Senin, 17 Januari 2011

THE REINCARNATION - Chap 20 - Fanfiction BIDEOK / NAMWON -

CHAPTER 20



Cast :

Bi Dam : Kim Nam Gil                             
Deokman : Lee Yo Won

Moon No : Jung Ho Bin                              
Chil Sook : Park Kil Kang                            
Sohwa : Park Young Hee

Yoo Shin : Tae Wong
Yeom Jong : TETAP
San Tak : TETAP


-----------------------------------------------


- Lee Yo Won - 7 April 2011 -  

“Oh, kau sudah datang? Baik, aku akan segera ke kelas sekarang,” kataku pada Nam Gil lewat ponsel.       

“Aku melihat tasmu, di mana kau sekarang?” tanya Nam Gil.

“Aku di atap,” jawabku.

“Sedang apa kau di sana? Kalau begitu aku akan menyusulmu.”

“Eh, tidak usah. Aku sudah mau turun.”

“Baiklah, aku ingin cepat memperlihatkan hasil foto kita. Aku mengambilnya sebelum berangkat ke sekolah,” katanya dengan girang.

“Sepagi ini? Apa studio fotonya sudah buka?” tanyaku sambil melangkah menuruni anak tangga.

Nam Gil tertawa puas. “Aku terus meggedor pintunya hingga pemilik studio itu bangun dan membukakannya untukku. Kau harus melihat foto-foto ini. hasilnya bagus sekali!” katanya.

Aku ikut tertawa. “Kau ini tidak sabaran. Baiklah, tunggu saja, sebentar lagi aku datang.”

“Aku akan menjemputmu di bawah tangga,” sahut Nam Gil, lalu memutus sambungan telepon.

Pagi ini aku berangkat lebih pagi dari biasanya, dan begitu sampai aku langsung pergi ke atap untuk menyendiri. Hatiku masih tidak tenang mengingat sabtu lalu, ketika aku menceritakan masalah antara keluargaku dan ibunya pada Nam Gil. karena semenjak itu aku terus teringat pada niat burukku dulu untuk memanfaatkannya demi mencari kelemahan ibunya. Rasa bersalah itu masih bersarang dalam hatiku. Dan rasa sesal itu semakin besar setelah aku berhasil mengingat kehidupan pertamaku sebagai Deokman. Dulu pun aku memanfaatkannya. Kenapa aku terus saja menyakitinya?


Aku tidak berani mengatakannya pada Nam Gil karena tidak ingin lebih menyakitinya. Juga karena keegoisanku yang tidak ingin hubungan kami hancur bila Nam Gil memutuskan tidak mau memaafkanku. Lagi pula, bukankah aku tidak jadi melakukannya? Aku menyesalinya. Jadi sebaiknya hal itu dilupakan saja. yang terpenting sekarang adalah hubunganku dan Nam Gil.

Karena melamun, aku tidak memperhatikan langkahku, dan terpeleset. Aku menjerit kecil sambil berusaha memegang susuran tangga, tapi tidak berhasil meraihnya.

“Awas!” kak Tae Wong dengan sigap menangkapku.

Sebuah kilasan langsung berputar di benakku. Saat kak Tae Wong sebagai Hwarang Yoo Shin memelukku. Memeluk Deokman. Aku mengingatnya. Itu merupakan pelukan terakhir kami. Malam saat dia merelakan semua yang dimilikinya pada suku Gaya agar mereka memberi dukungan padanya, demi membantuku menaiki tahta. Hari ketika dia memutuskan untuk memberikan cintanya untukku dengan cara mengabdi padaku. Aku juga masih mengingat jelas rasa haru dan sedihku saat itu. ketika aku harus mulai membiasakan diri untuk tidak lagi bergantung pada siapapun dalam hidupku sebagai penguasa.

