Minggu, 31 Juli 2011

DISASTER LOVE - Chap 3 - Fanfiction Super Junior -

CHAPTER 3



“Sial. bannya bocor,” gerutu Sung-min.

Ki-bum keluar dari mobil BMW putih milik Sung-min, ikut melihat kondisi ban yang menghambat perjalanan mereka.

Pagi-pagi sekali keduanya memenuhi panggilan Tuan Kim ke kantor SM Entertainment, dan akhirnya memutuskan pergi bersama ke lokasi shooting. Asisten-asisten mereka telah lebih dulu pergi menggunakan salah satu van perusahaan.

“Apakah di dekat sini ada bengkel?” tanya Sung-min.

“Aku tidak tahu,” jawab Ki-bum. “Sebaiknya kita meminta jemputan—“

“Woah… lihat siapa yang kita temui hari ini, teman-teman.”

Serempak, Sung-min dan Ki-bum menoleh dan melihat tiga pemuda berseragam SMU berjalan mendekat. Dari gaya bicara dan ekspresi ketiganya, jelas mereka ingin mencari gara-gara. Dan jalanan perumahan yang sepi ini sepertinya membuat bocah-bocah itu semakin percaya diri dan berani.

“Kekasihku sangat mengidolakan mereka,” cemooh pemuda terpendek.

“Gadis-gadis yang kukenal pun begitu,” sahut temannya, yang berwajah seram—terlihat lebih tua dari kedua temannya. 
     
“Apa bagusnya pria-pria banci seperti ini?” hina si pemuda yang pertama kali bicara, yang berwajah dungu. “Lihat itu, bahkan dia menggunakan warna pink!” tambahnya sembari tertawa menghina Sung-min.

Sung-min mengamati ketiga pemuda bengal itu sembari mendengus mengejek. Dia sudah biasa dengan pendapat miring orang-orang tentang kesukaannya dengan warna pink. memang kenapa dengan warna itu? apa salahnya menyukai warna pink? apakah ada larangan pria tak boleh menyukai warna itu? apa warna tersebut hanya milik wanita? Apakah berdosa bila memakai dan mengoleksi barang-barang berwarna pink? Sung-min tak pernah habis pikir dengan kepicikan orang-orang itu. selama dirinya tak merugikan siapapun, rasanya sah-sah saja dia menyukai warna pink.

Si pemuda berwajah seram mengangkat alisnya dengan gaya menantang. “Kenapa? tidak terima? Kau ingin marah?”

Sung-min memandangnya acuh tak acuh. “Untuk apa buang-buang waktuku yang berharga dengan mengurusi hal tak berguna ini?” dengan tenang dia mengeluarkan ponsel pinknya dari saku celana, untuk menghubungi asistennya.

“Meremehkan kami, hah!?” bentak si pemuda pendek sembari memukul tangan Sung-min, membuat ponsel pria itu terlempar ke jalan.

Habis sudah kesabaran Sung-min. Ditatapnya tajam ketiga pemuda di hadapannya. Tangannya terkepal erat. percuma ia menguasai beberapa jenis bela diri China bila mengatasi tiga bocah ini saja tidak bisa. Namun belum sempat ia melangkah maju untuk memberi sedikit pelajaran, terdengar suara raungan motor.

Ki-bum menoleh tepat pada saat Seo-min yang mengendarai motor Harley-nya mendekati mereka dengan kecepatan tinggi.

“Astaga!” seru Sung-min kaget sembari melompat mundur agar tak terserempet motor Seo-min.

“Brengsek!”

“Hati-hati!”

“Hei, kau!”

Ketiga pemuda itu menjerit panic karena jelas Seo-min menyasari mereka. bahkan salah seorang di antaranya, si pemuda berwajah dungu, terserempet sedikit hingga jatuh terduduk walau tidak benar-benar terluka.

Sembari mematikan mesin motornya, dengan gesit kaki kanan Seo-min menendang perut si pemuda berwajah seram yang hendak menyerangnya, lalu turun dari motor untuk meninju hidung si pendek yang telah menendang kaki kirinya tadi. si pemuda yang diserempet Seo-min bangkit berdiri dan menangkap tubuh gadis itu dari belakang, berusaha menahan gerakannya, agar kedua temannya dapat mengeroyok gadis itu.

Sung-min dan Ki-bum yang sebelumnya terlalu terkejut dengan kejadian yang begitu cepat, segera bergerak maju untuk menolong, namun sebelum keduanya sempat melakukan apa-apa,  Seo-min ternyata lebih dari bisa untuk menolong dirinya sendiri. diangkatnya kedua kakinya tinggi-tinggi untuk menendang mundur kedua pemuda yang akan menyerangnya, lalu menyikut keras perut pemuda yang menahannya hingga termundur dua langkah dan mengerang sakit memegangi perutnya.


Si pemuda berwajah seram menggeram kesal dan melayangkan tinjunya pada Seo-min yang untungnya dapat menghindar dengan membungkukkan tubuh dengan gerakan lentur sambil menarik pisau kecil dari kantung samping sebelah dalam sepatu boot-nya—yang tak terlihat atau diketahui orang lain keberadaannya bila tidak melihatnya saat ini—dan mengacungkannya ke leher si pendek yang ditangkapnya saat mengendap-endap berusaha menyerangnya dari belakang. Sung-min dan Ki-bum hanya bisa terperangah menonton semua itu.

“I… itu pisau… benda tajam…” ucap si pendek yang tengah dipeteng Seo-min gemetar. “Tolong jauhkan… dari leherku!”

Seo-min menyeringai kejam. “Kenapa? padahal terlihat bagus di lehermu, bukan begitu?”

“Ini penganiyayaan!” seru si pemuda yang diserempet Seo-min.

“Sialan! kalian yang lebih dulu menganiyaya mereka!” bentak Seo-min, memaksudkan Sung-min dan Ki-bum. “Mereka bintang berharga dalam film pertamaku. Bila karena bocah-bocah tolol seperti kalian produksi film ini terhambat, percayalah, akan kukejar kalian sampai ke neraka sekalipun!” ancamnya meyakinkan. Berlebihan, memang, Seo-min pun menyadarinya, tetapi salah seorang tokoh dalam naskah yang sedang dibuatnya mengucapkan kalimat itu, ia hanya ingin mencobanya sekali.

Dengan geli Ki-bum mengamati rasa takut yang tergambar jelas di wajah ketiga pemuda itu—terutama yang tengah disandera Seo-min.

“Kumohon… lepaskan aku. aku minta maaf. kumohon…!” rengek si pendek yang ternyata tak seberani apa yang berusaha ditampilkannya.

“Jangan menangis seperti banci!” bentak si wajah seram.

“Kita lihat apa kau tak akan menangis seperti banci juga bila kutodongkan pistol ke kepalamu,” ucap Seo-min dingin sembari memasukkan tangannya ke balik jaket kulit yang dipakainya.

“Tidak!” teriak si wajah seram itu panic. “Maaf. tolong maafkan aku! maafkan kami!”

“Aku tidak mudah memaafkan,” sahut Seo-min santai, namun mengeluarkan lagi tangannya dari balik jaket.

“Kami bersumpah tak akan mengganggu mereka lagi! kami bersumpah! Tolong lepaskan kami!” mohon si wajah dungu.

Sung-min memungut ponselnya di jalan, lalu mengecek jam tangannya. “Sudahlah, lepaskan saja mereka,” katanya santai.

Seo-min mendelik ke arah Sung-min sebelum menendang pemuda yang disanderanya. “Pergi sana!” perintahnya, yang langsung dipergunakan ketiga pemuda itu untuk melarikan diri.

Setelah mengamati sebentar kepergian bocah-bocah itu, Seo-min menoleh ke arah Ki-bum dan Sung-min, lalu mendengus. “Pria-pria cantik memang tidak berguna selain tampang mereka, he?” hinanya, membuat Sung-min geram, tapi Ki-bum justru hanya tersenyum geli. “Kenapa kalian berhenti di sini?”

“Ban bocor,” jawab Ki-bum, karena Sung-min enggan menjawab dan sibuk memeriksa kondisi ponselnya. Suara ringtone ponselnya mengalihkan perhatian Ki-bum dari Seo-min. “Halo? Ah, maaf, sebenarnya kami sedang dalam perjalanan ke sana, tapi ban mobil kak Sung-min bocor. Hmm? Akan kuusahakan datang secepatnya. Sampaikan maafku pada sutradara.”

“Kau sudah ditunggu?” tanya Seo-min cepat setelah Ki-bum menutup teleponnya.

“Ya. aku—“

Tanpa banyak bicara, Seo-min mengambil helm dari jok motornya, lalu memasangkannya ke kepala Ki-bum yang terkejut. “Ayo, aku akan mengantarmu.”

“Eh!?” seru Sung-min. “Bagaimana denganku!?” tuntutnya.

Seo-min melirik Ki-bum. “Apakah tadi mereka juga mencari dia?” tanyanya, menunjuk Sung-min dengan jempolnya.

“Tidak, tapi—“

“Kalau begitu ya sudah. Tunggu saja jemputan kru,” sela Seo-min enteng sembari menaiki motornya. “Ayo cepat duduk!” perintahnya pada Ki-bum yang segera menurut.

Sung-min bergegas menghampiri mereka. “Tidak bisakah aku ikut juga—“

“Tidak,” ucap Seo-min tegas sesaat sebelum melajukan motornya.

“Maaf, kak,” ucap Ki-bum, melambai sembari menyunggingkan senyum tulus pada Sung-min yang merengut kesal.

Sung-min mengutuk segala hal. Ban mobilnya. Tiga pemuda Bengal tadi. Kang Seo-min, bahkan Ki-bum yang dianggapnya mengkhianatinya. Ia sudah memilih untuk masuk ke mobil selama menunggu jemputan, saat sebuah mobil sedan Audi TT 3.2 Quattro merah menepi. Rasanya aku kenal mobil ini, batinnya, sembari mengingat-ingat.

Hyun-in keluar dari mobil dengan gerak-gerik anggunnya yang khas. Ia menyunggingkan senyum sopan pada Sung-min. “Apakah mobilmu mogok?” tanyanya.

Sung-min tersenyum cerah membalas senyum Hyun-in. dimatanya, saat ini gadis itu bagaikan malaikat yang turun dari langit untuk membantunya. “Mesinnya tidak apa-apa, hanya saja ban mobilku bocor, dan aku tidak membawa serepnya.”

“Apakah sudah menghubungi bengkel?” tanya Hyun-in.

“Baru saja aku menghubungi bengkel langgananku,” jawab Sung-min. “Sial sekali. padahal sebentar lagi sampai di lokasi shooting…” keluhnya.

“Aku bisa mengantarmu,” tawar Hyun-in.

“Benarkah!? nona Kang Hyun-in, kau memang malaikat penyelamatku!” ucap Sung-min dramatis, membuat Hyun-in tersenyum kecil.



“Jangan memelukku seerat itu!” gerutu Seo-min, menlonggarkan pegangan Ki-bum di pinggangnya.

“Kau benar-benar membawa pistol?” tanya Ki-bum penasaran, karena saat memeluk Seo-min tadi tak dirasanya ada benda yang mengganjal.

Seo-min mendengus. “Jangan bilang kau percaya bualanku juga?”

Ki-bum tersenyum sembari memandangi kepala Seo-min, rambut panjang pirangnya yang berkibar dihembus angin. “Seharusnya kau saja yang memakai helm. Aku tidak perlu—“

“Kau bintangnya. Bila kau terluka, akan menghambat pembuatan film,” sela Seo-min. apalagi Ki-bum memerankan peran penting dalam Disaster Love; sebagai Baek Il-soo, sahabat Yoon Seung-ho—peran Dong-hae—yang licik.

Baek Il-soo lah yang memperkenalkan Yoon Seung-ho pada tiga kakak beradik Choi, yang merupakan tetangganya, dan mengusulkan taruhan apakah Seung-ho dapat menaklukkan ketiganya. Diam-diam di saat bersamaan Il-soo melaporkan perbuatan Yoon Seung-ho pada Hwang Lee-jung—peran Sung-min—kekasih Choi Mi-na—peran Hea-in—yang pencemburu, membuat Seung-ho mendapat masalah bertubi yang disebabkan pria tersebut. Il-soo melakukan semua itu karena dendamnya pada Seung-ho yang terus merebut gadis incarannya semenjak mereka duduk di bangku SMU, dan yang terparah saat Seung-ho meniduri tunangan Il-soo, membuatnya membatalkan pernikahan.

Pada akhirnya, tanpa disangka-sangka, Seung-ho ternyata benar-benar jatuh cinta pada gadis Choi yang termuda. Gadis yang paling sulit didekati dan juga disukai Il-soo.  Tak ingin kehilangan cintanya untuk kedua kalinya, Il-soo, bekerja sama dengan Lee-jung, membunuh Seung-ho. Dengan kecerdasan dan kelicikannya, Il-soo berhasil membuat semua kecurigaan dan bukti pembunuhan tertuju pada Lee-jung. Dan Il-soo pun dapat berbahagia bersama gadis yang dicintainya… sampai suatu hari… Choi Yoo-shin—peran Kyu-hyun—adik para gadis Choi, tanpa sengaja menemukan bukti keterlibatan Il-woo dalam pembunuhan Seung-ho.

“Kau satu grup dengan Lee Dong-hae, kan? bukankah kalian ijin untuk show di luar kota? Kenapa hari ini kau masih datang ke lokasi shooting?” tanya Seo-min heran ketika teringat hal tersebut.

“Yang berangkat show ke luar kota adalah sub grup Super Junior, yaitu Super Junior M. aku tidak termasuk di dalamnya. Kak Sung-min sebenarnya juga harus ikut, tapi dia baru akan menyusul besok pagi karena hari ini masih ada shooting penting yang harus dilakukannya.”

“Hmm…” gumam Seo-min, mencoba memahami.

“Kenapa bertanya? Karena kak Dong-hae?” tebak Ki-bum, bertanya tepat di telinga Seo-min.

Hembusan napas Ki-bum rupanya membuat Seo-min tergelitik, hingga motornya sempat oleng sesaat. “Jangan lakukan itu!” bentaknya sambil mengusap telinganya yang sensitif. “Aku hanya heran. Tak perlu dikait-kaitkan dengannya,” gerutunya.

Ki-bum tersenyum geli dan tak berkomentar lebih jauh. “Terima kasih sudah mau memberiku tumpangan,” ucapnya sopan ketika sampai di lokasi shooting, sembari turun dari motor.

Brukkk… serempak, Ki-bum dan Seo-min menoleh ke sumber keributan, dan melihat Hea-in tengah meminta maaf pada kru karena kecerobohannya menabrak properti.

Ki-bum mengerutkan keningnya memperhatikan keanehan wanita itu. tak seperti biasanya, Hea-in terlihat sedikit linglung, berantakan, dan… anehnya, ada sesuatu dalam ekspresi wajah wanita itu yang membuatnya terlihat bagai bocah polos. Kang Hea-in si wanita penggoda? batin Ki-bum tak percaya.

“Ada apa dengannya? apa dia kurang sehat?” tanya Ki-bum.

“Bila kau penasaran, tanyakan saja langsung padanya,” sahut Seo-min sembari menjauhi pria itu.

Sebenarnya Seo-min juga memperhatikan keanehan kakaknya. Sikap anehnya itu dimulai kemarin malam, saat Hea-in pulang kerja. Kakaknya itu berubah menjadi pendiam dan terus mengurung diri di kamar.

Mereka memang tidak dekat, justru sebaliknya, tapi tetap saja Hea-in adalah kakaknya, wajar bila Seo-min merasakan setitik kecemasan. Kondisi Hea-in ini mengingatkannya pada tahun awal pertemuan mereka. saat ia berusia sepuluh tahun, dan Hea-in dua belas. Dulu Hea-in tak sepercaya diri sekarang—ia baru berubah saat duduk di bangku kuliah. dulu dia gadis pendiam dan penyendiri. Yang sepertinya hiburan satu-satunya adalah mengganggu Hyun-in. merebut dan merusak mainan Hyun-in adalah rutinitas Hea-in yang dilihat Seo-min setiap kali berkunjung ke Korea.

Itulah awal rasa tak sukanya pada Hea-in. dan awal rasa sebalnya pada Hyun-in yang tak bisa melawan untuk membela diri sendiri dan hanya dapat menangis.

Kenapa tiba-tiba dia kembali bersikap seperti dulu? Seo-min bertanya-tanya dalam hati.



Hea-in berusaha bersikap seperti biasa. Berusaha sekuat tenaganya. Namun tetap tak bisa mengabaikan kenangan-kenangan buruk yang menghantuinya. semalam ia terus terbangun karena mimpi buruk. Mimpi yang merupakan penggalan kenangan kejadian yang pernah dialaminya waktu kecil. Hal yang dibenci dan tak ingin diingatnya lagi.

Pagi ini, dalam keadaan mengantuk namun tak bisa tidur, kepala pusing, dan hati yang gelisah, Hea-in merasa ini adalah hari terburuknya.

Kenapa dia harus menghubungiku? Kenapa sekarang, di saat hidupku sudah terasa sempurna!?

“…yak, action!” seru Ahn Bong-soo.

Tepat pada waktunya Hea-in tersadar dari lamunannya, dan berusaha berkonsentrasi dalam perannya sebagai Choi Mi-na, putri kedua keluarga Choi.

“Belakangan ini kau mengabaikanku,” tuduh Sung-min, mengucapkan dialognya sebagai Hwang Lee-jung.

“Berhentilah menuduhku macam-macam,” protes Hea-in, mengucapkan dialognya dengan ekspresi lelah yang tak dibuat-buat—memang tepat itulah yang dirasakannya saat ini. lelah.

Sung-min bergerak mendekati Hea-in dengan cepat, mencengkeram kedua pundak wanita itu dan menatap tajam wajahnya. “Semalam saat aku meneleponmu, kau tidak mengangkatnya. Karena sedang asyik bersama tetangga barumu? Yoon Seung-ho!?” tuntutnya.

Hea-in terkesiap. Cengkeraman kuat ini memunculkan ingatan lain yang tak diinginkannya. Bayangan sosok orang menjijikan yang mencengkeramnya kuat agar ia tak dapat melarikan diri, menyusup masuk ke benak Hea-in.

“Tidak!!!” jeritnya, meronta membebaskan diri.

“Cut!” teriak Bong-soo. “Hea-in, ada apa denganmu!? itu tak ada dalam naskah.”

Heran dan ngeri melihat reaksi Hea-in yang tak disangka-sangka, Sung-min segera melepas cengkeramannya dan menjauhkan diri.

Seketika Hea-in tersadar dari kenangan buruknya. Namun kepalanya bertambah pusing dan tiba-tiba ia merasa mual. “Maaf.  aku kurang sehat. Bisa beristirahat sebentar?” tanpa menunggu persetujuan sepupunya, Hea-in bergegas pergi menuju toilet.

Bong-soo menoleh pada Seo-min yang duduk di sebelahnya, tengah mengamati sosok Hea-in. “Ada apa dengannya?”

Menghela napas lelah, Seo-min mendelik pada kakak sepupunya itu. “Kenapa semua orang bertanya padaku? aku tidak tahu!” gerutunya, kesal karena sebenarnya ia pun ingin tahu apa yang sedang terjadi pada Hea-in.
             
                                        

Ibis Ambassador Hotel Suwon - Suwon, Korea -

Para member Super Junior M yang lain telah pergi ke café hotel di lantai satu, sementara Zhou Mi dan Kyu-hyun yang kelelahan, tadi memilih istirahat sebentar di kamar mereka, dan baru akan menyusul anggota yang lain sekarang.

Saat berjalan di koridor hotel menuju lift sambil mengobrol, seorang gadis yang baru keluar dari sebuah kamar mengalihkan perhatian kedua pria muda tampan tersebut.

“Hmm… rasanya aku pernah melihat gadis itu,” gumam Zhou Mi.

Kyu-hyun ikut mengamati gadis itu, dan langsung tersenyum. Tentu saja Zhou Mi pernah melihatnya. Gadis itu Shin Yu-ri. Manager Uhm Dae-chi, salah satu artis yang bernaung di SM Entertainment, dan kabarnya juga sahabat Lee Yoo-hee, Manager Aquamarine.

Apa yang dilakukannya di sini? apakah bersama Uhm Dae-chi? pikir Kyu-hyun sedikit penasaran.

“Kenapa? tertarik?” tanya Kyu-hyun, mengamati Zhou Mi yang terus menatap punggung Shin Yu-ri yang berjalan di depan mereka.

“Jangan aneh-aneh,” kata Zhou Mi tenang, malas meladeni entah ide apa yang ada dalam otak temannya itu—apalagi mengingat tabiat usil Kyu-hyun.

Kyu-hyun menyeringai melihat kecurigaan Zhou-mi. “Berkenalan saja,” ajaknya, dan tanpa menunggu persetujuan Zhou Mi, Kyu-hyun segera menarik tangan temannya itu dan mempercepat langkah mereka hingga tiba tepat di belakang Shin Yu-ri yang tak menoleh sedikit pun sejak tadi.

Zho Mi hendak memprotes. “Aku—“

Pukkk… Kyu-hyun menggerakkan tangan Zhou Mi yang dipegangnya untuk menepuk bokong Shin Yu-ri.

Seketika langkah Shin Yu-ri terhenti, dan wajah putih Zhou Mi memucat, sedangkan Kyu-hyun si biang kerok tak dapat mengendalikan tawanya.

“Kau!” maki Zhou Mi pada Kyu-hyun yang berjalan mundur sembari terus tertawa terpingkal-pingkal hingga sakit perut. “Eh, Nona, maaf, itu tadi—“

Bukkk…

“Aww!!!” jerit Zhou Mi kesakitan, melompat terpincang-pincang karena kakinya yang ditendang oleh Shin Yu-ri.

Gadis berambut pendek dan berkacamata itu mengeluarkan sesuatu dari dompetnya, sebuah kartu nama, dan memasukkannya ke saku kemeja Zhou Mi. “Aku mengenalmu, dan tahu ke mana harus mencarimu, jadi jangan berpikir bisa kabur dariku,” ucap Shin Yu-ri tenang. “Saat ini aku sibuk, jadi kita tunda dulu masalah ini. ingatlah menghubungiku untuk bernegosiasi tentang ganti rugi pelecehanmu padaku. bila tidak, aku akan melaporkan masalah ini ke kantor polisi. Selamat siang.” Lalu, seolah tak terjadi apa-apa, Shin Yu-ri berbalik dan meneruskan langkahnya menuju lift, meninggalkan Zhou Mi yang malu, kesakitan, dan terkejut. serta Kyu-yun yang tak bisa berhenti tertawa.



- Lapangan kantor militer Suwon - Suwon, korea -

Di lapangan luas itu didirikan sebuah panggung besar, dan telah disediakan pula kursi-kursi VIP untuk para pejabat. Konser ini untuk merayakan ulangtahun kota Suwon, dan Super Junior M adalah salah satu grup idola yang diundang untuk meramaikan acara.

Dong-hae sedikit merengut ke arah ponselnya. Tak menghiraukan orang-orang yang sedang sibuk mempersiapkan konser di sekitarnya. semenit lalu ia telah mengirimi SMS pada Seo-min. Setiap kali memiliki waktu luang Dong-hae selalu menyempatkan diri mengirimi gadis itu SMS, namun tak satu pun dibalas.

Di sebelahnya, Si-won dan Eun-hyuk terus menjulurkan leher dan menoleh ke kiri dan kanan, mencari istri dan kekasih mereka. Duo Aquamarine juga akan tampil dalam acara ini. hanya saja, Super Junior M telah sampai di Suwon sejak siang tadi, sedangkan Aquamarine kabarnya baru saja datang dan akan langsung kemari tanpa singgah di hotel karena takut terlambat.

“Berhentilah tertawa! Ini sama sekali tidak lucu,” omel Zhou Mi kesal karena Kyu-hyun yang sering tiba-tiba tertawa kencang bila teringat peristiwa siang tadi di hotel. “Semua karenamu. Kau yang harus bertanggung jawab.”

“Tapi tanganmu yang menyentuh bokongnya, bukan aku,” protes Kyu-hyun sembari mengelap airmatanya.

“Kau—“

Malas mendengarkan perdebatan kedua teman segrupnya itu, Dong-hae lebih memilih untuk mengirim pesan sekali lagi pada Seo-min.

“Ah, akhirnya kalian datang juga!” desah Si-won lega. “Aku khawatir terjadi sesuatu dengan kalian dalam perjalanan ke mari,” katanya. dihampirinya istrinya, Park Dae-jia, untuk memeluknya erat.

Dae-jia tersenyum lebar melihat perhatian suaminya, dan balas memeluk erat pula. “Terima kasih sudah mengkhawatiranku,” katanya.

Eun-hyuk berdiri dari kursinya untuk menghampiri Shin-woo dengan tangan terentang lebar dan menyunggingkan senyuman khasnya—yang diyakininya mirip dengan Won-bin. “Aku juga mengkhawatirkanmu,” katanya pada Shin-woo. “Berterima kasihlah seperti Dae-jia,” tambahnya, meminta pelukan.

“Terima kasih,” ucap Shin-woo. Mengacuhkah kekasihnya, gadis itu memilih duduk di kursi yang sebelumnya ditempati Eun-hyuk, membuat pria itu merengut kesal saat ikut duduk di sebelahnya—di kursi yang sebeumnya ditempati Si-won.

“Masa hanya seperti itu?” rajuk Eun-hyuk.

Mendesah, Shin-woo menyandarkan kepalanya ke pundak kanan Eun-hyuk dan menutup mata. “Lelah sekali,” ucapnya pelan.

Seketika Eun-hyuk menyeringai lebar bagai serigala yang berhasil menyudutkan mangsa incarannya. Dirangkulkannya tangannya di pundak Shin-woo penuh sayang. “Tidurlah sebentar,” nasehatnya.

Dong-hae melirik geli pasangan di sebelahnya itu sembari berdiri dan memberikan ponselnya pada asistennya. Tepat pada saat itulah matanya bertumbukan dengan sepasang mata indah yang sangat dikenalnya.

“Lama tak bertemu. apa kabarmu?”

Dong-hae mengamati wanita yang menyapanya itu. Memang sudah cukup lama mereka tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Tapi dia masih tetap semanis terakhir kali Dong-hae melihatnya. Lee Yoo-hee. Manager Duo Aquamarine, dan keponakan tuan Kim, Big Boss SM Entertainment. Serta wanita yang pernah dicintainya. 

Tersenyum, Dong-hae berjalan menghampiri Yoo-hee. “Senang sekali bisa melihatmu lagi,” ucapnya tulus.

“Aku juga,” sahut Yoo-hee sembari menyunggingkan senyum misterius khasnya.



To Be Continued...

By Destira ~Admin Park~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar