PROLOG
- 22 Juni -
- Juny Killarney - Sloir School - Clonmel, Irlandia -
“Selamat ulangtahun, Juny!” ucap teman-teman dan orang-orang yang mengetahui ini hari ulangtahunku.
Dan, “Selamat atas kelulusanmu,” ucap para guru dan adik-adik kelasku, karena ini juga bertepatan dengan hari kelulusanku dari Sloir School. Sekolah sihir khusus wanita.
“Ya, terima kasih,” sahutku sopan seadanya pada mereka sambil terus berjalan cepat menuju aula. Tiga orang teman seangkatanku, yang juga telah menjadi sahabatku selama bertahun-tahun, ikut mempercepat langkah mereka mengiringiku.
Nyonya Fitzpatrick dan semua gadis yang lulus hari ini telah berada di sana.
Aku, Heather, Ellen, dan Angelia mengambil tempat di deret terdepan, menggusur keempat gadis lain yang telah lebih dulu duduk di sana. Senyum sinis tersungging di bibirku saat melihat mereka menurut walau dengan menggerutu pelan. tak ada satu pun murid yang berani melawan keinginanku dan ketiga temanku. Aku dan Heather adalah penyihir terbaik Sloir School tahun ini—aku di urutan pertama, dan dia di urutan ke dua. Para pembenci kami harus berpikir ratusan kali sebelum berani melawan gengku.
Nyonya Fitzpatrick memperbaiki letak kacamata berujung runcingnya sambil mengamati ruangan. “Yak, semua sudah berkumpul. Sebaiknya kita mulai sekarang,” katanya, lalu melambaikan tongkat sihirnya yang mengkilap sempurna ke dinding berlapis tirai beledu merah darah di belakangnya. Tirai tersebut tersibak membuka dan memperlihatkan sebuah cermin antic berukir emas berukuran raksasa.
Aku, Heather, Ellen, dan Angelia saling bertukar senyum. Rasa tak sabar dan penasaran menyelubungi kami saat ini. seperti yang mungkin juga dialami murid-murid lain setelah dua belas tahun menuntut ilmu di sekolah ini. sekaranglah saatnya.
“Selamat untuk kalian para siswi Sloir yang lulus tahun ini,” kata Nyonya Fitzpatrick lantang dari atas panggung. Dengan gerakan anggun wanita setengah baya yang mengajar ilmu ramalan itu duduk di sebuah bangku di sisi cermin. “kelulusan ini membuktikan kualitas kalian sebagai penyihir dewasa. Tapi seperti yang semua penyihir tahu, untuk mendapat kekuatan lebih, kaum kita harus bersatu dengan pasangan takdirnya—“
Benar. Saat bersatu dan menerima cinta dari pasangan yang telah ditakdirkan, seorang penyihir akan mendapat energi lebih yang memungkinkannya untuk lebih maksimal dalam melakukan segala kegiatan sihir. Konon katanya, semakin besar dan mendalam cinta yang diberikan pasangan takdir, semakin besar pula energy sihir yang didapat si penyihir.
Aku tersenyum membayangkannya. Ya, dengan cinta pasangan takdirku, aku akan lebih kuat dari sekarang. tentu saja, untuk penyihir berbakat sepertiku, pasangan takdirku pastilah bukan orang sembarangan. Dia pastilah seseorang yang kuat dan hebat. Sepertiku.
“…sudah menjadi tradisi Sloir untuk menggunakan Cermin Jodoh demi melihat siapa pasangan takdir para siswi yang telah lulus dan menginjak usia dewasa,” kata Nyonya Fitzpatrick. “baiklah, tak usah bertele-tele, kita mulai saja. aku yakin kalian pun sudah tak sabar,” lanjutnya sambil tersenyum.
Dengan ketidaksabaran yang membumbung semakin tinggi, aku menunggu giliran sembari menonton teman-teman seangkatanku satu per satu menghadap Cermin Jodoh yang menampilkan sosok pasangan takdir mereka. 99% ramalan Cermin Jodoh selalu tepat.
Aku tertawa geli sedikit mencemooh ketika Ellen ternyata berjodoh dengan Maximilan O’connor, si penyihir bertubuh besar dan bertampang garang namun dungu dari sekolah sihir khusus pria. dan tersenyum kasihan pada Angelia yang berjodoh dengan guru Ramuan kami, seorang duda tanpa anak yang penggugup.
“Apa kau tidak cemas memikirkan siapa pasangan takdirmu?” tanya Heather.
“Tidak juga,” sahutku angkuh. “Karena aku yakin pasangan takdirku adalah seseorang yang sehebat aku.”
Heather tersenyum sinis. “Bila bukan karena aku sedang sakit ketika ujian Ilmu Pertahanan Sihir, dan melakukan sedikit kekacauan ketika pelajaran Ramuan, kurasa akulah yang akan menempati posisi pertama—“
“Tapi kau memang sakit, dan kau memang mengacaukan ramuan buatanmu sendiri,” selaku merendahkan. Kami memang bersahabat, tapi kami juga saingan. “Terima sajalah bahwa aku memang lebih hebat darimu.”
“Heather Dunnlam!” panggil Nyonya Fitzpatrick.
Sambil melayangkan tatapan kesal padaku, Heather berjalan menuju panggung, menghadap Cermin Jodoh.
“Kira-kira siapa menurutmu pasangan takdir Heather?” tanya Ellen.
Aku mengedikkan bahu acuh tak acuh. “Entahlah. Seseorang sepertinya mungkin? Yang cukup hebat namun bukan yang terhebat.”
Karena yang terhebat, penyihir idolaku, Trevor Donovan—yang menjadi legenda sekolah sihir pria karena kehebatannya dapat terus mempertahankan gelar juaranya dalam pertandingan sihir tingkat dunia—pasti akan menjadi pasangan takdirku...
“Ya Tuhan! Trevor Donovan!”
Seruan histeris para gadis di sekelilingku menyadarkanku dari lamunan. Mereka menyebut Trevor? Ada apa… mataku menatap ke depan. Ke cermin besar di atas panggung. Di sana, di cermin itu… terlihat Trevor-ku yang berambut pirang, bermata biru, dan bertubuh tinggi besar layaknya pejuang tangguh, tengah berolahraga kecil menaklukkan naga liar bersisik hitam yang bertubuh luar biasa besar. Deretan gigi putih bersih rapinya terlihat ketika pria itu tersenyum puas dan bangga atas keberhasilannya. Trevor melambai-lambaikan tangan ke arah para penonton sambil terbang di atas punggung si naga hitam.
Tidak… tidak mungkin… penyihir pria perkasa dan terhebat itu seharusnya milikku! Untukku! kenapa justru Heather yang…
Darahku seolah mendidih ketika Heather membalikkan tubuhnya untuk menatapku penuh kesombongan. Ini tidak benar… tidak mungkin….
“Masih ada pria lain yang sama hebatnya dengan Trevor,” kata Angelia menenangkan.
Aku mencoba menenangkan diri. Benar. Pasti ada pria yang sama hebatnya dengan Trevor yang ditakdirkan untukku. mungkin yang lebih hebat!?
“Juny Killarney!”