Senin, 01 Agustus 2011
DISASTER LOVE - Chap 9 - Fanfiction Super Junior -
CHAPTER 9
- Vila -
Dong-hae mengetuk pintu kamar itu untuk ketiga kalinya, dengan sabar menanti Seo-min membukakan pintu. Semalam gadis itu tidak kembali ke pesta. Hal yang disayangkan sekaligus disyukuri Dong-hae. Sayang karena ia masih ingin berdekatan dengan gadis itu, tapi juga bersyukur karena hal tersebut membuat Seo-min tak perlu melihat Hyun-in menciumnya. Karena itu, pagi ini, selagi para kru bersiap-siap, ia ingin bertemu Seo-min untuk mengajaknya sarapan bersama.
Klik. Suara pintu yang terbuka membuat Dong-hae tersenyum. Tetapi bukan Seo-min yang berdiri di hadapannya, melainkan Hea-in yang hanya mengenakan gaun tidur hitam mini dan tipis yang hanya dilapisi kimono merah tua yang sebenarnya tak ada gunanya untuk menutupi tubuh.
Mata Dong-hae terbelalak dan sesaat—sebagaimana pria normal—ia tak bisa mengalihkan pandangan dari kemolekan tubuh Hea-in yang terpampang di hadapannya, namun segera setelah hilang keterkejutannya, ia memalingkan wajahnya yang merona merah.
Hea-in mengamati reaksi pria di depannya dengan tersenyum sinis. Pria tetap pria. Sekalipun dia bilang tak menyukaiku, melihatku seperti ini tetap membuatnya bereaksi, pikirnya kesal.
“Apa yang membuat seorang Lee Dong-hae mendatangi kamarku sepagi ini?” tanya Hea-in dengan nada merayu.
“Eh, itu, aku… apa Seo-min ada?” tanya Dong-hae, masih tanpa menatap Hea-in.
Senyum di wajah Hea-in menghilang dengan cepat mendengar nama adiknya. “untuk apa mencari yang tak ada?” jawabnya. Wanita itu mengamati Dong-hae selama sedetik sebelum menerangkan. “Dia sudah keluar pagi-pagi sekali.”
“Oh, begitu. Ehm… terima kasih, kalau begitu aku pergi—“
Hea-in segera menghentikan kepergian Dong-hae dengan menangkap pundak pria tersebut. “Bagaimana rasanya?” bisiknya di punggung Dong-hae.
“aku tidak mengerti—“
“Dicium adikku Hyun-in tersayang?”
Dong-hae memutar kepalanya menatap Hea-in. seingatnya semalam wanita itu tak ada di pesta saat kejadian mengejutkan tersebut berlangsung, jadi bagaimana bisa? Apa dia mendengar dari orang-orang yang bergosip?
Melihat Dong-hae yang hanya terdiam kebingungan di hadapannya, Hea-in melangkah semakin dekat dan menempelkan jari telunjuknya di bibir pria itu. “Kalau kau bertanya padaku, jawabannya adalah aku sangat tidak suka. Aku tidak suka melihatnya. Sangat tidak suka.”
“Erhm… Nona Kang—“ Dong-hae berusaha beranjak mundur, tetapi Hea-in langsung mengalungkan tangannya di leher pria itu.
“Rambut ini,” ucap Hea-in sembari menyentuh rambut Dong-hae. “Telinga ini, wajah ini, mata ini, hidung ini, dan bibir ini…” ia terus menyentuh tempat-tempat yang disebutnya. “tak ada wanita lain yang boleh menyentuhnya selain aku,” katanya tegas.
DISASTER LOVE - Chap 8 - Fanfiction Super Junior -
CHAPTER 8
- Vila -
“Berhentilah membuang-buang energy memarahiku,” saran Kyu-hyun santai pada Sung-min selagi mereka ia, Sung-min, dan Ki-bum berjalan keluar dari rumah setelah berganti kostum dan didandani di ruang rias.
Sung-min mendelik kesal ke arah Kyu-hyun sedetik sebelum tangannya terayun untuk memukul kepala pemuda tersebut. Namun karena sudah melihat gelagat pria itu, dengan cepat Kyu-hyun menghindar dan menertawakan Sung-min.
“Awas kau, ya!” geram Sung-min. “gara-gara kau, aku kehujanan, mendorong motor berat yang mogok, menginap bersama si monster wanita itu dan terpaksa mendengar orang—“
“Orang apa?” tanya Kyu-hyun, justru penasaran, dan bukannya takut dengan kemarahan Sung-min.
