Senin, 08 Agustus 2011

DISASTER LOVE - Chap 10 - Fanfiction Super Junior -

CHAPTER 10



Hea-in sedang mengambil susu dari kulkas ketika Sung-min memasuki dapur dengan wajah murung dan lesu.

“Selamat pagi,” sapa Hea-in, yang hanya dibalas seadanya oleh Sung-min. “Kurang tidur? Bukankah semalam kau lebih dulu selesai shooting?”

Sung-min duduk di kursi yang di susun di depan counter, dan mengusap wajahnya dengan kasar. “Aku tidak bisa tidur,” gumamnya. “Ah, apa kau melihat Dong-hae pagi ini?” tanyanya tiba-tiba.

Hea-in mengerutkan kening heran. “Dong-hae? Tidak, aku belum bertemu dengannya hari ini. Ada apa?”

Sung-min menghembuskan napas lelah. “Pergi ke mana dia…” gumamnya tanpa menjawab Hea-in.

“Ada apa sebenarnya— ah, itu dia,“ kata Hea-in tiba-tiba, ketika Dong-hae memasuki dapur lewat pintu belakang.

Secepat kilat Sung-min berputar di kursinya untuk menghadap Dong-hae. “Dari mana saja kau? Kenapa semalam tidak pulang!?” tuntut Sung-min.

Dong-hae melirik ‘kakaknya’ itu sekilas sebelum membuang muka. Semalam ia berjalan kaki ke bukit di sekitar kompleks vila untuk menangkan diri. Jika saja mereka berada di Seoul, ia pasti akan memilih pergi jauh menggunakan mobilnya, namun tak ada kendaraan lain di lokasi ini selain milik Tuan Kang, karena itu terpaksa ia berjalan kaki.

Berjam-jam ia duduk di bawah sebuah pohon, memikirkan apa yang telah terjadi, dan tetap tak bisa mengerti bagaimana mungkin Sung-min tega melakukan semua itu padanya. Dong-hae memang menyukai Seo-min, tetapi ia belum mengenal betul siapa dan bagaimana gadis itu. mungkin bila ia melihat Seo-min berciuman dengan pria lain—siapa saja selain Sung-min, sahabatnya sendiri—sakit yang dirasakannya tak akan sebesar ini. pengkhianatan Sung-minlah yang paling melukai hati Dong-hae.

Mengapa kak Sung-min tidak jujur saja padaku bila dia juga menyukai Seo-min? kenapa harus menusukku dari belakang? Bila dia jujur, kami bisa bersaing secara adil… tak perlu begini… semua itu yang dipikirkan oleh Dong-hae semalaman. Dan kekecewaannya pada Sung-min membuatnya tak berselera untuk bicara baik-baik dengan pria itu sekarang.

“Dong-hae, kita harus bicara,” kata Sung-min sambil beranjak dari kursinya untuk mendekati Dong-hae.

Hea-in benar-benar terkejut saat melihat sikap tak peduli yang Dong-hae pertunjukkan terang-terangan pada teman segrupnya itu. tak pernah dilihatnya Dong-hae bersikap sekasar ini sebelumnya.

“Dong-hae—“ perkataan Sung-min terhenti ketika Seo-min memasuki dapur.

Seketika langkah Dong-hae pun terhenti. Keduanya berhadap-hadapan di ambang pintu dapur yang menuju ruang makan. Tatapan tajam Dong-hae yang berbalut kekecewaan tertuju sepenuhnya pada Seo-min yang berusaha terlihat acuh tak acuh walau sebenarnya amat gugup dan merasa bersalah.

“Aku mau bicara denganmu,” kata Dong-hae.

“Tak ada yang perlu dibicarakan,” kata Seo-min santai sambil berjalan melewati pria itu.

“Ikut aku,” perintah Dong-hae tegas sembari menarik lengan Seo-min agar mengikutinya.

“Jelaskan padaku apa yang terjadi semalam,” pinta Dong-hae setelah berada di ruang tengah yang kosong.

Seo-min tak sanggup menatap wajah pria itu ketika menjawab. “Bukankah kau sudah melihatnya sendiri?”

