Tampilkan postingan dengan label Kim Nam Gil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kim Nam Gil. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Agustus 2011

Prank'd - One Shoot - FF Kim's Family Gejeh Edition -

Prank'd



Ini cuma ff gejeh dari geng gejeh untuk para gejeh holic di dunia gejeh. tak ada yang nyata, benar, maupun waras dalam kisah ini.



Pengenalan tokoh :

Miya --> Shin Yu-ri / Pipi
Admin Shen --> Cha Shin-woo / Shen / Shendy
Admin Lee --> Lee Yoo-hee / Lee
Admin Park --> Park Dae-jia / Park
Mila --> Kang Hea-in
Victoria

Zhou Mi --> Mimi
Kim Soo-hyun --> Ohshanti
Kim Nam-gil
Choi Si-won
Noh Min-woo --> Minu
Lee Dong-hae --> Donge
Son Ho-young
Ok Taecyeon
Rain
Hwang Chan-sung --> Chanchan
TOP
Jung Yong-hwa --> Yongyong
Nickhun
Lee-teuk --> Spongebob
Eun-hyuk --> Unyuk / Patrick


============================


- Pulau pribadi keluarga Choi, rumah pantai -       

“Cup, cup, cup, udah, jangan nangis,” bujuk Park pada Mimi yang tengah bersandar di pundaknya.

“… hikzzz… tapi sakit hati banget nih…nyesek banget… si pipi tega ma aku!” isak Mimi. “bisa-bisanya dia selingkuh ama si ohshanti, padahal apa kurangku, coba?”

“Kurang daging,” cetus Dae-jia, yang segera mendapat delikan tajam dari mata merah Mimi + cubitan lembut di pipi.

“..hikzzz… imut banged sih..” isak Mimi *hoakakakakakk ~ sukasuka author!!

“Udahlah, masih banyak cewek cantik yang body-nya lebih asoy geboy dibanding si Pipi,” bujuk Hea-in yang sejak tadi memijat pundak Mimi.

“Tapi emang ga gampang ngelupain cinta,” kata Lee sok bijak. “Apalagi selama ini Mimi setia ama si Pipi, sama kaya aku yang cinta dan setia hanya pada Nam-gil oppa seorang,” sombongnya.

“Nyindir?” omel Park dan Hea-in kompak sambil mendelik ke arah Lee yang menyeringai sembari terus melanjutkan pekerjaannya memijat kaki Mimi *enak bener si Mimi dilayanin macam raja minyak gini.

Tanpa benar-benar sadar, sambil memijati kaki Mimi, Lee mendekatkan kaki pria itu ke hidungnya, dan segera mengernyit yeyek ketika menghirup aroma semerbak. “Bau!” serunya seketika *sapa suruh dicium!! wkwkwkwkwkwk.

Mimi yang sewot walau masih tetap dengan nangis bombaynya, segera menyepak Lee menjauh dari kakinya.

“…hikzzzz… coba ajah pipi kaya Park ato Hea-in onnie… hikzzzz… tetep setia mempertahankan suami biar kata punya namja laen… hikzzz…” Mimi memutar kepalanya kearah Hea-in dan menarik ujung bawah kaus wanita itu untuk membuat ingus, sementara si empunya baju gak sadar dijadikan tempat pembuangan *hoakakakkk ~ kapan lagi Lee ma sis mil punya kesempatan nyium aroma kaki + dapet ingus artis?? Wkwkwkwkwkwk ^^v

Minggu, 31 Juli 2011

HIGH LEVEL JEALOUS -- FF Geje (oneshoot)

HIGH LEVEL JEALOUS ---FF Geje #ga usah dibaca!


Annyeong all readers….


Berhubung saya lagi mandeg ide untuk nerusin Broken Link, #edisistucklevel. Taunya otak saya penuh sama ide ini, ide gejeh, gajeb, yang kalau ngaa dituangkan ke tulisan bikin kepala saya meledak karena saking overloaded *lebeh*

Masih berkisar antara kehidupan Keluarga Kim yang ga pernah, ga mungkin, ,mustahil, dusta besar, kalau ada di dunia nyata, tapi nyatanya keluarga ini ada di dunia gejeh dan hanya eksis di dunia maya.

Tapi sumpah ini bukan cerita komedi, saia ga bakat bikin yang lucu-lucu. Darah srimulat tidak mengalir di nadi saya. Jadi dimaklum aja kalau garing, crispy, kriuk. Tujuannya bukan bikin ff komedi daa…

Mulai aja yaa…daripada saya kebanyakan ngomong ntar keburu dibekep ma bibir suami-suami para readers *maunya*.


*****


Once upon a time….di sebuah warung Soju yang remang-remang gelap di pinggir jalan *ga mungkin banget kalo di tengah jalan* di suatu malam menjelang jam 12 teng. 3 orang pria sedang asyik ngobrol ngalur ngidul sambil minum soju dan makan bulgogi.

“Jadi kita fix menjalankan rencana ini?” tanya Soo Hyun. Pada kedua hyungnya karena umurnya lebih tua tapi lebih matang lho---Min Woo dan Siwon.

“Yups” jawab Siwon pendek sambil nengak botol evian. *Evian merek soju bukan??*

“Sekarang?” tanya Soo Hyun lagi dengan muka polos, yang segera dikasih toyoran di keningnya oleh Min Woo.

“Bukan. tahun depan aja kali” ketus Min Woo melotot.

“Peralatan sudah siap termasuk senjata utama, nih!” ujar Siwon sambil mengangkat ransel hitam yang penuh mengembung.

“Sebelum pergi kita cocokkan jam dulu, biar sama, beda satu detik saja maka fatal akibatnya” kata Min Woo sambil memutarkan jam arlojinya, semua mengikuti ulah Min Woo, “Ya. Jam 23.25.40. Done”

“Done” timpal Siwon dan Soo Hyun serempak.

“Let’s go!” ajak Siwon lalu mereka bertiga berjalan keluar dari warung soju dan menuju mobil Siwon. Hummer hitam---mobil hadiah kelahiran anak kembar 3 Dae Jia dan Siwon dari pasangan terkeren Min Woo dan Hea In. *preeettt*

Di mobil sebelum menjalankan mesinnya, masing-masing 3 pria itu mengencangkan resleting jaket kulit hitamnya.

“Diperkirakan 15 menit, waktu perjalanan sampai tujuan. Kita laksanakan sesuai site plan yang sudah ditetapkan” kata Min Woo sambil memperhatikan i-phonenya yang tergambar peta yang sudah ditandai setiap jalurnya. “Semua aman. Kita bisa meluncur sekarang” lanjutnya. Lalu dengan segera Siwon menghidupkan mesin mobil dan hummerpun melaju dengan kecepatan sedang.


*****

~Appartemen Dae Jia – Siwon~

Dengan hati-hati Dae Jia meletakkan Choi Sina---putri dari Dae Jia-Siwon, ke boxnya yang bernuansa Barbie, komplit dengan ranjang ala Barbie Mariposa. Si bayi yang berusia 3 bulan tertidur lelap sambil menghisap jempolnya. Setelah itu Dae Jia keluar kamar Sina menuju kamar anak kembar lainnya---Son Dae dan Kim Won.

Mengecek kamar si kembar prianya, 2 jagoan cilik mereka, sama sedang terlelap di kamar yang bernuansa ruang angkasa dan box mereka yang berbentuk roket. Bedanya dengan Sina, mereka kompak menghisap empeng (pacifier)---sebenernya karena ibunya males aja ngedenger mereka rewel jadi dicekokin empeng dari bayi biar ngga terlalu rewel. Ternyata stategi Dae Jia berhasil mereka lebih anteng menggunakan empeng. Padahal menurut pakar kesehatan anak, empeng itu adalah kebiasaan buruk, sama dengan menghisap jempol.

Tapi ya sutralah…anak Dae Jia ini, bukan anak gue. Haha.

Dae Jia menutup kamar anaknya dengan mengusap dada---lega. Menghembuskan nafas terakhir—eh, salah. Menghembuskan nafas lega, terbebas dari 3 mahkluk yang hobi bikin heboh tapi lucu menggemaskan.

“It’s ME TIME” gumam Dae Jia. Malam ini dia bersumpah akan memanjakan dirinya sendiri dengan mandi air hangat di bath tub, yang dipenuhi dengan busa melimpah dengan wangi lavender, sambil meminum wine di bath tub.

Memikirkan hal nyaman yang akan dialaminya membuat Dae Jia senyum-senyum sendiri, tapi kemudian senyumannya hilang seraya menatap pintu kamar anak-anaknya dengan tajam “kalau pada bangun, awaaassss! Ggggrrrr” geramnya.

“Woaahhh….nyamannya” kata Dae Jia ketika tubuhnya telah terbenam di bath tub air hangat yang penuh busa, dia menekan remote audio untuk menghidupkan musik lembut dan menyesap wine, untuk menambah relaksasi atas keletihannya mengurus bayi kembar 3 (suruh siapa brojol langsung 3,,ckckckck).

Kebetulan Siwon sedang keluar bersama Min Woo dan Soo Hyun. Jadi Dae Jia tenang melakukan kegiatannya sendiri tanpa ada interupsi mendadak dari suaminya yang hobinya merobek pakaian tidurnya.

Baru saja 10 menit bersantai, tiba-tiba ponselnya berdering….
Dan isi dari pembicarannya di telepon, mengagalkan rencananya untuk relaksasi…..
Dengan wajah geram Dae Jia terpaksa keluar dari bath tub….


****

~Appartemen Yoo Hee~


“Nah…akhirnya si putri Aurora terbangun dari tidur panjangnya setelah mendapatkan kecupan dari Pangeran Namgil. Akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia selamanya” Yoo Hee menamatkan cerita pengantar tidur untuk Eun Hee, bayinya yang baru berusia 8 bulan. Kamar Eun Hee didesain mirip dengan kerajaan negeri dongeng Sleeping Beauty.

Padahal Eun Heenya sendiri sudah tertidur sejak Yoo Hee memulai ceritanya dari halaman 1. buku setebal 60 halaman tersebut berhasil ditamatkan Yoo Hee untuk dirinya sendiri. Dengan senyum puas---entah karena berhasil menidurkan Eun Hee dengan cepat atau membayangkan dirinya sendiri menjadi Putri Aurora.

Bagi yang sudah mengetahui sejarah pernikahan Yoo Hee dan Nam Gil, bahwa Yoo Hee secara langsung dilamar dan diajak menikah oleh Nam Gil pas baru saja bangun tidur. Tanpa mandi dan gosok gigi, dengan rambut acak-acakan. Nam Gil secara tiba-tiba melamarnya, yang tentu saja segera disambut dengan anggukan iya dan mereka berdua pun kissing (?).

Memang cinta itu buta dan tidak memandang bau, tapi  mungkin saja pada waktu itu Nam Gil sedang pilek *I dunno*. Yang jelas author turut bahagia atas kejadian ini. prok..prok..prok…*standing applaus to audience who wearing a mask*

“Ah…akhirnya, aku sekarang bisa serius nonton drama korea favorite-ku” gumam Yoo Hee seraya mempersiapkan camilan untuk menemaninya menonton.

Dia pergi ke dapur, membuka freezer dan mengambil secup besar isi 1 liter ice cream Haagen Daz rasa banana caramel n choco chip *Ya ampun author ngilerr*
lalu mengambil potato chips rasa rumput laut “hmm..low fat chips, tidak mengandung kolesterol. Bagus…chips ini tidak bikin gemuk” gumam Yoo Hee membaca komposisi potato chips.
*lantas es krimnya gimana buu…..?? yg bikin gemuk justru es krim......*

Yoo Hee bersiap di depan sofa ruang tengah yang empuk lalu menyalakan home theathernya dan mulai menonton drama Bad Guy---yang sudah ditonton Yoo Hee ratusan kali.
*mentang-mentang Oppa muncul disini jadi ditonton terus, sampe DVDnya beset-beset karena keseringan disetel*

Tidak lupa sebelum menonton, Yoo Hee mempersiapkan bola-bola kertas dari koran bekas untuk melempar tv kala adegan kissing Gunwook – Taera terjadi---sebagai tanda protes dan jealous. “bibir oppa hanya untukku” putusnya.
*nah lho…didemo trueyes, author ga tanggung jawab ya*

Baru saja di episode 6, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan dengan geram karena merasa terganggu, Yoo Hee mengangkat telepon dan isi pembicaraan di telepon sontak membuat Yoo Hee menangis sedih…..


You're My Destiny -Oneshot-

Special Appearance : Teresia Dian as Shin Yu-ri



- 1986 -    
- Kim Nam-gil - Rumah Sakit -

“Kau bisa melihatnya, Nam-gil?” tanya Ayah padaku. “Yang ketiga dari kanan itu,” tambahnya bersemangat.

Aku berjinjit dan menempelkan wajahku ke kaca, berusaha untuk melihat lebih jelas sosok adik laki-lakiku yang baru saja lahir. Sulit. Aku hanya bisa melihat box bayi yang ditunjuk oleh Ayah. seandainya saja kami boleh masuk ke ruangan itu untuk melihat lebih dekat, tapi Ayah bilang kami akan dimarahi bila masuk ke sana.

“Tuan Kim!” aku dan Ayah sama-sama menoleh ke arah si pemanggil.

“Oh, Tuan Ma!” seru Ayah sembari berjalan menghampiri paman yang tak kukenal itu. sepertinya dia teman Ayah, karena mereka mengobrol dengan akrab.

Bosan dan penasaran, coba-coba aku berjalan menuju pintu menuju ruangan di mana adikku saat ini berada. Saat membuka pintu, aku melirik Ayah, tapi dia tak memperhatikanku. Tak ada suster atau dokter yang menahanku juga, maka aku buru-buru masuk dan segera menghampiri box adikku.

Wajahnya lucu dan agak aneh. kecil sekali. hah… sudah masuk ke mari, tapi dia tidur. padahal aku mau mengajaknya bicara.   

Suara-suara kecil di sebelah kanan box adikku membuatku menoleh, dan langsung bertatapan dengan mata bulat jernih. Cantik sekali… seperti boneka.

Perlahan aku bergerak mendekati boxnya. Adik kecil itu berselimut kain berwarna pink. kulitnya sangat putih. Pipinya tembam menggemaskan, membuatku ingin mencubitnya, tapi nanti dia akan menangis, lalu aku akan kena marah. Tidak, aku tak boleh mencubitnya.

Aku membaca papan namanya. Bayi perempuan ini bernama Lee… Yoo… hee. “Halo Yoo-hee,” sapaku.

Mungkin dia mengerti perkataanku, karena Yoo-hee kembali mengeluarkan suara-suara kecil tak jelas. Mulutnya yang mungil membulat. Manis sekali. hah… kenapa aku malah punya adik laki-laki, bukannya adik perempuan seperti boneka begini?

Kuulurkan tanganku menyentuh tangannya yang amat sangat mungil. Yoo-hee menyeringai dan tertawa, membuatku ikut tertawa.

“Astaga, kau tidak boleh masuk ke sini!”

Tersentak kaget, aku buru-buru menarik tanganku dan berputar menghadap suster yang sedang memelototiku.

“Maaf, aku—“

“Ayo keluar!” perintahnya tegas.

Aku menurut, tapi terakhir kali sebelum pergi, aku menoleh sekilas untuk melihat Yoo-hee. “Sampai jumpa nanti,” kataku.


Minggu, 15 Mei 2011

Big Family Gathering (Kim’s Family) -GeJeh Edition-

Annyeong!! aku kembali dengan edisi GeJeh ^^

Big Family Gathering (Kim’s Family)





-Kediaman keluarga Kim, kamar Eun-hee-

“Oee....oee...!!” Yoo-hee kebingungan, karena putrinya tak mau berhenti menangis sejak tadi. Padahal ia sudah mengganti pampers-nya, dan sudah menyusuinya. Tapi Eun-hee tak mau berhenti menangis juga.

“Oh Tuhan! Bagaimana ini?” Yoo-hee mengangkat bayi berusia 6 bulan itu ke dekapannya dan mencoba untuk menghentikan tangisnya dengan menepuk-nepuk punggungnya lembut. “Eun-hee-ah, uri Agi. Uljimayo! Omma Yeogisseo,” tapi tak berhasil, Eun-hee tetap saja menangis. “Ah, bagaimana kalau Omma menyanyi buat Eun-hee?” Yoo-hee berdeham singkat sebelum memulai menyanyi layaknya seorang penyanyi profesional *preeeet*. “Dengarkan Omma Eun-hee-ah, Chaiya...chaiya....chaiya...chaiya...chaiya....challi chaiya...chaiya...chaiya...chaiya...” *jiaaah....malah nyenyong lagu ini?* “Eh, Mian Eun-hee-ah, kasetnya salah. Ehm...Timang-timang anak Bang Nam-gil, jangan menangis Omma di sini.” Yoo-hee bernyanyi dengan merdunya *wkwkwkwk*

“Oeee....oeee....!” Eun-hee tetap tak mau berhenti menangis. Aiiisshh...Sebenarnya ada apa dengannya?, batin Yoo-hee dalam hati. Biasanya ia tak pernah begini. Apakah ada yang sakit? “Mungkin aku bisa bertanya pada Hea-in Onnie,” tiba-tiba Yoo-hee teringat pada salah satu temannya itu. Sambil menggendong Eun-hee yang masih saja menangis, Yoo-hee meraih ponsel yang terletak di meja di dekat boks bayi. Dan mulai mencari nama Hea-in di daftar nama dalam ponselnya. Namun, belum sempat ia memencet tombol dial, tiba-tiba sebuah panggilan masuk. “Hea-in Onnie? Baru saja—“

“Yoo-hee, ada kabar mengejutkan!” Hea-in menyela perkataan Yoo-hee.

“Kabar mengejutkan? Apa itu?” tanya Yoo-hee penasaran, seolah-olah ia lupa bahwa Eun-hee yang berada dalam gendongannya masih tak berhenti menangis *dasar Ibu-ibu Arisan, kalo udah ngobrol pasti lupa ama anaknya wkwkwk*

Minggu, 24 April 2011

Finally She’s Come Out...!!! (Kim’s Family Fanfiction) -GeJeh Edition-

Annyeong Semuaa!! aiishh...lama sekali saia tidak nongol, Miaan yaa....terutama buat Geng GeJeh hehe....PulsaQ abis Ciin...belom lagi koneksi Inet yg lelot plus tugas menumpuk *curcol daa*. tapi aku datang membawa oleh-oleh atas cuti-ku kemarin hehe.....maklum lagi GeJeh, jadi yang keluar FF GeJeh daa, padahal ALS ngendap lama tuu hihihi....*mian, ada kemungkinan ALS gak lanjot* :p...tapi mudah2an bisa bikinin One Shot aja dee buat kalian..soalnya klo bikin TBC suka gak lancar gitu ^^

Semoga gak pada bosen bacanya yaa....dan harapanku cuma satu, semoga kalian semua terhibur dengan FF Aneh bin GeJeh ini ...^^

Ah...udah kebanyakan bacot saia nii, langsung aje dee....ni FF GeJeh masih tetap tentang keluarga Kim, walaupun sekarang bukan hari spesialnya Nam-gil Oppa, tapi gak ada salahnya kan klo bikin FF GeJeh lagi...ah...masih aje berbacot ria diriku ini hehe.....oke dah langsung aje ye....CEKIDOOT!!FF ini kupersembahkan untuk Sista2...GENK GEJEHq tercintaa.... (Destira Andari Fikri (Admin Park), Mila Minuhae dan Teresia Dian).

-Lee-

_________________________________________________________


Finally She’s Come Out...!!! (Kim’s Family Fanfiction)


Kim Eun-hee, bayi Kim Nam-gil & Lee Yoo-hee


-Salon Kecantikan, Seoul-

Hari Minggu adalah hari yang paling menyenangkan bagi Dae-jia, karena di hari ini, ia bebas dari segala sesuatu yang harus ia kerjakan. Mulai dari mengurus suami-suaminya, mengurus pacar-pacarnya sampai mengurus selingkuhan-selingkuhannya *wkwkwkwk*. Di hari Minggu ia bisa bersantai, memanjakan dirinya, merawat tubuhnya dan tentu saja penampilannya. Ia menyebut hari ini sebagai ‘Me Time’. Yeah hari dimana ia bisa menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri.

“Ah...nyaman sekali,” desahnya saat si Balon alias banci salon memijat-mijat kulit kepalanya lembut.

“Miss, kukunya mau dicat warna apa?” tanya pegawai wanita yang bertugas untuk me-‘medicure-pedicure’ kuku jari kaki dan tangannya. Hari ini, ia menginginkan ‘full service’ dari ujung kepala hingga ujung kaki tak boleh terlewatkan.

“Hmm...warna pink saja,” jawab Dae-jia santai sambil tetap memejamkan matanya menikmati pijatan lembut di kulit kepalanya.

Tanpa diperintah lagi, pegawai wanita itu pun duduk bersimpuh dan memohon ampunan eh salah mulai melaksanakan pekerjaannya memotong kuku-kuku Dae-jia dan mengoleskan cairan kental berwarna pink yang menimbulkan sensasi dingin di saraf-saraf jarinya. Namun, baru setengah jalan si pegawai wanita membubuhkan cat warna eh cat kuku ke kuku-kuku lentik Dae-jia, tiba-tiba lagu ‘Sorry-sorry’ dari Suju mengalun dari ponselnya yang ia letakkan di tas tangannya. Dae-jia merutuk pelan karena lupa mematikan ponselnya, “Haiiishh.....siapa sih yang menggangguku?”

“Mau saya ambilkan Miss?” tawar si Balon dengan nada lembut mengalun bagai alunan biola yang senarnya putus. “Dari Kim’s House Miss, mau diangkat atau tidak?” si Balon membacakan nama si penelepon.

Kim’s House?, tanya Dae-jia dalam hati. “Tumben Yoo-hee Onnie tidak menelepon menggunakan ponselnya,” gumamnya pelan. “Apa mungkin dia kehabisan pulsa?” *curcol*

“Miss?” tanya si Balon lagi sembari menyodorkan ponsel Samsung galaxy-tab berwarna pink *emang ada?* ke arahnya.

“Eh, iya. Tolong diangkat dan dekatkan ke teligaku,” perintah Dae-jia. Si Balon menurut. “Yoboseyo!” sapa Dae-jia pada si penelepon.

“Nyonya Dae-jia?” sapa si penelepon, yang ternyata Bibi Ma, pelayan di rumah mereka.

“Eh, Bibi Ma. Kukira Yoo-hee Onnie, ada perlu apa Bi?”

“Anu, itu...Nyonya Yoo-hee, mau melahirkan...” jawab Bibi Ma terbata, “Di sini tidak ada orang lain lagi,” tambahnya buru-buru. “Bisakah Nyonya membantu saya?”

“Mwo? Jigem?”

A BIRTHDAY PARTY (Kim's Family) - Kim Nam Gil Fanfiction - Gejeh Edition -

Wah...ini sebenarnya udah lama sekali ngepost-nya di page 'elfanfic' (Facebook) tapi karena kesibukan *preeeett* jadi blog-nya sempet gak keurus hehe....mian semua!! ^^

Moga terhibur dengan FF GeJeh ini yaa....

-Lee-
_________________________________________________

Kim's Family


A BIRTHDAY PARTY (Kim's Family) - Kim Nam Gil Fanfiction - Gejeh Edition -



-6 Maret 2011, de Ferts Cafe`-

Tiga orang wanita cantik nan modis sedang berkumpul dan bercengkrama di salah satu meja cafe` de Ferts, yang terletak di tengah kota Seoul. Suasana cafe` yang menyenangkan membuat mereka bertiga larut dalam perbincangan seru dan menghibur. Sesekali ketiganya tertawa bersama, memperlihatkan kekompakan yang sama sekali tak dibuat-buat. Bagi orang yang melihat, pasti tak akan pernah terbersit dalam pikiran mereka bahwa ketiga wanita itu—sebenarnya empat, tetapi karena kesibukan yang terlalu padat *lebayyy* wanita yang satu lagi harus datang terlambat—adalah istri-istri dari seorang pria yang sama. Menurut akal sehat, hal itu pasti aneh dan tak mungkin terjadi, karena pasti tak akan ada satu wanita pun yang mau dimadu oleh suaminya.

Tetapi keajaiban itu terjadi di keluarga Kim Nam-gil. Yeah, siapa yang tak mengenal Kim Nam-gil, seorang pria tampan menawan, sekaligus aktor yang terkenal hingga seantero jagat raya *lebayy lagi, ni Author lebay mulu dari tadi, haha....abaikan, kita lanjot lagi nyok!*. Hingga membuatnya dipuja dan digilai banyak wanita. Banyak wanita di seantero negeri yang sangat memujanya, dan berharap menjadi istri atau kekasihnya. Oleh karena itu, ketiga wanita yang beruntung ini *eh salah empat* demi cintanya kepada suaminya, hingga rela berbagi suami dan tetap terlihat kompak tanpa dendam sedikit pun *hebat bener, aslinya gak mau ni :p*.

“Mana Shin-woo? kok dia lama sekali?” tanya Hea-in—istri sirri Kim Nam-gil—mulai terlihat tak sabar, “aku ada janji dengan Min-woo nih, sekitar satu jam lagi.” Hea-in melirik jam weker, eh salah jam tangannya untuk yang ke sepuluh kalinya *rajin bener ya Author ampe ngitungin*.

“Hah...iya nih, Shin-woo lama sekali. Aku kan juga harus bertemu dengan Si-won Oppa,” gerutu Dae-jia—istri ketiga Kim Nam-gil—tak mau kalah, ia duduk di sebelah kanan Hea-in.

Yoo-hee, yang merupakan istri pertama dan paling dicintai Kim Nam-gil *dikeroyok bini-bini laen :p*, mendesah lelah. Kehamilannya yang memasuki trimester pertama membuatnya sedikit pusing dan mual-mual, morning sick ceritanya.

“Kau tidak apa-apa Yoo-hee?” tanya Hea-in khawatir saat melihat wajah Yoo-hee yang berubah pucat.

Jumat, 11 Februari 2011

THE THIRD ROOM part 12 --ending--

Judul : THE THIRD ROOM part 12 (ending)


Genre : Thriller, Horror, Romance

Rated :  General
Cast :
Kang Hea In (author)
Noh Min Woo
Kim Nam Gil
Special appearance :    Choi Yeon Rin

****************

“Hea In…lihatlah dibelakangmu?” sarannya, akupun segera menoleh ke dinding di belakangku….

Dan kembali aku terpaku diam, tersentak dan membelalakan mata….apa lagi yang akan kuhadapi sekarang pikirku, menambah rasa frustasi dalam benakku.

Yang kulihat hanya sebuah dinding yang berwarna putih kusam keabuan dan tampak kotor dengan retakan tembok yang membentuk pola seperti halilintar, juga beberapa bagian tembok yang terkelupas memperlihatkan susunan batu bata didalamnya.

“Inilah yang akan membantumu, Hea In…” ucap Mi Young tenang dan tersenyum. Kemudian dia mendekati dinding dan menyentuhkan telapak tangannya pada dinding tersebut. Secara ajaib, sinar kebiruan yang memancar di seluruh tubuh Mi Young, menyebar ke seluruh dinding, sehingga cahaya itu mampu menerangi ruangan yang temaram.

Aku hanya memandangnya gusar, apa yang akan dilakukan Mi Young? Otakku tidak mampu berpikir, aku hanya berusaha memusatkan pikiranku agar mampu bertahan dari serangan Yeon Rin. Yeon Rin kembali akan menyerangku, tapi aku dengan gesit berkelit, menghindari dari jamahan Yeon Rin, dengan mengitari ruangan semampu aku bisa. Bila dia terus mencelakakanku lagi, aku ragu tubuhku bisa bertahan menghadapi serangannya, terutama bayi dalam kandunganku.

“Mi Young! Katakan apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin menghindar seperti ini sepanjang malam!” seruku.

Kamis, 10 Februari 2011

THE THIRD ROOM part 11

Judul : THE THIRD ROOM part 11


Genre : Thriller, Horror, Romance

Rated :  General
Cast :
Kang Hea In (author)
Noh Min Woo
Kim Nam Gil
Special appearance :    Choi Yeon Rin

****************

Sabtu, 5 Maret 2011
Jam 16.11

“Hai…jagiyya” sapa Min Woo ketika dia baru datang, aku sedang membereskan dapur, sehabis memasak tadi. Min Woo menghampiriku dan mengecup pipiku. Aku hanya tersenyum tipis.

“Ini…” katanya riang sambil menyerahkan sebuah kantong kertas besar, aku menengok dan mengeluarkan isinya ternyata sebuah gaun pesta velvet berwarna hijau lumut.

“Aku membelikannya untukmu---aku yakin pasti cocok untukmu, jagiyya”

“Bagus sekali, gomawo” ucapku dengan ekspresi datar. Seharusnya aku senang bukan? Tapi entahlah, aku merasa diriku galau karena kejadian tadi dan merasa bersalah terhadap Min Woo semakin membesar.

“Kau masih marah ya? Karena pagi tadi…” ucap Min Woo ketika melihatku kurang ramah, tidak seperti biasanya. “Maafkan aku jagiyy, karena aku membentakmu” lanjutnya lagi.

Sebenarnya bukan karena masalah Min Woo yang marah padaku tadi pagi, tapi lebih karena masalahku---aku telah membiarkan pria lain mulai menyusup ke dalam hatiku, aku telah membiarkan pria lain menciumku dan secara logika, itu seharusnya tidak boleh terjadi. Tapi getaran itu kenapa mulai merambati hatiku. Apakah aku mulai mengurangi cintaku pada Min Woo.

Mengapa secara tiba-tiba, aku merasa hambar! Tidak---ini tidak bisa, aku harus menghentikannya, perasaanku pada Nam Gil Oppa hanya simpati dan respect. Tidak lebih dari itu.

“Aniyo…aku memang kesal padamu. Tapi aku tidak marah lagi! Minu, bantu aku mencoba pakaian ini ya..” ujarku, memasang senyum manis, berusaha menutupi gundahnya hatiku.

Sabtu, 05 Februari 2011

The New Year’s Night Mystery - Chap 3- (By Yosin Arek Narzis)-ENDING

Chapter 3: Love Truth  (FF Lomba elfanfic)



-Kim Nam Gil, 31 Desember 2010, jam 23.37-

Setelah aku menjelaskan tentang trik si pelaku kepada Dong Hae dan Min Woo, kami mengumpulkan semua orang—termasuk Inspektur Lee dan para polisi—untuk menjelaskan hasil analisis kami. Dengan begitu, mereka semua dapat mengetahui siapa pengacau yang sudah mengganggu pesta ini.

Kami bertiga sempat bertukar informasi soal pembunuhan ini. Dong Hae memberiku banyak informasi mengenai orang-orang itu sementara Min Woo memberitahuku apa saja yang ia dengar saat interogasi. Aku memang tidak terlalu mendengarkan saat interogasi karena sibuk berpikir mengenai trik si pelaku, yang—sayangnya—baru dapat kuketahui setelah pemeriksaan polisi selesai.


 “Pertama-tama, si pelaku memancing korbannya ke dapur. Setelah itu, ia memulai triknya,” Min Woo menjelaskan kepada orang-orang apa saja hal yang ditemukan oleh polisi dan meminta para polisi untuk menunjukkannya. Sambil mendengarkan penjelasan dari Min Woo, aku bersandar di tembok dan memakan permen lollipop.

“Apa ini?” Tanya salah satu dari mereka, menunjuk potongan daging.

 “Itu adalah petunjuk pertama dari trik ini,” jawabnya dengan senyuman misterius. “Sebelum memancing korbannya, pelaku meletakkan beberapa es batu di lantai. Daging ini menunjukkan bahwa si pelaku mengambil es batu dari kulkas sesaat sebelum pembunuhan terjadi, tanpa sempat membersihkan es-es itu sehingga daging itu masih menempel saat digunakan, karena jika sudah dipersiapkan sebelumnya, es ini tentu saja sudah mencair sejak awal,”

“Mengapa menggunakan es?” Tanya Inspektur Lee. “Mengapa tidak menggunakan air saja—melainkan harus menunggu es-es ini mencair?”

“Dibandingkan dengan air, es jauh lebih mudah untuk dibawa-bawa. Kalau menggunakan air, pelaku harus membawanya diam-diam dan ada kemungkinan untuk tumpah sebelum sempat digunakan,” jelasku.

The New Year’s Night Mystery - Chap 2- (By Yosin Arek Narzis)

Chapter 2: Hand Phone  (FF Lomba elfanfic)



-Kim Nam Gil, 31 Desember 2010, jam 22.09-

Sial. Tak kusangka di hari terakhir di tahun 2010 ini aku harus mengalami peristiwa seperti ini. Mulai dari motor yang rusak, bertengkar dengan seseorang yang baru pertama kali kutemui, ditampar oleh seorang wanita, sampai harus melihat peristiwa pembunuhan sementara Dong Hae dan Min Woo menghilang. Aku tidak habis pikir, mengapa harus mengakhiri tahun dengan semua peristiwa seperti ini?

Tanpa kusadari, Min Woo sudah berada di sebelahku, terengah-engah. Jadi, ia tadi tidak terlihat karena masih berjalan menuju kesini.

“Nam Gil…bagaimana dengan perempuan ini?” Tanya Min Woo. Semua orang terlalu shock dengan mayat Moon Seong, sampai-sampai tidak memperhatikan Hwang Rin yang jatuh pingsan. Kami pun menggotongnya ke sofa. Sambil menunggu polisi tiba, aku melihat-lihat sekeliling dapur bersama Min Woo.

Banyak pertanyaan memenuhi benakku. Mengapa harus malam ini? Apa motif pembunuhannya? Siapakah pelakunya?
“Hei, Nam Gil, aku sedang bertanya padamu!” seru Min Woo. Rupanya dari tadi aku melamun sampai tidak mendengarkan omongan Min Woo.

“Ah, maaf. Ada apa?” jawabku setengah terkejut.

“Apa kau melihat Dong Hae? Ia tidak terlihat sejak kau ke toilet tadi. Apa kau bersamanya?” tanyanya khawatir.

“Tidak, aku hanya mencuci muka, kemudian aku bertemu dengan Hee Chul dan Shindong. Kupikir kamu bersamanya. Ji Yong juga tidak kelihatan,”

Min Woo mendengus sebal. “Haah, bisa-bisanya pemilik rumah tidak ada saat sedang terjadi sesuatu,” keluhnya.

“Uugh…” Aku menoleh. Hwang Rin sudah siuman rupanya. Aku meninggalkan kerumunan itu dan menghampiri Hwang Rin.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyaku kepada Hwang Rin.

“Mengapa harus hari ini? Mengapa?!” erangnya.

“Tenang dulu, apa yang sedang kau bicarakan?”

The New Year’s Night Mystery - Chap 1- (By Yosin Arek Narzis)

Chapter 1: The Party  (FF Lomba elfanfic)



-Kim Nam Gil, 30 Desember 2010, jam 13.49-


Tumben sekali Dong Hae mengajakku ke apartemennya untuk merayakan pesta tahun baru bersama. Biasanya ia pergi ke Pulau Jeju saat liburan, entah mengapa kali ini ia tidak bepergian.

“Mau ikut tidak?” tanya Dong Hae.

Aku menaikkan sebelah alisku. “Mana mungkin aku menolak? Sudah lama sekali kita tidak berpesta bersama. Ya ‘kan Min Woo?” jawabku sambil menyenggol lengan Min Woo.

“Ah, terserah kau saja,” Min Woo terkejut. Sepertinya ia tadi sedang melamun. Kira-kira apa yang dilamunkannya ya?

“Omong-omong, apakah kamu akan masak sendiri nanti malam? Jika ya, jangan lupa untuk memasak ayam bakar,” candaku kepada Dong Hae. Aku sangat menyukai ayam, mulai dari ayam rebus, ayam goreng, ayam bakar, semuanya aku suka.

“Baiklah,” jawab Dong Hae sambil tersenyum. “Pestanya akan dimulai jam 8 malam besok, jangan terlambat ya!”
Min Woo mendengus. “kalau Nam Gil tidak terlambat sampai ke rumahku, aku juga tidak akan terlambat,” sindirnya.

“Apa boleh buat, motorku ‘kan sedang diservis,” elakku. Aku terpaksa menumpang di mobil Min Woo karena motorku sedang diperbaiki di bengkel, ada kerusakan di bagian mesinnya. Mungkin karena aku terlalu sering memakainya, tapi jarang kubersihkan. Sampai kemarin, tiba-tiba mesinnya mogok. Motor ini kubeli bulan September lalu, jadi aku belum terlalu menguasainya. Apa boleh buat, terpaksa kubawa ke bengkel. Untung saja Min Woo berbaik hati mau meminjamkan mobilnya padaku selama motorku diperbaiki.

Kami bertiga –aku, Min Woo, dan Dong Hae- sudah bersahabat sejak SMA. Diantara kami bertiga, Dong Hae-lah yang paling mandiri sebab ia tinggal sendirian di apartemennya, sementara Min Woo dan aku tinggal di rumah kami masing-masing bersama keluarga kami. Rumah Dong Hae jauh dari universitas kami jadi ia tinggal di apartemen, dan besok malam ia mengundang kami ke apartemennya untuk merayakan pergantian tahun. Semoga saja besok acaranya meriah.


- 31 Desember 2010, jam 20.17-


Untung saja rumah Min Woo tidak terlalu jauh dari rumahku, jadi aku bisa berjalan kaki ke rumahnya. Setelah selesai bersiap-siap, kami berangkat bersama. Tidak lama kemudian, kami tiba di apartemen Dong Hae, dan kami takjub melihat begitu banyak motor dan mobil yang ada di parkiran sampai-sampai kami hampir tidak bisa memarkir mobil.

“Ramai sekali malam ini. Memangnya siapa saja sih yang diajaknya kemari,” keluh Min Woo. Ia kurang menyukai keramaian, terutama di apartemen sesempit ini yang dipenuhi orang-orang sebanyak ini.

“Sabar sajalah. Dong Hae ‘kan punya teman banyak, kasihan yang lain kalau tidak diundang. Masuk yuk,” ajakku sambil menutup pintu mobil.

Kami berjalan memasuki lobby. Di dekat kami, segerombolan orang-orang muda—kira-kira 6-7 orang—berkumpul di dekat jalan masuk. Kelihatannya mereka teman-teman Dong Hae yang juga diajaknya karena tampaknya mereka seumuran dengan kami. Kami berjalan melewati mereka dan naik ke kamar Dong Hae menggunakan lift. Sesuai dugaan kami, kamar yang sempit itu sudah penuh sesak dengan orang. Min Woo hanya bisa geleng-geleng melihatnya.

Bisa dibilang, Dong Hae memang hebat. Tidak akan ada yang mengira kalau ini sebenarnya apartemen sempit yang sedikit berantakan seperti apartemen-apartemen pada umumnya. Di sini ada minuman, lampu warna-warni dan semuanya, seperti di club-club malam. Entah darimana Dong Hae mendapatkan semua ini, jangan-jangan ia berencana ingin mengubah apartemen ini menjadi club? Apa kata orangtuanya nanti.

Sesuai janjinya, Dong Hae memasak sendiri makanannya, dan aku menemukan sepotong besar ayam yang terletak di meja makan. Karena tinggal sepotong, aku langsung melahapnya sampai habis. “Ayam ini lezat sekali”, pikirku. “Dong Hae bisa masak juga rupanya.” Setelah selesai makan, aku berjalan mendekati Min Woo yang sedang memilih minuman bersama Dong Hae. Aku hendak memuji masakannya ketika aku mendengar ada suara perkelahian dari arah dapur.

“Sepertinya di sebelah sana ada keributan,” Min Woo menunjuk kearah dapur. Dong Hae melihat ke arah jari Min Woo dan mendatangi letak keributan itu. Aku yang penasaran menarik tangan Min Woo mengikuti Dong Hae. Min Woo pun dengan cepat melepaskan tangannya dariku.

“Nam Gil, sebaiknya kita jangan ikut-ikut urusan mereka,” sergahnya.

“Ah, ya, kalau begitu kita melihatnya saja, tidak akan terjadi apa-apa kan?”

“Kalau ada apa-apa aku tidak ikut-ikut ya!”

Merepotkan sekali, pasti itu ulah para pemabuk, sedikit-sedikit pasti sudah jadi keributan. Untung saja aku tidak menyukai alkohol, jadi aku tidak pernah mabuk lalu jadi sumber keributan…meskipun kadangkala juga aku menjadi sumber keributan juga karena ikut campur urusan orang. Yah, aku memang tidak bisa diam kalau melihat sesuatu yang tidak beres, dan tanpa sadar aku akan membuat keributan baru. Untung saja Min Woo mengingatkanku tadi.

Kami pun tiba di dapur. Astaga, berantakan sekali. Meksipun hanya dua orang, tetapi dapur kelihatan seperti sedang direnovasi. Memangnya mereka sudah berkelahi sejak kapan sih? Pasti Dong Hae akan kerepotan untuk membersihkan ini semua.

 “Sudah-sudah, jangan bertengkar di sini, memangnya kenapa?” Tanya Dong Hae sambil mencoba melerai kedua orang tadi. Sepertinya mereka orang yang kulihat di lobby.

 “Moon Seong mencuri-curi kesempatan dengan pacarku!,” teriak yang berbadan gendut.

“Sialan kau Ji Yong, siapa yang kau bilang pacarmu, hah?! Bukankah kau menginjak kakiku duluan!?” geram orang yang tadi dipanggil Moon Seong itu.

“Dasar, kalian selalu bertengkar saja! Mengapa kalian selalu mempeributkan aku?” seru perempuan di sebelahku, sepertinya ia pacar si Gendut. Tidak terlalu jelek, untuk ukuran seseorang seperti si Gendut itu…. Aku berpikir, “bagaimana bisa seorang perempuan cantik seperti dia menyukai berandalan seperti si Gendut.”

Seperti biasa, pasti keributan terjadi karena hal-hal yang remeh. Hanya karena terinjak, lalu menjatuhi seseorang, sudah jadi keributan hebat seperti terjadi gempa bumi. Yang benar saja.

“Tenanglah, jangan membuat keributan di sini. Yang lain jadi terganggu,” kataku pada kedua orang itu.

“Eh, Nam Gil…” bisik Dong Hae khawatir. “Kelihatannya orang itu tidak bersahabat.”

“Kau berani memerintahku, hah?!” si Gendut menoleh ke arahku sambil berteriak. Gawat. Lagi-lagi tanpa sadar aku mulai ikut campur dalam pertengkaran mereka. Orang itu mengarahkan tinjunya padaku. Aku cepat-cepat menghindar dan memukulnya dari bawah. Orang itu semakin mengamuk saja, ia menunduk dan memukul punggungku, kemudian berbalik dan meninju rahangku. Kurang ajar sekali dia. Aku langsung bangun dan tanpa berkedip sedikit pun aku langsung melayangkan tendanganku tepat di perutnya. Si Gendut langsung roboh ke lantai.

“Sudah cukup, jangan buat keributan lagi,” teriakku kepada orang itu. Ah, kuat juga orang itu. Rahangku dipukulnya sekuat ini, untung saja aku tidak luka, yah, mungkin besok hanya lebam sedikit.

“Kau tidak apa-apa Nam Gil?” Dong Hae mendekatiku sambil memegang rahangku yang tadi dipukul oleh si Gendut itu, siapa tadi namanya…ah iya, kalau tidak salah namanya Ji Yong.

“Sudah kubilang untuk tidak ikut campur urusan orang, untung saja kau tidak luka parah, kalau tidak, terpaksa acara kita jadi berantakan karena harus memanggil ambulans,” gerutu Min Woo. Hari ini moodnya kurang baik rupanya.

“Aku tidak apa-apa, kau urus saja si gendut itu,” sahutku. “Lho, perempuan yang tadi disini kemana?”

“Mungkin ia pergi mengambil minuman, Moon Seong juga tidak kelihatan. Oh iya, kau hebat sekali. Perkenalkan, namaku Jung Soo,” kata seorang dari gerombolan tadi yang sedang mengurus si gendut itu. “Baguslah, sepertinya kurang baik kalau perempuan itu ada di dekat Ji Yong sekarang, pasti akan menimbulkan pertengkaran, lalu mereka putus deh,” pikirku. Aku berdiri dan berjalan kearah kamar mandi untuk mencuci muka. Ketika keluar dari kamar mandi, aku menyenggol lengan Moon Seong.

“Hei,” Moon Seong menatapku tajam. Akupun membalas tatapannya dengan senyum sinis.

“Ada apa?” tantangku. Kalau ia bermaksud menghajarku di sini, kelihatannya aku memang harus memanggil ambulans, karena aku masih belum pulih total.

“Gara-gara kamu, Hwang Rin jadi kabur! Ayo tanggung jawab!”

Hwang Rin? Jadi perempuan tadi namanya Hwang Rin? Perempuan sombong yang mengira kedua laki-laki itu memperebutkannya, atau memang keduanya memperebutkannya?

“Jangan diam saja, ayo jawab!” Moon Seong mencoba menggertakku.

“Tenang saja, akan kucari dia,” jawabku santai. Aku melangkah keluar dan berjalan melewatinya. Ia tidak bermaksud menghajarku rupanya, ia sepertinya sedikit lebih baik dari Ji Yong. Moon Seong masih menatapku tajam.

Sesuai perkiraanku, Hwang Rin tidak mungkin pergi terlalu jauh. Ia berada di ruang tamu, menangis. Aku duduk di sampingnya dan mengajaknya bicara, tiba-tiba ia menamparku.

“Beraninya kau memukuli pacarku! Apa kau tidak kasihan padanya hah, dasar barbar!”

“Tolong tenang dulu nona. Bukankah ia yang memukulku duluan? Sepertinya kau sangat mencintainya yah? Kalau aku tahu akan seperti ini, aku seharusnya tidak mendekatinya.”

“Ji Yong…dulu ia teman SMP-ku. Kami berteman baik sekali, sampai suatu ketika Moon Seong datang dalam kehidupanku. Ia lebih baik dari Ji Yong yang mudah panas, dan kemudian aku berpacaran dengannya. Ji Yong tidak suka kepada Moon Seong karena ia menganggap Moon Seong sebagai hambatan dalam kehidupan percintaannya denganku, meskipun aku sebenarnya tidak pernah menyukai Moon Seong. Kami berpacaran karena aku dipaksa oleh orangtuaku yang tertarik dengan harta keluarga Moon Seong…dan Ji Yong yang menaruh dendam dengan Moon Seong selalu saja bertengkar dengannya, bahkan hal-hal kecil saja menjadi bahan keributan, seperti tadi ketika kau datang dan memukuli Ji Yong. Kau ini!…” ia berdiri dan mencoba memukulku kembali dengan tasnya. Aku mengelak dan menangkis tasnya, dan mendudukkannya kembali.

“Aku minta maaf,” kataku tulus. “Aku benar-benar tidak tahu tentang itu, aku hanya tidak tahan melihat keributan. Maafkan aku,” aku hendak menghapus airmatanya, ketika tiba-tiba ada seseorang mengagetkanku.

“Wah-wah, siapa nih yang sedang berpacaran, apakah aku mengganggu kalian?” Orang itu…aku mengenalinya. Dia Shindong, teman sekelas Dong Hae yang pernah menraktirku dulu.

“Hai, Shindong, kau masih ingat aku ya,” sapaku ramah sambil menjabat tangannya. “Aku tidak sedang berpacaran, ia sedang sedih, jadi aku menghiburnya”

“Jangan bohong, Nam Gil. Tadi aku melihatnya mencoba memukulmu dengan tasnya. Ya ‘kan, Hyungnim?” Ia menoleh pada orang di belakangnya.

“Ya, aku juga melihatnya, cantik juga ‘pacar’mu itu,” orang di belakang Shindong itu terkekeh. Aku tahu dia, ia kakak kelas Shindong, aku tidak ingat namanya.

“Halo, aku Hee Chul, kakak kelas Shindong,” katanya sambil tersenyum. Ah, aku ingat sekarang, namanya Hee Chul. Dasar, baru saja bertemu sudah menggoda aku.

 “Aku Nam Gil, senang bertemu denganmu. Kalian sudah bertemu Dong Hae?” tanyaku dengan senyum kecut. Mereka baru saja datang, jadi aku menyuruh mereka menemui Dong Hae. Heran, bagaimana mereka bisa parkir ya? Saat aku datang bersama Min Woo tadi, parkiran sudah sangat penuh.

“Belum,” jawab Shindong. “Ayo Hyungnim, kita menemuinya, daah Nam Gil,” ia melambaikan tangannya padaku.

“Hee Chul…Shindong…” Hwang Rin terbata-bata.

“Kau mengenal mereka?” tanyaku.

“Mereka teman Ji Yong. Kami belum pernah bertemu, hanya saja Ji Yong sering membicarakan mereka. Mereka orang baik,” katanya sambil terisak. Seperti tadi, aku merasa kasihan padanya dan aku ingin menghapus airmatanya, hingga tiba-tiba Min Woo berlari ke arahku dengan panik. Ada yang tidak beres.

“Nam Gil...di dapur…Moon Seong…” Min Woo masih terengah-engah sehingga tidak bisa meneruskan kalimatnya. Hwang Rin terkejut, ia langsung berlari ke dapur secepat mungkin. Aku meninggalkan Min Woo yang masih terengah-engah dan bergegas ke dapur.

Betapa terkejutnya aku, aku melihat Moon Seong tergeletak tak bernyawa di lantai dapur dengan pisau dapur menancap tepat di jantungnya dan ada bekas perkelahian. Telah terjadi pembunuhan di sini! Hwang Rin berteriak histeris dan jatuh pingsan.

“Jangan ada yang mendekat!” perintahku kepada orang-orang yang berusaha menyentuh mayat Moon Seong. Shindong dan Hee Chul tampak terkejut, mereka langsung menelepon polisi dan ambulans. Akhirnya ambulans harus datang kemari juga, pikirku. Aku mengedarkan pandanganku ke  sekelilingku, aku tidak melihat Dong Hae, Min Woo, dan Ji Yong!


~To be continued…

GO DAISY...GO! FIGHTING! (By Desi Fitriani)

GO DAISY...GO! FIGHTING!  (FF Lomba elfanfic)


SCENE1



Go Daisy -10 Oktober 2009- Seoul, Korea (Apartemen Keluarga Go)


“Hoahm.. Ahh.. Pagi yang cerah, aku masih bisa menikmati hari ini seperti biasa, terima kasih Tuhan.” Ujarku sambil merebahkan tubuhku dan beranjak bangun. Masih dengan wajah kusut dan rambut acak-acakan sebangun tidur, aku beringsut dari tempat tidurku untuk membuka jendela kamar, dan segera membuka pintu kamar untuk menuju ke dapur, karena wangi masakan omma rupanya telah membangunkanku.

“Ommaa,,,sarapan apa kita hari...” Belum sempat aku melanjutkan kata-kataku, tiba-tiba sebuah kain lap mendarat tepat di mukaku.

“Aahh.. Onnie maaf, aku tak sengaja menjatuhkan kain itu,” terdengar suara Go Eun Min, adikku yg berusia 3 tahun lebih muda dariku, dari atas tangga.

“Hhh..Eun Min! Kau tahu, tadi aku jelas-jelas melihat tanganmu mengayunkan kain lap itu ke arah mukaku, kau sengaja kan!? Awas kau yaa.” Semburku sambil berlari ke arah tangga.

Melihat hal itu Eun Min langsung berlari menghambur ke atas apartemen yang berada di atas apartemen kami, sembari berteriak. “Minho-ah.. Buka pintumu, onnie gembul sedang mengejarku, hahaha!”

Secepat kilat aku berlari, dan dengan cepat menarik baju Eun min, hal itu tidak sulit kulakukan karena aku adalah atlet atletik di sekolah sekaligus rutin latihan taekwondo di dojang yang berada tak jauh dari apartemenku. “Kauuuu...kemarikan pipimu haah! Mau aku bikin apa enaknya? Kimbab, atau bibimbap hmm?!”

“Ampun onnie, hahaa, aku benar-benar tak sengaja, tanganku tiba-tiba bergerak sendiri. Entahlah, mungkin kain lap ku bereaksi melihat iler yang masih berada di mulutmu.” Ringis Eun Min smbil tertawa.

“Kauu!” Belum sempat aku arahkan cubitan ke pipi Eun Min, tanganku tiba-tiba ditarik dengan keras dari belakang seakan-akan akan mau dipelintir. “Aww! Sakit. Minho, apa yg kau lakukan? Sakit tau, jangan bilang kau mau mengajakku sparing lagi sekarang.” Sambil menoleh ke arahnya aku memelototkan mataku ke arah Choi Minho, tetanggaku yang tinggal di atas apartemen kami, sekaligus teman bermainku dan Eun Min sejak kecil.

“Aigoo, pagi-pagi dua kakak beradik cerewet sudah membuat keributan di depan apartemenku, hah! Dasar kurang kerjaan, hmm.. Mau aku hukum seperti apa kalian ha?”

Aku hanya meringis kecil sambil berupaya melepaskan tangannya dari cekalan Minho. “Dan kau Daisy. Sepertinya kau belum cuci muka sama sekali, huh, gadis macam apa kau? Dasar kau pendek.”

“Hey..! Berhenti menyebutku pendek, dan berhenti memanggil langsung ke namaku, kuingatkan padamu aku ini kakakmu tahu, 3 tahun lebih tua darimu, kau harus memanggilku noona!”

“Apa? noona?! Ommo, tidak tidak, panggilan noona tidak cocok untuk gadis ceroboh seperti kau, bukankah dari kecil selalu aku bertidak sebagai kakak? Jika kau terluka aku yang menggendongmu, jika kau sendirian dirumahmu aku yg menemanimu, jika kita sedang jalan orang sering mengira aku kakaknya dan kau adikku mengingat tinggi kita berbeda 25cm lebih. Jika....”

“Cukup-cukup, berhenti mengungkit tinggi badanku, sekarang lepaskan tanganku,oke..”

“Minhoo, tak usah kau lepas, kau cekal terus saja sekalian cekal tangannya yg satu lagi, biar aku bebas. Lagian dia begitu bau, belum mandi dan lihat, bahkan masih ada iler menempel di sudut mulutnya. Aku tak tahan berlama-lama berdiri disebelahnya.” Sahut Eun Min sambil nyengir menyebalkan.

“Hey kau, anak kecil tak tau diri, awas kau di rumah!”

“Sudah-sudah... Eun min pergilah, sesuai permintaanmu aku akan menawan onnie baumu ini, karena ada hal yg mesti aku sampaikan.”

“Awww...!” Jeritku ketika Minho meraih tanganku yang satunya lagi, cukup mudah dilakukannya dengan posturnya yang jauh lebih tinggi dari aku.

“Dadah onnie... Mee..rong!” Teriak Eun Min sambil menjulurkan lidahnya. “Minho, kamsahamnidaa.” Suara Eun Min terdengar begitu menyebalkan ditelingaku.

“Eun Min-aah...assh! Kau lihat, gara-gara kau anak itu melunjak, sekarang cepat katakan apa maumu aku mau makan, lapar sekali..”

“Waw, kau makan tanpa mencuci muka dulu, dasar.”

“Cepatlah lepaskan aku, dan katakan apa yang kau inginkan.”

“Hmm..okaay..baiklah..” Minho mulai bicara sambil mengendurkan pegangannya. “Tadi pagi aku mendapat pesan singkat di ponselku dari Sabeum Kim, dia bilang bulan depan akan ada turnamen kejuaraan taekwondo tingkat daerah, dan kau tahu hadiah utamanya, peserta yang memenangkan juara pertama putera-puteri berhak untuk ikut latihan selama 1 bulan di Doljang Red Tiger yang terletak di pulau Jeju.”

“Oh ya??” Mataku langsung membesar bercahaya, “benarkah itu?! Mengapa Sabeum Kim tidak mengabariku juga. Ahh..dia pilih kasih.”

Selasa, 01 Februari 2011

THE THIRD ROOM part 10

Judul : THE THIRD ROOM part 10



Genre : Thriller, Horror, Romance

Rated :  General

Cast :
Kang Hea In (author)
Noh Min Woo
Kim Nam Gil
Special appearance :    Choi Yeon Rin

****************

Sabtu, 5 Maret 2011 – Jam 10.54 --

DDRRRRTTTT…. Ponselku berdering dan bergetar

“Yoboseyo…”

“Hea In, ini aku Kim Nam Gil. Bisakah kita bertemu hari ini? ada yang ingin aku bicarakan, ini sangat penting!”

“Erghh…tapi hari ini aku—“

“Ini mengenai Yeon Rin—Choi Yeon Rin, sekarang aku mengerti keinginannya” sesaat aku tersentak Yeon Rin, nama si hantu, dan apa keinginannya??

“Mwo?”

“Aku ke tempatmu?, atau kau ke tempatku?”

“Baiklah, aku akan datang ke rumahmu” jawabku.

“Telepon dari siapa?” tanya Min Woo memergokiku, membuatku kaget. Segera aku memijit tombol off.

“Itu---“ Min Woo segera merebut ponsel dari tanganku…dan dia melihat nama yang tertera dari telepon yang masuk.

“Nam Gil?? Kau masih berhubungan dengannya??”

“Tidak---tadi dia hanya…”

“Kau akan bertemu dengannya bukan?”

“….”

“JAWAB Hea In!! Kau tidak boleh bertemu dengannya! Tidak Boleh!!”

“Waeyo?” tanyaku, kurasa aku harus bertemu dengan Nam Gil Oppa karena mimpiku yang terakhir, karena aku takut itu akan menjadi pertanda buruk.

“Karena…aku melarangmu!” bentak Min Woo. Sebenarnya aku paham alasan Min Woo melarangku tapi demi rasa ingin tahuku, aku terpaksa membantahnya.

“Apa alasannya? Karena kau cemburu bukan, cemburu yang tidak beralasan”

Jumat, 28 Januari 2011

THE THIRD ROOM part 8

Judul : THE THIRD ROOM part 8



Genre : Thriller, Horror, Romance

Rated :  17+ (tolong perhatikan ratenya ya!)
               Mengandung unsur sadisme

Cast :

Kang Hea In (author)
Noh Min Woo
Kim Nam Gil
Special appearance :    Choi Yeon Rin

****************

<< Kim Nam Gil POV>>

 “tidak bisa kupercaya---aku tidak percaya---tidak mungkin” gumam Hea In berulang-ulang meracau dan aku melihat dia menangis tersedu mengalirkan air matanya yang turun ke bawah. Aku mampu merasakan kekalutannya, kebinggungan dan ketidakpercayaan atas kenyataan yang dialaminya. Karena aku melihat cara yang sama, reaksi yang sama yang ditunjukkan Hea In didepanku, semua sama persis seperti yang kusaksikan pada Mi Young---saudara kembarnya.

Suatu kenyataan yang pahit mengetahui bahwa kau pernah dibuang dan dibesarkan oleh orang lain yang lalu kau panggil sebagai ayah dan ibu. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa kau memiliki saudara kembar identik, yang seharusnya tidak perlu terpisah.

Aku hanya bisa memeluknya erat dalam dekapanku seperti aku memeluk Mi Young, aku biarkan dia—Hea In, menangis membasahi kemejaku. Aku tidak perduli, aku ingin memeluknya, seolah menumpahkan perasaan rindu yang mencengkram dadaku. Rasa getir karena sangat merindukan kekasihku yang meninggal 2 tahun yang lalu karena kecelakaan mobil. Lama aku memberikan dadaku untuk menjadi sandaran Hea In, tapi Hea In sudah berhenti terisak, dia diam---tak bergerak, kurasakan tubuhnya lunglai bagaikan tak bertulang dan menyandar lemas di badanku. Aku terkejut---Hea In pingsan.

Sabtu, 22 Januari 2011

THE THIRD ROOM part 7

Judul : THE THIRD ROOM part 7



Genre : Thriller, Horror, Romance

Rated :  General

Cast :
Kang Hea In (author)
Noh Min Woo
Kim Nam Gil
Special appearance :    Choi Yeon Rin
                                      Shin Yuri

****************

“Jagiyy..!! ada apa??” suara Min Woo menyadarkan aku, aku tersentak sebentar seolah sekantung kompres es dingin diangkat dari ubun-ubunku, dan aku mulai merasakan aliran darahku mengalir, dan hangatnya udara menyentuh kulitku. Namun aku kembali tersentak melihat sesuatu yang tertulis di cermin dengan warna merah---Dan aku melihat pantulan ekspresi Min Woo yang berubah terkejut setelah membaca yang tertulis di cermin….

---GA DA--- (pergi)

Tulisannya besar dan bila kulihat lebih teliti ternyata tulisan warna merah bukan berasal dari darah tapi seperti lipstick merah…

Kurasakan tanganku mengenggam sesuatu dan secara refleks aku mengacungkan tanganku ke depan---aku mengenggam lipstick di tanganku!! Batang lipstick itu patah tidak beraturan karena ditekan paksa---Apakah aku yang menulisnya? Tidak mungkin, aku melihat sosok hantulah yang menulis kata ‘pergi’ itu di cermin---lalu mengapa lipstick itu berada di tanganku.

“Kau yang menulisnya?” tanya Min Woo pelan dengan tatapan menuduh. Aku melemparkan lipstick itu ke depan dengan gugup. Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Bukan aku---bukan aku!

“Tidak---aku tidak menulisnya. Bukan aku!” jawabku jujur, karena bukan aku pelakunya. Tapi tatapan Min Woo mengatakan seolah-olah aku berbohong.

“Hantu itu---yang menulisnya, Minu. Bukan aku, percayalah padaku!” bantahku tercekat.

“Tapi bagaimana bisa?” keluh Min Woo, aku tahu ia mencoba mempercayaiku tapi bukti lipstick di tanganku begitu kuat mematahkan kepercayaannya. Aku bagaikan seorang pencuri yang sedang tertangkap basah. Aku pun lunglai, badanku merosot ke bawah, terduduk di lantai. Min Woo ikut berlutut di sampingku…

LOVING YOU...(One Shot)

LOVING YOU...(One Shot)




Cast:
Nytha Sekar as Lee Young-in
Cho Kyun-hyun as him self
Kim Nam-gil as him self
Yuli ~Admin Lee~ (Author) as Lee Yoo-hee
Miya (Teresia Dian) as Shin Yuri



-Lee Young-in-

Hari ini, hari Minggu yang cerah, secerah suasana hatiku. Seseorang yang kutunggu-tunggu akan segera tiba, seseorang yang sanggup membuat hatiku bergetar saat melihatnya. Sudah lama sekali aku memendam rasa sukaku padanya, karena aku tahu tak mungkin dia akan menerima cinta dari anak kecil sepertiku. Tapi tidak, itu 5 tahun yang lalu, sekarang aku sudah dewasa, umurku sudah 18 tahun dan aku bukan anak kecil lagi. Kembali kuperiksa dandananku di depan cermin, aku harus terlihat sempurna hari ini. Dengan memakai kaos merah muda dan dipadu dengan bolero berwarna gading berlengan pendek serta rok selutut dengan warna senada, kurasa penampilanku sudah cukup sempurna hari ini, sambil tersenyum menatap cermin di depanku.

Ting...Tong...!!!

“Young-in....cepat buka pintunya....Ibu dan Kakakmu sedang menyiapkan makanan di dapur,” terdengar seruan Ibu dari dapur.

“Baik Bu,” sahutku bersemangat, ini pasti dia. Oh Tuhan...aku benar-benar gugup, orang yang kucintai akan segera tiba. Sudah lama sekali aku tak melihatnya, semenjak kepergiannya ke Amerika 5 tahun yang lalu. Dia pergi ke Amerika untuk meneruskan kuliahnya di Harvard University. Kemarin, saat mendengar berita bahwa dia sudah berada di Seoul—sejak dua hari yang lalu—dari Kak Yoo-hee, kontan hatiku melonjak bahagia karena akhirnya aku bisa bertemu dengan pujaan hatiku itu. Dan terlebih lagi hari ini dia akan berkunjung ke rumahku, Oh..betapa senangnya hatiku, rasanya tak dapat terlukiskan dengan kata-kata. Dengan melompat gembira aku segera berlari ke depan pintu dan dengan hati berdebar kubuka kenop pintu tersebut.

Benar saja, begitu kubuka pintu terlihat sosok pemuda tampan dengan tinggi 184 cm, menggunakan kaos abu-abu polos dipadu dengan jaket biru tua serta celana Jeans. Kak Nam-gil, dia tak banyak berubah, tetap mempesona seperti terakhir kali aku melihatnya. Hanya saja, sekarang ada kumis tipis di antara hidung mancung dan bibirnya. Dia tersenyum ke arahku, senyum yang sangat menawan, membuat jantungku bagai ingin melompat keluar dan sensasi aneh yang kurasakan di perutku.

THE REINCARNATION - Chap 28 - Ending - Fanfiction BIDEOK / NAMWON -

CHAPTER 28



Cast :

Bi Dam : Kim Nam Gil                                   
Deokman : Lee Yo Won

Mi Shil : Go Hyun Jung                                 
King Jin Pyeong : Lee Min Ki
Chil Sook : Park Kil Kang                                  
Sohwa : Park Young Hee

Yoo Shin : Uhm Tae Wong
Yong Soo : Kim Jung Chul                                
Cheon Myeong : Park Ye Jin
Alcheon : Lee Seung Hyo
Choon Choo : Yoo Seung Ho                                 
Bo Ryang : Yoo Eun Bin                            
Young Mo : Qri                               
San Tak : TETAP
Bo Jong : Go Do Bin
Ha Jong : Go Jung Hyun                                 
Kim Min Sun : Go Min Sun
Jook Bang : Lee Moon Shik                                
Go Do : Ryu Dam


-------------------------------------------------------------


- Lee Yo Won - 19 Februari 2021 - Bali, Indonesia -       

Hatiku dilanda kecemasan kuat yang tak kunjung hilang semenjak mendapat telepon dari Nam Gil beberapa hari lalu. Dia mengirimiku tiket dan memintaku datang ke Bali untuk menolongnya tanpa mengatakan lebih rinci alasannya. Dan setelah telepon singkat itu, Nam Gil tak dapat dihubungi sama sekali.

Walaupun panik, aku tetap berusaha tenang demi mengurus segalanya dengan cepat untuk keberangkatanku. aku hanya menceritakan rencana kepergianku ke Indonesia pada Ayah—itupun hanya versi singkat dariku yang mengatakan ingin berlibur, karena aku tak ingin membuatnya khawatir—tapi aku tidak bisa berpamitan padanya saat akan berangkat, karena sehari sebelum keberangkatanku, Ayah pergi untuk urusan bisnis di luar kota.

Kini, aku telah tiba di bandara Ngurah Rai. Aku menarik koperku menuju pintu keluar. Hari mulai gelap, membuatku semakin resah. Aku merogoh ke dalam tas tanganku untuk mengambil kertas alamat tempat yang harus kutuju—kertas itu ada di dalam amplop cokelat bersama kiriman tiket Nam Gil waktu itu. Uluwatu. Nama yang asing bagi telinga dan bibirku saat mencoba mengucapkannya. Tempat macam apa itu? kenapa Nam Gil menyuruhku pergi ke sana? Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia baik-baik saja? jantungku berdebar-debar penuh kecemasan.

Saat mengedarkan pandangan memilih taksi mana yang akan kupakai jasanya, aku dikejutkan dengan suara yang memanggilku. Aku menoleh dan lebih terkejut lagi ketika melihat kedua pria di hadapanku. Go Jung Hyun dan Go Do Bin! Kakak-kakak tiri Nam Gil.

“Sedang apa kalian di sini?” tanyaku cepat.

“Menjemputmu,” jawab Do Bin singkat. “Ayo,” ajaknya sambil berbalik menuju mobil CRV hitam yang terparkir tak jauh dari tempatku berdiri.

“Ayo,” ulang Jung Hyun.

Otakku seolah lumpuh dan tak mampu mencerna dengan baik apa yang terjadi. “Kenapa kalian menjemputku? Akan pergi ke mana kita? Sedang apa kalian di sini?” tuntutku dengan serentetan kalimat cepat. Tapi kemudian jawaban dari semua pertanyaan itu melintas di kepalaku begitu saja. “Nam Gil,” gumamku. “Kalian tahu di mana Nam Gil? apakah dia yang menyuruh kalian menjemputku?”

Jung Hyun meringis. “Tidak bisakah kau masuk ke mobil saja dulu? Kita bicarakan nanti,” katanya tak sabaran. “Kalau kau masih ingin melihat Nam Gil hidup, cepat ikut kami.”

“Apa!?” seruku. “Nam Gil terluka?”

THE REINCARNATION - Chap 27 - Fanfiction BIDEOK / NAMWON -

CHAPTER 27



Cast :


Bi Dam : Kim Nam Gil                                
Deokman : Lee Yo Won

Yoo Shin : Uhm Tae Wong
Yong Soo : Kim Jung Chul                             
Cheon Myeong : Park Ye Jin                            
Young Mo : Qri
Wolya : Joo Sang Wook                            
Ha Jong : Go Jung Hyun


------------------------------------------------------


- Lee Yo Won - 2 September 2020 -        

Kepalaku terasa pusing dan hatiku nyeri mengetahui semua kepedihan yang kurasakan selama ini ternyata berasal dari sebuah kesalah pahaman konyol antara diriku dan Nam Gil. karena rasa cemburu buta yang meracuni hati dan pikiran kami.

Aku benar-benar menyesalinya. Seandainya dulu aku tidak pergi begitu saja ketika melihatnya bersama Kim Min Sun… seandainya aku menghampiri Nam Gil dan bukannya melarikan diri dari sakit hatiku…

Kutatap wajah Nam Gil yang terlihat resah dan murung. Banyak sekali kesempatan untuk kami dapat berbahagia, seandainya saja kami bisa berpikir dan bersikap lebih dewasa pada saat itu. “Keraguan kita pada perasaan satu sama lain membuat kita mudah mengambil kesimpulan yang salah,” gumamku. “Mungkin karena saat itu kita masih begitu muda…”

Nam Gil mencondongkan tubuhnya ke arahku. “Yo Won, apakah kau—“

“Nam Gil,” panggil kak Jung Chul tiba-tiba menyela pembicaraanku dan Nam Gil. “Ada yang mencarimu.”

“Brengsek!” maki Nam Gil seketika, begitu melihat kedua pria yang berjalan mengikuti kak Jung Chul.

“Ada apa? Siapa mereka?” tanyaku.

Jumat, 21 Januari 2011

THE REINCARNATION - Chap 25 - Fanfiction BIDEOK / NAMWON -

CHAPTER 25



Cast :

Bi Dam : Kim Nam Gil                             
Deokman : Lee Yo Won

Mi Shil : Go Hyun Jung                           
Moon No : Jung Ho Bin
Chil Sook : Park Kil Kang                            
Sohwa : Park Young Hee

Yoo Shin : Uhm Tae Wong                         
Yong Soo : Kim Jung Chul                          
Cheon Myeong : Park Ye Jin
Alcheon : Lee Seung Hyo
Choon Choo : Yoo Seung Ho                           
Bo Ryang : Yoo Eun Bin
San Tak : TETAP
Ha Jong : Go Jung Hyun                           
Bo Jong : Go Do Bin          
Kim Min Sun : NAMA ASLI


-------------------------------------------------------


- Lee Yo Won - 13 Maret 2016 -      

“Apa yang kau bawa itu?” tanya Ayah heran ketika melihatku berjalan keluar dari dapur dengan membawa kotak putih berukuran sedang.

“Kue,” jawabku. “Ayah boleh memakannya nanti.”

“Kue? Lalu kenapa kau bawa ke atas?” tanyanya, ketika aku menaiki tangga menuju kamarku di lantai dua.

“Ada yang harus kulakukan,” jawabku sambil mempercepat langkahku.

Sesampainya di kamar, aku menaruh kotak itu di atas kasur, membuka tutupnya dan menancapkan lilin di tengah kue ulang tahun tersebut. Aku meraih ponselku dari meja rias, mencari korek api dari dalam laci, dan kembali ke kasur. Setelah menyalakan lilinnya, aku mencari foto lama yang masih kusimpan di ponselku. foto Nam Gil yang tersenyum lebar di bawah sorot lampu jalan ketika dia menemaniku menunggu bus. Aku tersenyum melihat ekspresi polos dan lucunya.

“Sudah lima tahun, Nam Gil,” kataku pada foto itu. “Tapi aku masih tetap memegang janjiku untuk merayakan ulang tahunmu. Memang tidak bersamamu, tapi aku tetap merayakannya.”

Di mana kau sekarang? Apakah ada yang merayakan hari penting ini bersamamu? Keluargamu? Kekasihmu?

“Happy birthday to you… happy birthday to you… happy birthday, happy birthday, happy birthday to you…” aku menyanyikan lagu itu dengan suara parau, kemudian meniup lilin yang kunyalakan. Dadaku terasa sesak. “Selamat ulang tahun, Nam Gil,” ucapku sekali lagi pada foto di ponselku. “Aku merindukanmu…” bisikku.