Mendengarkan orang bercinta. Itu yang nyaris dikatakan Sung-min, namun dengan cepat ia mengehentikan diri. Ia sudah cukup sial tanpa harus mengundang si iblis kecil itu mengolok-oloknya tentang hal tersebut.
Cepat-cepat Sung-min melepas sepatu yang dikenakannya dan melemparnya pada Kyu-hyun yang lagi-lagi dengan cepat menghindar, tapi sialnya justru punggung Ki-bum yang tak berdosa yang menjadi korban.
“Maaf, maaf, sasaranku Kyu, bukan kau!” kata Sung-min buru-buru saat Ki-bum berputar untuk memelototinya dan Kyu-hyun.
Kyu-hyun si biang kerok tertawa terbahak-bahak, benar-benar terhibur melihat kakak-kakaknya. Tapi tawanya segera terhenti saat ia memandang keluar dari pintu yang terbuka dan melihat Dong-hae tengah menyudutkan Seo-min di mobil, terlihat seperti akan menciumnya…
“Apa itu!?” serunya kaget, menunjuk Dong-hae dan Seo-min, lalu bergegas keluar rumah diiringi Sung-min dan Ki-bum yang penasaran.
“Astaga!” seru Sung-min dan Kyu-hyun kompak dalam kehebohan. “Apa yang kalian lakukan siang-siang begini!?”
Seo-min tersentak. Seketika kesadarannya kembali. Cepat-cepat ia mendorong Dong-hae dan pergi dari tempat itu untuk menenangkan debaran jantungnya. Sekilas ia melirik Kyu-hyun, Sung-min, dan Ki-bum yang berdiri di teras dan tengah mengamatinya. Wajahnya merona. Rasa malu membuat Seo-min mempercepat langkahnya.
DISASTER LOVE - Chap 7 - Fanfiction Super Junior -
Chapter 7
- Perjalanan menuju vila, di dalam bus -
“Katanya kak Sung-min tadi sudah berangkat menyusul kita,” kata Kyu-hyun setelah memutus sambungan teleponnya. Karena cemas, ia menghubungi kantor KK Entertainment.
“Benarkah? Menggunakan taxi?” tanya Dong-hae. “Kasihan sekali dia. Kau seharusnya tidak lupa pesannya padamu.”
“Kalian juga tidak memperhatikan dia tidak ada, berarti bukan salahku sendiri,” bantah Kyu-hyun. “Oh ya, dia tidak menggunakan taxi, tapi motor—“
“Motor?” sela Ki-bum penasaran.
“Ya, katanya dia pergi berdua dengan Nona Kang. Kang Seo-min, maksudku,” jawab Kyu-hyun.
Hyun-in segera duduk tegak. “Kakak?” ucapnya terkejut.
Hea-in pun sontak menoleh untuk menatap Hyun-in. “Bukankah Seo-min bilang dia sibuk dan tak bisa ikut?” tanyanya dengan nada yang seolah-olah perubahan rencana Seo-min itu adalah kesalahan Hyun-in.
Diliriknya cepat Dong-hae untuk melihat reaksinya. Gawat bila Seo-min datang. Kemungkinan besar perhatian Dong-hae hanya akan tertuju padanya, batin Hea-in cemas.
Sementara itu, tanpa menyadari rasa cemas di hati dua bersaudari itu, Dong-hae tersenyum lebar. Bahkan dengan bersemangat ia membuka jendela dan mengeluarkan kepalanya untuk melihat jalanan di belakang bus, berharap dapat melihat Kang Seo-min melaju cepat mengejar bus dengan menggunakan motor Harley-nya. Dan walaupun harapannya itu tidak terkabul, ia tetap tersenyum senang membayangkan hari-harinya di vila nanti bersama gadis itu di sela waktu shooting.
“Kelihatan senang sekali,” komentar Ki-bum.
Dong-hae terkekeh. “Begitulah,” sahutnya. “Ah… semoga kak Sung-min dan Seo-min cepat menyusul kita.”
DISASTER LOVE - Chap 6 - Fanfiction Super Junior -
CHAPTER 6
- Studio 7 - Lokasi shooting -
“Aku sama sekali tidak memiliki perasaan pada adikmu. Aku yang—“ Dong-hae terdiam, mengingat-ingat dialognya.
“CUT!” seru Bong-soo. Pria itu menghela napas. sejak tadi Dong-hae terus melakukan kesalahan dan melupakan dialognya.
“Maaf, aku lupa,” keluh Dong-hae sambil meringis bersalah. sejak semalam ia merasa kurang sehat, dan menyebabkan dirinya tak dapat berkonsentrasi.
Hea-in menjauh dari jendela tempatnya berpose sejak tadi sambil bersedekap dan menatap tajam Dong-hae. “Tolong seriuslah,” katanya tegas dan dingin. “Sejak tadi kau terus membuang-buang waktuku dan yang lain!”
Dong-hae tersentak. Ia sama sekali tak menyangka akan mendengar perkataan seketus itu dari Hea-in yang selama ini selalu bermulut manis padanya.
“Maaf,” ucap Dong-hae penuh rasa bersalah. “Aku sedang tidak sehat. Tapi aku tahu seharusnya itu tidak menjadi alasan keteledoranku. Sekali lagi, maafkan aku. aku akan berusaha lebih baik.”
Ganti Hea-in yang terkejut. memang Dong-hae terlihat sedikit aneh sejak awal shooting tadi, tapi tak disangka olehnya itu disebabkan karena pria tersebut sedang sakit. ia menggigit bibir bawahnya. Sejak pagi ia bersikap dingin, acuh, dan seperti tadi, sedikit ketus pada Dong-hae. sengaja, demi mencuri perhatian pria itu, karena sikap manis merayunya selama ini jelas tak berpengaruh pada Dong-hae. tapi seandainya Hea-in tahu Dong-hae sedang sakit, tidak mungkin ia akan bicara seperti tadi.
Ki-bum yang berdiri di belakang sutradara, sedang menanti gilirannya, tersenyum geli melihat sedikit rasa panik dan bersalah yang selintas terlihat di wajah Hea-in saat mengetahui Dong-hae kurang sehat. Melihat sikap dingin dan acuh Hea-in pada Dong-hae sejak pagi tadi, ia sudah bisa menduga bahwa hal tersebut karena perkataannya waktu itu. rupanya Kang Hea-in ingin segera mempraktekkannya, batin Ki-bum, lalu tertawa geli, membuat Bong-soo menengadah menatapnya.
“Ada yang lucu?” tanya sang sutradara.
“Hmm.” gumam Ki-bum tanpa benar-benar menjawab, dan terus mengamati pergantian emosi di wajah Hea-in. Lucu, batinnya.
DISASTER LOVE - Chap 5 - Fanfiction Super Junior -
CHAPTER 5
- Perumahan Jogang - Lokasi shooting -
Mengesampingkan kecemburannya, Hyun-in memutuskan untuk segera bergerak. Ia harus bisa meyakinkan Dong-hae agar mau menjadi model video klip lagunya.
Hyun-in tersenyum saat melihat idolanya itu tengah mendiskusikan naskah dengan sutradara. “Selamat pagi,” sapanya ramah.
Ahn Bong-soo—sutradara yang juga sepupu para gadis Kang—dan Dong-hae menengadah menatap gadis itu. “Hmm… kuharap kau membawakan buah-buahan itu untukku,” kata Bong-soo setengah menyindir sambil menatap keranjang buah-buahan yang dibawa Hyun-in.
“Ini untuk kak Dong-hae,” sahut Hyun-in diiringi senyum kecil. “Tapi aku juga membawakan buah-buahan untukmu dan kru,” tambahnya sambil menunjuk ke belakangnya, dimana para kru tengah mengerubungi sekeranjang buah-buahan lain.
Bong-soo tersenyum. “Baiklah, atas kemurahan hatimu, akan kuperbolehkan kau bicara sebentar dengan bintangku,” katanya, mengerti keinginan adik sepupunya itu, lalu menjauh untuk menghampiri krunya.
“Hai,” sapa Dong-hae ramah.
“Untukmu,” kata Hyun-in sembari menyodorkan keranjang berisi buah jeruk, pir, kiwi dan strawberry itu.
“Wah, semua buah kesukaanku! Terima kasih, Hyun-in!” kata Dong-hae tulus. “Kau baik sekali. tapi aku jadi merasa tidak enak merepotkanmu seperti ini—“
“Tidak merepotkan sama sekali,” sela Hyun-in. “Biar kukupaskan jeruknya,” ia menawarkan.
“Tak perlu, aku bisa sendiri. sekali lagi terima kasih,” kata Dong-hae.
“Tidak apa-apa,” Hyun-in berkeras. Ia duduk di kursi yang sebelumnya ditempati kakak sepupunya, lalu mulai mengupas sebuah jeruk. “Ini,” katanya, mencoba menyuapkan sepotong jeruk pada pria idamannya itu.