Diam sesaat sebelum Dong-hae kembali bertanya. “Kak Sung-min kah orangnya?” tanyanya. “Pria yang kau suka?”

“Ya,” sahut Seo-min dengan berat hati.


Sung-min dan Hea-in, yang menyusul Dong-hae dan Seo-min, terperanjat kaget. Terlebih Sung-min. ia tak bisa percaya… bagaimana mungkin, bila melihat segala sikap dan perkataan gadis itu padanya selama ini? tetapi… semalam… mungkinkah? Mungkinkah diam-diam sebenarnya KangSeo-min menyukaiku? batin Sung-min.

Perlahan Dong-hae melepas cengkraman tangannya di lengan Seo-min. ia menundukkan kepala agar gadis di hadapannya itu tak melihat kekecewaan dan sakit hatinya. “Seharusnya kau katakan sejak awal, dan aku tak akan mengganggumu dengan perasaanku,” ucap Dong-hae tak lebih dari bisikan.

Sesaat, nyaris saja, Seo-min mengangkat tangannya untuk menyentuh Dong-hae, tetapi cepat-cepat ia mengurungkan niat tersebut dan mengepalkan tangannya dengan erat.

“Maaf telah mengusik ketenanganmu selama ini,” kata Dong-hae sambil mengangkat kepalanya untuk menatap Seo-min. “Aku tak akan mengganggumu lagi.” Dengan kalimat terakhir tersebut, ia melangkah pergi meninggalkan Seo-min yang mematung.

Sebagian diri Seo-min ingin mengejar Dong-hae dan menjelaskan yang sebenarnya, tetapi, sebagian yang lain, kesetiaannya pada keluarga, menahannya untuk tetap di tempat, dan hanya menyaksikan kepergian pria itu.

Seo-min terlonjak kaget ketika seseorang menepuk bahunya. Kang Ha-jong. Pria itu berada di ruang kerjanya, dan tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan putri keduanya itu dengan Dong-hae.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya lembut.

Seo-min menunduk. “Aku baik-baik saja,” elaknya.

Kang Ha-jong menghela napas. “Maaf, tapi tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan kalian,” katanya. “Sebenarnya ada apa? Kalian bertengkar? Kenapa dia mengira kau menyukai Lee Sung-min? bukankah waktu itu kau mengaku padaku bahwa kau menyukai Lee Dong-hae?”

Hea-in yang semula berniat pergi karena tak tertarik mendengarkan pembicaraan adik dan Ayahnya, terperanjat. Benarkah? Seo-min pernah membuat pengakuan semacam itu!? batinnya terkejut.

Sementara itu, Sung-min mematung di tempat. Ia semakin tak mengerti. Yang mana yang benar? Seo-min menyukaiku… atau Dong-hae? batinnya.

Seo-min menatap wajah Ayahnya. “Hyun-in juga menyukai Dong-hae,” ucapnya pelan sebelum kembali menunduk. “Aku baru mengetahuinya…”

“Seo-min—“ mulai Kang Ha-jong, mulai mengerti apa yang terjadi.

“Hyun-in adikku. Aku tidak bisa merebut pria yang disukainya—“

“Kau mengorbankan perasaanmu sendiri…” Kang Ha-jong tak tahu harus bagaimana. Ia tak tega melihat putri keduanya seperti ini, tetapi seperti Seo-min, ia pun mengkhawatirkan perasaan Hyun-in.

“Dasar bodoh,” gumam Hea-in dengan nada menghina yang bercampur dengan rasa tak percaya. Mereka bertiga memang saudara, namun tak sedekat dan seakrab itu hingga mau saling berkorban—paling tidak itu yang dipikir olehnya—karena itu sikap Seo-min ini benar-benar tak dapat dipercaya olehnya.

Seo-min mengangkat bahu acuh tak acuh. “Tak sehebat kedengarannya,” bantahnya sesantai mungkin. “Hyun-in sangat menyukai Dong-hae.” mengingat dia nekat mencium pria itu. “dan lebih dulu menyukainya. Sedangkan aku baru mulai menyukai Dong-hae. Perasaanku tidak sedalam itu—“

“Seo-min—“

“Aku tidak apa-apa. Beberapa hari lagi perasaanku padanya pasti sudah hilang,” katanya berlagak menggampangkan.

Sebelum ini Kang Ha-jong telah menyadari bahwa menjadi seorang ayah dari tiga orang putri merupakan tugas yang berat, tetapi situasi seperti ini lebih buruk dari yang terbayangkan olehnya sebelumnya. Bagaimana caranya ia dapat bersikap adil pada para putrinya? Mengapa mereka harus menyukai pria yang sama?

Kang Ha-jong menumpangkan tangannya di kedua bahu Seo-min. “Ayah tak tahu apakah benar mengatakan ini… mungkin bagimu pilihan ini tepat, tapi untuk menjaga satu hati tak tersakiti, kau telah menyakiti dua hati—hatimu sendiri dan hati Dong-hae. sejujurnya, walau kau mengalah, ayah tak yakin Dong-hae akan tertarik pada Hyun-in.”

“Sudah kubilang perasaanku pada Dong-hae belum sedalam itu,” protes Seo-min jengah. “Aku baik-baik saja.”

“Baiklah, aku percaya,” kata Kang Ha-jong dengan tersenyum tipis sambil menepuk-nepuk kepala putrinya itu. “Mungkin tidak terlihat seperti itu, tetapi ayah menyayangi kalian bertiga… aku tak ingin satupun dari kalian mengalami sakit hati,” ucapnya tulus sebelum beranjak pergi untuk melakukan rapat dengan keponakannya sang sutradara.

Seo-min pun merasakan ketulusan itu. hatinya terasa hangat, mengetahui kepedulian Ayahnya padanya. Sesuatu yang jarang diperlihatkan pria itu.

Setelah Kang Ha-jong tak terlihat lagi, Sung-min bergegas menghampiri Seo-min. emosinya tak dapat dibendung lagi.

“Kau memanfaatkanku!”

Seo-min tersentak kaget mendengar seruan tajam Sung-min. “Kau menguping—“ Seo-min melihat sekitar, dan bertatapan dengan kakaknya yang sedang bersandar di dinding mendengarkan perdebatan yang terjadi.

“Kau sengaja membuat Dong-hae berpikiran bahwa kita sedang menjalin hubungan! Kau memanfaatkanku demi menjauhkan Dong-hae!” serang Sung-min emosi. “Apa kau memang tak berhati? Bagaimana bisa kau memanfaatkanku dan membuat hubunganku dan Dong-hae berantakan seperti ini!?”

Rasa bersalah Seo-min semakin besar. “Tapi kau memang menciumku,” sergahnya.

Hea-in yang masih di sana mendengarkan perdebatan itu, terbelalak kaget. Seo-min dan Sung-min berciuman? Kapan? Di mana?

Sesaat Sung-min seolah kehabisan kata-kata. “Memang, itu kesalahan terbesarku, dan amat kusesali,” desisnya. “sialan!” makinya. “Ayo, kita jelaskan yang sebenarnya pada Dong-hae!” paksa Sung-min sambil menarik lengan Seo-min, namun gadis itu menolak dan melawan.

“Aku tidak bisa melakukannya,” kata Seo-min. “Maaf. aku tidak bermaksud menghancurkan hubungan kalian, tapi aku tidak bisa menjelaskan yang sebenarnya padanya.”

“Kau gila!?” seru Sung-min marah.

Tanpa bicara lagi, Seo-min meninggalkan pria itu menuju kamarnya di lantai dua. Cepat-cepat Hea-in mengikutinya.

“Aku tahu kau kasar, tapi aku baru tahu kau juga bodoh,” kata Hea-in begitu mereka tiba di dalam kamar.

Seo-min mendelik marah. “Apa maksudmu!?”

“Sikap sok pahlawanmu,” terang Hea-in. “Kau menyukai Dong-hae, tapi sok mengalah pada Hyun-in. kalian tak sedekat itu—“

“Lalu kenapa? Dia tetap adik kita.”

“Cinta dan perang tak mengenal saudara. Bila aku jadi dirimu, tak akan kusia-siakan kesempatan seperti itu—“

“Tapi aku bukan kau,” sela Seo-min tajam. “Aku bukan kakak yang sumber kebahagiaannya dari hasil merebut semua yang dimiliki dan disukai adiknya,” sindirnya.

Hea-in tak terpengaruh. Ia justru tersenyum sambil mengibaskan rambutnya. “Tapi ada bagusnya kau menolaknya. Kini kesempatanku mendapatkannya semakin besar…”

Serbuan kecemburuan melingkupi hati Seo-min. “Kau mengincar Dong-hae!?”

“Kenapa? Itu hak ku,” tantang Hea-in.

“Tapi Hyun-in—“

“Seperti katamu, kau bukan aku, dan aku bukan kau. Silakan saja kau mengalah, aku yang akan maju,” katanya percaya diri, lalu meninggalkan kamar sambil bernyanyi kecil.

Seo-min terduduk di kasur. Ia mengalah untuk Hyun-in. tapi bagaimana bila Hea-in yang justru mendapatkan Dong-hae? seandainya Hea-in memang tulus menyukai Dong-hae, masalahnya akan lain, tetapi… Seo-min tahu kakaknya itu melakukan semua ini hanya karena Dong-hae adalah pria yang disukai Hyun-in. Hea-in cantik dan memikat… mungkinkah Dong-hae akan tergoda? batinnya cemas.



Untuk kesekian kalinya Sung-min melirik Dong-hae yang tengah diberi make up untuk keperluan shooting. Begitu banyak yang ingin dikatakannya pada adiknya itu, tetapi mulutnya seolah terkunci karena melihat kemuraman di wajah Dong-hae.

“Dong-hae, tunggu,” tahan Sung-min sebelum mereka pergi keluar dari ruang rias. “Aku harus memberitahumu bahwa kau salah paham. Aku—“

“Tak perlu,” sela Dong-hae datar.

“Tapi ini penting, kau—“

“Sudahlah, aku tidak ingin marah padamu,” kata Dong-hae sebelum meninggalkan saudara-saudara Super Juniornya.

“Ada apa ini?” tanya Kyu-hyun dari kursi yang didudukinya. PSP di tangannya pun terabaikan karena terlalu heran melihat tingkah Dong-hae yang tak seperti biasanya.

Sung-min menghela napas. “Aku melakukan kesalahan,” ucapnya pelan.

“Kesalahan apa sehingga dia seperti itu?” tanya Kyu-hyun lagi, semakin penasaran.

Tanpa menjawab sung-min meninggalkan ruangan dengan murung. Kyu-hyun menoleh ke arah Ki-bum yang sejak tadi hanya duduk diam mengamati semuanya.

“Kau tahu sesuatu?” tanya Kyu-hyun, yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Ki-bum.



Tahu Dong-hae tak pulang semalaman dan pasti belum sarapan, setelah selesai berdandan—sembari menunggu waktu shooting—Hea-in sengaja menyiapkan makanan sederhana berupa roti panggang, telur mata sapi, dan sosis, juga tak ketinggalan susu kesukaan Dong-hae.

Ketika memasuki vila tempat shooting sambil membawa nampan makanan, mata Hea-in bergerak cepat mencari sosok Dong-hae, dan menemukan pria itu tengah duduk membaca naskah film-nya dengan wajah serius. Tersenyum puas, Hea-in melangkah untuk menghampiri pria tersebut, tetapi tiba-tiba dia berhenti.

Dong-hae tengah sedih dan patah hati… bila sekarang aku mendekatinya, dia akan merasa terganggu dan semakin ingin jauh-jauh dariku, pikir Hea-in.

“Nona Kang,” sapa Ki-bum dari belakang Hea-in.

Wanita itu segera berputar lalu tersenyum mempesona. “Kebetulan,” katanya senang, membuat Ki-bum mengangkat alis tanda tak mengerti. Masih dengan tersenyum, Hea-in memberikan nampan makanan yang dipegangnya pada pemuda itu. “Tolong berikan pada Dong-hae.”

“Eh?”

“Dia belum sarapan,” jelas Hea-in.

Ki-bum melirik Dong-hae sekilas sebelum kembali menatap Hea-in. “Kenapa tidak memberikannya sendiri?”

“Dia akan terganggu bila aku yang memberikannya,” kata Hea-in datar.

“Baiklah.”

“Ah, ya,” ucap Hea-in tiba-tiba, menghentikan langkah Ki-bum. “katakan juga padanya untuk jangan lupa meminum vitamin c, untuk menjaga daya tahan tubuhnya,” tambahnya sebelum pergi.

Ki-bum hanya tersenyum geli menanggapi kepedulian Hea-in pada Dong-hae, dan senyuman tersebut tak kunjung hilang walau kedatangannya disambut aura muram dari Dong-hae.

“Sarapan untukmu,” kata Ki-bum sambil menyerahkan nampan pada dong-hae.

“Hmm. Terima kasih,” gumam Dong-hae.

“Bukan padaku, tapi pada Nona Kang Hea-in,” kata Ki-bum.

Dong-hae mengangkat kepalanya untuk menatap Ki-bum. “Hea-in?”

Ki-bum mengangguk. “Dia yang memintaku menyerahkan ini padamu karena katanya kau belum sarapan,” ia berdeham sebentar sebelum melanjutkan. “Dia juga berpesan agar kau meminum vitamin c untuk menjaga daya tahan tubuhmu.”

Dong-hae menoleh ke kiri dan kanan. “Di mana dia?” tanyanya.

“Sudah pergi. Dia hanya memintaku mengantarkan ini lalu pergi,” jawab Ki-bum.

Dong-hae menunduk memandangi nampan makanan di pangukannya dan tersenyum kecil. Senyum pertamanya hari ini. “Kenapa dia tidak mengantarkannya sendiri?” tanyanya heran.

Ki-bum bersedekap sebelum menjawab. “Dengan aura gelap yang menyelubungimu saat ini, wajar bila orang-orang memilih untuk tidak dekat-dekat.”

Senyum Dong-hae menghilang perlahan. “Katakan saja bila kau butuh bantuanku,” tawar Ki-bum murah hati tanpa mendesak kakaknya itu untuk menceritakan masalahnya.

Dong-hae melirik Ki-bum sambil tersenyum tipis. “Terima kasih atas tawarannya,” sahutnya. Sayangnya masalah yang kuhadapi ini hanya bisa diselesaikan olehku sendiri, pikir Dong-hae.



Hyun-in menonton acting Dong-hae sambil tersenyum memuja. Hari ini ia muncul di lokasi shooting setelah berjuang menahan malu. Ia memutuskan untuk segera meminta maaf pada Dong-hae. mereka memang tinggal di vila yang sama, tapi selama beberapa hari ini Hyun-in dengan sengaja menghindari pria itu. bisa saja ia menunggu sampai Dong-hae pulang tetapi hatinya yang gelisah membuatnya ingin secepatnya bicara pada pria itu.

Ketika Kyu-hyun berakting, Hyun-in terkejut karena pemuda itu terlihat sangat serius dan menghayati peran dan setiap dialog yang diucapkannya. Entah kenapa.. Mungkin karena aktingnya… dia terlihat lebih tampan dari biasanya? pikir Hyun-in.

“Ah, selamat siang,” sapa Hyun-in sambil membungkukkan tubuh ketika Ki-bum dan asistennya melintas di hadapannya.

“Ah, selamat siang,” balas Ki-bum. “Menonton proses shooting?”

“Emm… sebenarnya tujuanku untuk bicara pada kak Dong-hae…”

Ki-bum mengangguk menanggapi. “Bagaimana Bum-bum dan Princess? Aku belum mengunjungi mereka pagi ini karena sibuk.”

Hyun-in tersenyum. “Aku sudah memberi mereka makan. Tenang saja, aku tak akan menelantarkan Bum-bum.”

“Bagus. Jaga baik-baik putraku,” canda Ki-bum.

Hyun-in tertawa. “Putramu? Lalu Princess putriku?” ia kembali tertawa, kali ini bersama Ki-bum.

“Jadi mereka putra putri kita?” goda Ki-bum.

“Putra-putri kalian?” tanya sebuah suara dengan kaget.

Hyun-in dan Ki-bum sama-sama menoleh. Mereka tidak menyadari ada yang mendekat. Kyu-hyun.

“Benar,” jawab Ki-bum irit.

“Peliharaan kami,” jelas Hyun-in tak ingin ada salah paham, membuat Ki-bum geli.

Tak tertarik dengan topic binatang, Kyu-hyun menatap Hyun-in. “Kau ingin menemui kak Dong-hae,” katanya. Pernyataan bukan pertanyaan. “Sudah tidak malu lagi?”

Wajah Hyun-in merona. “Kak Dong-hae di sana, bila kau memang mau menemuinya,” kata Kyu-hyun sambil menunjuk suatu tempat, saat tak ada sahutan dari gadis itu.

“Terima kasih,” gumam Hyun-in sebelum berjalan menghampiri pria pujaannya itu. namun suara langkah yang mengikuti di belakangnya membuat Hyun-in berhenti dan berputar. “Maaf, tolong jangan mengikutiku.”

Kyu-hyun menyunggingkan senyuman selicik iblis. “Maaf, tolong jangan besar kepala. Aku mau menemui sutradara,” balasnya mengejek sambil menunjuk Ahn Bong-soo.

Wajah Hyun-in semerah tomat. Tanpa berkata-kata lagi ia mempercepat langkahnya menghampiri Dong-hae.

“Eh? Hyun-in?” ucap Dong-hae terkejut.

“Emm… aku ingin bicara sebentar. Apa bisa?”

“Tentu saja,” sahut Dong-hae.

“Ah, aku pergi dulu,” kata artis wanita yang sebelumnya sedang bicara dengan Dong-hae.

“Ada apa?” tanya Dong-hae.

Hyun-in menunduk malu sambil meremas-remas tangannya. “Ini… mengenai malam itu…”

“Sudahlah, lupakan saja,” kata Dong-hae menenangkan. “Aku paham kau sedang mabuk dan tak sadar.”

“Eh… ya, terima kasih. Aku benar-benar minta maaf,” kata Hyun-in penuh sesal. “Memikirkan kau akan mengalami kesulitan dan digosipkan karena perbuatanku membuatku merasa sangat tak enak hati—“

Dong-hae menepuk-nepuk pundak Hyun-in bersahabat. “Tak usah kau pikirkan. Nyatanya tak terjadi, kan?”

Hyun-in tak bisa tidak ikut tersenyum melihat senyum manis Dong-hae. “Terima kasih.”

“Emm… yah…” gumam Dong-hae canggung.

“Ah, mengenai permintaanku waktu itu…” mulai Hyun-in. “Kau tak akan membatalkannya, kan? Menjadi model video klipku?”

“Tentu saja tidak!” bantah Dong-hae. “Bukankah aku sudah berjanji?”

Hyun-in mengangguk sambil tersenyum senang. “Terima kasih.”

“Ya… sama-sama…” Suasana kembali canggung.

“Ah, kalau begitu aku pergi dulu,” kata Hyun-in. “Permisi.”

“Ya…”

“Lihat itu, si tuan putri benar-benar mengejar Lee Dong-hae.”

“Apa dia tidak malu? Bahkan mencium pria itu di depan umum.”

Kuping Hyun-in panas saat mendengar bisik-bisik sekelompok kru wanita yang dilewatinya, dipercepatnya langkahnya, namun seseorang menangkap lengannya. Kyu-hyun.

“Jangan hanya berani bicara di belakang. Katakan secara langsung di depan si Tuan Putri,” tantang Kyu-hyun.

ketiga wanita yang menggosipkan Hyun-in itu memucat takut dan hanya menunduk. “Kenapa diam? Katakan saja betapa memalukan tingkahnya,” tantang Kyu-hyun lagi.

“Apa yang kau lakukan?” desis Hyun-in marah sambil berusaha melepaskan diri. Ia semakin malu saat orang-orang memperhatikan mereka, terutama Dong-hae.

“Maaf, kami—“

“Setidaknya dia melakukannya tanpa sadar karena mabuk,” sela Kyu-hyun cuek. “tapi kau terus merayu dan menyodorkan dirimu padaku secara sadar, kan? Siapa yang lebih memalukan?” hinanya.

Wanita yang di tengah, asisten juru rias, benar-benar malu dan terlihat akan menangis dipermalukan seperti itu oleh Kyu-hyun. Semenjak datang ke vila ini dia memang telah berkali-kali menawarkan diri pada pemuda itu secara diam-diam. dan melihat kediaman Kyu-hyun selama ini atas perbuatannya, tak disangkanya pemuda itu akan membongkar rahasianya sekarang.

“Bercerminlah sebelum menjelekkan orang lain,” saran Kyu-hyun santai sambil membawa Hyun-in pergi menjauh.

Sesampainya di dekat pintu keluar, Hyun-in melepaskan diri dari Kyu-hyun dan menatap tajam pemuda itu.”Kau keterlaluan,” katanya.

Kyu-hyun menatap gadis itu tak mengerti. “Aku!? Mereka yang—“

“tapi kau tak perlu mempermalukannya seperti itu di hadapan semua orang,” sela Hyun-in.

Kyu-hyun mendengus. “Kau sedang berlagak baik? Mereka menghinamu—“

“Aku memang marah, tapi setidaknya mereka tidak berbicara kencang-kencang sepertimu—“

“Bukannya mereka tak mau, tapi tak bisa karena takut dipecat ayahmu,” sela Kyu-hyun gemas. “Sebenarnya kau ini naïf atau bodoh!?”

Hyun-in mengatupkan bibir rapat-rapat karena geram, tetapi memutuskan untuk pergi meninggalkan pemuda itu dibanding harus berteriak marah dan menguras energi untuk hal yang dianggapnya sia-sia.

“Dasar aneh,” gerutu Kyu-hyun sambil memandangi punggung Hyun-in yang semakin menjauh.

“Bukankah sifatnya itu justru membuatnya terlihat semakin manis?” komentar Ki-bum yang tiba-tiba telah berada di sebelah Kyu-hyun.

Kyu-hyun melirik Ki-bum. “Terarik padanya?” tanyanya blak-blakan.

Ki-bum tersenyum geli dan menjauh tanpa berkomentar apa-apa, membuat Kyu-hyun sedikit penasaran.



Keesokan harinya, Seo-min memutuskan lebih baik ia pulang. Ayahnya memang menahannya, tetapi ia berkeras dengan alasan ingin melanjutkan pekerjaannya membuat naskah drama.

Saat Seo-min sedang mempersiapkan motornya, Sung-min datang menghampiri. “Kau mau pergi? Begitu saja setelah menyebabkan kekacauan?” tanya pria itu tajam. “Kau harus menjelaskan yang sebenarnya pada Dong-hae! dia tak mau mendengarkan aku!”

Seo-min memakai helm-nya sambil melirik Sung-min. “Aku tidak bisa.”

“Kang Seo-min!”

“Lee Sung-min!” balas Seo-min. “Maaf, tapi aku tidak bisa.”

Sung-min mendengus. “Egois sekali kau— hei! Dengarkan aku! Kau tak boleh pergi begitu saja!“ tahannya, menarik tangan Seo-min yang hendak menaiki motornya. Karena terlalu kuat mengeluarkan tenaganya, tarikan Sung-min membuat tubuh Seo-min membentur tubuhnya. Dan sialnya, dengan pemilihan waktu yang buruk Dong-hae keluar dari vila dan melihat kejadian itu.

Dong-hae membuang muka melihat apa yang dipikirnya sebagai kemesraan tersebut. Sung-min langsung melepas Seo-min dan mengejar Dong-hae. “Dong-hae!” serunya.

Seo-min menatap punggung Dong-hae selama beberapa detik sebelum menaiki motornya. Gadis itu menghela napas. Ini keputusannya. Tak ada yang perlu disesali. Seperti yang dikatakannya pada ayahnya, ia baru mulai menyukai Lee Dong-hae, apa yang dirasakannya belum terlalu dalam hingga tak dapat dihapuskan. Bukan begitu? Ya, pasti begitu, pikirnya meyakinkan diri.

Kembali ke Seoul. Kembali ke rutinitas sehari-hari. Kembali ke saat tak ada ketertarikan pada Lee Dong-hae, putus Seo-min tegas pada diri sendiri sesaat sebelum melajukan motornya.



To Be Continued...


By Destira ~Admin Park~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar