Sabtu, 10 Desember 2011

FF Disaster Love - Chap 17 - Fanfiction Super Junior -

CHAPTER 17



- KK Entertainment -      


From : Dong-hae

Aku sudah dekat. Sebentar lagi sampai.


Hea-in tersenyum membaca pesan singkat tersebut. Dengan langkah ringan ia melangkah menuruni tangga menuju lobby di lantai dasar. Semenjak kejadian beberapa hari lalu, ketika ia menyatakan perasaannya pada pria itu, mereka menjadi lebih akrab. Memang bukan sebagai kekasih, dan juga tak ada pernyataan cinta dari Dong-hae—sebenarnya dia justru tak mengomentari pernyataan cinta Hea-in—namun persahabatan, dan perhatian pria itu untunya dirasa Hea-in cukup untuk saat ini. ia tak ingin memaksa Dong-hae. perlahan, Hea-in berharap dapat menyusup masuk ke hati pria itu.

Hmm… di restoran mana sebaiknya kami makan malam hari ini? batin Hea-in, menimbang-nimbang pilihannya sambil terus berjalan menuju pintu kaca ganda yang merupakan pintu masuk kantor ayahnya ini.

“Hea-in.”

Senyum diwajah Hea-in menguap, terhapus oleh ketegangan. Suara itu. ia menoleh sedikit, dan melihat ibunya berjalan menghampirinya. Tak ingin hari ini dihancurkan oleh kehadiran wanita yang telah melahirkannya itu, Hea-in memilih pergi.

Hea-in bergegas keluar dari gedung KK Entertainment, menuju tempat dimana mobilnya diparkir. Ia akan menelepon Dong-hae dan menyuruh pria itu menyusulnya saja. Ia tak bisa menunggu pria itu datang, dan terpaksa harus menghadapi ibunya.

“Hea-in, tunggu!” seru Noh Ji-ni, mengejar putrinya.



Sementara itu, Dong-hae, yang baru saja memasuki area parkir KK Entertainment, memarkirkan mobilnya di tempat kosong, di sebelah van perusahaan Tuang Kang.

Baru saja Dong-hae akan mengeluarkan ponsel untuk menelepon Hea-in dan memberitahu keberadaannya,  ia melihat wanita itu berjalan cepat menuju ke arah mobilnya.

“Apa dia melihat kedatanganku?” gumam Dong-hae sedikit heran sembari memperhatikan Hea-in. dipencetnya tombol untuk menurunkan kaca jendela mobilnya untuk memanggil wanita itu, namun kemudian diurungkannya niatnya ketika melihat ternyata Hea-in tak sendiri. Seorang wanita lain mengejar dan menangkap lengannya. Eh? Itu… bukankah dia ibu Hea-in? pikir Dong-hae, mengingat-ingat.

“Beginikah ayahmu membesarkanmu? Bersikap tak hormat pada orang yang lebih tua!?” bentak Noh Ji-ni marah. Begitu emosi dan sakit hati melihat sikap putri semata wayangnya itu. “Aku ibumu!”

“Lepaskan aku,” ucpa Hea-in dingin tanpa emosi.

“Aku hanya ingin kita bicara!” sergah Noh Ji-ni, “Jelas sudah terjadi salah paham sampai-sampai kau memperlakukan ibumu sendiri seperti ini! apa ayahmu menyuruhmu membenciku!? Dia menghasutmu, iya kan!?”

Suara tawa Hea-in yang melengking tanpa humor sama sekali. itu tawa yang menjeritkan luka hatinya. “Ayah tak ada hubungannya dengan semua ini. Kaulah yang membuatku membencimu. Kau!”

Walaupun dalam kegelapan malam, dan lampu di sekitar area parkir tersebut remang-remang, namun Dong-hae tetap bisa melihat betapa terpukulnya ibu Hea-in. sebagai anak yang sangat mencintai orangtuanya, Dong-hae mengernyit, seolah ikut merasakan sakit hati yang dirasakan Noh Ji-ni. tak seharusnya Hea-in sekasar itu pada ibunya… tetapi seperti kata Hea-in, Dong-hae tak akan mengerti karena dia tidak pernah menjalani hidup seperti wanita itu.

Tiba-tiba, sesuatu yang bergerak di sebelah kanan mobilnya mengalihkan perhatian Dong-hae. menyipitkan mata agar dapat lebih jelas melihat, akhirnya ia mengenali sosok itu. bukan satu, tetapi dua orang. Seo-min dan Hyun-in, yang rupanya baru keluar dari kantor, dan mungkin ingin mengambil kendaraan mereka, tetapi ketika melihat pertengkaran Hea-in dengan ibunya, kedua gadis itu memilih untuk tidak mengganggu, dengan bersembunyi di antara mobil Dong-hae dan van perusahaan yang terparkir di sebelah kanan mobilnya.

“Apa perkataanku terakhir kali itu belum cukup?” tanya Hea-in dingin, penuh permusuhan, sambil menyentak lepas tangannya dari pegangan ibunya. “Aku tak ingin bertemu denganmu lagi. Aku tak sudi melihatmu—“

Plak. Sebuah tamparan keras melayang ke pipi Hea-in. Dong-hae tersentak di dalam mobilnya, ia bergerak gelisah, ingin keluar dan melerai, namun akhirnya menahan diri. Ia tak boleh ikut campur. Kecuali memang dibutuhkan…

Dong-hae melirik Seo-min dan Hyun-in, yang sama terkejutnya dengan dirinya melihat kejadian itu. kedua gadis itu begitu focus pada kakak tiri mereka, hingga tak menyadari keberadaan Dong-hae di dalam mobil, apalagi dengan kegelapan malam seperti ini.

Memegangi pipinya yang panas, Hea-in mendengus. Ditatapnya wanita dihadapannya itu penuh kebencian.

“Ma-maafkan ibu… aku tidak—“

“Hanya tamparan,” Hea-in menyela perkataan ibunya dengan sinis. “Tak sebanding dengan rasa sakit dihatiku selama ini atas perbuatanmu.”

Noh Ji-ni amat menyesal karena menampar putrinya. Penderitaan terlihat di ekspresi wajahnya. “Oh, anakku, maafkan—“


“Untuk apa kau meminta maaf!? untuk menamparku, atau karena telah menjualku!?” bentak Hea-in dengan suara bergetar penuh emosi.

Dong-hae, Seo-min, dan Hyun-in terkesiap mendengar perkataan wanita itu, tetapi yang paling terkejut dan tak mengerti adalah Noh Ji-ni sendiri, sebagai orang yang dituduh oleh Hea-in.

“…ju… jual…? Apa maksudmu…?”

Hea-in tertawa sumbang. matanya terlihat berkaca-kaca. “Perlukah aku mengingatkanmu kembali kejadian laknat belasan tahun lalu?” sinis Hea-in. “Demi melunasi hutang-hutangmu, kau menjualku pada tunanganmu yang brengsek!”

Dong-hae tidak bisa mempercayai pendengarannya. Benarkah? Setega itukah ibu Hea-in? menjual darah dagingnya sendiri?

“Apa… tidak… aku… dia… Hong Jin-mo…” Noh Ji-ni tergagap, kesulitan untuk bicara dengan semua emosi yang bercampur aduk dalam dadanya saat ini.

“Ya… Hong Jin-mo. Kau menjualku pada pria brengsek hidung belang itu!” bentak Hea-in, kalap kala teringat lagi kejadian belasan tahun lalu. “Teganya kau?” desis Hea-in pedih. “Hanya demi uang… kau… membiarkannya… menyentuhku… membiarkan pria itu hendak memperkosaku!”

“Tidak… tidak… tidak mungkin…” isak Noh Ji-ni dengan menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi.

“...Ketika aku tahu kau memanfaatkanku untuk mendapatkan uang dari ayah, aku berusaha memahamimu… kau ibuku, aku menyayangimu… ketika kau tak peduli dan mengabaikanku… aku berusaha menerima, dan tetap menyayangimu, karena kau ibuku…” ucap Hea-in hampa, tanpa disadarinya air mata telah mengalir dan membasahi wajahnya. “tetapi… ketika kau, ibu kandungku sendiri, tega menjualku demi uang… bagaimana bisa aku memaafkanmu…?”



- Seoul Hospital - 

“Syukurlah Nyonya itu baik-baik saja,” ucap Hyun-in lirih sambil menutup pintu kamar tempat Noh Ji-ni yang pingsan tengah dirawat.

Seo-min yang telah lebih dulu keluar dan menunggu di koridor, menjauhkan ponsel dari telinganya untuk menatap adiknya itu. “Dia belum pulang,” katanya, setelah menelepon rumah mereka dan diberitahu Hea-in tak ada di sana.

“Ponselnya juga tidak diangkat,” lapor Dong-hae, yang berdiri di seberang Seo-min.

Setelah berkata tak dapat memaafkan ibunya, Hea-in bergegas masuk ke mobilnya dan pergi, meninggalkan Noh Ji-ni yang terlalu shock—mendengar segala tuduhan Hea-in padanya dan kenyataan mengerikan tentang mantan tunangannya hendak memerkosa putrinya itu—jatuh pingsan.

Dong-hae yang berniat mengejar Hea-in, terpaksa mengurungkan niatnya karena lebih mementingkan menolong Noh ji-ni yang tergolek tak berdaya di parkiran. Bersama Seo-min dan Hyun-in, mereka membawa wanita itu ke rumah sakit. Untungnya menurut dokter, Noh Ji-ni baik-baik saja, hanya pingsan karena kelelahan dan shock.

“Pergi ke mana dia?” gumam Hyun-in cemas.

Memasukkan ponselnya ke saku celana jinsnya, Dong-hae menjauh dari dinding yang disandarinya. “Aku akan mencari Hea-in sebisaku, dan akan mengabari kalian bila menemukannya,” katanya.

Seo-min menatap Dong-hae beberapa detik dalam diam sebelum mengangguk. “Terima kasih,” ucapnya.

“Maaf merepotkan kakak,” timpal Hyun-in.

“Tidak sama sekali,” jawab Dong-hae lembut pada Hyun-in, sebelum membalas tatapan Seo-min sembari tersenyum kecil. “Aku pergi.”

“Sebaiknya kita juga pulang sekarang. nyonya itu sudah ditangani dengan baik di sini,” kata Seo-min pada adiknya tak lama setelah kepergian Dong-hae.

“Ya,” gumam Hyun-in. “Kak… apa sebaiknya kita melaporkan hal ini pada Ayah?”

Diam selama beberapa saat mempertimbangkan hal tersebut, lalu Seo-min mengangkat bahu. “Entahlah. Selama ini Hea-in tak pernah menceritakan hal tersebut pada Ayah, entah karena alasan apa. jadi, kurasa kita harus menghormati keputusannya.”

Hyun-in mengangguk sambil menghela napas. “…aku tak pernah menyangka… kak Hea-in memiliki masa lalu seburuk itu sebelum tinggal bersamaku, Ayah dan Ibu…”

Seo-min melirik Hyun-in, dan melihat ekspresi murung di wajah adiknya. Ia bisa memahami apa yang dirasakan adiknya itu, karena sekarang pun ia juga merasa kasihan pada Hea-in.

Selama ini ia—dan mungkin juga Hyun-in—menganggap Hea-in bagai tokoh kakak tiri Cinderella. Jahat, egois, dan menyebalkan. Sejak pertama kali bertemu, Seo-min langsung tak menyukai Hea-in, dan tak pernah terpikir sama sekali untuk berteman dengan kakak tirinya itu. padahal, walaupun juga tak akrab dengan Hyun-in, setidaknya dulu setiap kali berkunjung ke Korea, ia selalu mencoba bersikap baik pada adik tirinya itu—walaupun hasilnya kurang memuaskan, karena Hyun-in yang ketakutan dengan sikap kasar Seo-min, memilih menghindar darinya.

Bila diingat-ingat lagi, sejak kecil Hea-in tak memiliki banyak teman, lebih sering mengurung diri di rumah, dan mengusili Hyun-in yang tak berdaya melawannya—yang hanya berkurang disaat Seo-min ada di rumah dan membela Hyun-in. Hea-in kecil selalu berpakaian tertutup bahkan di musim panas sekalipun, dan Seo-min pernah mengejeknya akan hal tersebut, yang berbuntut perkelahian mereka berdua.

Sekarang, bila mengingat hal itu, Seo-min jadi bertanya-tanya, mungkinkah semua itu karena rasa takut Hea-in? traumanya karena perbuatan tunangan ibunya?

Namun Hea-in yang tertutup dan pendiam itu berubah saat duduk di bangku kuliah. Entah karena apa, tiba-tiba saja, saat Seo-min berkunjung ke Korea tahun itu, Hea-in sudah berubah menjadi wanita penggoda, yang hobinya mengumpulkan penggemar pria. Dan salah satu taklukannya adalah pria yang disukai Hyun-in. Hal itu juga yang membuat Seo-min benar-benar muak pada Hea-in, karena tega menyakiti hati Hyun-in, adiknya sendiri.

“…membenciku,” gumam Hyun-in.

“Eh? Apa?” tanya Seo-min, yang hanya sempat mendengar kata terakhir dari Hyun-in.

“Kak Hea-in,” ulang Hyun-in. “Tak heran dia membenciku. Aku hidup bahagia bersama Ayah dan Ibu, sementara dia hanya tinggal bersama Ibu yang tak peduli padanya. Aku begitu dekat dan dimanja oleh Ayah, sementara dia… dilecehkan oleh tunangan ibunya…”

“Hyun-in—“

Hyun-in mengangkat wajahnya untuk menatap Seo-min dengan mata yang berkaca-kaca. “Kakak tidak ada di sana waktu itu,” katanya sedih. “Tapi aku ada, dan ingat hari ketika dia datang ke rumah. Saat itu sudah sangat malam, dan hujan deras. Ayah dan Ibu baru saja mau menidurkanku, ketika pelayan memberitahu kedatangan kak Hea-in. dia datang seorang diri. Basah kuyup. Hanya mengenakan piyama yang dibalut mantel tipis, bahkan tanpa alas kaki… Dia menangis, berlutut dan memohon pada Ayah agar memperbolehkannya tinggal bersama kami.”

Seo-min terkejut, ia belum pernah mendengar kejadian itu sama sekali. ia hanya tahu suatu hari Hea-in datang dan tinggal bersama Ayah mereka. tapi ia tak pernah tahu detail kejadiannya, dan sejujurnya, selama ini ia tak peduli. Mungkin… malam itulah peristiwa laknat itu terjadi, pikir Seo-min muram.

“…itu pertama kalinya aku bertemu dengannya. Ayah sudah sering memberitahuku bahwa aku memiliki dua kakak perempuan yang tak tinggal bersama kami, tapi baru malam itu kami bertemu,” lanjut Hyun-in. “aku begitu senang memiliki saudari, dan ingin berteman dengannya… tapi dia selalu bersikap memusuhiku tanpa alasan yang jelas. Sekarang aku tahu mengapa… bila aku jadi dia, mungkin aku akan membenci diriku juga…”

Seo-min mendengus. “Kurasa tak mungkin. Hatimu terlalu baik untuk membenci saudarimu sendiri,” katanya menenangkan dengan canggung, karena tak biasanya mereka melakukan pembicaraan serius dari hati ke hati seperti ini. “Bukan salahmu bila masa kecilmu lebih baik dari Hea-in. bukan kau yang mengatur semua itu terjadi.”

“Tapi—“

“Hah, ayolah, sudah malam,” sergah Seo-min tak sabar, menarik Hyun-in untuk berjalan lebih cepat menuju pintu keluar rumah sakit. “Tapi, sebaiknya sebelum pulang, kita berkeliling mencari Hea-in dulu, siapa tahu kita menemukannya. Bila kau lelah, biar aku yang menyetir,” tawarnya, mengingat mereka pergi ke rumah sakit menggunakan mobil Hyun-in.

“Aku baik-baik saja,” bantah Hyun-in.

“Baiklah, terserah kau saja.”

“Emm… Kak?” panggil Hyun-in ragu.

“Ya?”

“Apa… kau juga pernah membenciku… karena aku tinggal bersama Ayah dan dekat dengannya?”

Seo-min menghentikan langkahnya dan menatap Hyun-in serius. “Tidak,” jawabnya tegas.

“Benarkah?”

Seo-min mendesah. “Aku tinggal bersama ibu yang amat mencintaiku, ayah tiri yang menyayangiku sebesar rasa sayangnya pada anak kandungnya sendiri, juga dua adik laki-laki lucu yang mengagumiku seolah aku ini pahlawan. Hidupku bahagia. Kenapa aku harus iri dan membencimu?”

“Tapi tetap saja—“

“Begini,” sela Seo-min. “sejak kecil aku tidak pernah dekat dengan Ayah, kau juga tahu itu. ya, aku menyayanginya, dan semakin dewasa, aku menyadari dia menyayangiku dengan caranya sendiri. Tetapi kami tidak pernah cocok. Aku terlalu pembangkang bagi Ayah, sementara Ayah terlalu mengekang bagiku—yeah, sekarang memang dia tak separah saat aku masih kecil—jadi aku tak pernah punya kerinduan untuk menjadi putri favoritnya.” Dengan canggung, Seo-min tersenyum tulus pada adiknya. “Jadi, hilangkan pikiran bahwa aku membencimu karena kedekatanmu dengan Ayah. Juga, berhenti menyalahkan diri atas apa yang dialami Hea-in.”

Hyun-in tersenyum samar. “Baiklah…”

Seo-min berdeham. “Sudahlah, kita terlalu banyak bicara. ayo pergi.”



- KLUTCH -    

“Apa kau tahu bahwa kau telah membuat orang panik!?” omel Dong-hae, saat menemui Hea-in yang duduk di bar.

Baru sekitar sejam lalu, Hea-in bersedia mengangkat teleponnya, dan memberitahu Dong-hae keberadaannya.

“Maaf,” gumam Hea-in dengan suara serak.

“Berhentilah minum!” perintah Dong-hae tegas, merebut gelas minuman dari tangan wanita itu.

“Aku butuh minum,” keluh Hea-in. “kalau tidak…”

“Kalau tidak apa?” tantang Dong-hae, masih kesal karena selama dua jam ini begitu menghkhawatirkan Hea-in dan kebingungan mencarinya. “Minuman tak menyelesaikan masalah!”

Hea-in menatap wajah tampan Dong-hae sembari tersenyum tipis. “Tapi bisa membantu menenangkan hatiku, dan… membantuku menahan tangis…”

Kekesalan Dong-hae menguap seketika. “Tak ada salahnya menangis. Justru, itu bisa mengurangi beban di hatimu.”

“Aku Kang Hea-in. aku kuat. Aku benci menangis.”

“Orang kuat sekalipun terkadang perlu menangis,” kata dong-hae.             

Hea-in menunduk memandangi kepalan tangannya. “Aku melihatmu,” gumamnya tiba-tiba. Ia mengangkat kepala untuk menatap Dong-hae. “Saat akan pergi, aku melihatmu di dalam mobilmu… juga Seo-min dan Hyun-in.”

“Mengenai itu—“

“Kau dengar semua?” sela Hea-in.

“Ya,” jawab Dong-hae. “Maaf.”

“Tak perlu.”

“Aku… aku ikut menyesal… atas apa yang kau alami…” kata Dong-hae tulus.

Hea-in hanya diam dan menghindari bertatapan dengan Dong-hae karena malu. Ia merasa dirinya kotor. Ternoda oleh perbuatan hina Hong Jin-mo.

“…Hea-in, maaf bila pertanyaanku ini menyakitimu dengan membangkitkan kenangan yang tak ingin kau ingat—“

“Katakan saja,” sela Hea-in.

“…Tunangan ibumu… kudengar kau menyebut namanya… apakah dia… Hong Jin-mo yang sama dengan yang—“

“Ya,” jawab Hea-in. ditatapnya Dong-hae dengan mata yang menyorotkan rasa sakit. “Dia pria yang sama… dengan pria yang mencoba melecehkanku di pesta ulang tahun Ayahku.”

“Tapi kalau begitu kenapa kau tidak melaporkannya pada Ayahmu!?” protes Dong-hae berang. “Pria brengsek itu tak bisa dibiarkan bebas begitu saja setelah apa yang dia perbuat padamu!”

“Aku tak ingin memperpanjang masalah—“

“Tapi masalah ini tak bisa dibiarkan! Dia harus—“

“Aku tak mau!” jerit Hea-in. “Apa kau tak mengerti!? Itu… itu aib terbesar dalam hidupku! Aku tak mau orang-orang mengetahuinya! Aku tak ingin orang-orang menatap jijik padaku!”

“Hea-in…”

“Lagipula,” lanjut Hea-in dengan suara bergetar. “Dia tak berhasil melaksanakan niat bejatnya padaku. lebih baik mengubur masalah itu…”

Melihat bagaimana tersiksanya Hea-in membicarakan Hong Jin-mo, Dong-hae memutuskan untuk menghentikan pembicaraan tersebut. Dan masih ada hal lain yang harus diberitahukannya pada Hea-in. “Ibumu—“ mulai Dong-hae.

“Aku tak mau bicara tentangnya.”

“Ibumu jatuh pingsan saat kau pergi.”

Hea-in tersentak. Kenapa? Bagaimana keadaannya? Pertanyaan itu nyaris meluncur dari mulutnya, namun Hea-in berhasil menahan diri. Untuk apa aku masih memperdulikannya? Bodoh, batinnya mencela diri sendiri.

“Aku dan adik-adikmu sudah membawanya ke rumah sakit,” lanjut Dong-hae. “Dia pingsan karena kelelahan dan terlalu shock—“

“Tolong,” bisik Hea-in, menyela perkataan pria itu. “Aku tak ingin membicarakannya…”

Tak ingin mendesak Hea-in lebih jauh, Dong-hae pun diam. Namun untuk menunjukkan dukungannya pada gadis itu, ia menaruh tangannya di pundak Hea-in. Tiba-tiba, wanita itu berputar di kursinya untuk menghadap Dong-hae, dan menyandarkan kepalanya di dadanya.

Selama beberapa saat mereka terus dalam posisi seperti itu tanpa bersuara sama sekali. namun, ketika tubuh Hea-in mulai berguncang, dan air mata yang hangat membasahi kemejanya, Dong-hae pun mengulurkan kedua tangannya untuk memeluk wanita itu.

“Menangislah,” bisik Dong-hae menenangkan.

“…kau… apa… apakah kau tidak jijik padaku…?” tanya Hea-in pelan disela isakannya.

Pelukan Dong-hae di sekitar tubuh Hea-in mengetat. “Mana mungkin.”

“…tapi aku…”

“Kau Kang Hea-in,” sela Dong-hae lembut. ”Kau tetap wanita cantik, kuat dan penuh tekad yang kukenal selama ini.”

Setelah beberapa detik berlalu, Hea-in balas memeluk Dong-hae. “…jangan meninggalkanku sendiri…” bisiknya memohon.

“Aku tak akan kemana-mana.”



Pagi ini, Seo-min berkendara dengan motornya tanpa tentu arah. Ia bosan sendirian di rumah. Ayahnya pergi pagi-pagi sekali ke Singapore, untuk urusan bisnis, sedangkan Hyun-in pergi kuliah. Dan Hea-in… dia tidak pulang ke rumah.

Semalam Dong-hae telah menghubungi Seo-min, untuk memberitahu bahwa dia telah menemukan Hea-in. namun, karena Hea-in tidak pulang, Seo-min memiliki kecurigaan kalau kakaknya itu menginap di rumah Dong-hae. sejujurnya, ada sedikit rasa terganggu yang mengusik hatinya ketika terbesit pikiran tersebut, tetapi hanya sesaat, dan setelahnya ia justru berpikir mungkin itu yang dibutuhkan Hea-in saat ini. penghiburan dari Dong-hae.

“Hah… mengetik naskah  juga rasanya malas sekali…” desah Seo-min, tenang merasakan hembusan angin pagi di wajahnya. “Ah, iya! Kenapa tidak terpikir sejak tadi? sebaiknya aku mendatangi orang itu saja!” Wajahnya bersinar cerah karena berhasil mendapat ide untuk mengusir rasa bosannya.

“Lee Sung-min, aku datang,” gumam Seo-min, menyeringai sambil menambah laju kecepatan motornya.



- Rumah Lee Dong-hae -   

Hea-in membuka mata, dan menatap langit-langit kamar yang asing. Kepalanya sedikit berdenyut sakit karena minum-minum semalam.

“Dimana aku?” gumamnya serak, mengamati seisi kamar. “Eh?” akhirnya dia mengenali kamar tersebut. Dulu dia juga pernah menginap di sini. kamar tamu rumah Dong-hae.

Bangkit dari ranjang, Hea-in bergerak untuk membuka jendela dan membiarkan udara pagi yang segar masuk. Ia mengingat kejadian semalam. Pertengkaran dengan ibunya, Dong-hae dan kedua adik tirinya yang mengetahui rahasianya, dan Dong-hae yang menghibur dan membawanya pulang ke rumahnya.

Menoleh ke arah pintu, Hea-in bertanya-tanya, dimana pria itu. apakah dia sudah bangun? Atau mungkin sudah pergi bekerja?

Keluar dari kamar, Hea-in mulai mencari Dong-hae, namun pria itu tak terlihat di manapun. Hanya tersisa satu tempat yang belum dicek olehnya. Entah Dong-hae memang sudah pergi, atau benar berada di sana, di kamarnya.

Hati-hati, Hea-in membuka pintu kamar Dong-hae, dan mendapati pria itu masih tidur lelap. Mengikuti dorongan hatinya, Hea-in melangkah masuk, mendekati ranjang tempat Dong-hae berbaring.

Senyum mengembang di wajah Hea-in saat mengamati wajah Dong-hae yang terlihat begitu polos bagai malaikat ketika sedang tidur. Bagaimana mungkin dulu aku menganggap pria ini biasa saja? batinnya. Dong-haenya yang tampan, baik hati, sabar, lembut, dan melindungi… pria itu segalanya.

Menunduk, Hea-in mengecup lembut bibir Dong-hae dan berbisik. “Aku mencintaimu…”



Sejam kemudian, Dong-hae mengerjap-ngerjapkan matanya sesaat sebelum benar-benar membuka. Menguap sambil beranjak duduk, Dong-hae melirik jam dindingnya. “Sial. Sudah jam delapan!” gerutunya. Jam Sembilan nanti ia diharapkan sudah datang ke lokasi pemotretan majalah CeCi.

“Oh!” serunya terkejut ketika keluar dari kamar, dan melihat Hea-in yang mengenakan celemek tengah menyiapkan makanan di meja makan.

“Selamat pagi,” sapa Hea-in sembari tersenyum cerah.

“Eh, ya, selamat pagi,” sahut Dong-hae. “Kau… sudah bangun sejak tadi?” tanyanya, yang dijawab anggukan kepala Hea-in. “Emm… seharusnya kau tak perlu repot memasak. Kau tamuku.”

“Tidak apa-apa. aku suka melakukannya,” bantah Hea-in. “Mandilah, setelah itu kita sarapan,” perintahnya.

Dong-hae tersenyum, ia lega melihat Hea-in sepertinya sudah baikan. “Baiklah. Tunggu sebentar,” katanya sebelum kabur ke kamar mandi.

“Hmm… sepertinya lezat,” puji Dong-hae ketika mereka berdua duduk di meja makan.

“Hanya sandwich,” bantah Hea-in, walaupun senang mendengar pujian Dong-hae. “Makanlah.”

Menggigit sandwich tersebut, Dong-hae menatap wajah cemas Hea-in dengan ceria dan mengacungkan jempolnya. “Memang enak!” pujinya.

“Kalau begitu makan yang banyak,” komentar Hea-in. “Ini, minum juga susunya,” tambahnya, sambil menuangkan susu ke gelas Dong-hae.

“Terima kasih,” ucap Dong-hae tulus. “Aku merasa dimanjakan.”

Tersenyum senang, Hea-in menyantap sarapannya sendiri. “Apa kau akan pergi kerja?” tanyanya kemudian, mengamati penampilan Dong-hae.

Karena mulutnya penuh, Dong-hae mengangguk. “Apa rencanamu hari ini?” tanyanya setelah menelan makanan.

Senyum Hea-in sedikit memudar. “Aku akan pulang dan beristirahat.”

Mengerti kesedihan wanita itu, Dong-hae menepuk-nepuk pelan tangan Hea-in. “Itu bagus. Istirahatlah. Dan kasihan keluargamu mencarimu.”

Hea-in mendengus. “Mereka tak peduli padaku.”

“Siapa bilang?” protes Dong-hae. “Seo-min dan Hyun-in sangat khawatir kau menghilang. Mereka sedang mencari di wilayah Hongdae ketika aku menelepon mengabarkan bahwa aku telah menemukanmu.”

Hea-in tak sempat menutupi ekspresi terkejutnya. “Adik-adikmu peduli padamu. Seandainya kau mau membuka hatimu pada mereka, hubungan kalian pasti akan lebih baik,” saran Dong-hae. Hea-in tak berkomentar, dan lebih memilih mengganti topic pembicaraan.

“Terima kasih sarapannya,” kata Dong-hae setelah selesai sarapan, dan akan pergi bekerja.

“Terima kasih juga sudah membiarkanku menginap di sini,” balas Hea-in. “Ah, tunggu,” tahannya.

“Ada apa?”

“kerah kemejamu kurang rapi,” jawab Hea-in sambil memperbaiki kerah kemeja Dong-hae. “Nah, sudah. Kau super tampan. He? Ada apa?” tanyanya, melihat senyum geli dong-hae.

“Tidak, aku hanya merasa ini sedikit lucu,” jawab Dong-hae.

“Lucu? Apanya?”

“Kau membuatkan sarapan, dan mengantarku bekerja seperti ini,” kata Dong-hae. “Kita jadi seperti pasangan suami istri,” tambahnya geli.

Wajah Hea-in merona senang mendengar perkataan pria itu. tersenyum menggoda, ia berjinjit dan mengecup pipi Dong-hae. “Kalau begitu selamat jalan, suamiku,” godanya.

Terkejut dengan ciuman tiba-tiba Hea-in, Dong-hae tertawa canggung. “Baiklah, aku pergi. taruh saja kuncinya di bawah pot depan saat kau pergi nanti,” pesannya.

“Hati-hati di jalan!”


- Rumah Lee Sung-min -   

“Ah, sial. Belnya rusak atau apa? Kenapa tidak berbunyi?” gerutu Seo-min, sambil dengan gemas terus memencet bel. “Halooo? Ada orang di rumah!? Lee sung-min!” serunya, mengetuk-ngetuk pintu. Tapi tetap tak ada jawaban. Apa dia pergi bekerja? pikirnya kemudian.

Seo-min sudah berniat pergi lagi, ketika tiba-tiba ia mendengar sayup-sayup suara orang dari arah halaman belakang rumah Sung-min. penasaran, lewat jalan samping Seo-min berjalan perlahan menuju sumber suara tersebut.

“Oh…” gumamnya, terkejut ketika melihat Sung-min yang tanpa baju atasan tengah berlatih kungfu di halaman belakang rumahnya itu.

Menyadari kehadiran orang lain, Sung-min menghentikan latihannya, dan melayangkan tatapan tajam ke arah si pengganggu. Tapi ketika melihat Seo-min, sikap waspadanya segera menghilang.

“Kau rupanya,” komentarnya santai sambil berbalik menuju kursi taman untuk mengambil handuk dan mengelap tubuhnya yang berkeringat. “Ada apa?” tanyanya, masih dengan membelakangi Seo-min.

Gadis itu berdeham canggung, entah mengapa pemandangan Sung-min yang setengah telanjang mengusiknya.

“Novelku,” ucap Seo-min sembarangan. “Aku mau mengambilnya kalau kau sudah selesai.

Sungmin yang tengah meminum air mineral dari botol, melirik Seo-min. “Maaf, aku belum selesai membacanya,” katanya kemudian.

Seo-min bersandar di salah satu pohon sambil bersedekap dan mendengus. “Sepertinya kau tidak benar-benar berniat membacanya. Lebih baik kembalikan saja—“

“Jadwalku padat selama beberapa hari ini, sehingga kesempatan untuk membaca tak ada,” sela Sung-min. “tapi bukan berarti aku tidak berniat membacanya.”

“Oh,” gumam Seo-min, tersipu malu karena telah menuduh Sung-min.

“Aku masih ingin berlatih, kalau kau mau menunggu, kau bisa masuk ke dalam—“

“Tidak, aku mau melihatmu saja,” sela Seo-min, bersemangat ingin melihat gerakan-gerakan kungfu Sung-min lagi.

“Baiklah, terserah padamu…”



Hyun-in mengemudikan mobilnya dengan santai menuju rumahnya. Hari ini ia kuliah pagi, tapi karena dosennya tiba-tiba pulang ketika mendapat kabar bahwa istrinya akan segera melahirkan, para mahasiswanya pun akhirnya hanya diberi tugas dan pulang.

Nanti sore, untuk pertama kalinya, Hyun-in akan tampil di acara reality show Happy Together, tapi sampai saat itu tiba, ia memiliki waktu kosong.

Bosan dengan keheningan, Hyun-in menyalakan radio.

“…bum? semua pendengar pasti ingin tahu, apakah pria setampan dirimu sudah memiliki kekasih atau belum,” kata si penyiar pria.

Suara tawa yang familiar di telinga Hyun-in terdengar mengalun. Eh? Bukankah itu suara kak Ki-bum? tebaknya.

“Tidak. Aku tak memiliki kekasih.”

“Benarkah? Rasanya sulit dipercaya,” komentar si penyiar lagi. “Tapi, tentunya banyak gadis menarik di sekelilingmu?”

Diam sejenak, lalu Ki-bum menjawab. “Ada beberapa gadis menarik yang kukenal belakangan ini,” jawabnya kemudian.

Hyun-in tersenyum. Benarkah? Kak Ki-bum rupanya sedang dekat dengan wanita? pikirnya, ikut senang untuk pria itu.

“Pasti mereka cantik-cantik,” kata si penyiar lagi. “Apa kau berniat memacari salah satunya?”

Ki-bum tertawa lagi. “Mereka memang cantik, tetapi bukan karena itu aku menganggap mereka menarik,” jawabnya, sengaja tidak mengomentari pertanyaan si penyiar.

“Ah, begitukah? Lalu apa yang menarik dari mereka?”

“Kepribadiannya,” jawab Ki-bum santai dan ramah. “Ada yang terlihat kuat, tapi sebenarnya rapuh. Ada yang terlihat kasar, namun sebenarnya lembut. Dan ada yang memiliki hati sangat baik hingga membuat orang mungkin berpikir, ‘apa benar ada orang seperti itu?’ orang yang langka, namun jelas belum punah,” tambahnya geli.

Eh? Siapa mereka? Hyun-in bertanya-tanya dalam hati dengan penasaran.

“Wah, kedengarannya menarik. Apa mereka juga selebritis? Atau orang biasa?”

“Mereka teman-temanku,” jawab Ki-bum seadanya tanpa berniat memberi informasi lebih.      

Tak mau menyerah mengorek berita dari sang idola, penyiar itu bertanya lagi. “Tipe gadis seperti apa yang kau suka?”

“Hmm… aku tak punya criteria khusus…”

“Tapi pasti ada yang kau harapkan dimiliki oleh kekasihmu nanti, kan? sifat atau penampilan tertentu?”

“Hmm… kurasa, aku menyukai gadis yang memiliki hati yang baik dan lembut, tapi juga pemberani… yang bisa menghiburku disaat aku memiliki masalah, dan yang dapat mengerti dan menerimaku apa adanya.”

“Woah, sedetail itu, entah kenapa mendengarnya aku merasa kau sudah menemukan gadis yang kau maksud. Benar begitu?”

Sengaja tidak ingin menjawab, Ki-bum hanya tertawa.

“Ah, ya, kami mendengar kabar, bahwa kau dekat dengan seorang penyanyi pendatang baru? Benarkah?”

“Penyanyi pendatang baru?” Ki-bum justru balik bertanya dengan heran.

“Ya. Seorang teman melihat keakraban kalian di sebuah pesta baru-baru ini. kau pasti tahu siapa yang kumaksud. Si mungil cantik Kang Hyun-in, yang menyanyikan soundtrack film terbarumu.”

Ciiiittttt… mobil Hyun-in berdecit ketika tiba-tiba gadis itu menepi dan mengerem. “Aku? Bagaimana mungkin!?” gumamnya panic dan terkejut.

Ki-bum tertawa terbahak-bahak, terdengar benar-benar geli dengan gossip tersebut. “Erhm. Maaf, aku hanya tak menyangka akan ada yang berpikiran seperti itu atas kedekatanku dengan Kang Hyun-in,” katanya setelah tawanya reda. “Kami memang dekat, tetapi hanya sebatas persahabatan. Lagipula, aku bukan tipenya,” tambahnya sambil tertawa lagi.

Hyun-in sendiri tersenyum mendengarnya.

“Bagaimana bisa ada gadis yang tak suka denganmu?” komentar penyiar itu geli. “Tapi, bila ternyata dia berubah pikiran dan menyukai tipe sepertimu, bagaimana? Apa kau akan merubah status persahabatan kalian menjadi sesuatu yang lebih?”

Ki-bum terkekeh sebelum menjawab. “Entahlah… mungkin saja, bila dia belum dimiliki pria lain?”

Mendengar pernyataan Ki-bum membuat Hyun-in tersipu malu. Dan tiba-tiba saja, ia merasa kegerahan.

“Kenapa penyiar ini sejak tadi bertanya yang aneh-aneh?” keluhnya sambil mengipasi wajahnya yang merona.



“…bagaimana menurutmu? apa mungkin Ki-bum benar-benar tertarik pada Nona Kang Hyun-in?” tanya manager Kyu-hyun, masih memperbincangkan tentang siaran radio Ki-bum yang didengarnya beberapa jam lalu, sambil menyetir van perusahaan yang dipakai untuk mengantar Kyu-hyun hari ini.

“Bisa saja, Nona Kang Hyun-in sangat manis! aku saja bergabung dalam fans clubnya!” komentar asisten manager Kyu-hyun antusias.

Sementara itu, Kyu-hyun yang duduk di kursi belakang seorang diri, tengah cemberut. Ia tidak senang mendengar jawaban Ki-bum ketika ditanya tentang Hyun-in. dan sekarang, bertambah kesal mendengar pembicaraan dua orang di hadapannya.

“Ponselku,” pinta Kyu-hyun pada asisten managernya. Dengan cepat dicarinya satu nama dari daftar kontaknya. Angel.

“Halo?” terdengar suara lembut gadis dari seberang telepon.

“Halo,” sahut Kyu-hyun. “Kau di mana?”

“Eh? Memangnya ada apa?”

“Dimana?”

“Di rumah, tapi—“

“Kau tak ada kegiatan? Kuliah? Rekaman? Latihan? Atau apapun?”

Kyu-hyun tersenyum kecil ketika mendengar Hyun-in menghela napas lelah. “Sebenarnya, ini urusanku, tak ada sangkut pautnya denganmu, tapi bila kau memang ingin tahu, aku tak ada kegiatan hingga nanti sore.”

“Begitu,” komentar Kyu-hyun sambil memutar otak agar mendapat undangan dari Hyun-in untuk mengunjunginya. “Apa yang sekarang kau lakukan di rumah?”

“Hmm… aku berniat menonton film.”

“sendirian? Atau bersama kakak-kakakmu?” jelas pertanyaan terakhir hanya candaan, karena, mana mungkin tiga bersaudari itu sebegitu akurnya hingga menonton bersama? Pikir Kyu-hyun geli.

“Mereka tak ada di rumah,” jawab Hyun-in apa adanya.

“Ah, jadi kau kesepian!”

“Aku tidak bilang—“

“Sudahlah, tenang saja,” sela Kyu-hyun dengan seringai lebar. “Jangan khawatir, aku tak tega mendengarmu sesedih ini, jadi aku akan datang dan menemanimu nonton.”

“Eh? Tapi aku—“

“Ya, ya, aku akan secepatnya datang. tunggu saja sebentar,” sela Kyu-hyun seenaknya lagi. “Ah, ya, apa kau punya film Romeo and Juliet?”

“Tapi— ya, aku punya, kenapa—“

“Baiklah, duduk manis dan tunggu aku, lalu kita akan menonton film itu. sampai jumpa.” Klik. Dengan puas, Kyu-hyun menutup telepon sebelum Hyun-in sempat mengeluarkan protesan lain lagi.

Dengan heran managernya melihat ekspresi senang di wajah Kyu-hyun melalui kaca spion.

“Jadwalku kosong sampai nanti malam, kan?” tanya Kyu-hyun bersemangat. “Kalau begitu antarkan aku ke rumah Tuan Kang Ha-jong.”



- Rumah Lee Sung-min -    

“Hanya ice cream strawberry?” keluh Seo-min di depan kulkas Sung-min. “Tak ada ice cream cokelat?”

“Aku lebih suka melihat warna ice cream strawberry,” jawab Sung-min santai apa adanya, sambil memakai kaus putih polos untuk menutupi tubuh telanjangnya.    

Karena tak ada pilihan lain lagi, Seo-min terpaksa tetap mengambil ice cream itu dan duduk di kursi counter dapur Sung-min.

“Sudah sarapan? Ingin makan sesuatu?” tanya Sung-min.

Seo-min memakan ice creamnya sambil menggeleng. “Aku sudah makan,” katanya.

“Hmm. Ya sudah kalau begitu,” komentar Sung-min sambil meminum susu yang diambilnya dari kulkas.

Mengamati sosok pria dihadapannya dengan cermat, tiba-tiba Seo-min bertanya. “Bagaimana kencanmu dengan gadis pendek waktu itu?”

Sung-min tersedak dan terbatuk-batuk. “Maksudmu… Sunny?”

“Yup,” sahut Seo-min singkat. “Pergi ke mana saja kalian?”

Duduk di kursi counter di sebelah Seo-min, Sung-min menatap gadis itu sambil menjawab. “Hanya pergi ke bioskop, dan makan malam.”

Membayangkan Sung-min dan Sunny menonton film dan makan malam bersama entah mengapa membuat Seo-min sedikit kesal. “Apa tak ada fansmu yang mengganggu kalian?” tanyanya sedikit ketus.

Sung-min tersenyum. “Para selebritis mempunyai cara tersendiri untuk menikmati kencan seperti itu tanpa harus diganggu fansnya.”

Seo-min mendelik ke arah Sung-min. “Jadi, kalian benar-benar pacaran?”

“Siapa bilang?”

Seo-min berputar di kursinya agar bisa menghadap Sung-min. “Tapi kalian berkencan!”

“Hanya sekedar sebutan. Kami sudah seperti saudara, dan sudah biasa menghabiskan waktu bersama seperti itu.”

“Mungkin kau menganggapnya saudara, tapi mungkin si pendek itu berpikiran lain.”

“Berhenti menyebutnya ‘si pendek’,” omel sung-min. “Namanya Sunny.”

Seo-min mendengus. “Seakan aku peduli,” gumamnya pada diri sendiri.

“Sunny menyukai orang lain, jadi kecurigaanmu itu tidak beralasan.”

“Hah! Dia menyukai orang lain, tapi menghabiskan akhir pekan bersamamu? yang benar saja.”

“Pria itu tidak tinggal di Korea,” komentar Sung-min tenang. “Dan kenapa kau secerewet ini? kau benar-benar cemburu padanya? Astaga… Kang Seo-min, tak kusangka kau menyukaiku sebesar ini,” oloknya.

Geram karena malu, Seo-min menendang kaki Sung-min tanpa belas kasihan. “Berhenti bicara omong kosong!”

Meringis kesakitan, Sung-min melotot marah. “Bisakah kau bersikap lebih beradab? Kenapa kau selalu menendang atau memukulku saat kesal!?”

“Karena itu jangan membuatku kesal!”

“Kau tak pernah bersosialisasi atau apa? aku hanya bercanda,” gerutu Sung-min. “aku paling tahu betapa tak mungkinnya kau menyukaiku,” tambahnya kesal.

Seo-min terdiam. Aku tak menyukai Sung-min? yeah… aku jelas masih tak suka dengan kegemarannya pada warna pink, tetapi kurasa sekarang dia cukup menarik— astaga! Ya Tuhan, apa yang kupikirkan!? Lee Sung-min, si pinky boy, menarik!? Gila. Gila. Gila! Batin Seo-min panik.

“Ada apa?” tanya Sung-min heran, mengamati ekspresi Seo-min. “Kau terlihat seperti habis bertemu hantu saja.”

Berdeham, Seo-min berusaha mengalihkan pembicaraan. “Jadi, bagaimana pendapatmu tentang novelku?”

Menerima pergantian topic itu, Sung-min tersenyum. “Seperti yang kau tahu, aku belum membaca sampai habis,” katanya tenang. “tetapi, dari apa yang sudah kubaca sejauh ini, kupikir cerita itu benar-benar mencerminkan dirimu,” tambahnya geli.

“Kenapa?” tanya Seo-min dengan mata menyipit curiga.

Melirik gadis berambut pirang di sebelahnya sambil menahan tawa, Sung-min menjawab. “Si tokoh utama wanita gemar menyiksa dan menindas tokoh prianya,” jawabnya dengan seringai di wajahnya. “Bukankah sama denganmu— emph!“ Sung-min membelalakkan matanya ketika tiba-tiba saja Seo-min menjejalkan sesendok besar ice cream ke mulutnya.

“Itu bukan menindas, Bodoh!” omel Seo-min. “Sang tokoh wanita hanya butuh pembuktian cinta dari si pria!”

Menelan habis ice creamnya, dengan cepat Sung-min merebut kotak ice cream strawberry dari tangan Seo-min beserta sendoknya, lalu, membalas dendam dengan balik menyuapkan sesendok besar ke mulut Seo-min.

Tapi gadis itu menutup mulutnya rapat-rapat dan berusaha menhindar dari serangan Sung-min, sampai-sampai nyaris jatuh dari kursinya, andai saja tak ditangkap oleh Sung-min. “Ah! Nyaris saja— emph!“ mengambil kesempatan saat mulut Seo-min membuka, Sung-min memasukan sendokan ice creamnya ke mulut gadis itu.

“Seperti yang sudah kubilang,” kata Sung-min puas. “tipikal dirimu, kan? menyiksa pria hanya untuk mendapat pembuktian cinta? He?” tanyanya sambil tertawa karena berhasil menghindar dari pukulan Seo-min.

Kriiiiiiiiiiiiinggggggggg… suara telepon rumah Sung-min menyentak mereka berdua. Cepat-cepat Sung-min mengangkat telepon tersebut dengan diiringi tatapan penasaran Seo-min.

“Panggilan dari managermu?” taya Seo-min setelah pembicaraan Sung-min selesai.

“Ya,” jawab Sung-min. “Aku diharap untuk segera datang ke kantor,” terangnya.

Menangguk mengerti, Seo-min turun dari kursinya. “Ya sudah, kalau begitu aku pulang sekarang,” katanya, sedikit kecewa karena belum puas bersenang-senang—mengerjai Sung-min salah satu sumber kesenangannya—hari ini. “Terima kasih sudah menghiburku.”

“Eh? Memangnya kau bisa sedih?” tanya sung-min, berlagak kaget.

Seo-min berdecak kesal. “Mau mati, hah!?” bentaknya, yang disambut tawa Sung-min. “Aku pergi. oh ya, ingat, lain kali jangan lupa menyediakan ice cream cokelat!” pesannya tegas.

Sung-min hanya tersenyum geli sambil mengiringi kepergian Seo-min hingga ke pintu depan. “Sepertinya kau berniat mengundang dirimu sendiri di rumahku,” sindirnya.

Tak menghiraukan sindiran itu, Seo-min meneruskan. “Dan saat aku berkunjung nanti, pastikan kau sudah selesai membaca novelku dan berikan komentar yang jujur. Mengerti?”

“Baik, Nona Kang,” sahut Sung-min, menggoda gadis itu. “Tak ada yang lebih menyedihkan bila dibandingkan dengan hari ketika hatiku yang lemah ini harus mengantar kepergian kekasihku,

Seo-min tersentak, dan berputar cepat untuk menatap Sung-min yang tengah bersandar di pintu rumahnya sambil bersedekap dan tersenyum ke arahnya. “itu—“

“Kalimat si tokoh pria ketika menyaksikan kepergian kekasihnya ke luar negeri,” kata Sung-min tenang. “Aku baru membaca sampai situ.”

Masih tercengang, mulut Seo-min membulat seperti huruf O. Dia benar-benar membaca novelku, pikir Seo-min takjub—karena sebelumnya ia masih agak meragukan pria itu. bahkan dia mengingat dialognya…

Senyum senang yang tulus tersungging di bibir Seo-min. “Pastikan kau membacanya sampai habis!” serunya sebelum berlari keluar gerbang rumah sung-min.

Saat duduk di motornya, dan tengah memakai helm, entah mengapa bayangan Sung-min yang tersenyum padanya di depan pintu rumahnya tadi menyusup masuk ke benak Seo-min. dan yang semakin meresahkan gadis itu, tiba-tiba jantungnya berdegup kencang.

“Tidak… tidak… tidak mungkin… aku… aku tak mungkin tertarik pada Lee Sung-min, kan!?” bisik Seo-min tercengang.



To Be Continued...

By Destira ~Admin Park~

2 komentar:

  1. ayyyoooo cepetan di posting...
    hheheeheheh...
    aku udah baca semuanya, mian baru comment,
    ah, aku suka ceritanya menarik, lanjut yya, plisssss... heheheheeh

    BalasHapus
  2. lanjutann disaster love y mana?????? udah aku tunggu sejak berbulan-bulan yg lalu,kok gk muncul2 ya?

    BalasHapus