Dong-hae terkejut, tetapi karena tak enak hati, ia menerima suapan buah itu, membuat wajah Hyun-in berseri. “Ehm… kak, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu…” mulai Hyun-in.
Minggu, 31 Juli 2011
DISASTER LOVE - Chap 4 - Fanfiction Super Junior -
CHAPTER 4
- KK Entertainment -
Hyun-in melangkah keluar dari lift yang mengantarkannya ke lantai empat, di mana ruangan ayahnya berada. Pikirannya melayang-layang, memikirkan Dong-hae. ia benar-benar malu mengingat kejadian semalam. Bagaimana bisa aku mabuk di depannya? keluh Hyun-in dalam hati.
Pagi ini, walaupun semalam Dong-hae berkata akan pergi show ke beberapa kota bersama Super Junior M, namun Hyun-in masih menyimpan harapan akan melihat pria itu di lokasi shooting. Sayangnya harapannya tak terwujud. Dong-hae memang sudah pergi. padahal ia ingin sekali mengucapkan terima kasih karena Dong-hae telah mengantarnya dan mobilnya dengan selamat sampai di rumah.
“Selamat siang, Nona Kang.”
Hyun-in segera tersadar dan menangguk serta menyunggingkan senyum sopan pada kedua karyawan wanita ayahnya yang menyapanya. “Selamat siang,” balasnya.
Kedua wanita itu tersenyum ramah sambil berjalan melaluinya. namun setelah beberapa langkah jauhnya dari Hyun-in, mereka berbisik-bisik membicarakan gadis itu. “Hidup tuan Putri satu itu nyaman sekali,” ucap salah seorang dari mereka, tak cukup pelan seperti yang dikiranya, hingga terdengar oleh Hyun-in. “dimanjakan dengan harta Tuan Kang dan mendapat kesempatan debut menjadi penyanyi. Membuat orang iri saja. eh, kudengar seluruh tubuhnya itu hasil operasi plastic!”
Hyun-in menghentikan langkahnya. Perlahan, ia menoleh ke belakang, memperhatikan punggung kedua wanita yang semakin menjauh itu.
“Benarkah? Pantas saja cantik seperti itu. yeah, tak heran dengan uang sebanyak itu dia bisa operasi bagian tubuhnya yang manapun dan kapanpun—“
Wajah Hyun-in sedikit memucat. Tak ingin mendengar lebih jauh lagi pembicaraan kedua wanita itu, ia mempercepat langkahnya menuju ruangan ayahnya.
Hal seperti ini bukan kejadian baru. Hyun-in sedih dan tak mengerti mengapa banyak sekali orang yang berbicara semanis madu bila di depannya namun menjelek-jelekkannya di belakang. Kebanyakan orang tak tulus padanya. semua bersikap baik padanya karena ia putri keluarga Kang yang terhormat, bukan karena pribadinya. dan bahkan disaat seperti itu pun mereka yang iri dengan apa yang dimilikinya terus menggunjingkan segala macam omong kosong yang sebenarnya tak pernah dilakukan Hyun-in—seperti kedua wanita tadi.
“Ah, Putriku tersayang,” kata Kang Ha-jong begitu putri bungsunya memasuki ruangannya. “Apa yang membuatmu datang ke mari?”
Hyun-in duduk di salah satu bangku. “Ada yang ingin kubicarakan,” jawab Hyun-in.
Mengerutkan kening, Ha-jong mengamati dengan khawatir wajah keruh putrinya itu. “Apakah terjadi sesuatu?”
Hyun-in cepat-cepat menggeleng. “Tidak apa-apa,” katanya. “Yang ingin kubicarakan denganmu adalah tentang Dong-hae—“
“Hahhh… sudahlah, Hyun-in. aku percaya pada penilaian pamanmu. Bila dia bilang suara Cho Kyu-hyun lah yang cocok untuk menyanyikan lagu itu, maka aku pun setuju dengannya. lagi pula kontrak sudah dibuat. Maaf, Sayang, tapi ini bisnis. aku tidak bisa menuruti kemauanmu untuk yang satu ini.”
Hyun-in sangat kecewa, namun tahu tak ada lagi yang bisa dikatakannya untuk mengubah pikiran ayahnya.
Kang Ha-jong berdiri lalu menghampiri putrinya. Dirangkulnya pundak Hyun-in penuh sayang. “Jangan sesedih ini,” pintanya. “Apa kau begitu menyukainya?”
Wajah Hyun-in langsung merona. “A… Ayah! aku hanya mengidolakannya!”
Langganan:
Postingan (Atom)