Sepertinya kak Tae Wong pun melihat kilasan yang sama dengan yang kulihat, karena ketika aku tersadar dalam pelukannya, sepasang mata kak Tae Wong terlihat menerawang jauh. Aku yakin kak Tae Wong tak mengingat sama sekali mengenai kehidupan pertama kami, karena dia dan kak Seung Hyo tak ikut dalam tur ke Gyeongju waktu itu. sedangkan empat itu lah justru yang membangkitkan seluruh kenangan lama. Tapi mungkin itu lebih baik. mengingat kak Tae Wong yang sekarang juga menyukaiku seperti saat dia menjadi Yoo Shin dulu, kurasa lebih baik dia tidak mengingat kehidupan pertamanya. Karena aku bukan untuknya, dan dia bukan untukku.

“Yo Won!” seru Nam Gil setengah membentak.

Seketika itu juga kak Tae Wong tersadar, dan kami saling menjauhkan diri. “Terima kasih,” gumamku pada kak Tae Wong.

“Ah, ya, tidak apa-apa,” sahutnya. “Lain kali lebih hati-hati,” nasehatnya sebelum pergi.

“Ada apa?” tanya Nam Gil dengan nada tidak senang.

“Aku terpeleset dan kak Tae Wong menolongku,” jawabku. “Mana fotonya?” tanyaku, sengaja ingin mengalihkan perhatian Nam Gil.

“Ini,” katanya datar sambil menyerahkan foto-foto kami dalam balutan pakaian tradisional yang waktu itu dibuat.

“Kau marah?”

“Tidak.”

“Kau marah.”

“Tidak.”

“Iya,” kataku geli. “Jangan salah paham dengan apa yang kau lihat tadi. Apa kau lebih suka melihatku terluka karena jatuh dari tangga?” godaku.

Nam Gil berdecak kesal. “Tentu saja tidak!” protesnya.

“Karena itu, jangan marah lagi,” bujukku sambil bergelayut di lengannya. “Lebih baik kita lihat foto-foto ini. wah, coba lihat, kau tampan sekali di foto yang ini,” pujiku.

Nam Gil mendengus. “Yang benar saja.”

“Aku serius,” kataku meyakinkan. “aku sangat menyukai foto-foto ini. apa kau tidak menyukainya?”

Akhirnya Nam Gil tersenyum kecil. “Ya, aku suka.”

Tanpa bisa ditahan, aku tertawa melihat ekspresi lucunya saat ini. tidak berubah. Di kehidupan dulu maupun sekarang, terkadang dia tetap menunjukkan sifat kekanakannya itu. Aku menyukainya.

Di foto-foto itu kami benar-benar terlihat seperti pasangan yang bahagia. Rasa sayang dan cinta di antara kami nampak jelas tergambar. Aku tersenyum senang melihat foto-foto itu. kuharap bahagia ini tidak hanya sementara.

“Lima foto untukmu, dan lima lagi untukku,” kata Nam Gil ceria ketika membagi rata kesepuluh foto kami. “Aku menyukai semuanya. Ini akan jadi kenang-kenangan indah untuk dilihat anak cucu kita nanti,” lanjutnya serius.

Seketika aku tertawa. “Kau sudah berpikir sejauh itu?” tanyaku di sela-sela tawaku.

“Apa kau tidak bermaksud untuk terus bersamaku hingga tua?” gerutunya langsung.

Aku memukul pundaknya pelan. “Tentu saja aku juga ingin begitu,” protesku. “Hanya saja, aku tidak pernah terpikir untuk membuat kenang-kenangan bagi anak cucu yang belum ada.”

Nam Gil menyeringai. “Yah, tentu saja kita harus memikirkannya juga,” katanya pasti. “Karena kita akan hidup bersama hingga tua. Hingga ajal menjemput kita menuju kehidupan selanjutnya.”

Aku tersenyum memandangi wajahnya yang bersinar cerah menatap foto-foto kami. Ya, aku pun berharap begitu. Kali ini bersama. Kali ini tak terpisahkan.



Nam Gil dan aku sedang makan siang bersama ketika Yeom Jong dan beberapa anggota gengnya memasuki kafetaria. Mereka terlihat… babak belur. Sepertinya pertarungan mereka dengan geng SMU Sang tidak berjalan lancar.

Nam Gil tersedak geli. “Payah,” gumamnya sebelum kembali melanjutkan makan.

“Aku senang kau terlibat perkelahian itu,” kataku jujur. “Kurasa aku tidak akan tahan melihatmu babak belur seperti mereka.”

“Aku tidak lemah, kau tidak usah khawatir,” katanya sambil tersenyum menenangkan. “SMU Sang bahkan bukan apa-apa selama ini. bisa-bisanya SMU Chongjan kalah oleh mereka? Menggelikan.”

“Kau tidak mau membantunya karena benar tidak ingin terlibat masalah dengan orang yang tidak mengganggumu, atau karena kau dendam pada Yeom Jong? Karena apa yang telah dilakukannya di kehidupan yang lalu?” tanyaku penasaran.

Nam Gil melirikku. “Keduanya,” jawabnya singkat.

Melihat keberadaan Nam Gil, Yeom Jong segera menghampiri meja kami. Pancaran matanya saat menatap Nam Gil terlihat penuh permusuhan.

“Mulai detik ini, hubungan pertemanan apapun yang pernah kita miliki telah berakhir,” geram Yeom Jong sebagai kalimat pembuka. “Sekarang SMU Chongjan dibawah kekuasaan SMU Sang. Dan itu karena kau. Aku tak akan memaafkanmu.”

Nam Gil terlihat acuh tak acuh dan terus saja melanjutkan makannya. “Terserah kau kalau mau berpikir begitu,” gumamnya sambil mengunyah.

Yeom Jong semakin emosi. “Aku dan Pamanku akan membuat perhitungan denganmu!”

Dengan gerakan cepat Nam Gil menancapkan garpunya di celah antara jari telunjuk dan jari tengah Yeom Jong, yang diletakan pemuda itu di atas meja kami. Dengan seringai bengis terukir di wajahnya, Nam Gil mendongak untuk menatap tajam Yeom Jong.

“Jangan coba-coba mengancamku,” desis Nam Gil memperingatkan.

Wajah Yeom Jong semakin berkerut-kerut jelek. “Kita lihat saja nanti,” ejeknya. “Pamanku sangat marah padamu, dan kini dia tak lagi menjadi bawahan Do Yi Sung, jadi tak ada lagi halangan untuk ‘menyentuhmu’.”

Seringai Nam Gil berubah semakin kejam. “Coba saja. Aku bukan bayi yang berlindung di balik jubah Tuan Do.”

Yeom Jong tertawa kecut. “Sombong. Kau sombong sekali,” hinanya. “Aku tak sabar ingin melihat hari di mana seluruh keangkuhanmu runtuh.”

Nam Gil menelengkan kepala sambil tersenyum sinis. “Hal itu baru akan terjadi di hari malaikat maut menjemputmu,” katanya santai.

Tawa Yeom Jong semakin keras. “Yah, ya, dan aku akan bangkit dari kuburku untuk menertawakanmu.”



- Kim Nam Gil - 8 April 2011 -           

Besok adalah hari ulang tahun Yo Won, tapi aku belum mendapat ide untuk memberi kado apa untuknya. Bila aku memberi kalung atau cincin… sepertinya sudah biasa. Apa yang bagus untuk Yo Won? Dia menyukai bintang. Bintang… bintang… ah! Benar, teleskop! Yo Won pasti akan menyukainya. Tak masalah harus menguras tabunganku, asalkan aku bisa memberikan sesuatu yang spesial untuk menyenangkan hatinya.

“Aku tidak latihan hari ini,” kataku pada Yo Won pada jam pulang sekolah.

“Kenapa?” tanyanya heran.

“Emm, aku ada urusan penting yang tidak bisa ditunda-tunda lagi,” jawabku. “Tapi aku akan menjemputmu sepulang latihan,” janjiku.

“Kalau begitu penting, sebaiknya tidak usah—“

“Saat itu pasti urusanku sudah selesai,” potongku. “Sampai jumpa nanti,” kataku, lalu buru-buru pergi.

Setelah membeli teleskop dan meminta agar barang tersebut besok sore diantarkan ke alamat rumah ayah Yo Won—karena besok Yo Won berkata akan menginap di sana—aku segera kembali ke sekolah. Ternyata tidak selama yang kuduga. Bahkan mungkin aku masih sempat mengikuti setengah waktu latihan yang tersisa.

Saat dalam perjalanan, sekilas aku seperti melihat pasangan yang mirip Yo Won dan Tae Wong sedang berjalan sambil berangkulan. Tapi karena laju motorku, aku hanya melihat mereka sekilas dan tak terlalu jelas. Rasanya tidak mungkin. Tak mungkin Yo Won.

Sesampainya di sekolah aku langsung berlari menuju ruang klub taekwondo, tapi tak terlihat tanda-tanda keberadaan Yo Won. hatiku mulai gelisah.

“Nam Gil, bukannya kau bilang tidak akan latihan hari ini?” tanya San Tak sambil menghampiriku.

“Urusanku selesai lebih cepat dari perkiraanku,” jawabku. “Apa kau melihat Yo Won?”

“Ya, tadi dia memang ada, tapi kemudian pulang cepat bersama kak Tae Wong—“

“Tae Wong!” seruku. Jadi… pasangan yang kulihat tadi…

“Ya, mereka—“

Suara tawa sinis memotong perkataan San Tak. Yeom Jong bersandar di pintu sambil menyeringai ke arahku. “Kau yakin gadis itu kekasihmu?” sindirnya. “Kalau iya, kenapa dia mesra sekali dengan pemuda lain?”

“Hei, kenapa kau—“

“Biarkan dia San Tak,” potongku. “Dipikirnya bisa memanas-manasiku, tapi tak akan berhasil. Aku sangat mengenal Yo Won, dan tahu pasti perasaannya padaku. Dia tak mungkin berselingkuh dengan siapapun,” kataku tegas. Entah kenapa aku merasa harus meyakinkan diri sendiri dengan perkataanku barusan.

Yeom Jong tersenyum mengejek. “Benarkah? Kau tahu pasti perasaanya padamu? Jadi kau tahu kalau dia memanfaatkanmu?”

“Omong kosong!” bentakku.

“Aku kasihan padamu,” ejeknya. “Jatuh cinta pada gadis yang hanya ingin memanfaatkanmu.”

Aku mendorong Yeom Jong keras hingga dia terjatuh ke lantai dan meninjunya. “Aku tidak dimanfaatkan siapa-siapa,” desisku. “Hentikan segala fitnah busukmu!” aku tak akan tertipu olehnya lagi!

Seringai di wajah Yeom Jong tak juga menghilang. “Tapi aku berani bersumpah atas nama almarhum orangtuaku, dan segala yang suci… aku mendengar sendiri ketika dia berkata pada temannya bahwa dia memanfaatkanmu, entah untuk apa. Sayangnya waktu itu aku tidak mendengar keseluruhannya karena mereka keburu menyadari keberadaanku.”

Sumpahnya menyulut api kemarahanku. Kalap, aku terus memukulinya tanpa memperdulikan orang-orang yang berusaha melerai kami. “Kau bohong! Bohong! Bohong!” teriakku sambil terus melayangkan tinjuku padanya.

“Nam Gil! Nam Gil! Kim Nam Gil!” guru Jung akhirnya berhasil menyentakku menjauh dari Yeom Jong yang terluka. “Hentikan! Ada apa denganmu!?” bentaknya.

Dengan napas terengah-engah aku memelototi Yeom Jong. “Jangan pernah berani membohongiku. Tidak lagi!” geramku.

Yeom Jong meringis sakit tapi di saat bersamaan tetap berusaha tertawa. “Bukan aku yang membohongimu, melainkan gadis yang kau gilai.”

Dengan marah, aku berbalik pergi meninggalkan tempat itu. tidak. Aku tidak boleh terpengaruh olehnya lagi. Tidak akan. Sudah cukup sekali aku diperdaya olehnya.

“Nam Gil!” panggil San Tak mengejarku. “Ponselmu terjatuh,” katanya, menyerahkan ponselku.

Aku segera meraih dan mengantonginya, lalu naik ke motorku tanpa mengucapkan sepatah katapun pada San Tak. saat ini aku tidak yakin bisa bicara tanpa disertai amarah. Dan San Tak tak pantas menerima amukanku. Bukan salahnya. Ini salah Yeom Jong. Salah Tae Wong! Beraninya dia mencoba merebut Yo Won dariku! Deokman milikku. Yo Won milikku!



- Lee Yo Won - 8 April 2011 -        

Baru setengah jam berlatih, Bibi Young Hee menelepon dan memintaku cepat pulang karena Paman Kil Kang ingin mengajak kami semua makan malam untuk merayakan ulang tahunku. Sebenarnya ulang tahunku besok, tapi besok Paman akan dinas ke luar kota, jadi dia ingin merayakannya malam ini.

Ketika meminta ijin pada guru Jung, tanpa diduga ternyata kak Tae Wong juga meminta ijin untuk pulang lebih cepat karena demam. Dia memang terlihat tidak sehat dan lemas, tidak seperti biasanya.

“Berpeganganlah padaku,” kataku ketika dalam perjalanan pulang tubuhnya terlihat oleng.

“Tidak perlu. Aku masih kuat. Entah kenapa aku tiba-tiba sakit, padahal biasanya aku selalu bugar.”

Aku tertawa. “Pria selalu tidak mau mengakui kelemahannya,” ejekku. “Ayo, berpegangan padaku,” paksaku hingga dia mau.

Lama kami berjalan dalam diam, hingga dia bertanya. “Kau dan Nam Gil serius?”

“Ya,” jawabku sambil meliriknya.

Hening selama beberapa saat, lalu, “Maaf kalau kau menganggapku lancang, tapi, apa yang membuatmu menyukainya?” tanyanya lagi.

Kali ini aku tersenyum saat menjawabnya. “Semuanya. Dia kuat, tegar, memiliki tekad yang kuat, menyenangkan, dan… entahlah, sulit menyebut satu persatu, karena aku menyukai semua yang ada pada dirinya. Mungkin dia memang tidak sempurna, tapi dia sempurna untukku.”

Lagi-lagi terjadi keheningan setelah jawabanku. “Nam Gil beruntung,” gumamnya kemudian. “Tidak semua orang mendapat cinta setulus itu.”

Aku menatapnya. kenangan mengenai perasaan yang sempat bersemayam di hatiku untuknya terlintas di benakku. “Suatu hari nanti kakak juga akan menemukan orang yang mencintaimu seperti cintaku pada Nam Gil,” kataku sambil tersenyum.

Kak Tae Wong membalas senyumku. “Kuharap juga begitu,” sahutnya.

“Baiklah, terima kasih sudah membiarkanku bersandar padamu sepanjang jalan pulang,” kata kak Tae Wong ketika kami tiba di depan rumahnya.

“Tidak masalah. Sampai jumpa besok. Semoga kau cepat sembuh,” kataku, lalu melanjutkan langkahku menuju rumah.

Baru saja membuka pintu gerbang, sebuah mobil van berwarna kuning dengan lambang stasiun TV swasta terkenal berhenti di depan rumah. Seorang wanita cantik dengan gaya yang modis keluar dari sana dengan membawa microphone, dan seorang cameramen mengikuti di belakangnya.

“Permisi. Selamat sore, kami dari TV G. Apa benar di sini tempat tinggal Nona Lee Yo Won?” tanya wanita itu.

Aku mengangguk dengan heran. “Ya, saya sendiri. Ada apa?”



To Be Continued...

by Destira ~ Admin Park ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar