Kamis, 13 Januari 2011

THE REINCARNATION - Chap 8 - Fanfiction BIDEOK / NAMWON -

CHAPTER 8



Cast :

Bi Dam : Kim Nam Gil                             
Deokman : Lee Yo Won

Mi Shil : Go Hyun Jung                           
King Jin Ji : Kim Im Ho
Kin Jin Pyeong : Lee Min Ki
Se Jong : Go Young Jae                            

Yong Soo : Kim Jung Chul
San Tak : TETAP       


---------------------------------------------------


- Kim Nam Gil - 25 Desember 2010 -               

Aku tidak suka pesta yang diadakan Ibu di hari natal ini, tapi aku lebih tidak suka lagi membayangkan akan bertemu Ayah siang ini. Aku berusaha menolaknya, tapi semalam kak Jung Chul terus memaksaku. Dan karena aku berhutang budi padanya, aku terpaksa setuju. Bagaimana pun juga dia telah membantuku agar tak ditahan polisi waktu itu.

“Kau akan menemui Ayahmu?” tanya Ibu dari ambang pintu kamarku.

“Ya,” jawabku singkat sambil mengelap dadaku dengan handuk.

Ibu tersenyum dingin. “Sampaikan salamku padanya,” katanya.

Aku mengangguk acuh tak acuh sambil mengobrak-abrik lemari dan menarik sebuah kaus hitam untuk kukenakan . “Oh, tentu. Dengan cinta,” sahutku tak kalah sinis.

“Manis sekali, Nam Gil,” kata Ibu untuk terakhir kalinya sebelum berbalik pergi.

“Ah, tunggu,” tahanku. “Sejak semalam aku ingin bertanya tapi tidak sempat. Mengenai Yo Won,” lanjutku.

Ibu menyunggingkan senyum misterius. “Ah, dia. Kenapa? kau tertarik padanya?”

Bagaimana Ibu bisa menebaknya? “Bukan itu. ini mengenai pembicaraan kalian semalam. Apakah Yo Won tidak tinggal bersama ayahnya? Benarkah ayah Yo Won adalah saudara tiri Ibu itu?” tanyaku.

“Benar. Ayahnya adalah kakak tiriku,” jawab Ibu. “Yo Won dan ibunya pergi meninggalkan ayahnya bertahun-tahun lalu.”

“Kenapa?”


Senyum misterius itu kembali tersungging di bibirnya. “Siapa yang tahu?” sahutnya. Entah kenapa kurasa sebenarnya Ibu mengetahui sesuatu.



Kak Jung Chul berusaha mencairkan suasana, tetapi tidak berhasil. Aku dan Ayah tak mau saling menatap ataupun bicara. Aku semakin tidak yakin dengan perkataan kakak semalam bahwa pertemuan ini idenya datang dari Ayah.

“Nam Gil, Ayah bertanya padamu,” kata kak Jung Chul sambil menepuk pundakku.

“Apa?” tanyaku kaget.

“Aku bertanya, bagaimana sekolahmu,” tanya Ayah kaku.

“Baik,” jawabku.

“Kudengar kau sering mengikuti kejuaraan taekwondo. Benarkah?” tanyanya lagi.

“Ya,” jawabku.

“Kudengar selama beberapa tahun ini kau selalu memenangkan kejuaraan taekwondo tingkat SMU. Benarkah?”

“Hmm,” aku bergumam mengiyakan pertanyaannya.

Dengan emosi pria tua itu membanting pisau dan garpunya ke meja. “Berhentilah bersikap kekanakan!” bentaknya. “Kalau kau memang tidak ingin bertemu dan bicara denganku, sebaiknya tidak usah datang kemari!”

Aku menyuap steakku dengan santai. “Aku setuju,” sahutku dengan mulut pernuh makanan. “Tapi kakak memaksaku.”

“Nam Gil,” desah kak Jung Chul frustasi.

“Lagi pula,” lanjutku setelah menelan habis makananku. “Apa yang kau harap akan kulakukan saat bertemu denganmu? Sangat gembira dan menunjukkan rasa rinduku? Padamu? Ayah yang membuangku dan tak mengacuhkanku selama bertahun-tahun? Yang benar saja,” sindirku.

Wajah Ayah terlihat memerah menahan amarahnya. “Beginikah ajaran ibumu dalam memperlakukan orangtua!?” geramnya.

Aku mendengus keras. “Sejak kapan orangtuaku perduli untuk mengajarkan tata karma dan sopan santun?” balasku. “setahuku sejak masih kecil orangtuaku sangat sibuk bila berurusan dengan anak mereka, dan hanya memiliki waktu untuk menyeleweng dari pasangan masing-masing.”

“Kau!” bentak Ayah. Tiba-tiba pria tua itu meringis kesakitan sambil memegangi dadanya.

“Ayah? Kau tidak apa-apa?” tanya kak Jung Chul khawatir.

Aku tidak menyukai Ayah, karena itu aku terkejut saat merasakan desakan kekhawatiran yang tiba-tiba muncul dalam diriku begitu melihat kondisinya sekarang.

“Ada apa denganya?” tanyaku panik.

“Ayah memiliki penyakit jantung,” jawab kakak dengan nada muram.

“Sudah… aku sudah tidak apa-apa,” kata Ayah beberapa saat kemudian. “Jangan menarik perhatian pengunjung yang lain,” omelnya.

Restoran ini memang sangat ramai, tapi masing-masing sibuk dengan obrolan mereka sendiri dan tak ada yang memperhatikan perdebatan kami.

“Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk bicara—“ kakak memulai.

“Tidak,” potong Ayah. “Justru sudah terlambat. Jung Chul, bisakah kau meninggalkanku dan Nam Gil bicara berdua saja?”

Kakak melayangkan tatapan cemas ke arahku, tapi kemudian menuruti permintaan Ayah.

“Kuakui aku bersalah karena tiba-tiba menyerahkanmu pada keluarga yang tak kau kenal di usiamu yang semuda itu,” mulai Ayah dengan muram. “Tapi kau harus mengerti, itu yang terbaik bagimu. Sekejam-kejamnya Hyun Jung, dia tak akan mungkin menyakitimu.”

“Benar,” komentarku ketus. “Dia jauh lebih baik dari istrimu. Tapi itu tidak menjelaskan kenapa kau tidak mau menemuiku setelahnya. Selama beberapa tahun pertama di rumah itu aku terus berusaha menghubungimu dan bahkan nekat mendatangi perusahaanmu seorang diri sepulangnya aku dari sekolah. Tapi aku selalu mendengar sekretarismu berkata kau tidak ada di tempat.”

Ayah menghela napas. “Kau benar. Itu tidak termaafkan,” akunya. “Aku hanya bisa berkata... saat itu kupikir itu adalah tindakan yang paling tepat untuk dilakukan.”

“Tepat?” sinisku.

Ayah mengangguk. “Kau sudah aman bersama ibumu dan ayah tirimu. Go Young Jae bukan orang yang kejam. Walaupun dia mungkin tidak menyukaimu, dia terlalu mencintai ibumu untuk bersikap jahat padamu. Ku pikir kau sudah berada di keluarga yang lebih baik dari yang sebelumnya,” katanya sedih. “Sedangkan istriku, semenjak pemukulan terakhir yang dilakkukannya padamu, dia menjadi stres. Aku tahu sebelumnya dia juga sering memukulmu bila aku tidak ada—para pelayan mengadukannya—tetapi malam itu yang terparah—“

“Aku tidak ingin membahas kejadian itu,” sergahku marah.

Mata Ayah memancarkan kesedihan. “Maafkan aku. dan bila kau bisa… maafkan dia. Istriku sangat menyesali perbuatannya padamu. Dia sangat terpukul dan kecewa pada dirinya sendiri. Dia bahkan sempat mencoba bunuh diri. Karena itulah aku ingin membuatnya kembali tenang. Aku sudah banyak berbuat salah padanya. Aku ingin menyenangkan hatinya. Satu-satunya cara yang terpikir olehku saat itu adalah membuat keluarga kami bahagia seperti sebelumnya. Sebelum aku tergoda oleh pesona ibumu.”

“Karena itu kau tak sudi menemuiku,” lanjutku pahit. “Karena kau ingin menganggapku tak ada. Aku hanya kesalahan dan harus disingkirkan agar keluarga kecilmu kembali bahagia. Aku mengerti.”

“Aku tahu perbuatanku sangat salah,” aku Ayah. “Karena itu aku ingin memperbaikinya sekarang, di saat segalanya belum terlambat.”

Selera makanku benar-benar hilang. Aku bersandar dikursiku dan membalas tatapan tajam Ayah. Bisakah aku memaafkannya? Bisakah kami mencoba memulai dari awal lagi?

Aku teringat jawabanku pada Yo Won hari itu. bahwa aku mungkin akan bermurah hati memaafkan musuhku. Tapi bisakah aku melakukannya sekarang? Pada Ayah?



- 26 Desember 2010 -                               

Bosan dan banyak pikiran membuatku memutuskan untuk keluar rumah. Hari ini cuaca sudah lebih cerah dibanding kemarin. Sejak pagi tadi hujan salju sudah berhenti, tapi udara masih terbilang sangat dingin. karenanya aku tetap memakai mantel tebalku.

Aku memarkir motorku di pinggir jalan, lalu berjalan memasuki area taman kota. Duduk di salah satu kursi taman, aku menonton keluarga-keluarga yang terlihat bersenang-senang di sekelilingku tanpa memperdulikan hembusan angin musim dingin. Mereka terlihat bahagia sekali. Hah…

Bila aku dan Ayah memulai semua dari awal lagi… bisakah kami bahagia? Bisakah aku mencobanya? Argh! Memikirkan hal itu membuatku sakit kepala saja!

Sekarang, apa yang akan kulakukan? Sepanjang hari duduk sendiri di sini seperti orang bodoh? Menyedihkan… ah, San Tak. Benar juga, kenapa tidak terpikir olehku sejak tadi? Aku mengeluarkan ponselku dan langsung menghubunginya.

Dengan tidak sabar aku mendengar nada tunggu. Kenapa anak itu tidak segera menjawab teleponku? Apa karena hari minggu, lantas dia belum bangun hingga sekarang? Ini kan sudah jam 12 siang. Tibat-tiba aku teringat pada Yo Won dan telepon misteriusnya. Katanya dia akan bertemu pria hari ini. Siapa pria itu? Temannya? Keluarganya? Atau malah pacarnya? Argh! Kenapa juga aku mengurusi hal itu!?

“Ermhhh…” terdengar erangan San Tak sebagai sahutannya. “Siapa ini…? Menggangu tidur orang saja!” gerutunya.

Benar dugaanku. “Cepat berpakaian. Temani aku karaoke,” perintahku langsung.

“Hei! Dasar gila,” bentaknya. “Siapa kau berani-berani menyuruhku—“ tiba-tiba San Tak terdiam, lalu berdeham. “Emm… ini… maaf, Nam Gil, aku tidak melihat… aku tidak—“

“Sudahlah, tidak usah banyak bicara,” potongku. “Cepat—“ Hei, bukankah gadis bermantel oranye itu… astaga, benar. Itu Yo Won!

“Ya, baik,” kata San Tak buru-buru. “Aku akan secepatnya bersiap. Di mana aku harus menemuimu?”

“Tidak jadi,” kataku girang. “kembali tidur saja kau,” perintahku, lalu memutus sambungan telepon. Segera saja aku bangkit dan mengejar gadis itu. ternyata dia menuju halte bus. Apa dia baru akan pergi ke kencannya itu? Atau sudah pulang? Tapi tidak mungkin berkencan sesingkat ini.

“Yo Won,” sapaku.

Gadis itu mengangkat kepalanya, dan dari matanya yang terlihat membesar, jelas dia sangat kaget dan tak menduga akan bertemu denganku. “Nam Gil?”

“Menunggu bus?” tanyaku. dia mengangguk. “Kau mau pergi ke mana? Kencanmu dengan pria itu?”

“Kencan?” tanyanya tak mengerti. “Oh, itu. sebenarnya bukan kencan. Aku… pergi menemui Ayahku.”

Ah, ayah yang ditinggalkannya bersama ibunya. Entah kenapa aku merasa lega. “Aku bisa mengantarmu,” tawarku. “Tunggu di sini, aku akan mengambil motorku dulu,” kataku.

“Eh, tidak usah,” cegahnya. “Aku sudah bertemu dengannya tadi. Sekarang aku mau pulang.”

“Kalau begitu biar aku mengantarmu pulang—“ aku berpikir, lalu meralatnya. “Emm, apa hari ini kau memiliki urusan penting lain lagi? Apa kau diharapkan segera pulang?”

Yo Won menggeleng. “Tidak juga. ada apa?”

Aku menyeringai. “Kalau begitu temani aku seharian ini,” pintaku. Dan tanpa menunggu persetujuannya, aku segera menariknya pergi mengikutiku.

“Aku bahkan belum bilang ‘iya’,” gerutu Yo Won saat sampai di tempatku memarkir motor.

Seringaiku semakin lebar. “Hutang harus dibayar, mau atau tidak, aku tidak perduli,” kataku.

“Hutang?” tanya Yo Won tak percaya. “Kapan aku berhutang padamu!?”

Aku naik ke atas motorku dan tersenyum jail padanya sambil memakai helmku. “Permen susu,” kataku.

“Apa!?” pekik Yo Won. “Permen itu!? aku bahkan tidak memintanya!”

“Memang tidak,” akuku. “Tapi aku memberikannya karena saat itu kau sedang suntuk. Dan sekarang giliranku yang suntuk, jadi kau harus membayar hutangmu atas kebaikanku waktu itu. temani aku karaoke.”

Yo Won mengerutkan kening. “Kau mau menyanyi? Memangnya kau bisa?”

Aku berdecak kesal. “Sejak kapan menyanyi hanya boleh untuk orang yang suaranya bagus?” gerutuku. “Sudahlah, cepat naik,” perintahku.

Dengan agak enggan Yo Won menuruti perintahku. “Di mana? Tidak jauh, kan?”

“Apa warna yang kau suka?” tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya.

“Banyak,” jawabnya. “tapi yang paling kusuka warna putih, oranye, biru, dan merah. Kenapa bertanya?”

“Sebelum ke tempat karaoke, kita pergi membeli helm untukmu dulu,” jawabku. “berpegangan padaku bila tidak ingin jatuh,” saranku sedetik sebelum melaju.

Yo Won sempat terkesiap kaget, tapi segera memeluk pinggangku. “Kalau kau membuatku mati hari ini, aku bersumpah akan menghantuimu selamanya!” teriak gadis itu agar dapat terdengar ditengah keributan lalu lintas di sekitar kami. “Tidak, lebih dari selamanya. Aku akan terus menghantuimu di setiap kehidupanmu yang akan datang!” ancamnya.

Aku tertawa geli sambil menambah laju motorku. “Kedengarannya bagus,” gumamku.


***


- Lee Yo Won - 26 Desember 2010 -

“Nona!” seru Pak Han, kepala pelayan di rumah Ayah. Seingatku sejak aku masih sangat kecil dia sudah bekerja di sini. Dia terlihat masih sama seerti dulu, hanya saja sekarang di rambut hitamnya telah diselingi dengan warna keperakan.

Aku tersenyum sopan. “Selamat pagi,” sapaku. Terakhir kali kucek di jam tanganku, ini masih jam 9 pagi.

“Nona…” Pak Han mengelap matanya penuh keharuan. “Masuklah, masuk. Tuan Lee sedang berada di rumah kaca. Dia sudah mengatakan anda akan datang hari ini, tapi kami mengira itu siang nanti. Ah, maaf, aku terlalu banyak bicara,” katanya malu.

“Tidak apa,” aku menenangkan. “Kalau begitu aku ingin langsung menemuinya saja,” lanjutku.

“Baik, baik. mari ikuti saya,” katanya sambil memandu jalanku.

Keseluruhan isi rumah ini sepertinya tidak ada yang berubah sedikitpun semenjak terakhir kali aku melihatnya. Aku nyaris meneteskan air mata mengingat begitu banyak kenangan di rumah ini. Langkahku langsung terhenti saat melewati ruang keluarga. Di dinding berwallpaper bunga lili itu terpajang foto keluarga kami. Ayah dan Ibu yang terlihat begitu bahagia dan harmonis, dan aku yang duduk di tengah-tengah mereka dengan senyum ceria. Tanpa kusadari air mataku telah menetes. Ibu…

Pak Han berdeham. “Nona tidak apa-apa?”

Buru-buru aku mengelap air mataku. “Tidak, aku tidak apa-apa. Ayo kita lanjutkan,” ajakku.

Rumah kaca itu berada di halaman belakang. Aku masih ingat dulu itu adalah tempat favorit Ibu untuk membaca buku. Di sana tersusun banyak bunga-bunga indah kesukaannya. Tak kusangka setelah sekian lama ternyata tempat itu masih terawat dengan baik.

“Tuan, Nona Yo Won telah tiba,” lapor Pak Han dari ambang pintu.

Ayah membalikkan tubuhnya dengan cepat. “Yo Won… Yo Won…” gumamnya dengan suara parau. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca.

Tenggorokanku terasa tercekat. Aku begitu dekat dengannya. Setelah sekian lama…

Ayah bergerak cepat menghampiriku dan memelukku erat-erat. Hatiku sakit menerima perlakuannya ini. Karena justru sikap hangatnya ini yang menyiksaku. Bagaimana mungkin dia yang terkesan begitu baik dan menyayangiku, tega mengkhianati Ibu dan aku? aku merasa terbelah. Keinginan untuk balas memeluknya begitu kuat, tapi kemarahanku padanya pun sangat besar.

“Kau sudah besar… cantik… seperti Ibumu,” gumamnya, mengamatiku.

Mendengarnya menyebut-nyebut Ibu membuatku melepaskan diri dari pegangannya. “Apa yang ingin Ayah bicarakan denganku?” tanyaku dingin.

Aku melihat kekecewaan dan kesedihan melintas di wajah Ayah, tapi aku berusaha tidak perduli. Kekecewaan dan kesedihannya tidak sebanding dengan yang dirasakan Ibu.

“Duduklah,” ajak Ayah, menunjuk kursi-kursi yang mengelilingi sebuah meja bundar di tengah ruangan. “Banyak yang perlu kita bicarakan.”

“Apa yang ingin Ayah katakan? Menjelaskan tentang perselingkuhan Ayah?” tanyaku emosi.

Ayah terlihat terpukul mendengar kemarahanku. “Aku tahu kau marah padaku,” mulainya. “Tapi ini tidak seperti yang kau pikirkan.”

“Ayah sama sekali tidak tahu apa yang kupikirkan!” bentakku. “Yang terpikir olehku selama ini adalah betapa menjijikannya perbuatanmu! Teganya kau menyakiti Ibu… Ibu mati karenamu!” jeritku.

“Yo Won…”

“Kau bahkan tidak cukup perduli untuk mencari kami! Bertahun-tahun kau tak acuhkan keberadanku, lalu kenapa sekarang kau menggangguku!?”

“Kau salah!” bantah Ayah. “Aku segera mencari dan menyusul kalian ke Busan. Aku sudah bicara pada Ibumu. Menjelaskan keadaan yang sebenarnya dan memohonnya untuk kembali. Tapi dia menolak dan memaksaku berjanji untuk menjauhi kalian. Dia mengancam akan membawamu pergi jauh dari Korea, ke tempat yang tak akan dapat kulacak, bila aku berani melanggar janjiku—“

“Memangnya bagaimana keadaan yang sebenarnya menurut Ayah?” tantangku. “Ayah mau menyangkal telah berciuman dengan Bibi Hyun Jung malam itu!?”

Ayah menggeleng sedih. “Benar, tapi tidak seperti yang kau dan Ibumu pikirkan. Aku tidak menciumnya. Dia yang menciumku,” katanya. “Sayangnya Ibumu tidak melihat ketika aku mendorong Hyun Jung.”

“Ayah pikir aku akan percaya?” tanyaku sinis.

“Kuharap kau mempercayaiku,” gumamnya sedih. “Aku sangat terkejut mengetahui orang yang kusayang seperti adik kandungku sendiri ternyata menginginkan lebih… Hyun Jung berkata sejak dulu dia tidak pernah menganggapku kakaknya. Dia bilang dia—“

“Aku tidak mau mendengar tentangnya,” potongku.

“Tolong, percayalah padaku, Yo Won,” pintanya. “Aku sangat mencintaimu dan Ibumu.”

“Lalu kenapa? kenapa tidak terus berusaha membujuk Ibu? Ibu hanya wanita yang sedang marah dan sakit hati. Dia tidak mungkin serius dengan ancamannya.”

“Kau tidak mengenal Ibumu sebaik aku,” desah Ayah sedih. “Dia memang tampak seperti bunga rapuh dan penurut, tapi sebenarnya dia wanita berpendirian kuat dan keras kepala. Bila dia sudah memutuskan sesuatu, maka dia akan benar-benar melakukannya.”

Selama beberapa saat aku terdiam. Benarkah? Apakah justru Ibu yang tidak ingin kembali? Aku mengerti bahwa Ibu sangat kecewa, tindakannya dapat dimaklumi, tapi… “Kenapa setelah kematian Ibu kau tidak menjemputku? Kalau kau benar perduli pada kami, kenapa kau tidak datang ke pemakamannya?” tuntutku.

“Karena aku tidak tahu,” jawab Ayah lesu. “Setelah pertengkaran terakhirku dengan Ibumu di Busan, aku sengaja terus bepergian ke luar negri untuk mengurus bisnisku. Kupikir dengan terus bekerja aku dapat menghilangkan kesedihanku.

“Selama setahun aku tak pernah pulang ke Korea. Dan saat pulang, aku mengirimi Ibumu surat, yang kemudian dibalas oleh Park Young Hee. Dia menceritakan kematian Ibumu…” Ayah terisak sedih. “Aku begitu kalut. Malam itu aku buru-buru pergi ingin menjemputmu, tapi kemudian dalam perjalanan mobilku tergelincir ke jurang setelah sempat bertabrakan dengan mobil lain. Aku koma selama kurang lebih satu tahun, dan setelah akhirnya sadar pun tubuhku sempat lumpuh. Aku menyuruh orang untuk membawamu pulang, tapi dia kembali dengan tangan kosong setelah diusir dan dicaci maki Park Young Hee dan Park Kil Kang.”

“Dan kau menyerah begitu saja?”

“Aku tidak menyerah,” bantahnya. “Tapi aku sadar, bahwa aku harus menunggu kesehatanku kembali pulih dan datang sendiri ke sana untuk menjemputmu.”

“Tapi Ayah tak pernah datang.”

“Aku datang,” katanya. “tapi kalian pindah entah kemana. Aku berusaha mencari dengan mengerahkan beberapa detektif swasta. Bahkan aku juga mencari keseluruh pelosok Korea, tapi kalian bagai raib di telan bumi. Keluarga Park Kil Kang tidak dapat di temukan di mana pun.”

Benar. Aku ingat dulu selama dua tahun Paman Kil Kang membawa kami semua pindah ke Macao setelah dia di PHK karena bangkrutnya perusahaan tempat Paman bekerja saat itu. Kami baru kembali ke Busan setelah seorang sahabat Paman mengabari adanya lowongan perkejaan di perusahaan jasa pengamanan yang baru dibuka olehnya. Jadi… selama ini Ayah mencariku? Benarkah? Bisakah aku mempercayainya?

“Selama bertahun-tahun aku tak pernah lagi bertemu ataupun bicara dengan Hyun Jung. aku menyalahkannya karena membuatku terpisah darimu dan Ibumu,” katanya lagi. “Tapi beberapa minggu yang lalu kami bertemu di sebuah pesta, dan dia bertanya bagaimana kabarmu dan apakah kau sudah mengunjungiku setelah kembali ke Seoul. Aku sangat terkejut mendengar kau ada di kota yang sama denganku, sekaligus bahagia. Aku menyuruh orang melacak keberadaanmu dan dia mendapatkan alamatmu dan juga nomor ponselmu untukku,” lanjutnya.

Air mataku menetes tanpa kusadari. Ibu, apakah kita sudah salah menilai Ayah? Bolehkah aku mempercayai kata-katanya?

Ayah mengulurkan tangan untuk menghapus air mataku, tapi aku sengaja berkelit dan menghapusnya sendiri. “Maaf,” gumamku dengan suara parau. “Tapi untuk sekarang aku tidak yakin apakah aku bisa memaafkanmu sepenuhnya.”



Setelah pulang dari rumah Ayah, aku berkeliaran tak jelas dan akhirnya memilih untuk menenangkan diri di taman kota. Setelah duduk cukup lama hingga kedinginan dan cukup tenang, barulah aku memutuskan untuk pulang. Tapi siapa yang mengira di saat libur seperti ini aku malah akan bertemu Nam Gil? Bahkan dia memaksaku menemaninya karaoke untuk membalas hutang permenku padanya waktu itu. hah… yang benar saja.

Aku memakai helm berwarna putih pemberiannya, lalu kembali naik ke motornya. Kali ini sebelum disuruh, aku langsung melingkarkan tanganku di pinggangnya. Aku tidak menolak keinginannya bukan karena alasan hutang permen bodoh itu, tapi karena aku melihat dibalik senyumannya dia benar-benar serius saat mengatakan sedang suntuk. Bahkan lebih dari itu. Hari ini sorot matanya sama sedihnya seperti ketika dia mengamuk di festival, gara-gara melihat seorang wanita memukuli anaknya.

Hari itu, saat aku sedang kalut sehabis menerima telepon Ayah, dia menghiburku. Kini giliranku untuk menghiburnya. Yah, tak benar begitu juga, karena sebenarnya sekarang aku juga membutuhkan penghiburannya setelah berbicara dengan Ayah tadi. Dan karaoke terdengar cukup menyenangkan.

“Wah, wah, wah, lihat siapa ini,” kata seorang pemuda di atas motor balap yang mirip dengan milik Nam Gil. Pemuda itu sengaja menjajari motor Nam Gil dari arah sebelah kanan. Dan tak lama kemudian beberapa motor lain juga ikut mengepung di samping kiri dan belakang kami. Mereka terus berusaha menyamai laju motor Nam Gil. Kurasa mereka sengaja ingin mencari gara-gara.

“Tak ingin balapan dengan kami?” tantang pemuda itu lagi. Tapi Nam Gil tetap tak menghiraukannya. “Kenapa? karena ada gadismu? Yang seperti inikah seleramu? Yah, tak buruk juga,” lanjutnya lagi.

Tubuh Nam Gil terasa menegang dalam dekapanku. Sedetik kemudian dia memacu motornya semakin kencang. Tapi berandal-berandal tadi tak mau menyerah dan kembali mengepung kami. Untuk seseorang yang mudah naik pitam seperti Nam Gil, pasti sangat sulit menahan diri seperti ini. Dia menahan diri karena aku, dan aku menghargai hal itu. Sangat menghargainya.

Aku menjerit kaget saat pemuda tadi dengan sengaja ingin menyenggol motor Nam Gil. Nyaris. Untungnya dengan sigap Nam Gil berkelit. Tapi kemudian seorang pemuda lain yang sejak tadi mengekor di belakang kami, semakin memempeti motor Nam Gil hingga nyaris menabrak kakiku, dan ini membuatku sempat bergoyang panik dan membuat motor Nam Gil ikut bergoyang.

“Maaf,” seruku di dekat telinganya yang tertutup helm. “Aku terkejut,” jelasku.

Tapi lama kelamaan Nam Gil pun hilang kesabaran karena berandal-berandal itu terus saja berulah dan berkali-kali nyaris membuat kami celaka. Nam Gil mempercepat laju motornya ke jalan yang tak kukenal, lalu masuk ke sebuah lapangan berumput yang besar, dan berhenti di tengah-tengahnya.

Jujur saja aku agak gugup dengan situasi ini. Aku yakin Nam Gil akan berkelahi dengan mereka. Tapi jumlahnya tidak seimbang. Nam Gil bisa dibilang hanya sendiri—walaupun ada aku—sedangkan mereka… bertujuh. Apa yang harus kulakukan?

Ketujuh pemuda itu ikut memarkir motor mereka lalu turun dengan gaya menantang. “Senang sekali punya kesempatan bertemu lagi denganmu,”  kata pemuda bertubuh tinggi besar itu. “Masalah kita belum selesai waktu itu.”

“Siapa mereka?” bisikku, setelah kami berdua turun dari motor Nam Gil.

“Murid-murid SMU Haegu,” jawab Nam Gil singkat. Dia menyeringai lebar ke arah berandalan itu. “Aku tidak bisa bilang senang melihat tekad bodoh kalian ini,” katanya. “Jujur saja hingga sekarang aku tidak habis pikir apa yang membuat kalian menyerangku dulu. Dan kembali mecobanya sekarang.”

Si pemuda bertubuh tinggi besar itu meludah dan maju selangkah dengan gaya mengancam. “Tidak tahu? Kau bilang tidak tahu!? Dasar pengecut!” bentaknya. “Yah, tapi apa lagi yang bisa kuharapkan dari orang yang tidak berperasaan sepertimu?” sindirnya.

Nam Gil mendengus. “Berhentilah memujiku, Choi. Dan langsung katakan apa maksud perkataanmu,” perintahnya.

Pemuda yang disebut Choi itu mengepalkan tangan penuh emosi. “Kau! Kau yang lebih dulu mencari masalah denganku. Kau membuat adikku babak belur dan harus dirawat di rumah sakit selama sebulan. Kami tidak punya cukup bukti untuk menuntutmu, tapi aku tahu pasti itu perbuatanmu!” tuduhnya. “Banyak murid SMP Guoni yang menyaksikan kau memarahi adikku karena dia berani mengejekmu dan geng SMU Chongjan. Hah… bukankah kebetulan sekali setelahnya adikku dikeroyok saat dalam perjalanan pulang?”

Seringai Nam Gil terlihat semakin menyeramkan. Dia sudah membuka mulut untuk menanggapi perkataan Choi, tapi aku yang tidak tahan mendengar tuduhan bodoh itu, segera membelanya.

“Nam Gil tak mungkin melakukannya!” bantahku. Aku sangat yakin itu. “Nam Gil tidak akan pernah melukai anak kecil. Itu bukan perbuatan Nam Gil!” seruku emosi. Aku menyaksikan sendiri bagaimana kesalnya Nam Gil melihat seorang anak dipukul oleh Ibunya. Aku percaya dia serius saat mengatakan dia hanya melawan orang yang setara dengannya, yang bisa menjaga diri sendiri, dan bukannya anak kecil yang tak berdaya. Walaupun adik Choi sudah SMP dan tak dapat dikatakan terlalu kecil, Nam Gil tetap tak akan pernah melukainya apalagi mengeroyoknya.

Aku melirik Nam Gil karena dia tak bersuara sedikitpun, dan melihatnya sedang menatapku tajam.

“Jangan ikut campur dalam urusanku dan Kim Nam Gil, Nona. Menyingkirlah kalau tak ingin terluka,” geram Choi marah.

“Jangan berani menyentuhnya!” ancam Nam Gil serius.

Choi tertawa mengejek. “Sombong sekali. kali ini tak ada anggota gengmu. Apa kau yakin bisa menghadapi kami seorang diri?” sindirnya. “Habisi bajingan ini!” perintahnya pada teman-temannya.



To Be Continued...

by Destira ~ Admin Park ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar